
Beberapa hari kemudian.
Kini keadaan Catherine mulai pulih kembali, wanita itu memandangi kolam renang dari jendela kamarnya.
Devan mendekati Catherine, lalu memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Catherine pun tersenyum seraya memejamkan matanya menikmati pelukan hangat suaminya tersebut. Catherine juga memegang tangan Devan yang melingkar sempurna di perutnya, kebahagiaannya pun terasa sempurna ketika wanita itu di dekat pria itu.
"I Love you, My husband!" ucap Catherine yang tidak pernah memudarkan senyumnya.
"I love you too, My Queen!" jawab Devan seraya mencium pipi wanita itu dari samping.
Catherine membalikkan badannya, menatap Devan penuh cinta. Wanita itu menangkup pipi suaminya dengan kedua tangannya, dengan badan yang bersandar pada jendela kamar, sementara Devan memegang pinggang wanita itu dan menatap mata sang istri dengan pancaran cinta yang menggebu.
"Kamu suamiku, kamu rajaku, kamu pelindungku dan kamu segalanya. Jangan pernah kamu berpikir untuk meninggalkanku walau sejenak. Meskipun awal hubungan kita dimulai dari hubungan yang salah, tapi aku tidak pernah menyesal telah berselingkuh denganmu!"
"Dengan mengenalmu aku bisa merasakan kebahagiaan, dengan mengenalmu sedihku berakhir dan dengan mengenalmu aku menjadi seorang yang berarti dan istimewa, kau mengangkatku dari jurang kehinaan!" ucap Catherine menatap Devan penuh cinta.
"Aku juga tidak pernah menyesal mencintaimu, karena kamulah cinta pertamaku, bagiku kamu segalanya, hanya kamu yang mampu menggetarkan jantung ini!" ucap Devan seraya mengambil tangan Catherine dan meletakkan tangan itu tepat di dadanya.
"Aku juga tidak pernah menyesal mengawali hubungan kita dengan hubungan yang salah. Ketika selingkuh menjadi jalan pintas, haruskah kita menyesal? Tidak! Bagiku hubungan kita tidak salah, yang salah statusnya saja!" ucap Devan tersenyum.
"Kamu ada-ada saja!" ucap Catherine tersenyum seraya mencubit hidung suaminya tersebut.
Devan pun hanya tersenyum saat Catherine mencubit hidungnya. "Sayang, kamu sudah sembuh 'kan?" tanya Devan lembut seraya menatap mata teduh Catherine.
"Aku sudah sangat sembuh, bahkan aku bisa menciummu!" ucap Catherine seraya mencium bibir Devan sekilas, lalu lari menjauh dari suaminya tersebut.
Devan juga mengembangkan senyumnya seraya lari mengejar sang istri keluar dari kamar tersebut.
Catherine lari mengelilingi lantai atas dan memutari sofa tempat bersantai, Devan yang tak mau kalah terus mengejar sang istri hingga membuat pelayan di rumah itu tersenyum-senyum sendiri karena melihat keromantisan keduanya.
"Kena!" Devan menangkap Catherine dari belakang hingga wanita tertawa terbahak-bahak dan Devan pun tidak melepaskan pelukannya.
"Hem ... !" Gracia tiba-tiba hadir di tengah-tengah tawa mereka berdua.
Seketika Devan melepaskan pelukannya, dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sementara Catherine terlihat salah tingkah melihat mertuanya tiba-tiba datang.
"Mommy ... !" ucap Devan tersenyum kaku. Sementara Catherine langsung menyalimi ibu mertuanya.
"Kalian kalau ingin mesra-mesraan seharusnya di kamar, bukan di sini!" Gracia duduk di sofa yang ada di lantai itu.
__ADS_1
Devan pun dengan santainya duduk di seberang Gracia. Lalu, menarik tubuh istrinya hingga Catherine duduk di samping suaminya tersebut.
Tanpa malu, Devan mendekap tubuh Catherine dari samping meskipun Gracia sedang menatapnya tanpa arti.
"Dev, lepaskan!" bisik Catherine di dekat telinga pria itu.
Devan semakin melebarkan senyumnya, mendengar bisikan Catherine. "Kenapa Sayang? Mommy juga pernah muda, jadi dia mengerti dengan hubungan kita yang statusnya masih pengantin baru." Devan mengerlingkan sebelah matanya pada Gracia.
"Kamu itu ya, Dev! Makin ke sini makin aneh saja!" ucap Gracia memutar bola matanya malas.
