Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
Senyuman manis


__ADS_3

"Aaaa ... " teriak Catherine.


"Catherine! Kamu kenapa, Nak?" Puja sangat menghawatirkan putrinya.


"Bruk ..." Devan langsung membuka pintu ruangan Catherine saat mendengar teriakan wanita itu.


"Ada apa dengan istriku, Mom?" tanya Devan cemas.


"Stop! Kamu jangan mendekat!" teriak Catherine saat melihat Devan akan memeluknya.


Devan mengehentikan langkahnya. Lalu Catherine balik badan, membelakangi pria tersebut.


Devan tersenyum. "Baiklah, jika kau baik-baik saja tanpaku, aku akan pergi!" ucap Devan seraya balik badan.


Pria itu hendak melangkah meninggalkan ruangan tersebut. Namun, Catherine merasa ada sesuatu yang salah pada dirinya hingga ia mencegah Devan untuk pergi.


"Berikan aku waktu untuk menerima kenyataan, bahwa kau adalah suamiku!" ucap Catharine.


Devan pun tersenyum mendengar ucapan istrinya. Lalu menoleh dan kembali mendekati Catherine. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku, cukup kau berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa akulah yang kamu cintai bukan Randa!" ucap Devan.


Catherine hanya diam, wanita itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ada perasaan tidak tega untuk menyakiti pria itu, meskipun ia tidak tahu perasaan itu perasaan apa?


_


_


_


Ke esokan harinya.


"Buka mulutmu!" titah Devan. Wanita itu menyodorkan sesendok bubur ke arah mulut Catherine.


"Aku bisa makan sendiri!" tolak Catherine seraya mencoba untuk mengambil makanan yang di bawa Devan.


"Bukankah kamu yang bilang sendiri, bahwa kamu akan mencoba menerimaku meskipun kau tidak dapat mengingatnya?" tanya Devan.


Catherine cemberut dan Devan pun tersenyum melihat wajah kesal istrinya. Catherine membuka mulutnya dan mengunyah bubur itu hingga habis.


Sekelebat memori dari masa lalunya terlintas di benaknya. Namun, ia tidak bisa mengingat dengan jelas. Catherine hanya mengingat dirinya menangis dan ia d ipeluk seseorang hingga wanita itu merasa nyaman dalam pelukan wanita tersebut.


Catherine terus menatap wajah Devan intens. Suapan demi suapan terus ia telan sambil mencoba mengingat siapa orang-orang yang ada di ingatannya tersebut.


"Apakah kau pernah memelukku, saat aku menangis? Dan apakah kamu pernah menyuapiku saat aku sedang sakit?" tanya Catherine setelah Devan selesai menyuapi dirinya.


Deg


"Kau mengingatnya?" tanya Devan tersenyum penuh kebahagiaan.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak tahu siapa orangnya, aku hanya mengingatnya sekilas! Entah itu kamu atau Mas Randa!" ucap Catherine.


"Kau tidak perlu memaksakan ingatanmu segera pulih! Kau akan tahu sendiri apa yang terjadi padamu di masa lalu setelah kau sembuh!" ucap Devan.


"Jika kau memang orang yang ada di ingatanku? Harusnya kau tau, kenapa aku menangis di waktu itu?" tanya Catherine seraya menatap Devan penuh tanya.


"Aku tidak yakin kau akan menerima kenyataan jika aku mengatakan yang sejujurnya, percayalah padaku. Aku mencintaimu melebihi dia mencintaimu dulu!" ucap Devan.


"Itu omong kosong!" ucap Catherine menarik sebelah sudut bibirnya.


"Aku hanya bilang seperti itu, kau sudah tidak percaya, lalu untuk apa aku menceritakan segalanya padamu jika ujung-ujungnya kau hanya akan membenciku karena menganggapku pembohong!" ucap Devan tersenyum.


"Apa maksud dari ucapanmu?" tanya Catherine mengerutkan kening.


"Sudah, kau Istirahat saja!" titah Devan seraya menarik tubuh Catherine perlahan, lalu menyelimuti wanita itu.


"Tapi ... !"


"Percayalah, aku melakukan ini hanya demi kebaikanmu!" ucap Devan memotong ucapan istrinya.


"Baiklah, aku istirahat! Tapi kau tidak boleh macem-macem!" Catherine menatap Devan penuh curiga.


"Kalau satu macem bagaimana?" Devan menggoda istrinya.


"Setengah macem pun tidak boleh!" ucap Catherine seraya menatap Devan tajam.


