Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
S2 Yang nyata tetap nyata


__ADS_3

Paris


Putri merasa kecewa karena ia merasa dihianati oleh Roy, wanita itu duduk bertekuk lutut sambil menangis terisak-isak di atas ranjangnya.


"Bahkan kau tidak mengejarku untuk menjelaskan semuanya, Mas. Kau tega, Mas! Kau tega!" teriak Putri seraya beranjak dan menarik sprei kasurnya hingga membuat kamar tersebut berantakan layaknya kapal pecah.


"Aku tau aku salah, tapi seharusnya kau memberiku kesempatan, bukan malah berselingkuh dengan masa lalumu, Mas!"


"Akh ... " Putri terus membuang apapun yang berada dalam kamarnya, lalu ia meluruhkan badannya di dekat nakas hingga tangganya pun berdarah karena terkena pecahan beling.


"Aku mencintaimu, Mas! Dan aku terlalu percaya diri bahwa kau tidak akan pernah mengkhianatiku. Tapi yang kulihat sekarang apa? Apa, Mas?" Putri terus menangis histeris.


Tok ... tok ... tok ...


"Sayang ... buka pintunya!" Roy terus mengetuk pintu kamarnya.


"Pergi, Mas! Aku tidak ingin melihatmu. Pergi, Mas! Pergi!" teriak Putri dari dalam kamar tersebut.


"Sayang ... berilah aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya!" ucap Roy lembut.


"Tidak, aku tidak mau mendengarkan apapun yang kau ucapkan. Aku yakin, kalau apapun yang kau ucapkan hanyalah alasan!" teriak Putri.


"Sayang ... please ... !"


"Aku tahu, Mas! Kau pasti sengaja mencarinya, karena kau kecewa padaku, dan setelah kau bercerai denganku kau akan menikahinya, iya 'kan Mas?" Putri terus menangis tanpa ingin mendengarkan ucapan pria itu.


"Tidak, Sayang! Aku hanya mencintaimu. Aku tidak mungkin menikahi wanita manapun! Please jangan lagi bicara perpisahan, ingatlah anak-anak kita!" ucap Roy dari luar kamar.


"Aku selalu mengingat mereka, tapi kalau kau sudah tak menginginkanku lagi untuk apa kita bertahan?" Putri terus menangis terisak-isak.


"Aku tahu kau pasti bosan punya istri sepertiku hingga kau selalu pulang larut dan berangkat sebelum aku membuka mata. Sekarang aku tahu apa alasanmu melakukan itu!" ucap Putri.


"Tidak, Sayang! Kau hanya salah paham."


"Aku tidak salah Paham, karena apa yang kulihat itu lebih nyata dari pada sebuah ucapan." Putri terisak-isak dalam kamar tersebut tanpa berniat ingin membuka pintu kamarnya.


"Baiklah, jika kau tidak mau mendengarku. Aku akan mengirim rekaman CCTV ke ponselmu, aku tidak akan menjelaskan apapun lagi. Lihatlah kejadian sebelum Selena duduk di pangkuanku. Putar rekaman itu dari awal, agar yang nyata tetap nyata."

__ADS_1


Putri tidak menjawab ucapan Roy. Ia memilih diam, ditemani tangisan yang sulit untuk ia hentikan.


Roy pun pergi menjauhi kamar tersebut setelah ia mengirim sesuatu ke ponsel sang istri, karena ia tahu betul sikap keras kepala Putri yang tidak bisa ia cairkan dalam sekejap.


Sementara Putri, ia perlahan bangkit dari duduknya, dan melangkah gontai untuk mengambil ponsel karena penasaran dengan ucapan sang suami.


Wanita itu pun membuka rekaman CCTV yang Roy kirimkan. Wanita itu terkejut setelah melihat semuanya. Ia langsung membuang ponselnya dan membuka pintu kamar tersebut.


"Tidak, Mas Roy tidak boleh meninggalkanku hanya karena kebodohanku!" gumam Putri seraya lari untuk mengejar sang suami.


Ia khawatir suaminya akan benar-benar pergi karena tuduhannya yang tidak benar. Ia terus lari untuk mencari sang suami ke seluruh penjuru mansion, hingga ia merasa putus asa karena tidak menemukan suaminya dimanapun.


Ia melangkah mendekati taman, lalu Putri pun tersenyum seraya menghapus air matanya setelah melihat sang suami menemani kedua putrinya bermain. Bahkan Pria itu tertawa ria, bersama Zidan dan Zoya.


"Sayang, berhenti! Daddy geli," ucap Roy yang digelitiki oleh kedua buah hatinya.


