Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
S2 Kenapa aku harus berkhianat?


__ADS_3

"Kamu sering bawa temanmu ke tempat ini?" tanya Brata yang masih menatap Danau yang menurutnya indah itu.


"Tidak, aku tidak pernah mengajak temanku ke sini! Yang tahu tempat ini hanya keluargaku saja!" ucap Regina tersenyum.


"Lalu, kenapa kau mengajakku padahal kita baru kenal?" tanya Brata menoleh seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Karena aku yakin kalau kamu itu jodohku!" ucap Regina seraya mengedipkan sebelah matanya lalu menatap lurus ke depan kembali.


"Jika aku punya istri apakah kau mau menjadi selingkuhanku?" tanya Brata menatap Regina intens.


Deg


Regina menoleh menatap Brata dengan wajah terkejut, lalu kemudian gadis itu tertawa terbahak-bahak.


"Ha ha ha ... Kakak pikir aku bakal percaya?" Regina terus menertawakan pria itu karena ia berpikir Brata hanya ingin membuatnya menjauh.


"Setiap aku ketemu Kakak, Kakak itu selalu sendiri mana mungkin Kakak menikah? Aku tahu Kakak sengaja bilang seperti itu karena ingin membuatku menjauh 'kan?" tanya gadis itu dengan sisa-sisa tawa di bibirnya.


"Tidak, aku tidak sedang bercanda!" ucap Brata menatap gadis itu dengan penuh ke seriusan.


"Sudahlah Kak, mulai sekarang Kakak itu kekasihku meskipun Kakak mau ngaku punya istri sekalipun aku tidak per-du-li!" ucap Regina dengan menahan tawa karena tidak percaya mendengar ucapan pria tersebut.


"Aku serius!" ucap Brata menatap Regina dari samping.


"Aku pun juga serius!" ucap Regina membalas tatapan Brata dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Aku mau Om ... eh, Kakak maksudnya, aku akan menjadi pelakor tangguh jika Kakak memang punya istri!" ucap Regina yang meledakkan tawanya kembali.


"Aku serius, Re!" Brata Memeng pergelangan tangan gadis itu yang hendak berdiri. Namun, Regina melepaskan tangan Brata perlahan dan mendekati jendela seraya menatap hamparan Danau di hadapannya.


...Wahai ... Sang Maha Cinta...


^^^Abadikan cintaku dengan pria yang kucintai^^^


...Takdirkanlah dia untukku dan singkirkanlah penghalang di antara kami ......

__ADS_1


Deg


Pria itu terkejut mendengar puisi konyol Regina, seketika ia berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Regina yang sedang merentangkan tangan sambil memejamkan mata.


Gadis itu tersenyum karena ia tidak pernah mempercayai ucapan Brata.


"Apakah kau benar-benar mencintaiku?" tanya Brata yang memeluk Regina dari belakang tanpa sadar.


Regina pun tersenyum, menikmati pelukan Brata yang hangat. "Aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya Kak, sekarang aku baru merasakan apa itu cinta, aku harap cintaku tak 'kan salah, please jangan pernah mengatakan bahwa kau milik orang lain! Karena bagiku kau hanya milikku dan akan selalu tetap begitu!" ucap Regina seraya menurunkan tangannya, lalu memegang tangan Brata yang melingkar sempurna di perut gadis itu.


Regina pun perlahan membuka matanya, lalu membalikan badannya perlahan, lalu memegang pipi Brata dengan Brata yang memegang pinggang gadis tersebut.


"Sejak pertama aku melihatmu, aku merasakan debaran yang aneh, tapi aku tepis perasaan itu karena tidak mungkin aku mencintai orang dewasa apalagi mencintai orang dalam pertemuan yang sekejap."


"Namun, makin hari, aku makin tidak bisa melepas bayangan Kakak, setiap langkahku rasanya Kakak selalu mengikuti hingga aku sering dihukum sama guru karena melamun dan senyum-senyum sendiri di dalam kelas!" ucap Regina menatap mata pria itu dalam.


"Sekarang aku sangat sadar Kak, bahwa aku sangat mencintaimu," ucap Regina seraya memeluk pria itu erat.


