Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
S2 Tidak sadarkan diri


__ADS_3

Pria itu terkejut mendengar ucapan Putri. "Apa maksudmu?" tanya Brata dengan suara tercekat.


"Kamu tahu, dia minta izin pada kami untuk melanjutkan pendidikannya di Paris. Kamu tahu alasannya apa?" tanya Putri kembali dengan gigi yang terkatup rapat.


"Apa?" tanya Brata lemah.


"Karena dia tahu bahwa kamu punya istri dan dia ingin menjauhimu untuk melupakan perasaannya!" teriak Putri dengan emosi yang membuncah.


"Kenapa Brata, kenapa?"


"Kenapa harus adik dan sahabatku yang kau permainkan?" teriak Putri dengan emosi yang meledak-ledak.


"Maafkan aku, Put! Aku tidak ingin mempermainkan mereka.


Kalau Keyla, mungkin lebih baik kita menjalani kehidupan kita masing-masing karena sebuah alasan yang tidak bisa ku jelaskan padamu, karena kita tidak ada kecocokan.


Kalau untuk Regina, aku sama sekali tidak mempermainkan adikmu, aku benar-benar mencintainya, Put! Aku sangat mencintainya!" ucap Brata seraya menatap Putri sendu.


"Plak ... !"


"Buang kata-kata sampahmu itu, aku benci mendengarnya!" Putri menampar Brata dengan wajah merah padam.


"Sayang ... ! Ada apa ini?" tanya Roy yang tiba-tiba datang menghampiri kedua orang yang sedang bersitegang itu.


"Bawa orang ini pergi jauh dari keluargaku!" teriak Putri dengan wajah yang dipenuhi emosi.


"Sayang ... ! Ini rumah sakit, kamu sabar ya! Biar aku mengajaknya keluar!" ucap Roy tersenyum seraya memegang pundak Istrinya tersebut.


Putri tidak menjawab ucapan suaminya, ia masuk ke ruangan sang adik meninggalkan Brata dan Roy yang masih berdiri sambil menatapnya.


"Lebih baik kita keluar!" ucap Roy dengan menatap wajah sendu pria yang ada di hadapannya tersebut. Ia hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Sesampainya di taman rumah sakit kedua pria itu duduk bersebelahan di kursi panjang taman tersebut.


"Apakah kau benar-benar mencintai, adik ipar?" tanya Roy yang masih menatap lurus ke depan tanpa menoleh pada Brata.


"Iya, aku mencintainya! Aku tahu, aku salah! Tapi perasaan ini datang begitu saja tanpa bisa ku cegah!" ucap Brata yang juga masih menatap lurus ke depan.


"Lalu bagaimana perasaanmu pada Keyla?" tanya Roy datar.


Brata menghela nafasnya berat. "Entah sejak kapan perasaanku padanya memudar, tapi yang jelas, aku hanya mencintai Regina bukan Keyla. Aku melepaskan dia untuk orang yang lebih mencintainya!" ucap Brata tersenyum.


"Apa maksudmu?" tanya Roy yang tiba-tiba menoleh seraya menatap pria tersebut.

__ADS_1


"Aku tidak perlu menjelaskan semuanya padamu! Tapi yang jelas, Keyla akan lebih bahagia jika aku lepaskan!" ucap Brata dengan senyum yang tak memudar.


"Kenapa kau bilang seperti itu? Apakah benar jika kau meninggalkan Keyla karena adik ipar?" tanya Roy kembali.


"Tidak, itu tidak benar! Tanpa Regina pun aku pasti akan melepaskannya. Aku bercerai dengan Keyla tidak ada sangkut pautnya dengan Regina."


"Lagi pula selama ini kami tidak berhubungan melebihi sahabat, memang dia menganggapku kekasihnya karena dia tidak percaya kalau aku punya istri!" ucap Pria itu tersenyum sendu.


Ia mengingat semua kenangan-kenangan yang pernah ia lewati dengan gadis pujaannya tersebut hingga tanpa sadar ia tersenyum seraya menundukkan kepalanya dengan air mata yang mengalir begitu saja.


Roy hanya menepuk-nepuk pundak pria itu karena tidak tega melihat pria di sampingnya yang mengalami banyak masalah.


Brata menghapus air matanya, ia hendak berdiri. Namun, rasa sesak yang menjalar di sekujur tubuhnya kian meraja lela. Ia menahannya dengan berusaha bangkit dan kembali ke rumahnya sebelum penyakitnya kambuh.


"Aku pulang dulu!" ucap Brata dengan menahan rasa sakit.


