
"Selamat ... !" ucap Irvan tersenyum seraya mengulurkan tangannya pada Roy.
"Terima kasih," jawab Roy tersenyum tipis.
"Terima kasih, Panda!" jawab Putri dengan senyum yang mengembang.
"Karena kamu sudah ada yang menjaganya, aku kembali ke Indonesia malam ini!" ucap Irvan dengan senyum tipis.
"Kenapa kita tidak pulang bareng aja besok?" Putri menatap sahabatnya itu dengan senyum yang mengembang hingga membuat seseorang yang di sampingnya merasa terbakar api cemburu. Namun, ia menahannya karena ia tahu bahwa pria itu hanya mengantar Putri untuk menjaganya.
"Tidak, aku berangkat malam ini saja! Aku ingin istirahat dulu sebelum kerja!" ucap Irvan tersenyum.
"Oh ... ya sudah, hati-hati!" ucap Putri tersenyum.
"By the way, maafin aku ya! Aku merepotkanmu!" ucap Putri dengan perasaan bersalahnya.
"Tidak masalah, kamu tidak merepotkan! Lagi pula aku ke sini juga pengen liburan, karena aku sudah lama tidak ke negara ini!" ucap Irvan tersenyum.
"Beneran?" tanya Putri.
"Iya Bener! Ya sudah, kalau begitu aku pamit duluan!" ucap Irvan tersenyum.
"Hati-hati!" ucap Putri seraya melambaikan tangannya.
"Iya!" jawab Irvan seraya membalas lambain tangan Putri dan melangkah menjauh dari kapal pesiar tersebut.
Roy dan Putri menatap kepergian pria tersebut. Jika Roy menatanya dengan wajah lega, sementara Putri menatapnya dengan perasaan hampa.
Ia tidak tega menyakiti sahabatnya sendiri, tapi apalah daya. Perasaan tidak bisa dipaksakan. Gadis itu merasa bersalah karena ia tahu betul perasaan sahabatnya tersebut.
"Maafkan aku yang memberimu harapan palsu, semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dariku!" batin Putri.
"Lebih baik kita segera kembali! Kita lanjutkan pernikahan kita 4 hari lagi, Sayang? Seperti waktu yang telah kita tentukan sebelumnya. Kalau perlu kita kembali saat ini juga!" ucap Roy tersenyum.
Putri menoleh menatap pria yang menjadi kebahagiaannya tersebut. "Sayang, aku tidak bisa kembali saat ini juga, karena aku masih mau ke rumah Kak David dan Kak Freya."
"Aku ingin menemui Baby Sean. Selama ini aku hanya melihat dia di layar Ponsel." Putri tersenyum menatap tunangannya tersebut.
"Ya sudah, kita langsung ke sana saja! Kita jangan buang-buang waktu, karena kita harus mempersiapkan segalanya dengan matang!" ucap Roy tersenyum.
"Ya sudah, ayo! Aku juga akan menghubungi Art di mansion Mommy Dinda, biar mereka membereskan barang-barangku, di sana!" ucap Putri seraya mengambil ponselnya.
Roy menggenggam tangan Putri, lalu keduanya berjalan beriringan seperti layaknya seorang pangeran dan Cinderella.
_
__ADS_1
_
_
Dinda kini tiba di mansion putrinya. Ia mendengar gelak tawa di kamar Baby Sean. Wanita paruh baya itu melangkah mendekati kamar cucunya tersebut. Setelah ia sampai di sana, ia tersenyum saat melihat David, Devan dan seorang wanita yang berwajah asing baginya sedang bersenda gurau.
Dinda mengerutkan kening. Lalu menghampiri ketiga orang tersebut. "Freya mana, Vid?" tanya Dinda yang tiba-tiba membuat suasana kamar itu sepi, dan menatap ke arahnya.
"Mommy ...!" ucap David tersenyum.
"Kemana Freya dan Sean, Vid?" tanyanya sambil celingukan.
"Tante nggak menanyakan kabarku?" tanya Devan seraya mengerlingkan sebelah matanya.
Dinda melebarkan mulutnya tak percaya, orang yang terkenal dingin dan tidak memedulikan orang lain ternyata malah bersikap sebaliknya.
"Ini beneran Devan 'kan?" tanya Dinda seraya mengelilingi tubuh pria itu.
"Kenapa, Tante? Aku makin tampan 'kan?" tanya Devan menaik turunkan alisnya.