"Aku merasa sangat bahagia dan begitu nyaman saat Kakak di dekatku!" ucap Regina yang masih memeluk Brata dengan begitu eratnya.


Brata tersenyum, lalu mengangkat tangannya perlahan seraya memegang kepala Regina dan semakin memasukkan kepala gadis itu dalam pelukan hangatnya.


Deg


Regina pun melepaskan pelukannya kasar karena terkejut dengan jawaban Brata, dia pikir Brata akan mengatakan hal yang sama dengan apa yang ia katakan. Namun, apa yang pria itu katakan malah membuatnya terluka.


"Tidak, kau tidak boleh menolak cintaku, pokoknya Kakak itu kekasihku! Aku tidak mau tau!" ucap Regina dengan wajah merah padam.


Gadis itu melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut, sementara Brata mencoba mengejarnya. Namun, Regina terlanjur pergi menjauh, dan Brata pun tak dapat mengejarnya.


"Sial!" umpat Brata kesal.


"Kenapa aku harus terjebak dalam percintaan seperti ini sih? Seharusnya aku bisa menjaga perasaanku agar tidak berpaling, tapi kenapa dengan begitu mudahnya aku menyukainya, aku sadar ini salah, tapi aku tidak menginginkan ini terjadi!" ucap Brata sendu.


Pria itu lalu duduk di sebuah batu di pinggiran Danau tersebut. Lalu menatap air yang begitu tenang. Pria itu melempar batu untuk melepaskan segala gundah di hatinya.

__ADS_1


"Aku tahu bahwa tidak ada cinta lagi untukku dari istriku, tapi bukan berarti aku berhianat seperti ini! Kenapa aku harus berpaling? Kenapa?" teriak Brata seraya melempar batu kerikil untuk membuang segala kebimbangan di hatinya bersama kerikil-kerikil tersebut.


Sementara Regina tersenyum dengan girangnya seraya menyusuri jalan tanpa alas kaki. "Kamu makin bandel ya!" Adit menjewer telinga adiknya yang menari-nari di jalanan seperti orang gila.


"Au ... au ... au ... Kak Adit lepasin!" Regina memegang tangan Kakaknya yang menempel di telinga gadis tersebut.


"Kemana sepatu dan Tas mu, Hah?" tanya Adit yang menatap adiknya tajam. Pria itu melepaskan telinga sang adik dan menuntut penjelasan dari apa yang ia lihat.


Sementara Regina langsung menepuk jidat karena ia tidak membawa barang-barangnya yang berada di rumah pohon tersebut.


"Kenapa?" tanya Adit seraya menaikkan sebelah alisnya.


"He he ... barang-barangku tertinggal di rumah pohon Kak!" jawab Regina cengengesan. Adit pun menggeleng-gelengkan kepalanya karena ia sangat hapal dengan sifat adiknya tersebut.


"Kamu itu seharusnya bisa mengubah dirimu itu agar tidak menjadi orang yang pikun, tapi tambah hari otakmu bukan tambah bener tapi malah tambah nyasar," ucap Adit seraya mendorong kening Regina dengan jari telunjuknya.


"Kak Adit apaan sih?" Regina menatap kakaknya dengan penuh kekesalan.


"Ya sudah, ayo kita ambil sepatu dan tasmu dulu!" ajak Adit seraya menarik lengan sang adik.


"Tidak usah, Kak! Kita pulang aja!" tolak Regina seraya berdiri mematung tanpa berniat ingin mengikuti langkah Kakaknya tersebut.


Adit pun menoleh, menatap sang adik dengan wajah curiga. "Kamu kenapa sih? Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu?" Adit memicingkan matanya.


"Tidak Kak, memangnya apa yang Regina sembunyikan?" tanya gadis itu dengan wajah panik.


"Sudah ayo!" Adit menarik tangan adiknya kembali tanpa mau mendengarkan ucapan sang adik.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰


Gimana kabar kalian? Semoga baik ya!

__ADS_1


Terima kasih, atas dukungan kalian ❤️


Sampai jumpa di Bab berikutnya.


__ADS_2