
Sesampainya di rumah yang akan di tempati Devan dan Catherine. Pria itu menggendong tubuh Catherine kembali, Devan membeli rumah baru karena ia mengira bahwa istrinya akan lebih nyaman jika hanya tinggal berdua dengannya.
Brian dan Gracia pun juga menyetujui keinginan Devan, meskipun Gracia merasa berat untuk pisah rumah dengan putranya tersebut.
Saat mereka mengetahui bahwa Catherine sudah diperbolehkan pulang, Brian dan Gracia datang ke rumah Devan untuk menyambut kedatangan menantunya tersebut.
Devan melangkah menuju pintu utama dengan Catherine yang menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Devan karena malu dilihat pelayan di rumah tersebut.
"Selamat datang di rumah baru kalian ... !" ucap Gracia saat Devan memasuki pintu utama dengan Mark yang membukakan pintu.
"Mommy ... !" ucap Devan tersenyum setelah melihat Gracia di rumah tersebut.
"Selamat datang!" ucap Brian tersenyum tipis. Pria paruh baya itu tiba-tiba muncul dari balik punggung istrinya.
"Terima kasih Dad, Mom!" ucap Devan tersenyum.
"Mertuamu mana?" tanya Gracia saat wanita paruh baya itu tidak melihat keberadaan besannya.
"Aku di sini!" jawab Puja yang tiba-tiba muncul di balik pintu."
"Ya sudah, Mom! aku mau membawa istriku ke kamar dulu! Istriku masih butuh banyak istirahat!" pamit Devan.
"Ya sudah sana, Sayang! Biar nanti aku menyuruh pelayan untuk mengantar makanan ke kamar kalian!" ucap Gracia.
"Tidak, Dev! Aku sudah terlalu banyak istirahat. Kita ngumpul di ruang keluarga saja, aku ingin ngobrol-ngobrol dengan keluarga kita dulu!" ucap Catherine tersenyum.
"Baiklah, jika itu keinginanmu," ucap Devan.
Devan pun membawa Catherine ke ruang keluarga, mereka pun berbincang-bincang hangat hingga jam makan siang. Setelah itu mereka makan siang bersama, mereka langsung berpamitan pulang, begitu pun dengan Puja yang juga minta izin kembali ke London untuk menyusul Louis.
Brata menjemput wanita paruh baya itu, yang berhasil membuat Catherine sedih karena mommynya akan pulang ke London. Catherine mengantar mommynya ke parkiran yang didorong oleh Devan menggunakan kursi roda. Sementara Brian dan Gracia pulang terlebih dahulu.
"Kau tidak perlu sedih, Sayang! Mommy hanya pulang ke tempat mommy, tempat mommy bukan di sini, tapi di London!" ucap Puja seraya membelai pipi putrinya.
"Iya, Mom!" tapi Catherine pasti akan sangat merindukan Mommy!" ucap Catherine sendu.
"Jika kau sembuh nanti, kau bisa pergi ke London dengan suamimu!" ucap Puja seraya melirik Devan sekilas. Pria itu berdiri di belakang kursi roda Catherine.
__ADS_1
"Iya, Sayang! Sekalian nanti kita bulan madu!" ucap Devan menggoda istrinya.
"Apaan sih, Dev!" ucap Catherine dengan pipi yang merona merah.
"Devan benar, Sayang! Cepatlah sembuh! Bulan madu penting. Selain itu, kami juga ingin merayakan resepsi pernikahan kalian!" ucap Puja.
"Ya sudah, Mommy pulang ke rumah Brata dulu untuk membereskan barang-barang Mommy!" ucap Puja seraya membelai rambut putrinya tersebut. Catherine pun menjawab Puja dengan anggukan kepala.
"Aku titip putriku, Dev! Aku percaya kau akan menjaganya tanpa ku suruh, mommy harap matamu selamanya tidak akan tertutup untuk Catherine, hingga kau selalu melihat kebaikan putriku meskipun seandainya Catherine membuat kesalahan yang fatal yang sulit untuk kau maafkan," ucap Puja.
"Aku bukan Randa, Tante! Jika Randa meninggalkan Catherine hanya karena satu kesalahan. Maka aku akan mempertahankan Catherine dengan seribu kesalahan," ucap Devan.
