
Ke esokan harinya
"Seminggu lagi kamu dan Putri akan bertunangan! Kau tidak boleh membantah Daddy!" ucap Brian datar.
Keluarga tersebut sedang berada di pinggir kolam renang dan duduk nyantai di kursi yang ada di tempat tersebut.
"Tapi Dad, aku sudah bilang kalau aku tidak mencintai Putri!" tolak Devan.
"Terus, apakah kamu sudah punya calon istri?" tanya Brian datar.
"Punya Dad, hanya saja dia masih ada di negaranya," ucap Devan.
"Aku tidak ingin mendengar alasanmu lagi! Kau harus bertunangan dengan Putri apapun alasannya," ucap Brian.
"Kenapa Daddy memaksaku untuk menikahi Putri? Yang akan menjalani pernikahan itu aku Dad, bukan Daddy!" ucap Devan.
"Aku tahu segalanya tentangmu, kamu mencintai orang yang salah! Aku hanya ingin yang terbaik untukmu!" ucap Brian datar.
"Apa yang salah dari Catherine, Dad? Apakah dia salah berselingkuh denganku karena suaminya tidak pernah menganggap kehadirannya." Devan menatap lurus ke depan memandangi keindahan kolam renang di depannya.
Sementara Gracia hanya memilih diam dan mendengarkan pembicaraan suami dan putranya tersebut.
Namun, ia menyela ucapan keduanya saat suasana mulai tegang. "Apapun alasannya, berselingkuh itu tetap salah, Nak!" ucapnya.
"Iya aku tahu Mom, tapi aku yang menyebabkan Catherine menderita. Aku yang menghacur kan hidupnya!" jawab Devan seraya menatap Garacia sendu.
"Maksudnya?" tanya Gracia mengerutkan kening.
"Sudahlah, Mom! Aku capek jika membahas semuanya, intinya aku tidak mau bertunangan dengan Putri." Devan memejamkan matanya seraya menyandarkan kepalanya pada kursi tersebut.
"Mommy pikir, kau lebih penurut dari kakakmu 'David' tapi ternyata kau lebih parah darinya. David menuruti keinginan Mommy untuk menikah dengan Freya meskipun dia tidak mencintainya. Tapi kamu yang ku anggap penurut malah sebaliknya, aku kecewa padamu, Nak!" ucap Garacia sendu.
Gracia berdiri hendak melangkah untuk memasuki rumahnya. Namun, Devan langsung berdiri juga dan memeluk mommynya dari belakang. "Maafin Devan, Mom! Baiklah, Devan akan menuruti keinginan Mommy!" ucap Pria tersebut.
__ADS_1
"Lagi pula ini hanya tunangan, selain itu, pasti Putri juga nolak, karena dia cinta gila sama Roy," batin Devan.
"Minggir!" Brian menarik tubuh Devan dari tubuh Gracia.
"Daddy apaan sih? Baru juga peluk mommy sebentar!" ucap Devan kesal.
"Kamu serius 'kan, Sayang?" tanya Gracia balik badan menatap putranya yang sedang kesal karena ulah daddynya.
"Iya ...," ucap Devan malas.
"Ya sudah, ayo kita ke dalam, yang penting dia sudah mau bertunangan dengan Putri," ucap Brian.
"Tapi aku masih ingin bicara sama Devan, Sayang!" ucap Gracia menatap Brian memohon.
"Sudahlah, Mom! Mending Mommy ikut daddy sana! Aku ingin ke kantor dulu!" ucap Devan.
"Tapi, Sayang ... !"
"Sampai jumpa, Mom!"
Devan pun lari meninggalkan kedua orang tuanya. "Dasar nakal!" ucap Brian.
"Kenapa sih, Mas? Lagi pula Devan cuma cium pipi doang!" ucap Gracia.
"Kamu hanya milikku, nggak boleh ada yang menciummu selain aku, termasuk anak-anakku sendiri!" ucap Brian seraya merangkul pundak istrinya tersebut.
"Dasar posesif!" ucap Gracia seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah yang di ikuti Brian dari belakang.
_
_
_
__ADS_1
"Kenapa Anda memanggilku, Tuan?" tanya Roy datar.
"Katakan perasaanmu pada Putri yang sejujurnya!" ucap Devan datar.
"Apa maksud, Tuan?" tanya Roy mengerutkan kening.
Devan berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati jendela kantor dan melihat pemandangan luar yang begitu indah dari tempat ketinggian.
"Aku bukan manusia bodoh yang tidak mengerti perasaan orang lain," ucap Devan mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Memangnya apa yang Tuan mengerti? Apa Tuan pikir aku menyukai Nona Putri?" tanyanya lagi.
"Iya, karena memang itu kenyataannya, kamu menyukai Putri, hanya saja kamu terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaanmu padanya!" jawab Devan.
"Anda tidak tahu apapun, Tuan!" ucap Roy datar.
"Baiklah, jika kau kehilangan Putri, apakah kau tidak akan menyesal karena gengsimu itu?" tanya Devan.
"Terserah Anda, Tuan! Yang jelas aku tidak menyukai Nona Putri!" ucap Roy mengelak.
"Ya sudah kalau begitu, berarti aku tidak mempunyai alasan untuk menolak perjodohan dengannya, padahal aku berharap kamu mencintainya, agar dia bisa merasakan bahagianya dicintai, tapi dari pada dia patah hati karena mencinta seseorang yang tak pernah menganggap kehadirannya, lebih baik aku nikahi dia saja!" ucap Devan.
Pria itu sengaja memancing Roy agar pria itu mengakui perasaannya pada Putri. Namun, pada kenyataannya Roy masih tetap pada pendiriannya.
"Terserah Anda, Tuan! Apapun yang akan Anda lakukan semoga itu yang menjadi yang terbaik untuk Anda!" ucap Roy.
"Ya sudah, kalau begitu kau boleh keluar! Aku hanya ingin memastikan kalau tidak ada orang yang terluka dengan pertunanganku!" ucap Devan datar.
"Baik, Tuan!" ucap Roy seraya membungkukkan sedikit badannya. Lalu pria itu melangkah meninggalkan ruangan Devan tanpa menoleh pada Tuannya tersebut.
Sementara Devan hanya menatap langkah sekretarisnya sampai bayangannya menghilang dibalik pintu. "Kamu mencintainya, hanya saja kamu terlalu gengsi untuk mengakui," gumam Devan.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
...TBC ...