Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
Manusia tak berperasaan


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Devan hanya duduk mematung di ruangannya, pria itu kehilangan semangat karena kepergian Catherine. Setelah Devan lama mematung, tiba-tiba suara ketukan pintu menggelegar di telinganya mengagetkan Devan dan membuyarkan lamunan pria tersebut.


"Masuk!" titah Devan.


Tiba-tiba Randa datang dan membuka ruangan pria itu. Randa melangkah mendekati meja kerja Devan, ia pun duduk tanpa permisi. "Aku datang untuk mengundurkan diri!" ucapnya.


"Apa kamu yakin?" tanya Devan seraya menatap Devan datar.


"Yakin!" ucapnya kaku.


"Baiklah, sebelum kau membuat keputusan, bukalah amplop ini!" Devan menyodorkan sebuah amplop besar yang membuat Randa mengerutkan kening.


"Apa ini? Kau mau membayarku berapa pun, aku akan tetap melaporkanmu ke polisi!" ucap Randa yakin.


"Bukalah!" ucap Devan tersenyum sinis.


Randa pun membuka amplop tersebut. Pria itu terkejut saat melihat bukti-bukti perlakuan buruknya pada Catherine. Ia merasa ketakutan. Namun, ia mencoba untuk bersikap datar.


"Tapi aku juga akan mencari bukti bahwa kamu orang ketiga di antara kami," ucap Randa.


"Aku hanya ingin memberimu pilihan, diam dan kamu akan tetap dengan jabatanmu atau kau memilih berurusan dengan pihak yang berwajib, tapi usahamu sia-sia," ucap Devan.


"Kurang ajar!" umpat Randa.


"Ingatlah siapa aku? Aku manusia yang tak berperasaan jika ada seseorang yang mengusikku! Jika kau berhenti dari perusahaan ini! Maka jangan harap kau akan diterima kerja di perusahaan manapun!" ancam Devan.


Deg.

__ADS_1


"Kau tidak akan pernah menang melawanku, karena akan kupastikan, tidak akan ada satu pengacara pun yang akan mau membelamu," ucap Devan tersenyum sinis.


"Dasar licik!" umpat Randa mengepalkan kedua tangannya.


"Kau bukan memberiku pilihan, tapi kau memaksaku untuk menuruti keinginanmu!" ucap Randa.


"Mark!" Suara Devan menggelar di ruangan tersebut, dan seketika tubuh Randa bergetar saat mendengar nama tersebut, pria itu tahu betul siapa Mark yang baru saja dipanggil oleh Devan tersebut.


"Maafkan saya, Tuan! Saya akan mematuhi apapun keinginan Tuan!" ucap Randa dengan suara bergetar.


Randa mengingat istri keduanya yang sedang hamil, apa yang akan terjadi jika seandainya terjadi sesuatu padanya.


"Ada apa, Tuan!" tanya Mark yang tiba-tiba muncul di balik pintu, dan tubuh Randa pun semakin bergetar hebat, keringat dingin pun mulai bercucuran karena ia membayangkan sesuatu yang menakutkan.


"Aku mau, kau mengutus salah satu anak buahmu untuk memastikan bahwa pria ini tidak akan berkhianat padaku!" titah Devan.


"Tapi, Tuan!" ucap Randa kaku.


"Kau akan kubebaskan jika jika kamu sudah bisa membuktikan kalau kamu akan selalu setia padaku!" ucap Devan


"Sekarang kau boleh pergi!" titah Devan.


"Tapi, Tuan ... !" ucap Randa.


"Pergi!"


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Tuan!" ucap Randa. Pria itu pun berdiri, lalu melangkah meninggalkan ruangan tersebut.


"Kalau begitu, aku juga keluar, Tuan!" pamit Mark.

__ADS_1


"Hm ... !" jawab Devan datar.


Mark pun juga keluar dari ruangan tersebut, membiarkan Devan menyendiri di ruangan tersebut.


_


_


_


Satu bulan kemudian.


Paris


"Aku akan kembali ke Indonesia!" ucap Brian pada David dan Freya.


"Kenapa mendadak, Dad?" tanya David mengerutkan keningnya.


"Adikmu masih butuh bimbingan!" ucap Brian datar. Sementara Garacia hanya diam karena ia tahu segalanya.


"Sudahlah, Sayang! Lagi pula Baby kita sudah berusia 2 Minggu, ada Baby sitter juga di sini! Kau bisa ke kantor, di sini juga ada pembantu, jika aku membutuhkan sesuatu aku tinggal minta bantuan mereka!" ucap Freya tersenyum tipis.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰


Selamat pagi penyemangatku, Jangan bosen buat komen ya Guys meskipun Othor tidak membalas komen kalian, Othor baca komen kalian selalu 🥰

__ADS_1


Hanya saja kesempatan buat bales komen, Othor gunakan buat nulis 😘


Thank you All, sampai jumpa di episode selanjutnya 🙈😂🤭


__ADS_2