
Beberapa hari berlalu. Kini keadaan Brata kembali pulih. Pria itu sudah berada di Paris mencari tahu tentang kebenaran kematian Regina. Ia kini sudah berada di depan pintu utama Mansion keluarga Cassilas dan memencet bel di sana.
Setelah beberapa saat, seorang ART membukakan pintu dan mempersilakan pria itu masuk.
Brata menunggu penghuni rumah itu di ruang tamu, tiba-tiba Anton datang dan duduk di seberangnya.
"Selamat malam, Dokter!" ucap Brata seraya mengulurkan tangannya.
"Malam," jawab Anton tersenyum tipis.
"Maaf Anda, siapa?" tanya Anton seraya mengerutkan kening karena tidak pernah melihat pria itu sebelumnya.
"Saya Brata kakak iparnya Devan Galaxy!" ucap Brata tanpa basa-basi.
Anton mengembangkan senyumnya. "Kalau boleh tahu, ada keperluan apa kamu ke sini, Nak?" tanya pria paruh baya itu.
"Saya hanya ingin bertemu dengan Regina Om!" jawabnya.
Anton mengerutkan keningnya. "Regina?"
"Iya, Regina! Regina ada di sini 'kan Om?" tanya Brata dengan mata penuh harap.
"Regina sudah tiada! Puas kamu!" ucap Putri yang kebetulan lewat di ruang tamu tersebut.
Put ... !" panggil Anton lembut.
Brata berdiri seraya mendekati Putri dengan wajah datarnya. "Cukup! Kamu pikir aku akan percaya, hah?" tanya Brata tidak terima.
"Tapi itu benar adanya!" jawab Roy yang melangkah mendekati keduanya.
Sementara Anton memilih diam dan hendak pergi meninggalkan ruangan itu. Namun, Brata menghalangi langkahnya.
"Please, Dokter. Katakan yang sesungguhnya!" Brata menatap Anton sendu.
"Apa yang mereka katakan memang benar, Nak! Jadi apa yang mesti aku jelaskan lagi?" tanya Anton balik.
"Please jangan bohongi aku, Dok!" Brata mengatupkan kedua telapak tangannya.
Anton pun menurunkan tangan pria itu perlahan, lalu menyuruh pelayan Mansion, untuk mengantar pria itu ke kuburan gadis tersebut.
Sesampainya di kuburan Regina, pria itu duduk bersimpuh di dekat pusara gadis itu. Ia mengusap nama Regina yang terukir di batu nisan tersebut.
Namun, air mata Brata seakan telah mengering. Ia terus menatapnya mencoba meyakinkan diri bahwa wanita yang dicintainya telah tiada.
Namun, ia tetap tidak percaya, ia meyakini bahwa gadis yang dicintainya tersebut. "Jika benar kamu telah tiada, aku berjanji padamu! Seumur hidupku, aku tidak akan pernah menikah dan tidak akan ada wanita lain selain kamu!" ucap Pria itu seraya mengusap batu nisan tersebut.
__ADS_1
Dari kejauhan, Ryan dan Rani hanya melihat pria itu dengan tatapan datar. Rani ingin menghampiri pria itu. Namun, Ryan mencegahnya dengan memegang pergelangan tangan wanita paruh baya tersebut.
Rani yang tidak tega melihat Brata di kuburan, akhirnya pergi menjauh meninggalkan pria itu yang masih termenung.
"Re, jika kamu memang benar pergi, aku harap kau menungguku di sana! Semoga jiwamu damai!" ucap Pria itu tersenyum.
"Aku ingin kembali lagi ke Indonesia, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan hidup tanpa kamu, raga ini memang masih hidup! Tapi mulai saat ini, jiwaku akan ikut denganmu!" ucap Brata tersenyum sendu.
"Semoga takdir menyatukan kita kembali!" ucap Pria itu seraya beranjak dari tempat tersebut.
_
_
_
2 Bulan berlalu.
Kini pria itu resmi bercerai dengan Keyla. Ia mengulurkan tangannya pada mantan istrinya tersebut dan tersenyum lembut.
"Kita damai!" ucapnya.
Keyla menerima uluran tangan Brata dan membalas senyuman pria tersebut. "Damai!" jawabnya.