_


_


_


2 Minggu kemudian.


Keadaan Catherine sudah membaik, begitu pun dengan hubungan Devan dan Catherine. Wanita itu juga sudah mulai bisa menerima Devan menjadi suaminya.


"Sekarang kamu boleh pulang, Nak!" ucap Puja. Sementara Louis kembali ke London setelah melihat keadaan putrinya membaik.


"Iya, Mom!" ucap Catherine.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Devan mendekati Catherine, lalu menggendong tubuh wanita itu ala bridal style. Catherine pun melebarkan senyumnya melihat perhatian Devan.


"Dev, turunkan! Aku malu! Biarkan aku duduk di kursi roda saja!" ucap Catherine.


"Selama kau masih lemah, biarkan aku yang menjadi kakimu, bukan kursi roda!" ucap Devan seraya melangkah meninggalkan ruang rawat wanita itu. Sementara Puja senyum-senyum sendiri melihat keromantisan anak dan menantunya.


"Semoga kalian selalu di limpahi kebahagiaan!" gumam Puja setelah bayangan Devan dan Catherine menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Saat melewati koridor rumah sakit, pandangan semua orang tertuju pada pasangan suami istri itu. Namun, mereka tidak ada yang berani menegur pasangan mereka, selain tundukan kepala hormat karena mereka tahu betul siapa Devan yang sebenarnya.


"Selamat pagi, Tuan!" ucap seorang supir yang menunggu Devan seraya membukakan pintu mobil.


Devan pun mendudukkan Catherine di pintu belakang dengan dirinya di samping wanita itu. Sementara Puja di jemput supir lain bersama salah satu bodyguard untuk menjaga keamanan dan membantu mertuanya tersebut.


"Mommy ikut kita 'kan, Dev?" tanya Catherine menatap Devan datar.


"Iya, hanya saja Mommy di jemput mobil lain agar aku bisa berduaan denganmu!" ucap Devan seraya mendekatkan kepalanya, mengejutkan Catherine.


"Jangan macam-macam! Kau sudah berjanji padaku, bahwa kau tidak akan menyentuhku sebelum aku mengingat segalanya!" ucap Catherine mengingatkan pria itu.


"Jika aku membatalkan janjiku bagaimana?" goda Devan.


"Kau tidak boleh seperti itu! Kalau janji tetap janji!" ucap Catherine cemberut seraya memanyunkan bibirnya.


"Jika kau cemberut seperti ini, maka aku tidak akan tahan lama untuk tidak menyentuhmu!" ucap Devan seraya menyentuh bibir Catherine sekilas dengan jari telunjuknya.


"Devan ... ! Kau sangat menyebalkan!" ucap Catherine seraya memalingkan wajahnya.


"Aku semakin gemes melihatmu ngambek!" ucap Devan menyandarkan kepalanya pada bahu wanita tersebut.


Tanpa sepengetahuan Devan, Catherine tersenyum. Wanita itu merasa sangat Bahagia mendapat perlakuan manis dari suaminya.


"Sekarang aku tidak perlu bukti lagi, aku percaya bahwa kau adalah suamiku! Aku memang belum mengingat semuanya, tapi aku ingat bahwa kau adalah pahlawanku!" batin Catherine.


"Sayang ... !" panggil Devan manja.


"Dev, seharusnya aku yang menyandarkan kepalaku padamu! Kenapa malah kamu yang menyandarkan kepalamu padaku?" tanya Catherine.


"Eh, iya! Maaf Sayang, aku lupa kalau kamu lagi sakit!" ucap Devan seraya duduk tegak kembali.


"Sini tidur, Sayang!" titah Devan seraya menepuk pahanya.


Catherine yang melihat jalanan dari jendela mobil, langsung menoleh saat mendengar ucapan Devan.


"Sini!" titah Devan kembali.


Catherine pun tersenyum, lalu tidur di pangkuan pria tersebut.


"Dev, seandainya aku melupakanmu selamanya, apakah kau akan tetap menerimaku?" tanya Catherine tersenyum tipis.


Devan pun membalas senyuman Catherine. "Kenapa tidak? Jika saja aku rela menikahimu yang sedang koma, lalu untuk apa aku tidak bisa menerimamu hanya karena ingatan yang hilang sebagian.


Catherine pun tersenyum puas mendengar ucapan Devan. Meskipun ia tidak mengingat pria itu. Namun, ia merasakan ketulusan cintanya.


...❤️❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2