Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
S2 Jika dia pergi, biarkan dia kembali!


__ADS_3

Setiap hari Brata mendatangi Danau itu, ia selalu mengelilingi Danau hanya untuk mencari botol-botol yang berisi kertas tulisan tangan Regina yang setiap hari Regina buang di Danau tersebut.


Setelah beberapa bulan sejak Regina di nyatakan meninggal, ia banyak menemukannya.


Akan tetapi, pada hari itu dia tidak menemukan apa-apa lagi. Semua botol-botol Itu ia bawa ke rumah pohon tempatnya juga Regina menghabiskan waktu. Namun, ia masih belum membuka botol itu dan membaca tulisan tangan gadis tersebut.


Brata mengambil salah satu botol dan membaca tulisan tangan gadis kesayangannya tersebut untuk yang pertama kalinya.


...Wahai ... Danau yang indah...


...Sampaikan salamku pada jodohku!...


...Katakan padanya jangan terlalu lama membiarkanku dalam kesendirian...


...Aku selalu sabar menanti...


...Tapi jika aku pergi, maka mungkin akan sulit untuk kembali ......


Brata tersenyum membaca coretan Regina. Ia pun juga mengambil kertas dan menulis sesuatu di sana sebagai balasan dari tulisan tangan gadis tersebut.


...Wahai ... Danau yang Indah ......


...Katakan padanya bahwa aku sangat merindukannya...


...Aku tidak ingin membiarkannya sendirian tapi dialah yang membuatku sendiri...


...Dan jika dia pergi, aku mohon biarkan dia kembali...


...Aku hidup bagaikan mati tanpanya....


Brata membawa tulisan itu ke pinggiran Danau dan membacanya dengan keras sama seperti apa yang dilakukan Regina.


Lalu, pria itu memasukkan kertas itu ke dalam botol dan menghanyutkannya di sana. "Aku berharap kamu masih hidup dan membaca surat ini!" ucap Brata tersenyum.


Brata pun kembali ke rumah pohon tersebut dan mengambil gitar untuk menghibur dirinya dengan bernyanyi.


_______


Duhai engkau sang belahan jiwa


Namamu terukir dalam pusara


Di setiap langkah ku selalu berdoa


Semoga kita bersama


Duhai engkau tambatan hatiku


Labuhkanlah cintamu di hidupku


Ku ingin kau tahu betapa merindu


Hiduplah engkau denganku


Dengarkanlah ...


Di sepanjang malam aku berdoa


Bersujud dan lalu aku meminta

__ADS_1


Semoga kita bersama


Dengarkanlah ...


Di sepanjang malam aku berdoa


Cintaku untukmu selalu terjaga


Dan aku pasti setia


___________


Lagu itu terus mengalun merdu menemani pria itu dalam kesunyiannya hingga tanpa terasa air mata pria itu mengalir karena membayangkan senyum ceria Regina. Namun, tidak bisa lagi ia lihat secara nyata.


Setelah itu, Brata duduk memandangi Danau dari kursi yang biasa ia duduki dengan Regina. Setelah puas, ia menatap Danau tersebut, ia pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa sejuta luka yang tidak bisa ia obati.


Brata menuju kantornya dan kembali bekerja tak kenal waktu, bahkan malam pun ia tak kenal lelah, karena setiap bayangan-bayangan gadis itu selalu mengikutinya ketika ia hanya bersantai.


"Ke ruanganku sekarang!" titah Brata pada manager di perusahaannya tersebut.


Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan, pria itu pun mempersilakan masuk.


Dan munculah seorang pria yang masuk ke ruangan tersebut dengan menundukkan sedikit kepalanya.


"Apa ini?" tanya Brata seraya melempar berkas yang ada di hadapannya pada pria itu.


"Kamu mempekerjakan orang yang salah! Aku tidak mau tahu, kamu harus mencari orang yang benar-benar tanggung jawab pada pekerjaannya, aku tidak mau melihat orang yang malas bekerja di kantor ini!" Brata menatap managernya tajam.


"Baik, Tuan!" jawab menager itu dengan kepala yang masih tertunduk.


"Sekarang keluar!" perintah Brata pada menagernya tersebut.


Setelah itu, Sekretarisnya mengetuk pintu, lalu berdiri di hadapannya setelah Brata menyuruhnya masuk. Ia membaca jadwal meeting yang akan Brata hadiri pada hari itu. Lalu, Brata melangkah bersama Sekretaris tersebut menuju restoran untuk menemui klien.


_______


Sementara di tempat lain, kini Catherine merasakan kesakitan yang luar biasa, wanita itu berada di rumah mewahnya karena Devan tidak mengizinkannya lagi untuk datang ke kantor pria itu semenjak hamil besar.


Devan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Catherine di rumah. Akan tetapi, pada siang itu Devan ada meeting dadakan hingga ia terpaksa meninggalkan sang istri karena meeting dengan Klien penting.


Dan pada saat itu, tiba-tiba Catherine merasakan mules pada perutnya hingga rasanya ia tidak bisa berdiri lagi.


