
"Kenapa, kenapa kau harus menghianatiku, Edward! Kenapa?" Keyla menangis terisak-isak di tengah taman, di bawah pohon yang rindang. Tempat kenangannya bersama pria itu.
"Kenapa sampai sekarang aku begitu bodoh, aku masih terus merasakan sakit saat mengingat penghianatannya."
"Seharusnya sekarang aku senang karena aku bisa membalasnya melalui Brata! Tapi kenapa aku merasa tersiksa seperti ini!" Wanita itu tertawa dengan wajah sendu serta air mata yang membasahi seluruh wajahnya.
"Perasaan ini!" Keyla memegang dadanya.
"Perasaan ini aku pikir cinta, tapi setelah aku tau segalanya, aku sadar bahwa ternyata ini bukan cinta, tapi pelampiasan, karena dia sangat mirip denganmu Edward!"
"Aku benci ini! Aku membenci semuanya. Harusnya sekarang aku bahagia bersama Brata, tapi sekarang aku sakit karena bayangan masa lalu kembali padaku!" Keyla menarik rambutnya.
"Pantas saja aku merasa nyaman saat bersama Brata, kini sekarang aku tau alasannya apa?" wanita itu duduk lesehan dengan menopang kedua kakinya di tempat tersebut.
"Seharusnya aku tidak seperti ini, sudah cukup bertahun-tahun aku menyimpan luka, sekarang bukan saatnya aku seperti ini! Aku membencinya sangat membencinya!"
Keyla terus berperang dengan perasaannya sendiri. Rasa cintanya pada Edward yang begitu besar, kini membuatnya terpuruk dan dendam pada siapapun yang berhubungan dengan pria itu.
"Aku merasa melihat bayanganmu setiap aku melihatnya. Senyumnya, perhatiannya dan kasih sayangnya pun sama persis seperti kamu Edward! Sama!" Keyla terus menangis terisak-isak di tempat sepi itu. Ia memegang dadanya yang terasa sesak.
"Sekarang aku sadar bahwa aku tidak mencintai Brata, aku hanya menjadikan dia pelampiasan karena aku melihatmu dalam dirinya."
"Dan kini setelah aku tau bahwa dia sedarah denganmu, aku jijik melihat dia mendekatiku karena bayangan penghianatanmu padaku, selalu terbayang saat merasakan sentuhannya!"
"Aku membencimu Edward, aku membencimu!" teriak Keyla.
_
_
_
Di sebuah kamar yang bernuansa putih seperti kamar hotel terdapat sepasang pengantin baru yang masih betah dengan selimutnya.
Putri~ putrinya Ryan tersebut dilimpahi dengan kebahagiaan sejak menikah dengan orang yang dicintainya, orang yang selalu menjadi hayalannya kini nyata telah menjadi seorang pangeran dalam hidupnya.
"Selamat pagi, Pangeranku!" ucap Putri seraya tersenyum di samping suaminya. Pria itu menatap Roy dari samping.
Pria itu membuka mata, dan Putri pun menyambutnya dengan senyuman yang membuat wanita itu bersemangat untuk melakukan aktivitasnya.
"Kamu sudah bangun Tuan Putriku!" Roy tersenyum, lalu membawa gadis itu dalam dekapan hangatnya. Ia pun memejamkan matanya kembali.
"Pangeranku, kamu harus bangun! Nanti Kak Devan marah sama kamu!" ucap Putri seraya memainkan kelopak mata Pria itu dan membuat tidur pria itu terganggu.
"Sayang … kamu apaan sih!" Roy membuka matanya, lalu mencium bibir wanitanya sekilas.
"Morning kiss!" ucap Roy seraya beranjak dan melangkah menuju kamar mandi. Sementara Putri menatap langkah suaminya dengan senyum yang mengembang dan pipi yang memerah bagaikan tomat.
"Terima kasih, Pangeranku! Kau kebahagiaanku, kau segalanya bagiku!" gumam wanita itu setelah bayangan Roy menghilang di balik pintu.
__ADS_1
_
_
_
Brata dan Regina kini terdiam di dalam mobil setelah mereka berdebat hal yang tidak penting.
"Kamu sekolah di mana?" tanya Brata membuka percakapan setelah lama terdiam di dalam mobil pria itu.
"Aku sekolah di Jalan ... xxx!" jawab Regina menjelaskan panjang lebar.
"Sekolahmu cukup jauh!" ucap Brata mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
"Kenapa? Kamu nggak ikhlas Om?" tanya Regina menatap pria itu kesal.
"Bukan nggak ikhlas, tapi kamu itu seharusnya masih belum boleh mengendarai mobil sendiri, nanti kalau kamu sudah dewasa baru boleh!" ucap Brata.
