
Sore harinya.
Brata hendak melajukan mobilnya menuju rumah, tapi ia ingat dengan ucapannya pada Keyla bahwa pria itu akan akan pulang terlambat, hingga ia melajukan mobilnya ke arah lain. Ia menuju Bioskop untuk menghilangkan beban pikirannya dengan menonton.
Sesampainya di sana, pria itu duduk di belakang dengan tenang, ia menonton komedi untuk menghibur diri. Namun, tawa seseorang di sampingnya mengalihkan tatapannya dari layar dan menatap gadis yang tertawa seraya memegang perutnya itu.
Tanpa disadari, sudut bibir pria itu terangkat ke atas melihat tawa gadis yang pernah ia temui sebelumnya~ Regina Ryan Atmaja.
"Oh ... pangeranku, datanglah padaku!" Regina mengeluarkan puisinya seperti biasa.
"Ini bioskop, Bukan pentas puisi!" ucap Brata yang sudah menatap lurus ke depan.
Regina yang tidak menyadari keberadaan pria itu, ia langsung menoleh, dan betapa terkejutnya gadis itu saat melihat Om-om yang selalu mengganggu pikirannya tersebut.
"Ini Om tampanku, 'kan? Aku beneran nih tidak bermimpi?" Regina mengedip-ngedipkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Ya Tuhan ... ! Puisiku ternyata sangat manjur, sepertinya aku harus perbanyak puisi biar hidupku lebih banyak kejutan lagi!" ucap gadis itu.
Brata hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar gumaman gadis di sampingnya tersebut.
"Om ... !" panggil Regina seraya memegang lengan pria itu.
"Lihat layar jangan lihat aku! Kamu kesini mau nonton 'kan?" tanya Brata seraya menoleh pada gadis di sampingnya tersebut.
"Iya sih, Om! Tapi aku lebih suka lihat wajah Om! Om sangat menggemaskan jika galak!" ucap gadis itu.
Deg
Brata menatap wajah cantik gadis di sampingnya itu, ia merasa nyaman dan damai seakan punya ketenangan tersendiri saat bersamanya.
"Perasaan apa ini! Tidak, aku tidak boleh begini, perasaan ini salah, aku tidak mungkin menyukai gadis kecil konyol sepertinya," batin Brata yang langsung mengalihkan tatapannya dari Regina.
Regina pun memutar kepala Brata untuk menatapnya kembali hingga keduanya saling menatap dalam. "Om, lihat aku saja, di layar memang lucu, tapi aku lebih menarik bukan?" Regina mengedipkan sebelah matanya.
"Hey gadis kecil! Kamu masih sekolah dan jangan sok genit kayak gitu, kamu masih belum saatnya mencari pendamping hidup!" ucap Brata seraya menarik tangan Regina dan menatap layar kembali.
__ADS_1
"Memangnya kenapa, Om? Aku akan langsung menikah nanti setelah lulus SMA jika Om mau sama aku!" ucap Regina tanpa rasa malu.
"Diam!" Brata langsung menarik Regina dalam pelukannya dengan membekap mulut gadis itu. Regina yang terkejut hendak memberontak, tapi setelah di pikir, dia merasa nyaman dalam pelukan itu hingga ia menikmatinya dan memejamkan mata hingga gadis itu tertidur di pelukan pria tersebut.
Setelah kelamaan dalam posisi itu, Brata menyadari kalau Regina tidak memberontak, ia menarik tangannya dari mulut Regina perlahan, lalu wanita itu jatuh dalam pangkuannya. Brata pun tersenyum melihat wajah Regina yang tenang.
"Ternyata kamu terlihat manis jika terlelap seperti ini, tidurmu yang tenang terasa menyejukkan!" ucap Brata seraya tersenyum tipis.
"Aku tau itu Om!" jawab Regina tersenyum. Lalu, gadis itu duduk kembali dan menyandarkan kepalanya di bahu pria tersebut.
"Ini sudah larut, tidak baik seorang anak kecil sepertimu masih kelayapan di luar rumah!" Brata mencoba memperingatkan.
"Iya Om, Iya! Anterin aku pulang!" Regina merangkul lengan Brata manja.
"Memangnya tadi kamu bareng siapa ke sini?" tanya Brata mengerutkan kening.
"Aku ke sini sendiri, 'kan Om belum mau menjadi pacarku!" ucap Regina tanpa rasa malu.
