
Devan duduk di kursi kebesarannya, ia terus terbayang dengan wajah Catherine hingga pria itu tidak bisa tidur semalaman.
Tok tok tok
"Masuk!" perintah Devan setelah mendengar suara ketukan pintu.
Roy muncul dari balik pintu, lalu melangkah mendekati Tuannya tersebut. "Ada apa, Tuan?" tanya Roy datar. Pria itu berdiri menatap Devan dari sebrang meja kerja Tuannya.
"Roy! Kau handle kerjaan ku hari ini!" perintah Devan seraya Merapikan berkas-berkas yang berserakan di mejanya.
"Anda mau kemana, Tuan?" tanya Roy mengerutkan kening.
"Kau tidak perlu tahu urusanku! Kerjakan saja apa yang ku perintahkan!" titah Devan.
"Baik, Tuan!" ucap Roy membungkukan sedikit tubuhnya.
Sementara Devan langsung melangkah hendak membuka handle pintu ruangan. Namun, tangannya yang hendak membuka pintu terhenti saat mendengar suara sekretarisnya tersebut.
"Saya harap, Anda tidak mengejar Nona Catherine karena dia sudah menjadi milik orang lain, Tuan!" Roy mencoba mengingatkan.
Devan mengepalkan tangannya. "Kau jangan lancang! Tidak ada seorang pun yang berhak menghalangi apapun yang ku inginkan, termasuk kamu!" ucap Devan seraya melangkah meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Roy hanya menghela nafas, lalu mengambil berkas-berkas yang ia butuhkan, lalu ia juga keluar dari ruangan itu.
_
_
_
"Hai ... " ucap Devan menghentikan mobilnya di hadapan Catherine seraya tersenyum dan membuka kaca mata hitamnya.
Catherine membalas senyuman Devan. "Hai ... " jawabnya. Wanita itu hendak pergi ke butik tempatnya bekerja. Namun, saat ia menunggu Taxi lewat, tiba-tiba mobil Devan berdiri tepat di hadapannya.
Darah pria itu seakan beku melihat senyuman wanita yang dicintainya. Pria itu turun dari mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk Catherine dan menutupnya kembali, setelah itu Devan mengitari mobilnya, lalu duduk di sisi wanita itu dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mobilku masih di servis. Jadi untuk sementara aku harus pake angkutan umum," ucap Catherine.
"Kenapa tidak menghubungiku untuk menjemputmu?" tanya Devan.
"Memangnya kamu mau antar jemput aku?" tanya Catherine tersenyum tipis.
"Kenapa tidak? Bahkan jemput kamu tanpa kukembalikan pun aku juga bisa," jawab Devan mengerlingkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Apaan sih?" ucap Catherine tersenyum tipis seraya mengalihkan tatapannya dari Devan.
"Benar Kok, kamu mau nggak aku culik?" tanya Devan menggoda Catherine, lalu menoleh dan menghentikan mobilnya.
Catherine juga menoleh menatap Devan dengan mata yang mulai mengembun. "Culik aku, aku mohon! Aku sudah tidak sanggup!" ucap Catherine seraya menatap Devan dengan air mata yang mengalir begitu saja.
"Hey, kamu kenapa?" tanya Devan seraya menghapus air mata Catherine dengan jari jempolnya.
"Aku mau kau menculikku dari neraka yang kujalani," pinta Catherine seraya menangis sesenggukan lalu menunduk dan menangis tanpa menatap Devan lagi.
Devan yang tidak tega langsung membuka sabuk pengaman mobilnya dan mendekati wanita itu, lalu mendekap Catherine hingga Catherine semakin terisak dalam pelukan pria itu. "Apakah aku tidak bisa dimaafkan hingga aku diperlakukan seperti ini?" tanya Catherine dengan suara yang tercekat.
"Boleh aku tahu, Kesalahan apa yang kamu perbuat hingga Randa tidak bisa memaafkanmu sampai saat ini?" tanya Devan lembut sambil membelai rambut wanita itu.
"Tidak! Jika kau tau kesalahanku maka kau juga akan membenciku," ucap Catherine sesegukan.
"Kenapa tidak, bukankah kita sudah berteman, jika berteman kita harus saling terbuka dan saling memaafkan," ucap Devan.
"Tidak!" ucap Catherine seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dalam dekapan Devan.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
...TBC ...