"Emang Om tahu umurku berapa?" tanya Regina yang masih menatap Brata intens.
"Kamu pasti masih umur 12 tahun!" tebak Brata.
"Sembarangan Om bilang! Lihat Seragamku Om! Aku pakai seragam SMA jadi aku sudah De-wa-sa!" Regina menekankan Kalimatnya.
"Hah, memangnya kau umur berapa?"
"Aku sudah umur 16 tahun kelas 1 SMA, jadi 3 tahun lagi aku akan menikah!" ucap gadis itu seraya tersenyum lepas.
"Apa Om bilang? Anak kecil? Aku sudah besar ya Om!" ucap Regina kesal.
"Kamu itu aneh sekali, kamu punya orang tua nggak sih?" tanya Brata heran.
"Heh, Om jangan bilang kayak gitu lagi ya! Jangan bawa-bawa orang tuaku! Aku mengendarai mobil sendiri kayak gitu karena mereka tidak tahu kalau aku sudah mengunci sopirku di sebuah tempat yang kosong," ucap Regina tersenyum tipis.
"Dasar bandel!" umpat Brata.
"Aku cuma ngikat sopirku sebentar Om, setelah pulang sekolah aku lepas, aku tidak pengen di ejek teman-temanku karena diantar sopir terus tiap hari!" ucap Regina seraya memutar bola matanya malas.
"Eh Om, aku sangat pandai berpuisi, Om mau denger nggak?" tawar Regina menatap Pria untuk mengalihkan pertanyaan.
"Dengerin apaan?" tanya Brata datar.
"Dengerin aku puisi!" jawab gadis itu dengan wajah serius.
"Kamu bisa puisi?" tanya Brata menatap gadis itu sekilas.
"Bukan bisa lagi Om! Tapi itu memang bakatku yang terpendam!" jawab Regina membanggakan diri.
"Om dengerin ya!" pinta Regina seraya menatap Brata penuh harap.
__ADS_1
"Okay!" jawab Brata.
"Ehem ... ehem!" Regina berdehem untuk menetralkan suaranya. Lalu, gadis itu menatap lurus ke depan dengan menegakkan badannya.
"Wahai ... langit malam!" Regina mengulurkan sebelah tangannya ke depan lalu digerakkan ke arah samping dengan tangan satunya yang memegang dada.
"Sekarang masih pagi, bukan malam!" jawab Brata tersenyum tipis.
"Diem Om!" Regina melirik Brata sekilas, lalu menatap lurus ke depan lagi.
"Sampaikan salamku pada sang rembulan!" lanjut Regina yang berpuisi begitu khusyuk
"Kalau mau panggil salam sama rembulan ya langsung bilang saja! Kenapa mesti memanggil langit malam?" Pria itu sengaja membuat kesal gadis di sampingnya.
"Om, aku bilang diam!" titah Regina yang masih mencoba fokus.
"Aku ... di sini sendiri!" lanjut Regina seraya memejamkan mata menghayati puisi yang ia baca.
"Bohong-bohong, dia tidak sendirian, tapi dia bersamaku!" ucap Brata tanpa menatap gadis di sampingnya.
Seketika Regina menghentikan puisinya. Lalu menarik rambut Brata karena kekesalan yang membuncah.
"Kamu sangat menyebalkan Om! Sangat menyesalkan!" umpat Regina seraya menarik-narik rambut pria itu.
"Hay apa yang kamu lakukan! Kita bisa celaka! Jangan lakukan ini, aku sedang nyetir, lepas gadis kecil, lepas!" Brata menghentikan mobilnya mendadak hingga gadis itu jatuh menimpa tubuh pria itu.
Regina pun terkejut dan jantungnya pun berdetak tak karuan. Posisi mereka begitu dekat hingga hidung mereka hampir tersentuh. Tatapan mereka bertemu dan saling menatap dalam, hingga suara klakson mobil di belakang mereka membuyarkan lamunannya masing-masing.
Brata pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan keheningan terjadi kembali hingga mobil mereka sampai di sekolah gadis itu.
"Terima kasih," ucap Regina tanpa menoleh pada Brata. Gadis itu langsung membuka pintu mobil dan lari menuju gerbang sekolah.
Sementara Brata tersenyum tipis melihat langkah gadis itu. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala karena merasa konyol dengan tingkah gadis yang ditemuinya tersebut.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰
Aku hanya ingin mengatakan I love you always pada kalian 🤣🤭
Terima kasih atas dukungannya 😂
Othor promosi lagi ya, mungkin ada yang berkenan mampir ke karya Bestie Othor 😂
__ADS_1
Selamat membaca 😍😘