
Devan kini tiba di rumahnya jam 05.00 WIB dalam keadaan mabuk, Pria itu mabuk semalaman, ia tidak tidur dan memilih mabuk-mabukan karena merasa kehilangan, bau alkohol pun menyeruak, Devan pun berjalan tertatih-tatih karena rasa pusing pun menyerang pria itu.
"Dari mana saja kamu?" tanya Brian dari arah ruang ruang keluarga.
Devan menghentikan langkahnya yang merasa tidak asing dengan suara itu. Pria itu menoleh, lalu tersenyum. Ia pun melangkah mendekati Brian dan duduk di seberang daddynya.
"Daddy? Daddy kapan pulang?" tanya Devan tersenyum aneh layaknya orang mabuk.
Brian tidak menjawab karena ia tahu betul bahwa putranya sedang mabuk berat.
"Devan!" panggil Gracia yang tiba-tiba muncul di ruangan tersebut.
Devan pun tersenyum melihat orang yang melahirkankannya tersebut berjalan mendekat ke arahnya. "Mommy!" panggilnya tersenyum.
Gracia tersenyum, seraya mendekati putranya yang tampak kacau. Lalu duduk di sisi pria itu, Devan pun tidur di pangkuan wanita paruh baya itu layaknya anak kecil.
"Tanyakan sesuatu padanya, dia akan jawab jujur jika sedang mabuk!" titah Brian seraya menatap putranya datar.
Gracia menjawab Brian dengan anggukan kepala, lalu menundukkan kepalanya menatap putranya yang bersikap layaknya anak kecil. "Sayang, kamu kenapa seperti ini, Nak! Tidak biasanya kamu seperti ini!" ucap Garacia seraya membelai rambut putranya tersebut.
"Mom, aku kayak gini karena Catherine," jawabnya jujur.
"Catherine?" tanya Garacia pura-pura tidak tahu meskipun ia sudah tahu semuanya, ia hanya ingin mendengarkan dari mulut Devan sendiri, begitupun dengan Brian.
__ADS_1
"Mom, aku mencintai Catherine, tapi dia pergi dan memutuskan hubungan kita, aku ingin menjemputnya, tapi aku masih menunggu surat perceraiannya," ucap Devan.
"Ya Ampun ... kamu merebut istri orang, Sayang?" tanya Gracia sendu, ia tidak tega melihat putranya terluka.
"Aku terpaksa merebutnya, Mom! Lagi pula Catherine hanya disiksa dan tidak dicintai oleh suaminya sendiri. Randa juga sudah menikah lagi dan istri keduanya juga hamil," ucap Devan seraya memejamkan matanya.
"Sayang, kenapa kamu memilih jadi pebinor, padahal kamu punya segalanya, aku yakin akan banyak wanita yang mau menikah denganmu!" ucap Garacia.
"Tidak, Mom! Aku hanya menginginkan Catherine yang menjadi pendampingku," ucap Devan.
"Terus bagaimana dengan Putri? Apakah kau tega menyakiti wanita seperti Putri, Nak? Dia baik dan tipe orang yang ceria, mommy yakin kamu pasti akan bahagia jika bersamanya!" ucap Devan.
"Daddy dan mommy tidak tahu kebahagiaanku, Putri hanya ku anggap sebagai adik begitupun dengan Putri, dia juga mencintai orang lain bukan aku." Devan masih memejamkan matanya.
"Dia datang hanya untuk menemui Roy, bukan aku. Dia menjadikanku alasan hanya untuk menemui sekretarisku!" ucap Devan.
"Sudahlah, Mom! Aku ngantuk, mommy nanya lagi nanti, Devan mau ke kamar, kepalaku sakit," ucap Devan seraya duduk dengan keadaan lemas seraya memejamkan matanya, dan mencoba berdiri.
"Ya sudah, mommy akan mengantarmu ke kamarmu!" ucap Garacia.
Wanita paruh baya itu pun menuntun putranya karena ia melihat putranya yang berjalan lunglai dan seperti tidak mengenal arah. Sementara Brian hanya menatap istri dan putranya tanpa berniat ingin membantu, ia menatap Devan tanpa arti, entah apa yang ada dalam pikiran pria tersebut.
_
__ADS_1
_
_
Sementara di tempat lain, Randa juga terbayang dengan kenangan-kenangan manis dengan Catherine. Ia menatap foto-foto Catherine dan dirinya di kamar yang biasa Catherine tiduri.
"Kenapa kau harus menyakitiku seperti ini Chat! Aku mencintaimu, tapi kau malah berhianat!" teriak Randa seraya menghancurkan Foto pernikahannya dengan Catherine yang berada di atas nakasnya.
"Aku sangat sakit kau lukai seperti ini, kenapa aku begitu bodoh hingga aku tidak bisa melupakanmu!" ucap Randa dengan tangisan pilu.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Mikha menghampiri Randa yang duduk lesehan dengan darah yang mengalir di tangannya karena terkena pecahan beling di kamar tersebut.
Pria itu melempar foto-foto Catherine membabi buta dengan tangis yang terisak-isak.
"Mas, tataplah aku!" ucap Mikha seraya menangkup kedua pipi pria tersebut.
"Hidupmu, bukan Catherine lagi, tapi anak kita!" ucap Mikha seraya mengambil tangan Randa dan meletakkan tangan tersebut di perut rata Wanita tersebut.
Randa pun menatap Mikha dengan mata yang bengkak karena pria itu menangis sepanjang malam dan mengunci kamarnya tanpa memedulikan Mikha yang menghawatirkan dirinya, hingga akhirnya wanita itu menemukan kunci cadangan di ruang keluarga.
"Cintai aku, lupakan Catherine!" ucap Mikha penuh harap.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
...TBC...