Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
Bukan sakit tapi Modus


__ADS_3

"Aku membatalkan pernikahanmu dengan putriku!" ucap Ryan ketika Roy datang ke rumahnya untuk menemui Putri.


Jedduarrr ...


Bagai disambar petir di siang bolong, kini Roy terkejut mendengar ucapan calon mertuanya tersebut.


"Tapi kenapa, Om?" tanya Roy dengan wajah pucatnya.


"Mungkin kau buat kesalahan hingga Putriku tidak bisa memaafkanmu!" ucap Ryan datar.


"Sekarang Putri mana, Om? Ryan ingin bicara dengannya sebentar saja!" ucap Roy dengan wajah memohon.


"Putri sudah berangkat ke Paris 2 Jam lalu!" ucap Ryan dengan wajah menahan emosi.


"Tidak! Om Ryan jangan bercanda! Aku tahu kalian marah sama Roy, tapi tidak begini caranya Om! Roy tidak mau membatalkan acara pernikahan ini! Aku akan menyusul Putri, kemanapun dia pergi!" ucap Roy seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Jika kau memang mencintai putri Om, selesaikan masalahmu dengan masa lalumu! Jangan nyusul dia jika hanya untuk menyakitinya!" ucap Ryan seraya menatap Roy tajam.


Deg


"Aku butuh waktu untuk menjelaskan pada Selena Om! Aku tidak bisa menyakitinya dengan memaksa dia untuk menerima hubunganku dengan Putri!" ucap Roy dengan perasaan bersalah.


"Jika kau tidak bisa menyakiti wanita itu, lalu untuk mencari putri Om, kamu tega menyakiti putri Om tapi kamu tidak tega menyakiti wanita itu. Apakah itu adil buat Putri?" tanya Ryan menatap Roy dengan wajah merah padam.


"Bukan begitu Om, aku hanya ... !"


"Cukup!" Sentak Ryan berdiri dengan kemarahan yang membuncah.


"Sekarang kamu pergi! Sebelum kesabaranku habis." Ryan menuding ke arah pintu keluar.


"Maafin aku, Om!" Ryan menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah, lalu pria itu melangkah meninggalkan Ryan yang memalingkan wajahnya dari pria tersebut.


Roy melangkah menuju mobilnya, lalu Pria itu melajukan mobilnya dengan perasaan kacaunya.


"Kenapa kau meninggalkanku tanpa penjelasan, Put! Seharusnya kau menungguku menjelaskan semuanya, tapi kenapa kau pergi tanpa penjelasan." Roy memegang kemudi mobilnya erat.


_


_


_


"Sayang ... ! Jangan bangun, aku masih ingin memelukmu!" ucap Devan saat Catherine hendak berdiri dari tempat tidurnya.


"Rajaku, aku ingin masak dan mandi! Kamu jangan manja ah, kamu peluk bantal guling sana!"


"Nggak, Sayang! Meluk bantal guling tak se enak meluk kamu!" rengek Devan.


"Tapi, Sayang! Kalau tidur terus rasanya lelah, tau!" gerutu Catherine dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Kamu tau, apa yang tidak membuat kita lelah?" tanya Devan seraya membuka matanya berbinar dengan senyum yang mengembang.


"Apa?" tanya Catherine mengerutkan kening.


Devan menimpa tubuh Catherine hingga tubuh pria itu berada di atas tubuh istrinya dan menatapnya penuh arti.


"Apaan sih, Dev! Kamu nggak jelas!" Catherine mendorong tubuh suaminya hingga tubuh pria itu jatuh terjengkang ke lantai.


"Awh ... !" seru Devan.


"Sayang, sayang ... ! Sakit nggak?" Catherine yang terkejut langsung beranjak dan menghampiri Devan, ia mengecek tubuh suaminya dari depan sampai belakang.


"Sakit ... !" rengek Devan.


"Ha ha ha ... !"


Tawa Catherine meledak saat melihat reaksi Devan. "Kamu itu seperti bukan Devan yang kukenal dulu! Masak jatuh dari tempat tidur doang merengek kayak anak kecil!"


"Kamu itu sangat menyebalkan sih, Sayang! Harusnya kamu itu bilang gini 'Sayang ... sini aku cium biar sakitnya cepet sembuh!" ucap Devan yang masih duduk lesehan di lantai.


"Ha ha ha ... ! Kalau gitu kamu bukan sakit, Sayang, tapi modus!" Catherine terus menertawakan kekesalan pria itu.


"Kamu mau mandi 'kan?" tanya Devan tersenyum penuh arti.


"Hmmm ... !" Catherine berdiri perlahan.


