
"Mampus gue! Semoga saja Kak Brata sudah pergi, kalau tidak? Bisa-bisa gue habis kalau ketahuan bawa orang lain ke rumah pohon ini!" gumam Regina.
"Kamu ngapain masih berdiri di situ? Ayo naik!" ajak Adit seraya menarik tangan adiknya yang masih mematung di dekat tangga.
"Kakak ... ! Kita pulang saja yuk, aku lupa tas ku dimana?" rengek Regina.
Adit pun tak menghiraukan rengekan adiknya tersebut, ia tetap menaiki tangga dengan menarik tangan adiknya. "Ada apa sih? Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu di rumah pohon ini?" tanya Adit yang mulai curiga pada sang adik.
"Tidak kok, Kak. Tidak! Memangnya apa yang ingin ku sembunyikan?" tanya Regina balik. Gadis itu berusaha lebih tenang agar kakaknya tidak mencurigainya.
Begitu Adit membuka pintu rumah pohon tersebut, jantung Regina pun berdetak tak karuan karena gadis itu belum tahu bahwa Brata sudah pergi meninggalkan tempat tersebut, ia memejamkan mata sambil melangkah mengikuti Adit dari belakang.
"Kamu kenapa?" tanya Adit yang menoleh dan melihat Regina memejamkan matanya rapat-rapat.
Regina pun membuka matanya perlahan saat mendengar suara sang kakak yang terdengar biasa saja tanpa bentakan.
"Syukurlah!" gumam Regina tanpa sadar saat melihat Brata tidak ada di rumah pohon tersebut, karena meskipun di sana terdapat satu kamar yang lengkap fasilitasnya, tapi gadis itu tidak membuka kamar tersebut dan Brata pun tidak mungkin masuk ke kamar itu.
"Kamu pasti menyembunyikan sesuatu!" ucap Adit curiga.
"Enggak, ngapain aku menyembunyikan sesuatu dari kakak, kalau Kakak tidak percaya sekalian ambil tuh kunci kamar tempat ini!" tantang Regina.
Adit yang masih curiga terhadap adiknya langsung mengambil Tas Regina yang ada di sofa dan mengambil kunci kamar rumah pohon tersebut.
Pria itu pun membuka pintu dan menggeledahnya hingga Regina yang merasa kelelahan akhirnya tiduran di sofa dan sampai terbawa ke alam mimpi.
"Gin, kita pul ... " Adit pun menghentikan ucapannya saat melihat sang adik tidur begitu nyenyaknya di sofa panjang yang ada di rumah pohon tersebut.
"Di tinggal bentar eh sudah tidur!" gumam Adit sambil tersenyum.
Adit pun memilih untuk menggendong tubuh Regina dan dibawanya ke mobil yang berada tidak jauh dari tempat tersebut.
_
Sementara Brata kini sudah dalam perjalanan pulang, entah ia harus senang atau sedih karena dirinya kini menghianati sang istri. Namun, pria itu juga sadar bahwa cinta Keyla bukan untuknya tapi untuk pria lain.
Sesampainya di rumah, Brata langsung melangkah menuju kamar. Namun, suara Keyla menghentikan langkah pria tersebut.
"Makan dulu, Mas!" ajak Keyla mencoba memaksakan senyum.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku sudah makan di luar tadi!" ucap Brata dingin.
Lalu pria itu melangkah meninggalkan Keyla yang masih mematung di tempatnya. Lalu, wanita itu makan dalam kesendirian tanpa Brata yang menemani.
"Aku tau aku salah, Mas! Aku harap semoga kau bisa memaafkanku suatu saat nanti!" batin Keyla sambil berusaha menelan makanan meskipun terasa sulit.
Setelah selesai makan malam, wanita itu mencoba mendekati kamar sang suami, ia ingin minta maaf dengan apa yang terjadi di antara keduanya.
Tok tok tok ...
Brata pun membuka pintu kamar dengan wajah datar, tanpa senyum sama sekali. "Boleh aku masuk?" tanya Keyla kaku.
"Tidak perlu! Nanti aku akan ke kamarmu jika memang ada yang ingin kau bicarakan!" ucap Brata dingin.
Lalu Brata menutup pintu kamarnya kembali tanpa memedulikan Keyla yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Sejak Keyla pertengkaran terakhir, Keyla memindahkan barang-barangnya ke kamar lain hingga membuat pria itu sangat kecewa dan begitu murka saat Keyla minta pisah dan pindah ke kamar lain.
"Maafkan aku, Key! Tapi mungkin ini yang terbaik agar cintaku padamu tidak semakin mendalam!" gumam Brata setelah menutup pintu kamarnya.