"Ayo, Dek! Daddy bawel, jangan berhenti menyerang daddy!" Bocah berusia 5 tahun itu mengajak sang adik untuk terus menggelitiki Roy hingga pria itu tidak bisa mengehentikan tawanya.


"Kalian curang! Kalian bilang cuma main ikat-ikatan. Tapi kenapa sekarang daddy digelitiki?" Roy tertawa terus terbahak-bahak karena ulah kedua putrinya.


"Ini ulah Kak Zidan, Dad! Zoya hanya mengikuti perintah Kakak."


"Sayang, yang diikuti itu yang benar, kalau yang salah jangan ikuti!" ucap Roy yang tidak menghentikan tawanya.


"Tapi yang benar itu Kak Zidan, Dad! 'Kan Daddy yang memulainya lebih dulu tadi!" ucap putrinya yang masih berusia 3 tahun itu.


"Iya, iya! Daddy salah. Sekarang berhenti, Daddy tidak bisa bernafas," ucap Roy.


Seketika kedua gadis kecil itu menghentikan aksinya dan menatap sang daddy penuh perasaan bersalah. Lalu, kedua anak kecil itu melepaskan tali yang mereka ikatkan pada sang daddy.


"Maafin Zidan, Daddy!"


"Maafin Zoya juga!"


Seketika kedua putrinya tersebut memeluk sang daddy erat dan pria itu pun maembalas pelukan kedua putrinya.


Putri yang melihat pemandangan itu, ia menghapus air matanya dan tersenyum. Lalu melangkah meninggalkan tempat tersebut karena merasa malu pada sang suami.

__ADS_1


Roy yang tanpa sengaja menatap kehadiran sang istri yang hendak berbalik dan melangkah pergi, ia tersenyum.


"Sayang ... !"


Deg


Putri memejamkan matanya karena merasa malu pada suaminya tersebut. Namun, ia menarik nafas pelan dan balik badan kembali seraya menatap sang suami dan kedua putrinya yang sudah menatap ke arahnya.


Putri melangkah mendekati sang suami dan kedua putrinya. Lalu menjongkok, mensejajarkan tubuhnya pada kedua putri kecilnya tersebut. Mereka berempat pun saling berpelukan erat dan saling menyalurkan kasih sayang yang mereka miliki.


"I love you, Dad! I love you, Mom and I Love You Adek!" Zidan mencium ketiga orang yang ia cintai tersebut.


"Aku juga sama seperti Kakak!" ucap Zoya mengembangkan senyumnya.


"Daddy dan mommy juga!" ucap Roy dengan senyum lembutnya. Mereka berempat pun berpelukan kembali.


Setelah itu, kedua putrinya bermain kejar-kejaran berdua, sementara Roy dan Putri menatap kedua putrinya itu dari kursi panjang yang ada di taman tersebut.


"Maafin aku Mas!" ucap Putri tanpa berani menatap mata sang suami, ia memandangi kedua putrinya untuk menghindari mata suaminya tersebut.


"Kamu tidak perlu minta maaf, aku yang salah karena telah mendiamkanmu terlalu lama!" ucap Roy tersenyum.


"Tidak, Mas! Aku yang salah. Aku menyakiti hati banyak orang selama ini, terima kasih karena Mas telah menyadarkanku dari kesalahanku!" ucap Putri menundukkan kepalanya.


Roy tersenyum mendengar ucapan istrinya tersebut. "Berjanjilah padaku, bahwa kau tidak akan menghalangi hubungan Brata dan Regina. Sudah cukup mereka merasa kesepian selama 7 tahun ini!" ucap Roy tersenyum.


Putri menoleh dengan air mata yang menetes kembali. Lalu, ia menganggukkan kepalanya sambil menangis terisak dalam pelukan suaminya tersebut.


Zidan dan Zoya pun yang melihat pemandangan itu dari kejauhan, mereka langsung mendekati kedua orang tuanya. Sementara Roy yang menyadari itu, ia langsung membisikkan sesuatu pada sang istri.


"Sayang ... di sini ada anak kita. Berhentilah menangis. Kedua buah hati kita sedang melangkah mendekat!"


Seketika Putri menghentikan tangisannya, dan menghapus air matanya sebelum kedua putrinya menyadari kalau ia sedang menangis.


Beruntung, Putri memunggungi kedua buah hatinya hingga kedua anak kecil tersebut tidak melihatnya menangis.


Roy pun memasang jasnya kembali sebelum kedua putrinya menyadari bahwa kemeja pria itu basah dengan air mata istrinya tersebut.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...


__ADS_2