"Iya aku mau mandi!" jawab Catherine seraya lari ke kamar mandi karena ia tahu apa yang akan dilakukan suaminya, dan ia pun tertawa terbahak-bahak setelah menutup pintu kamar mandi.


"Catherine ... !" teriak Devan kesal.


Catherine yang ada di balik pintu masih tertawa terbahak-bahak. "Kamu sih mas, modus banget.


_


_


_


"Selamat datang kembali di Paris, Sayang!" Sambut Dinda seraya merentangkan kedua tangannya pada Putri. Wanita paruh baya itu tersenyum menatap keponakannya yang melangkah mendekati dirinya.


"Miss you, Mom!" Putri memeluk sepupu daddynya tersebut erat.


"Kalau sama Daddy Anton nggak kangen nih?" tanya Anton dengan senyum yang mengembang.


Putri melepaskan pelukannya dari Dinda dan beralih memeluk Anton yang ada di belakang wanita paruh baya itu.


"Putri sangat merindukan, kalian!" ucap Putri.


"Dia siapa?" tanya Dinda yang melihat seseorang muncul dari balik pintu membawa koper keponakannya tersebut.

__ADS_1


Putri melepaskan pelukannya, lalu menoleh dan tersenyum melihat seseorang yang melangkah mendekati dirinya, Anton juga Dinda.


"Dia pacar kamu, Sayang?" tanya Dinda melirik keponakannya sekilas.


"Bukan, Mom! Dia sahabatku!" jawab Putri seraya tersenyum menatap sahabatnya tersebut.


"Ayo duduk, Nak! Kalian pasti capek perjalanan jauh!" ajak Dinda seraya menarik tangan Putri menuju ruang keluarga.


Anton dan Irvan pun mengikuti langkah kedua wanita itu menunju ruang keluarga dengan Dinda dan Putri yang duduk bersebelahan, sementara Anton dan Irvan.


"Malam ini kamu nginap di sini saja!" ucap Dinda seraya menatap Irvan dengan senyum lembutnya.


"Iya, Van! Kamu pasti capek! Mommy Dinda dan Daddy Anton cuma tinggal berdua. kamu nginep di sini saja!" ajak Putri tersenyum.


"Nggak apa-apa 'kan Dad?" tanya Putri seraya menatap Anton dengan senyum yang mengembang.


"Nggak apa-apa!" jawab Anton tersenyum tipis.


"Terima kasih Om, Tante! Tapi lebih baik Irvan nginap di apartemen teman Irvan saja, besok Irvan akan main lagi!" jawab Irvan tersenyum.


"Kamu punya teman di kota ini?" tanya Dinda menatap Irvan dengan senyum yang tak pernah pudar.


"Iya, Tante."


"Kamu di sini berapa hari, Nak?" tanya Dinda.


"Aku di sini hanya 2 hari saja, Tante! Karena Irvan hanya izin 4 Hari." Irvan tersenyum menatap wanita paruh baya itu.


"Kamu kerja apa di Indonesia?" tanya Anton menatap Irvan datar.


"Dad, jangan tatap sahabat Putri kayak gitu, senyuminlah dikio, wajah Daddy serem kalau kayak gitu!" ucap Putri menatap Anton tajam.


"Kamu kenapa nggak suka begitu, padahal aku tidak menatap Irvan tajam!" Anton menatap Putri dengan mengerutkan alisnya.


"Tapi wajah Daddy nyeremin kalau tanpa senyum, iya nggak sih Mom?" tanya Putri menatap Dinda dengan senyum anehnya.


"Kandaku memang sering kayak gitu, Sayang! Sangat-sangat menyebalkan!" ucap Dinda membenarkan ucapan keponakannya tersebut.


"Nggak apa-apa Kok, Put! Om Anton 'kan nanyanya baik-baik!" ucap Irvan tersenyum.


"Tapi, aku melihatnya yang kesel lihat wajah Daddy Anton kayak gitu. Biasanya 'kan Daddy Anton senyum kayak gini, kayak gini!" ucap Putri seraya menirukan gaya Anton hingga membuat Dinda tertawa terbahak-bahak karena Putri sampai bertingkah konyol seperti gayanya Anton.


Anton yang tidak terima langsung melempar bantal yang ada di sofa tersebut.


"Daddy ... !" teriak Putri memanyunkan bibirnya.


"Ha ha ha ... Sayang, kamu itu ternyata belum lupa tingkahnya Kanda yang super ngeselin! Ha ha ha ... !" Dinda Sampai memegang perutnya karena menertawakan keponakannya tersebut.


Sementara Irvan tersenyum tipis melihat tingkah sahabatnya yang aneh. Berbeda dengan Anton yang menatap keduanya dengan wajah kesal.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...


__ADS_2