Brata kini tiba di rumahnya, sejak pulang dari Paris pria itu menyibukkan diri dengan bekerja, bekerja dan bekerja, hingga pria itu menjadi orang yang sangat sukses menyaingi adik iparnya.
Sikapnya pun menjadi sangat dingin pada semua orang hingga membuat Catherine heran dengan perubahan sikap kakaknya tersebut.
Pria itu juga membeli rumah mewah dengan harga yang Fantastis, rumah yang bagaikan istana hingga membuat orang yang melihat pertama kalinya menjadi terheran-heran.
Catherine datang untuk menemui kakaknya karena khawatir dengan kondisi sang kakak yang baru bercerai dengan istrinya.
Wanita itu di antar oleh Devan. Namun, suaminya tersebut langsung ke berangkat ke kantornya setelah memastikan sang istri selamat sampai tujuan.
"Kak ... !" panggil Catherine yang melihat kakaknya masih sibuk dengan laptop di ruang kerjanya. Gadis itu duduk di sofa seraya menatap Devan yang masih sana fokus.
"Ada apa, Dek?" tanya Brata yang masih tidak mengalihkan tatapannya dari layar laptop.
"Tidak ada apa-apa, Kak! Aku hanya ingin memastikan bahwa kakak baik-baik saja!" ucap Catherine tersenyum.
"Memangnya aku kenapa? Aku selalu baik kok!" jawab Brata tersenyum tipis.
"Tidak, kakak tidak baik-baik saja, aku tahu itu!" ucap Catherine yang masih menatap kakaknya lekat.
Brata pun menghela nafasnya, seraya menghentikan jari-jarinya yang sibuk memainkan laptop.
__ADS_1
"Aku baik-baik, saja! Memangnya kakak terlihat seperti orang sakit?" tanya Brata seraya menatap adiknya intens.
"Kakak bukan terlihat seperti orang sakit, tapi melebihi itu!" ucap Catherine sendu.
"Kenapa kau bilang seperti itu, Dek?" tanya Brata yang menghampiri Catherine dan duduk di sebelah adiknya tersebut.
"Kak Brata sangat berubah! Dulu kakak selalu cerita apapun tentang kakak pada Catherine, tapi sekarang kakak sangat berbeda. Aku tidak melihat kakak lagi dalam diri kakak!" ucap Catherine dengan wajah kecewanya.
"Kakak masih tetap sama, Sayang! Kakak tidak pernah berubah!" ucap Brata seraya merangkul bahu gadis tersebut.
"Lalu kenapa Kakak sekarang tidak pernah cerita apapun lagi padaku? Apakah Kakak sudah tidak percaya padaku? Dan apakah Kakak sudah lupa kalau Kakak masih punya saudara?" Catherine menyerang Brata dengan beberapa pertanyaan.
"Kenapa kau bilang seperti itu, Dek? Aku tidak ingin membahayakan keponakanku karena membawamu dalam masalahku, Dek! Percayalah, bahwa apapun yang kakak lakukan, itu semua demi kebaikanmu!" ucap Brata sendu.
Pria itu sangat sedih mendengar pertanyaan sang adik. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena pria itu terlalu menyayangi adiknya tersebut.
"Maafkan aku, Kak! Maafkan aku!" ucap Catherine yang kemudian memeluk tubuh kakaknya tersebut dari samping.
"Tidak apa-apa, Dek! Aku sangat mengerti!" ucap Brata dengan tangan sambil membelai rambut wanita tersebut.
"Aku hanya sangat merindukan kakak yang dulu, sekarang kakak bukan lagi kakakku yang dulu! Terkadang aku merasa menjadi orang asing saat bersama Kakak, dan aku benci hal itu!" ucap Catherine dengan air mata yang tidak bisa dibendung lagi.
"Kakak hanya ingin menjaga diri, Dek! Kakak tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun!"
"Apakah itu termasuk aku?" tanya Catherine yang memotong ucapan sang kakak.
"Tidak!" jawab Brata dengan perasaan bersalah.
"Aku mohon, kembalilah seperti sikap Kakak yang dulu lagi. Aku sangat merindukannya, Kak!" pinta Catherine.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰
Jangan lupa jejaknya ya! Dan terima kasih atas Vote yang kalian kasih
Much ... 😘
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Insya Allah besok 👋👋👋
Thank you All ...
__ADS_1