Catherine pun, duduk selonjoran di lantai di sisi tempat tidurnya. Ia memegang ponsel seraya menghubungi Devan berkali-kali.


Akan tetapi, suaminya tersebut tidak kunjung mengangkat panggilannya, hingga akhirnya ia berteriak memanggil asisten rumah tangganya dengan suara yang sudah tidak kuat untuk menahan rasa sakit.


Dengan menggenggam erat sprei kasurnya. Catherine mengejan sendiri hingga akhirnya terdengarlah suara tangisan bayi di kamar yang sepi itu, ia melahirkan seorang diri tanpa ada seorang pun yang menemaninya.


Tidak lama kemudian, asisten rumah tangganya tiba di kamar itu, ia pun terkejut saat melihat seorang bayi yang tergeletak di lantai dengan suara tangisan yang begitu nyaring.


Art tersebut sebut menjadi panik, hingga akhirnya, ia menghubungi dokter pribadi majikannya itu setelah menghubungi Devan juga tak kunjung di angkat.


Beberapa saat kemudian, dokter pun tiba dengan membawa beberapa suster ke rumah tersebut dan membersihkan bayi itu yang masih berlumuran dengan darah. Catherine pun juga di bersihkan oleh dua suster yang di bawa oleh dokter pribadi itu hingga Catherine terlihat segar kembali.


Setelah semuanya bersih, tiba-tiba suara ponsel Catherine berdering. Dan tertera nama suami laknatnya di sana.


"Halo, Sayang! Kenapa kau menghubungiku, hah?" tanya pria itu tersenyum dari seberang telpon.


"Telat!" ucap Catherine seraya mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Wanita itu merasa kesal, karena sang suami tidak menemaninya saat melahirkan. "Padahal aku ingin menjambak rambutnya saat aku kesakitan, tapi ternyata tidak kesampaian!" gumam Catherine yang tidak di dengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Nyona! Di sini ada perawat yang akan menemani Anda!" pamit Dokter pribadinya tersebut.


"Silakan, Dok! Terima kasih atas bantuannya!" ucap Catherine tersenyum.


Dokter itu menganggukkan kepalanya perlahan, lalu pergi meninggalkan kamar tersebut.


"Nyonya! Silakan susui bayi Anda dulu!" titah suster seraya tersenyum dan menyerahkan bayi mungil tersebut.


"Baik, Suster! ucap Catherine tersenyum.


Setelah itu, Catherine duduk dan mengambil bantal untuk ditaruh di pangkuannya. Lalu meletakkan sang bayi di bantal tersebut dengan tangan yang menjadi bantalan kepala bayi itu.


Catherine pun menyusui seraya menatap buah hatinya penuh kebahagiaan. "Sayang ... Daddymu sangat menyebalkan, awas saja nanti jika pulang!" ucap wanita itu dengan senyum penuh kebahagiaan.


"Oh Iya, Sus! Ambilkan ponselku di nakas! Aku ingin menghubungi mertuaku!" ucap Gadis itu dengan senyum yang mengembang.


"Baik, Nyonya!" ucap Suster itu seraya mengambil ponsel tersebut, lalu menyerahkannya pada wanita itu.


Catherine pun menghubungi mertuanya. Ia mengabari tentang kelahiran bayinya karena tidak ingin disalahkan jika tidak mengabari mertuanya tersebut. Gracia pun langsung mematikan sambungan teleponnya, lalu menemui menantunnya Setelah mengabari Brian.


Gracia pun tidak hentinya mengembangkan senyum karena rasa bahagianya sang menantu melahirkan dengan selamat dan begitu mudah hingga tidak ada seorang pun yang tahu kecuali suaminya.


Lalu, ia menemani sang menantu di kamarnya, sementara Brian menunggu di ruang keluarga sambil memainkan ponsel.


Beberapa saat kemudian, Devan juga tiba di rumah tersebut, pria itu terkejut saat melihat sang daddy berada di rumahnya, Devan pun celingukan mencari sosok wanita paruh baya yang telah melahirkannya, namun ia tak melihat siapapun kecuali sang daddy.


"Mommymu ada di kamarmu!" ucap Brian tanpa menatap putranya tersebut.


"Owh ... !" ucap Devan seraya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


"Aku ganti baju dulu, Dad!" pamit Devan tersenyum.


"Hm ... !" jawab pria paruh baya itu datar.


Devan pun melangkahkan kakinya menuju kamar, ia khawatir istrinya ngambek karena tidak mengangkat sambungan teleponnya pada saat meeting.


Namun, setelah pria itu sampai di sana, ia sangat terkejut saat melihat Catherine menggendong seorang bayi. Ia berdiri mematung di ambang pintu tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰


Aku sengaja bikin Catherine lahiran di rumahnya, biar sekali-kali suasananya berbeda 🤣🤭


Biasanya 'kan main drama-dramaan gitu sama suami, tapi Catherine punya suami serasa tidak punya suami 😂🤭


Maafin Othor yang suka aneh-aneh 🤣🙈


Jangan lupa jejaknya ya, Sayang 🥰


Like and Komen


Thank you 😘


.

__ADS_1


__ADS_2