Puja pun tersenyum mendengar jawaban Devan, "Mommy tidak yakin kau akan bertahan jika putri mommy membuat seribu kesalahan!" ucap Puja menggoda menantunya.
"Aku yakin Mom, karena aku tahu bahwa Catherine tidak akan seperti itu," ucap Devan. Catherine pun tersenyum mendengar ucapan suaminya tersebut.
"Ya sudah, Mommy pulang dulu!" pamit Puja yang tak hentinya mengembangkan senyum karena jawaban menantunya tersebut.
"Hati-hati, Mom!" ucap Catherine melambaikan tangannya setelah Puja melangkah menuju mobil Brata.
"Hati-hati!" ucap Catherine seraya melambaikan tangannya.
"Brata pun membalas lambaian tangan Catherine, lalu membukakan pintu mobil untuk orang yang melahirkankannya tersebut.
Setelah itu, Brata mengitari mobilnya dan duduk di kursi kemudi dengan Puja yang duduk di sampingnya.
Brata pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, setelah Puja duduk dengan sempurna di sampingnya.
...🦟🦟🦟🦟🦟...
"Ayo mandi!" Devan menggendong tubuh Catherine dari tempat tidurnya, lalu mendudukkan wanita itu di bak mandi.
Devan hendak membukakan baju Catherine. Namun, wanita itu mengehentikan langkahnya. "Stop!" teriak Catherine.
Seketika Devan menghentikan langkahnya. "Kenapa, Sayang?" tanya Devan mengerutkan kening.
"Kamu mau ngapa-ngapain aku 'kan? Kayak di novel-novel gitu?" tuduh Catherine menatap Devan tajam.
__ADS_1
"Ya ampun, Sayang! Kamu itu selalu berpikiran buruk padaku! Kamu kebanyakan baca novel makanya pikiranmu ngawur!" ucap Devan.
"Terus kamu mau ngapain?" tanya Catherine seraya menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Aku hanya ingin menghidupkan air, dan handuknya mau ku letakin di dekat kamu biar kamu nanti nggak kesulitan buat ngambil jika aku keluar!" ucap Devan tersenyum.
"Ya sudah, aku keluar dulu, nanti panggil aku jika sudah selesai mandi!" ucap Devan tersenyum setelah memastikan semuanya siap.
Lalu, pria itu pun melangkah meninggalkan Catherine setelah memastikan semuanya lengkap dan sudah berada di dekat wanita itu.
Catherine pun menjadi salah tingkah hingga wanita itu tersenyum-senyum sendiri, sekelebat bayangan masa lalunya terlintas di benak wanita itu, Catherine pun mencoba mengingatnya hingga wanita merasa kesakitan di bagian kepalanya.
Karena terlalu keras berpikir, akhirnya Catherine tidak sadarkan diri dalam bak Mandi dan tubuhnya pun tenggelam.
"Sayang ... !" panggil Devan di balik pintu.
"Sudah selesai, belum?" tanya Devan sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Devan yang merasa aneh karena tidak mendapatkan jawaban dari istrinya, kini langsung membuka pintu kamar mandi.
Devan pun terkejut saat mendapati istrinya tidak sadarkan diri. "Catherine ... !" teriak Devan. Pria itu langsung menggendong tubuh istrinya membawa wanita itu ke kamarnya.
Devan menyelimuti tubuh Catherine sambil menepuk-nepuk pipi wanita itu. "Sayang! Kamu kenapa? Bangun Cath! Bangun!" ucap Devan khawatir.
Devan yang khawatir melihat kondisi istrinya langsung memberi nafas buatan tanpa pikir panjang, hingga wanita itu tersedak dan terbatuk-batuk.
"Kamu nggak apa-apa, Sayang?" tanya Devan memegang kepala Catherine.
Catherine yang ingatannya kembali pulih langsung menatap mata Devan dengan air mata mengembun. Wanita itu langsung memeluk tubuh Pria itu erat.
"Benarkah kau telah menjadi suamiku, sekarang?" tanya Catherine yang terisak-isak. Devan mencoba melepaskan pelukan Catherine ia ingin menatap wajah istrinya. Namun, Catherine semakin mengeratkan pelukannya hingga pria itu memilih diam dan mendengarkan ucapan sang istri.
"Aku tidak bermimpi bukan?" tanya Catherine lagi dengan tangisan pilunya. Devan mengangkat tangannya, lalu membalas pelukan wanita itu.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
__ADS_1