"Bukan!"
"Raya bilang kamu itu tipe orang yang dingin, datar dan suka membuat Raya bicara sendiri. Tapi yang Tante lihat kayaknya Raya salah deh, nilai kamu!" ucap Dinda yang berhenti tepat di hadapan pria itu.
"Saat bertemu Tante pun, dulu sepertinya kamu itu pendiam. Bahkan sebelumnya kita jarang bicara!" ucap Dinda menatap Devan tak percaya.
"Hanya itu saja?" tanya Dinda.
"Selain itu, aku takut tertarik pada dia karena sahabatku tergila-gila padanya."
"Benarkah?" Dinda menaikkan sebelah alisnya.
"Iya! Selain itu dia juga tergila-gila pada Kak David yang cassanova ini!" ucap Devan memegang pundak saudaranya.
"Apaan sih?" David menghempaskan tangan Devan.
Sementara Catherine memilih diam dan hanya memperhatikan Devan yang menurutnya sangat konyol.
"Kalian itu aneh!" ucap Devan menatap Dinda.
"Kenapa?" tanya Dinda menatap Devan bingung.
"Jelas-jelaa Raya tergila-gila pada Kak David, tapi anehnya kalian malah menjodohkan Kak David dengan Kak Freya!" ucap Devan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku nggak heran lagi kalau Raya itu nyebelin, ternyata dia itu nyebelin karena nurun dari ..." Devan menghentikan ucapannya karena ia hampir keceplosan.
__ADS_1
"Nurun dari siapa? Adanya kamu tuh yang nyebelin!" ucap Dinda seraya menjewer telinga pria tersebut.
"Ah ... Tante, Tante! Lepasin Tante!" ucap Devan seraya memegang telinganya yang terasa panas karena jeweran wanita paruh baya itu.
Sementara David menahan tawanya melihat adiknya sengsara. Catherine pun hanya tersenyum tipis melihat tingkah konyol suaminya tersebut.
"Mommy ... !" panggil Freya yang habis keluar dari kamar mandi.
Seketika semua orang yang ada di ruangan itu menoleh, dan menatap wanita itu. Sementara Dinda tersenyum melihat cucunya yang begitu menggemaskan di gendongan putrinya.
"Mommy kesini bareng daddy?" tanya Freya seraya menatap mommynya dengan senyum tipis.
"Tidak, mommy di antar sopir ke sini! Tadinya mommy ingin ke sini bareng Putri tapi dia diajak temannanya jalan tadi," jawab Dinda tersenyum.
"Putri ada di sini Mom, Tante?" tanya Devan dan Freya bersamaan.
"Kompak banget?" ucap David seraya menatap Freya dan adiknya bergantian.
"Iya, katanya dia akan main ke mansion ini karena kangen sama kamu, Frey!" ucap Dinda tersenyum seraya menatap putrinya tersebut.
"Freya juga sangat merindukan ke bawelan dia, Mom!" ucap Freya tersenyum tipis.
"Am ... mam ... mam ... !" Sean melayangkan tubuhnya saat melihat kedatangan Dinda. Dinda pun tersenyum dan mengambil cucunya tersebut dari gendongan Freya.
"U tu tu tu ... " Cucu Oma kangen ya sama Oma, ya? Oma juga kangen banget sama Sean," Dinda mencium pipi gembul Sean kanan kiri.
"Sean nggak pake pempers, Frey?" tanya Dinda seraya menatap wajah putrinya.
"Sean 'kan baru dari kamar mandi, Mom? Tuh tadi dia pipis di kemeja Devan!" ucap Freya seraya melirik adik iparnya tersebut.
"Pantesan dari tadi bau kamu aneh, Dev!" Dinda tertawa melihat wajah kesal pria tersebut.
"Tante satu dua sama Raya!" ucap Devan.
"Ya sudah, aku ganti baju dulu!" ucap Devan seraya melangkah pergi keluar dari kamar tersebut.
"Aku juga keluar dulu Sayang, Mom, Adik Ipar!" pamit David menatap satu persatu dari ketiga wanita tersebut.
"Kenapa mereka tiba-tiba pergi?" Dinda menatap keduanya bingung.
"Mungkin mereka ingin memberikan kita peluang untuk ngobrol sesama perempuan, Mom!" jawab Freya tersenyum tipis.
.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
...TBC...