
Beberapa hari kemudian.
Kini keadaan Brata kembali pulih, pria itu mengembangkan senyumnya. Ia mengajukan surat gugatan perceraian ke pengadilan, setelah itu ia mendatangi rumah Regina untuk melihat gadis pujaannya tersebut.
Akan tetapi, pria itu tidak berani untuk menghampiri gadis itu karena ia belum resmi bercerai dengan sang istri.
Ia menunggu surat perceraiannya untuk mengungkapkan keinginannya pada gadis tersebut. Brata hanya memantau rumah Regina dari kejauhan, berharap gadis itu akan segera keluar rumah.
Akan tetapi, Brata sampai menunggu seharian ia tidak melihat siapapun di rumah itu kecuali ART. Akhirnya Brata pulang dan membawa seribu pertanyaan dalam dirinya karena tidak melihat keluarga Atmaja sama sekali.
Ke esokan harinya pria itu datang kembali. Namun, masih sama seperti sebelumnya hingga setelah 3 hari memantau keadaan rumah gadis itu masih tetap sama. Akhirnya ia mendekati penjaga di rumah tersebut dan menanyakan kemana perginya keluarga Atmaja.
"Pak ... apakah Tuan Ryan ada?" tanya Brata tersenyum seraya menghampiri satpam yang hendak menutup pintu pagar rumah mewah tersebut.
"Anda belum tahu tentang keluarga ini?" tanya penjaga rumah Atmaja.
"Tidak, Pak! Memangnya ada apa dengan keluarga ini?" tanya Brata seraya menatap satpam itu dengan mengerutkan kening.
Satpam itu menundukkan kepalanya. "Maaf Tuan, Tuan Ryan sedang berduka saat ini, mungkin Anda bisa menemuinya lain kali!" ucap satpam tersebut.
Deg
"Berduka? Maksudnya?" tanya Brata memastikan.
"Nona Regina~ putri bungsunya Tuan Ryan meninggal setelah 2 hari berobat di Paris," jawab penjaga rumah itu sendu.
Jedduarrr ...
Tubuh Brata melemah seketika setelah mendengar pernyataan satpam tersebut.
"Tidak, kamu pasti bohong 'kan Regina sudah sembuh, dia tidak mungkin meninggalkan aku, dia tidak mungkin membiarkanku bersedih!" ucap Brata dengan air mata yang tertahan.
"Aku tidak percaya! Dan aku akan menyusul mereka ke sana!" ucap Brata seraya memegang dadanya yang terasa sesak.
Brata langsung mengendarai mobilnya menuju rumah Roy dan Putri. Pria itu langsung mengetuk pintu rumah wanita itu berharap ia bisa menemuinya. Namun, hasilnya sama, wanita itu juga tidak ada di rumah tersebut dengan alasan yang sama.
Brata pun melangkah gontai menuju mobilnya. Ia masuk dan melajukan mobilnya menuju Danau tempat kenangannya bersama Regina.
__ADS_1
Ia seakan-akan melihat Regina menari-nari dan tersenyum ria di pinggiran Danau itu seperti apa yang selalu ia lihat tiap harinya.
Air mata Brata tak hentinya mengalir, ia terus menangis seraya melangkah menuju rumah pohon tempat untuk menghabiskan waktu mereka di tempat tersebut.
Brata menaiki tangga satu persatu, dan setiap tangga yang ia ditapaki ia tak hentinya mengingat gadis itu, bayangan-bayangannya terus mengikuti langkah pria tersebut hingga ia merasa susah untuk menghembuskan nafas.
Sesampainya di rumah pohon itu, ia melihat ukiran tangan gadis itu yang bertuliskan namanya dan nama gadis tersebut. Brata mendekati ukiran itu, lalu mengusapnya sambil menangis terisak-isak.
"Jika benar kau pergi, please bawalah aku bersamamu! Aku bisa bertahan karena selalu ada kamu di sampingku, tapi sekarang siapa yang akan menghiburku? Aku di sini sendirian Re, aku sendiri!"
Brata terus menumpahkan air matanya hingga rasa sesak di dadanya terus menjalar dan membuat pria itu jatuh pingsan di rumah pohon tersebut.
Ke esokan harinya.
Pria itu sadar dengan sendirinya, lalu ia berdiri dengan badan yang begitu lemas. Ia duduk di kursi yang ada di rumah pohon itu, lalu menatap Danau di hadapannya dengan tatapan kosong. "Apakah aku cuma mimpi?" gumamnya.