Roy mengangguk, lalu Brata melangkah hendak pergi dari tempat tersebut. Akan tetapi, sebelum langkahnya menjauh, pria itu ambruk dan tidak sadarkan diri.


"Brata!" teriak Roy seraya melangkah mendekati pria tersebut. Ia memanggil perawat untuk membawa pria itu masuk dan memeriksa keadaannya.


Setelah beberapa saat kemudian, dokter yang memeriksa pria itu keluar dari ruangan pria tersebut dan menyatakan bahwa penyakit pria itu kambuh hingga menyebabkan tak sadar diri.


Roy pun menghubungi keluarga Sunation untuk memberi kabar tentang keadaan pria tersebut, hingga beberapa saat kemudian keluarga itu datang untuk melihat keadaannya, kecuali Catherine yang memang sengaja keluarganya menyembunyikan keadaan pria itu agar tidak membebani pikirannya.


Louis pun sangat cemas melihat keadaan Putra kesayangannya tersebut lemah dan tidak berdaya. Sementara Edward menatap adiknya dengan perasaan bersalah.


"Maafkan aku!" ucap Edward dengan perasaan bersalah.


Ia mengira bahwa apa yang menimpa adiknya adalah karenanya. Edward duduk seraya menatap Brata lekat.


"Apa yang kau lakukan, Brata? Kau menyiksa dirimu sendiri karena Kakak!" ucap Edward sambil menghela nafas berat.


"Kamu tahu, saat ini kakak sangat sedih. Kenapa kau mengorbankan segalanya hanya demi kakak?" ucap Edward yang terus mengajak adiknya berbicara.


"Setelah kau bangun! Kakak harap kau bisa mencegah perceraianmu dengan Keyla, kakak janji, kakak tidak akan merebutnya darimu!" ucap Edward.


______


Satu minggu kemudian.


Brata mengerjap-ngerjapkan matanya hingga membuat pria itu heran karena ia melihat keluarganya yang mengelilinginya tak terkecuali Catharine. Akan tetapi, tidak ada yang memberi tahu apa yang sebenarnya karena larangan Devan.


Catherine mengira bahwa kakaknya pingsan karena penyakitnya kambuh. Ia pun juga tidak mencurigainya.

__ADS_1


"Aku di mana?" tanya Pria itu dengan mata yang masih menatap silau cahaya dan mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya sekitar.


"Kakak di rumah sakit, Kak?" jawab Catherine tersenyum.


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Rani dengan tersenyum lembut.


Brata membalas senyuman Puja dan menatap wanita yang melahirkannya tersebut. "Aku baik, Mom!" jawab pria itu lemah.


"Lebih baik kau istirahat saja! Jangan terlalu banyak pikiran, pikirkan kesehatanmu saja!" titah Louis.


"Terima kasih, Dad!" jawab Brata juga tersenyum.


Lalu, Pria paruh baya itu membelai kepala Brata dan melangkah menuju sofa di ruangan tersebut.


"Istirahatlah, Nak!" ucap Puja tersenyum.


Brata mengedipkan matanya lemah sambil tersenyum sebagai jawaban pada wanita paruh baya tersebut. Lalu, Puja menyusul suaminya seraya duduk di samping Louis.


"Sayang ... ! Aku ke kantor dulu ya! Satu jam lagi aku ada meeting, jangan capek-capek! Nanti aku akan menjemputmu setelah meeting selesai!" ucap Devan tersenyum lembut.


Catherine pun menganggukkan kepalanya dengan membalas senyuman pria tersebut. Lalu menyalimi suaminya saat hendak berangkat kerja yang menjadi kebiasaannya setiap pagi.


"Hati-hati, Sayang!" ucap Catherine dengan senyum yang mengembang.


"Iya, Sayang!" jawab Devan yang kemudian mencium kening Catherine dan hendak beralih pada bibir wanita tersebut.


Akan tetapi, suara deheman yang cukup keras dari Louis membuat keduanya sadar bahwa mereka bukan berada di rumahnya.


Devan pun langsung berangkat kerja tanpa menoleh lagi pada sang istri. Kemudian Catherine beralih duduk di samping adiknya tersebut.


"Dimana Kakak?" tanya Brata lemah.


"Aku di sini!" ucap Edward yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruangan.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰


Malam ini cukup sampai di sini saja ya! Insya Allah Othor lanjutkan besok. Jangan lupa dukungannya ya Guys ☺️


Thank you All

__ADS_1


Muachhh 😘


Sampai Jumpa Besok, insya Allah ❤️


__ADS_2