"Aku pikir Mommy mengerti dengan hubungan kita, Mommy 'kan lebih parah jika sudah bersama daddy!" ucap Devan menggoda mommynya tersebut.
"Jadi ceritanya kamu sengaja mesra-mesraan di depan mommy karena ingin balas dendam nih?" tanya Gracia, menatap Devan seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Bisa dibilang begitu," jawab Devan dengan senyum anehnya.
"Kamu pikir mommy akan iri, nanti malem mommy juga bisa mesra-mesraan dengan daddy!" jawab Garacia kesal.
Sementara Catherine menundukkan kepalanya, tanpa berniat menyela perdebatan suami dan mertuanya.
Gracia menatap menantunya yang hanya diam malu-malu. "Sayang, gimana kabarmu sekarang?" tanya Gracia menatap Catherine dengan senyum manisnya.
"Syukurlah, kalau begitu. Kamu nggak di apa-apain 'kan sama Devan?" tanya Gracia tersenyum lembut.
"Kalau kamu nggak di apa-apain sama Devan, kamu apa-apain duluan aja, Sayang!" titah Gracia menggoda menantunya.
"Mommy meragukan aku?" Devan menaikkan sebelah alisnya. Pria itu tidak terima dengan ucapan orang yang melahirkankannya tersebut.
"Aku nggak bicara sama kamu, tapi aku bicara sama menantu mommy!" ucap Gracia memutar bola matanya malas. Lalu wanita paruh baya itu menatap Catherine Kembali.
"Sayang, kalau kamu kelelahan, nanti kamu hubungi mommy ya! Mommy akan buatkan jamu khusus untuk menantu mommy!" ucap Gracia lembut.
"Mommy lama-lama menyebalkan seperti Tante Dinda, apa mungkin karena kelamaan di Paris, sifat Tante Dinda nular ke Mommy?" Devan menatap Gracia penuh curiga.
"Apaan ketularan Dinda, Mommy 'kan tinggal di rumah kakakmu 'David' mommy bukan ketularan Dinda tapi ketularan kamu dan David tingkahnya yang suka ngusilin istri," ucap Gracia kesal.
"Kita kayak gitu 'kan nurun dari daddy dan mommy!" ucap Devan tersenyum seraya menaik turunkan alisnya.
"Sudahlah, Dev! Mommy pulang dulu! Capek ngomong sama kamu!" pamit Gracia seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Ya udah sana! Lagian mommy ganggu kita mau bikin keturunan saja!" ucap Devan tanpa malu.
__ADS_1
"Mulutmu itu semakin ngawur saja, Dev!" Gracia melempar Devan dengan bantal yang ada di kursi tersebut.
"Aku pulang, Sayang!" Gracia membelai kepala Catherine.
"Iya, Mom!" jawab Catherine tersenyum malu-malu.
"Jaga kesehatan, jangan mau di akal-akali Devan!" ucap Gracia tersenyum lembut.
"Mommy itu mengajari istriku yang tidak benar!" ucap Devan kesal.
"Bukan tidak bener, tapi ini yang bener!" jawab Gracia menggoda putranya.
"Ayo, Mom aku antar ke depan!" Devan mendorong tubuh mommynya pelan dengan memegang kedua pundak wanita tersebut karena tidak tahan digoda mommynya sendiri.
"Mommy bisa jalan sendiri, kamu nggak perlu dorong-dorong mommy segala," ucap Gracia kesal.
"Biar aku yang antar mommy, Dev!" ucap Catherine tersenyum.
"Tidak, biar aku saja!" jawab Devan datar.
"Kamu tunggu aku di kamar saja! Nanti aku akan menyusulnya setelah mengantar mommy!" ucap Pria itu menatap istrinya penuh arti.
"Jangan, Sayang! Kamu jangan mau diperintah Devan!" ucap Gracia seraya melangkah menuju lift.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰
Bagi yang Belum baca Karya Othor yang sebelumnya dan penasaran dengan perjalanan kisah cinta orang tua Devan, bisa mampir ke karya Othor yang berjudul
'Cintai aku walau sejenak'
Menguras emosi dan mengesalkan 🤣🤭
Seperti cover di bawah 👇👇👇
Jangan lupa jejaknya ya, Guys! Dan terima kasih atas Vote dan poin yang kalian kasih ke Othor, Sekali lagi Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk kalian, Love you All ... Muachhh 😘
__ADS_1