Sementara Keyla langsung menerjunkan air matanya setelah melihat Brata yang bersikap dingin. Akan tetapi, wanita itu sadar diri dan menjauh dari kamar suaminya tersebut.
Setelah membersihkan diri, Brata pun mendatangi kamar istrinya untuk menepati janji bahwa ia akan menemuimu, ia duduk di sofa kamar tersebut, sedangkan Keyla duduk di depan cermin dengan wajah yang menghadap pada suaminya tersebut.
Keyla tersenyum, lalu melangkah mendekati sang suami. Keyla menghembuskan nafasnya perlahan, lalu duduk di dekat Brata seraya menatap pria itu dari samping.
"Maafin aku!" ucap Keyla seraya menundukkan kepalanya. Ia sangat malu untuk menatap suaminya karena ucapannya yang menjijikkan.
"Kenapa kau minta maaf? Kau tidak perlu minta maaf, jika dengan hidup bersamaku hanya akan menjadi beban bagimu, maka untuk apa kita mempertahankan pernikahan ini, lebih baik kita mencari jalan kehidupan kita masing-masing!" ucap Brata dingin.
"Maafin ucapanku kemaren! Kita mulai semuanya dari awal," ucap Keyla tersenyum lembut. Namun, Brata tetap tidak menoleh padanya, pria itu tetap menatap lurus ke depan.
"Tapi aku tidak mau!" ucap Brata dingin.
"Kenapa?" tanya Keyla dengan suara tercekat.
"Karena aku tidak mencintaimu!" ucap Brata tanpa menatap wanita itu.
Deg
__ADS_1
Seketika perasaan Keyla hancur berkeping-keping, ada perasaan tidak rela ketika mendengar ucapan itu dari sang suami, meskipun ia menyadari bahwa wanita itu hanya menjadikan pria itu sebuah pelampiasan.
"Secepat itukah kau melupakanku?" tanya Keyla dengan air mata yang terjun tanpa bisa dibendung.
"Iya, dalam waktu yang singkat, aku menyadari bahwa aku mencintai orang lain, bukan dirimu!" ucap Brata dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Apakah masih ada yang ingin kau bicarakan? Jika tidak, aku mau istirahat!" ucap Brata dengan Nada jengah.
"Istirahatlah di sini, aku janji bahwa aku tidak akan menolak jika kau ingin meminta hak mu saat ini!" ucap Keyla dengan memegang tangan Brata.
"Maaf, aku tidak bisa!" Brata melepaskan tangan istrinya perlahan, lalu beranjak kembali dan pergi meninggalkan wanita itu tanpa menoleh padanya.
"Maafin aku, Mas! Maafin aku!" ucap Keyla setelah pria itu menghilang di balik pintu.
Lalu Keyla melangkah mendekati pintu kamar seraya meletakkan telapak tangannya pada pintu kamar itu serta meluruhkan badannya sambil menangis terisak-isak.
"Kenapa aku harus sedih? Bukankah ini yang kuinginkan?" Keyla menekuk kedua lututnya, lalu duduk bersimpuh dengan hati yang terluka.
Tanpa Keyla sadari, Brata masih berada di depan pintunya dengan air mata yang menetes karena tidak tega mendengar tangisan orang yang dicintainya tersebut.
Brata pun melangkah meninggalkan kamar istrinya dengan perasaan sedih, ia tidak ingin melakukan hal itu. Namun, ia sadar bahwa ia telah menjadi penghalang bagi kebahagiaan orang lain.
Brata menutup pintu kamarnya, lalu mengambil ponselnya seraya memandangi Foto Regina yang diambilnya diam-diam.
"Hanya dengan melihat wajahmu, aku bisa menghilangkan rasa sesak ini!" gumam pria itu seraya memejamkan matanya.
Lalu Pria itu mengalihkan tatapannya dan tidak sengaja melihat foto pernikahannya dengan Keyla yang berada di dinding kamar tersebut.
Ia tersenyum sendu dengan perasaan bersalah pada sang istri. "Maafin aku! Aku tidak bermaksud untuk menghianati dan menyakiti hatimu! Aku hanya tidak ingin menjadi bayang-bayang Kakakku dalam hidupmu!" ucap Brata.
Ya, memang benar bahwa yang melihat dan mendengar pembicaraan Edward dan Keyla adalah Brata. Pria itu tidak sengaja menemukan bukti-bukti dan surat dari Edward hingga pria itu memilih untuk mengikuti langkah Keyla.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰
Maaf Othor suka telat update 🙏🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih, atas dukungan kalian 🥰
Love you All 😘