"Tidak, ini begitu nyata, aku tidak mungkin bermimpi. Aku akan pergi ke Paris untuk memastikan semuanya!" ucap Brata.
Pria itu berdiri dari tempat duduknya, ia menemukan selembar kertas yang tidak sengaja ia injak.
Ia membuka lipatan kertas itu, dan membaca tulisan tangan Regina dengan air mata yang mengiringinya.
^^^Brata kekasihku yang tidak menganggapku.^^^
Aku mencintaimu, meskipun kamu tidak!
...Kamu selalu bilang kalau kamu itu punya istri, tapi aku tahu kalau kamu bilang seperti itu karena kau tidak ingin aku ganggu. Semakin kau menjauh dariku, maka semakin aku mencintaimu!...
...Bahkan aku pernah bilang padamu, bahwa seandainya kamu punya istri, maka aku akan menjadi pelakor tangguh, padahal sebenarnya tidak. Aku tidak mungkin menjadi seorang pelakor meskipun aku mencintaimu melebihi segalanya, karena aku tidak ingin menyakiti wanita lain! Satu hal yang harus kamu tahu, aku akan selalu mencintaimu meskipun seandainya takdirmu bukan hidup denganku!...
Brata menutup kertas itu, ia menghapus air matanya seraya melangkah keluar dari rumah pohon tersebut. Ia melangkah dengan tatapan kosong menuju mobilnya.
Ia pulang, sesampai di apartemen yang ia tempati, ia melihat Edward sudah berada di sana menunggu pria tersebut.
"Kamu dari mana saja?" tanya Edward yang melihat penampilan adiknya berantakan.
"Aku dari luar, Kak!" jawab Brata dengan senyum lemah.
__ADS_1
"Kamu sakit lagi?" tanya Edward yang melihat pria itu pucat.
"Tidak, Kak!" jawab Brata.
Brata pun melangkah lunglai menunju kamarnya, sementara Edward mengikuti langkah pria itu.
"Aku ingin istirahat, Kak!" ucap Brata tersenyum. Lalu pria itu merebahkan tubuhnya pada tempat tidur.
Edward pun menempelkan tangannya pada kening pria tersebut, lalu pria itu menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan adiknya.
"Aku baik-baik saja, Kak! Kenapa Kakak panggil dokter?" tanya Brata seraya memejamkan matanya.
"Tidak, kamu tidak baik-baik saja! Kamu demam!" ucap Edward dengan senyum yang lembutnya.
"Aku hanya butuh istirahat, Kak! Besok aku pasti pulih!" ucap Brata yakin.
"Lebih baik kalau kau segera diperiksa biar cepat sembuh, kakak harus kembali ke London karena kerjaan kakak tidak bisa ditinggal terlalu lama!" ucap Edward.
"Kakak kembali saja, tidak perlu hiraukan aku! Aku bisa menjaga diri baik-baik!" ucap Brata tersenyum.
"Tapi aku tidak bisa tenang jika kau masih belum pulih!" jawab Edward.
"Kembalilah, Kak! Lagi pula aku akan ke Paris untuk liburan!" ucap Brata berbohong.
"Kau tidak perlu membodohi Kakak, Kakak tahu apa alasanmu ingin ke sana! Aku tidak akan melarangmu, tapi setidaknya tunggulah keadaanmu membaik, agar Kakak tenang melihat kau bepergian jauh karena Kakak tidak memungkinkan untuk menemanimu!" ucap Edward yang memberi pria itu saran.
"Baiklah, Kak!" jawab Brata tersenyum.
"Tapi kalau kakak jadi aku, apakah kakak akan percaya kalau Regina telah tiada?" tanya Brata menatap Kakaknya yang duduk di sofa kamar tersebut.
"Aku tidak tahu itu, karena aku tidak pernah merasakan menjadi kamu!" ucap Edward tersenyum lembut.
"Tapi kalau dari yang kakak lihat dari kondisinya sewaktu di sini, kecil kemungkinan untuk dia bertahan!" ucap Edward seraya menundukkan kepalanya.
Seketika air mata Brata jatuh kembali. Namun, pria itu tetap meyakini bahwa orang yang dicintainya masih hidup.
"Walaupun seluruh dunia pun bilang dia telah tiada, aku tidak akan percaya sebelum aku melihatnya sendiri!" ucap Brata dengan menghapus air matanya.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...