"Apaan sih? Kamu itu manja banget kayak kita kenal aja!" ucap Brata seraya mendorong kepala Regina perlahan hingga kepala wanita itu kembali tegap.
"Re-gi-na!" ucap Brata mengeja nama gadis itu tanpa sadar.
Ia yang terkejut dengan ciuman gadis itu hingga membuatnya mematung di tempat duduknya. Namun, setelah menyadari bahwa Regina telah menghilang, pria itu mengejar gadis itu, ia ingat bahwa Regina mengatakan bahwa ia berangkat seorang diri dan entah kenapa Brata merasa khawatir karena kemungkinan jalanan sepi jika sudah malam.
Saat sampai di parkiran, ia melihat sosok yang di carinya sedang di tarik seorang pria menuju mobil mewah yang berada di parkiran itu juga. Wajah pria itu terlihat begitu kesal dengan wajah merah padam, berbeda dengan Regina yang terus mengembangkan senyum dan berpuisi tidak jelas seperti biasanya.
"Wajah mereka mirip? Apa mereka bersaudara?" gumam Brata seraya memperhatikan keduanya sampai masuk mobil dan meninggalkan tempat itu.
Brata pun melihat jam di pergelangan tangannya setelah bayangan mobil tersebut menghilang dari pandangannya. Seketika wajahnya sendu, ia masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu juga.
"Apa Keyla sudah tidur?" gumam pria itu. Ia melajukan mobilnya perlahan hanya untuk menghindari istrinya tersebut. Ia tidak ingin menambah luka saat melihat sikap dingin Keyla~istrinya.
Sesampainya di rumah, ia melihat ke arah dapur. Perutnya terasa kosong karena ia belum makan malam. Sesampainya di sana ia mencari sesuatu. Namun, ternyata tidak ada masakan satupun di sana yang tersaji hingga pria itu melangkah menuju kamar yang ia tempati untuk beristirahat.
Brata merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memandangi langit-langit kamar. "Sampai kapan kita akan terus begini Key?"
__ADS_1
Pria itu pun memejamkan matanya hingga terlelap dalam keadaan lapar. Sementara Keyla keluar dari kamarnya dan menatap kamar yang di tempati suaminya tersebut dengan perasaan bersalah.
"Maafkan aku, Mas!"
Keyla melangkah mendekati kamar suaminya. Lalu, ia melihat Brata yang masih menggunakan pakaian lengkap dengan posisi tidur terlentang dan kaki yang menjuntai ke bawah.
Keyla membuka sepatu dan kaos kaki Brata, lalu membenarkan posisi tidurnya. "Semoga mimpi indah!" ucap Keyla.
Wanita itu berbalik dan pergi untuk meninggalkan kamar tersebut. Namun, ucapan Keyla mengehentikan langkah wanita itu.
"Aku tidak akan pernah bermimpi indah jika sikapmu masih seperti itu, Key!" Brata membuka matanya, lalu duduk menghadap Istrinya tersebut.
"Memangnya apa yang kau harapkan dariku, Mas?" Keyla menoleh seraya menatap Brata datar.
"Kenapa kau masih menanyakannya? Bukankah aku yang seharusnya bertanya seperti itu?" tanya Brata balik seraya menatap Keyla intens.
"Aku hanya ingin kita pisah!" jawab Keyla tanpa basa basi.
Jedduarrr ...
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Brata sangat terkejut dengan ucapan istrinya. "Aku pikir kau mencintaiku, Key! Ternyata inilah jawabanmu yang sesungguhnya, aku tidak tahu salahku apa? Tapi kau perlakukanku seolah-olah aku ini hanya pria cadangan." Brata tersenyum gamblang.
"Maafin aku, Mas! Aku tidak ingin membuatmu tambah terluka!" ucap Keyla datar.
"Untuk saat ini maaf, aku tidak mau menyakiti keluargaku dengan melihat rumah tanggaku hancur dan hanya berjalan satu bulan. Tunggu lah beberapa bulan lagi, setelah itu aku tidak akan mencegahmu pergi!" ucap Brata dengan wajah datar. Lalu pria itu pergi meninggalkan kamar tersebut.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰
Jangan lupa dukungannya ya! Like and komen 😍
Thank you 😘
__ADS_1
Dan terima kasih juga untuk yang memberi othor vote tanpa di minta Muachhh 😘