Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
S2 Aku Tidak Berhianat


__ADS_3

"Apa maumu?" Keyla mendatangi apartemen Edward dengan wajah penuh kebencian.


"Setidaknya kau dengarkan penjelasanku dulu, Key! Aku tidak mau memintamu kembali padaku karena kita sudah punya jalan hidup masing-masing," ucap Edward dengan wajah sendu.


"Aku tidak mau bahas soal itu lagi! Yang aku tanyakan apa maumu? Dan kenapa kau menunjukkan wajahmu lagi di depanku?" tanya Keyla menatap Edward tajam.


"Aku tahu kau sangat membenciku, Key! Tapi rasa cintaku padamu masih sama seperti dulu." Edward menghentikan ucapannya dan membalikkan badan, ia memunggungi Keyla karena tidak mampu menatap orang yang ia cintai terluka karena dirinya.


"Aku sadar diri dan sekarang aku harus menerima kenyataan, bahwa kamu memang ditakdirkan bukan untukku! Karena ... "


"Karena suamiku adalah adik kandungmu sendiri dan kamu tidak tega melihatnya terluka?" Keyla menatap Edward tajam.


Seketika Edward membalikkan badan, menatap Keyla dengan wajah terkejut. "Dari mana kau tau?" tanya Edward datar.


"Aku tau dari mana itu tidak penting! Tapi aku akan membalas rasa sakit hatiku pada adik kandungmu! Agar kamu terluka dengan melihatnya terpuruk karena kehidupannya yang penuh dengan penderitaan!" sentak Keyla menatap Edward dengan wajah merah padam.


"Tidak, Key! Jangan lakukan itu pada adikku. Kau balas saja rasa sakit hatimu padaku! Kalau perlu bunuh aku sekarang!" Edward mengambil pisau seraya menyerahkan pada wanita tersebut.


"Tidak semudah itu Edward, jika kau mati, maka kau hanya akan merasakan sakit yang sebentar, aku tidak menginginkan kematianmu, aku hanya ingin kau merasakan apa yang kurasakan selama ini," ucap Keyla tersenyum sinis.


"Silahkan kau lakukan padaku, Key! Tapi jangan pada adikku! Jika kau lakukan padanya, kau bukan membuatku menderita, tapi kau hanya akan membuat hidupmu berada dalam penyesalan suatu hari nanti!" ucap Edward.


"Kenapa aku harus menyesal? Tujuanku hanya satu yaitu melihat kau menderita! Jika Brata terluka maka kau juga akan merasakan sakitnya," ucap Keyla yang masih menatap Edward penuh kebencian.


"Jika kau mau balas dendam, balas lah aku! Karena sekali Brata kecewa, maka 'Maaf' tidak akan mudah kau dapatkan. Seperti rasa bencimu padaku saat ini," ucap Edward mencoba memperingatkan.


"Kau keterlaluan, Edward! Kau keterlaluan!" teriak Keyla.


"Dengarkan aku, Key! Dengarkan aku! Kau hanya salah paham, aku tidak pernah berkhianat. Sama sekali tidak! Aku mohon jangan sakiti Brata karena hal itu, jika kau masih sakit hati, maka balaslah pada diriku sendiri, Key! Balas aku, Key! Balas!" Brata mengguncang pundak Keyla serta menatap wanita itu dengan wajah penuh kesedihan.


"Aku benci kamu Edward! Aku benci!" teriak Keyla seraya mendorong tubuh mantan kekasihnya tersebut.


Lalu wanita itu melangkah pergi meninggalkan Edward yang masih mematung menatapnya hingga bayangan Keyla hilang di balik pintu.


"Semoga kamu cepat sadar bahwa apa yang kau lakukan itu salah, Key! Aku masih mencintaimu, tapi aku akan menghapusmu dari hidupku, adikku sangat baik, aku yakin bahwa kau tidak akan tega untuk menyakitinya hanya karenaku," gumam Edward setelah beberapa menit Keyla pergi.


_


_


_

__ADS_1


Brata yang mengambil cuti kini pergi mengelilingi kota, ia mencari udara segar untuk menyejukkan hatinya. Akan tetapi, di tengah jalan ia tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang sedang berdiri di samping mobilnya seraya menendang-nendang ban mobil tersebut. Gadis itu masih menggunakan seragam SMA dan mengomel-ngomel tidak jelas.


"Dasar mobil sialan! Nggak tau apa, kalau aku lagi buru-buru!" umpat Regina.


