
"Aku permisi ke ruanganku dulu, Tuan!" pamit Roy seraya menutup laptopnya. Lalu melangkah mendekati meja kerja Devan.
"Ini berkas-berkas yang dibutuhkan Anda untuk meeting nanti siang," ucap Roy seraya meletakkan berkas-berkas yang dipegangnya.
"Tunggu dulu!" cegah Devan yang masih menatap pria itu tajam.
"Masih ada yang ingin kubicarakan denganmu!" ucap Devan datar.
"Silahkan, Tuan!" jawab Roy. Pria itu berdiri di seberang meja kerjanya.
"Aku ingin kau memindahkan Randa ke kantor cabang, angkatlah dia menjadi Manager di sana!" perintah Devan.
"Kenapa Anda ingin memindahkan Randa dan menaikkan jabatannya, Tuan? Aku pikir Anda akan memecatnya," ucap Roy datar.
Devan tersenyum sinis. "Ternyata kamu tidak sepintar yang kupikirkan, Roy!" ucap Devan menarik sebelah sudut bibirnya.
"Maksud Anda apa, Tuan?" tanya Roy seraya mengerutkan kening.
"Dengan memindahkan dia ke kantor cabang, dia akan semakin lupa pada Catherine karena perjalanan dari kantor cabang dan rumah yang ditempati mereka cukup jauh," ucap Devan tersenyum licik.
"Terus?" tanya Roy lagi.
"Dengan begitu, aku bebas menghampiri Catherine kapanpun yang ku mau." Devan tersenyum penuh arti.
"Anda jangan macam-macam, Tuan!" Roy menatap Tuannya dengan wajah terkejut.
__ADS_1
"Aku tidak mau macam-macam, aku hanya menginginkan satu macam saja, yaitu menjadikan Catherine pendamping hidupku!" ucap Devan dengan senyum liciknya.
"Anda benar-benar tidak waras! Dari sekian banyak perempuan yang mengejar Anda, kenapa harus wanita yang sudah bersuami yang Anda pilih?" Roy menatap Tuannya tidak habis pikir.
"Karena aku tidak tertarik pada semua wanita yang mengejarku, aku hanya tertarik pada Catherine!" ucap Devan tersenyum.
"Terserah Anda, Tuan! Saya hanya tidak ingin membuat Tuan Brian kecewa, pikirkan ucapan saya baik-baik!" ucap Roy dengan wajah datarnya.
"Terima kasih karena telah memberiku nasehat! Tapi maaf, sekarang aku tidak butuh nasehatmu, yang kubutuhkan sekarang adalah Catherine. Kerjakan tugasmu dan jangan membantah! Atau aku akan benar-benar nekat!" ancam Devan menatap Roy tajam.
"Baiklah, Tuan! Aku akan kerjakan apa yang Anda perintahkan." Roy membungkuk, lalu melangkah meninggalkan ruangan Devan.
_
_
_
"Tika!" gumam Devan menatap mantan kekasihnya yang melangkah mendekati dirinya yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
Devan sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan wanita itu, hingga Devan menghubungi seseorang tanpa sepengetahuan Tika, untuk mencegah kemungkinan yang akan terjadi.
"Aku pikir kamu mencintai orang yang jauh derajatnya di atasku, ternyata kau hanya mencintai wanita sampah!" ucap Tika menghina Catherine.
Devan tidak terima, ia mengepalkan kedua tangannya. Namun, ia tidak ingin berbuat kasar dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
"Mark, amankan dia!" titah Devan setelah melihat seseorang yang muncul dari balik pintu.
"Baik, Tuan!" jawabnya.
Tika menoleh menatap arah yang di tuju Devan. Wanita itu melebarkan mulutnya dan hendak pergi untuk meninggalkan ruangan tersebut. Namun, telat. Mark sudah menghalangi langkahnya dan menyerahkan pada dua orang yang bersamanya.
"Bawa dia ke tempat yang Aman!" titah Mark pada dua orang yang bertubuh kekar yang datang bersamanya tersebut.
"Baik, Tuan!" ucap dua orang itu sambil membungkukkan badannya.
"Kalian jangan macam-macam! Kalian mau apa?" tanya Tika
"Lepas!" Tika mencoba memberontak. Namun, tenaganya kalah telak.
"Diam!" sentak Mark seraya menutup mulut Tika dengan lakban. Lalu wanita itu di seret paksa oleh kedua bodyguard yang dibawa Mark.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰
Terima kasih, atas dukungan kalian.
Lope you Full Much 😘
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya 😍
Like and komen ❤️