Wanita itu terus mengoceh hingga membuat Brata yang kebetulan lewat tersenyum tipis. Pria itu turun dari mobilnya seraya melangkah menghampiri gadis tersebut.


"Permisi gadis kecil, ada yang bisa saya bantu?" tanya Brata sambil menaikkan sebelah alisnya.


Regina menganga lebar, ia tidak percaya bahwa ada seseorang yang memanggilnya gadis kecil. Ia menoleh, menatap orang yang memanggilnya tersebut.


"Anda siapa? Beraninya memanggilku gadis kecil!" Regina menatap Brata dengan wajah kesalnya.


Brata pun tersenyum melihat wajah kesal gadis di hadapannya tersebut. "Kamu mau pergi ke sekolah?" tanya Brata dengan wajah datar.


"Nggak, aku mau mancing!" ucap Regina cuek.


"Oh ... mancing." Brata mengangguk-anggukan kepalanya pelan.


"Sudah berpakaian rapi kayak gini, masih aja nanya, ya jelaslah aku mau ke sekolah, memangnya mau kemana lagi, ada ada saja," ucap Regina seraya memutar bola matanya malas.


"Ya sudah, biar aku antar kamu. Nanti aku akan telpon bengkel untuk memperbaiki mobilmu dan mengantar rumahmu jika sudah selesai," ucap Brata.


"Memangnya aku setua itu hingga dipanggil Om segala?" tanya Brata menatap wajah gadis itu tajam.


"Eh, Om! Kalau mau ngantar itu yang ikhlas, jangan pakai mode serem kayak gini," ucap Regina.


"Ayo Om!" Regina menarik tangan Brata menuju mobil pria itu.


"Ya sudah silakan masuk!" titah Brata begitu sampai di depan mobilnya.


"Okay Om," jawab Regina yang hendak membuka pintu belakang mobil tersebut. Namun, suara Brata mengurungkan niatnya.


"Memangnya aku supir?" Brata menaikkan sebelah alisnya.


"Duduk di depan!" titah Brata menatap gadis itu tajam ketika Regina membuka pintu belakang.


Regina menahan kekesalannya mendengar ucapan Brata. "Untung tampan, kalau tidak udah ku cekik dari tadi biar tau rasa!" gerutu Regina kesal.


"Kau bilang apa barusan?" tanya Brata seraya menatap Regina tajam.


"Tidak, aku hanya bilang Om baik yang tampan," jawabnya tersenyum cengengesan.

__ADS_1


"Sudah masuk! Nanti kamu terlambat."


"Iya Om, Iya!" jawab Regina seraya membuka pintu depan.


"Kamu mau nyetir?" tanya Brata ketika melihat gadis itu membuka pintu mobil kemudi.


"Tidak Om! Aku hanya membukakan pintu untuk Anda!" ucap Regina tersenyum cengengesan.


"Sudah sana masuk! Aku bisa melakukan sendiri," ucap Brata datar.


"Baik Om!" Regina pun melangkah dan memutar bola matanya malas saat ia memunggungi pria tersebut.


Lalu, ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi samping kemudi. Setelah itu, Brata juga masuk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dengan Regina yang sesekali mencuri pandang.


"Jangan menatapku seperti itu atau nanti kau akan jatuh cinta," ucap Brata tanpa menoleh.


Pria itu fokus mengemudi, namun ucapan Brata berhasil membuat Regina terkejut.


"Pede sekali kamu," ucap Regina sambil memutar bola matanya malas.


Lalu, wanita itu mengalihkan tatapannya dari pria itu seraya menatap pepohonan yang berlalu lalang dari jendela mobil.


"Aku tidak tahu mengapa, rasanya kita pernah bertemu, tapi di mana ya?" Regina mencoba mengingat-ngingat wajah Brata yang ia rasa tidak asing.


"Aku tidak mengenalmu sebelum ini, apa aku begitu tampan hingga kau merasa pernah mengenalku?" tanya Brata tersenyum tipis.


"Sudah lah! Capek berdebat denganmu," ucap Regina yang masih menatap jalanan dari jendela mobil.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰


Bagaimana kabar kalian?


Jangan lupa dukungannya ya! Semangat Othor karena kalian ❤️


Like dan komen! Maaf Othor banyak minta 🤭🙈 Tanpa kalian Othor galau, galau banget.


Thank you All 😘

__ADS_1


__ADS_2