Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
S2 Saatnya Bahagia


__ADS_3

"Apa yang ingin kau bicarakan?"


Sore harinya setelah Edward pulang, Sherly menemui Keyla di rumahnya dan kini keduanya berada di balkon kamar wanita itu.


"Bagaimana kabar hubungan kalian?" tanya Sherly tersenyum.


"Kenapa kau menanyakan itu? Lebih baik kau urus saja hubunganmu dengannya!" ucap Keyla tanpa menatap Sherly yang duduk di samping wanita tersebut.


"Dia cerita padaku kalau kau akan balas dendam pada suamimu karenanya," ucap Sherly.


"Mulut sampah! Bahkan hal kecil pun saja dia ngadu!" umpat Keyla memutar bola matanya malas.


"Dia bukan ngadu, tapi dia menitipkan sesuatu padaku untukmu, dan aku butuh penjelasan untuk semuanya!" ucap Sherly menatap Keyla lembut.


"Kau tidak tahu apapun tentang masa laluku! Jadi jangan ikut campur, dan jalani saja kehidupanmu, jangan ganggu aku lagi!" Keyla beranjak. Namun, Sherly juga beranjak dan menghalangi langkah wanita itu.


"Terimalah, ini bukti kalau Edward tidak salah! Sudah cukup kau membuatnya menderita karena kau tidak mau mendengarkan penjelasannya, jangan biarkan Brata mengalami hal yang sama hingga kau akan larut dalam penyesalan suatu hari nanti!" ucap Sherly.


"Untuk apa aku menerima ini, sekalipun dia tidak salah, aku tidak mungkin bersamanya! Karena kita sudah menjalani kehidupan kita masing-masing." Keyla menatap Sherly tajam.


"Paling tidak kamu tidak menyakiti hati orang lain lagi! Cukup Edward yang menderita karenamu!" ucap Sherly.


"Cukup Sher ... ! Sekarang kamu pergi dan bawa saja barang itu bersamamu!" teriak Keyla seraya menyingkirkan tubuh Sherly dan melangkah menuju kamarnya.


Sherly yang masih belum selesai menjelaskan, ia langsung mengejar wanita itu dan mengunci kamar wanita itu agar Keyla tidak bisa menghindar kembali.


"Apa maumu Sher? Kau sudah bertunangan dengannya! Apa pentingnya kau menjelaskan ini padaku?" tanya Keyla bersedekap dada seraya menatap Sherly yang berdiri di pintu kamarnya untuk menghalangi ia keluar.


"Sangat penting. Kau mau menyakiti suamimu karena Edward? Apa begitu caramu membalas cinta?" tanya Sherly yang melangkah mendekati Keyla dan berdiri di hadapan wanita tersebut.


"Jangan lancang, kamu!" teriak Keyla.


"Aku bukan lancang, tapi asal kamu tahu, Edward itu pasienku, dia hampir kehilangan nyawanya karena depresi." Sherly menghela nafas.


"Kamu tahu, Edward terus menyalahkan dirinya sendiri karena kejadian itu dan setelah dia sembuh kalian dipertemukan kembali hingga dia memintaku untuk berpura-pura bertunangan dengannya hanya agar bisa melihatmu setiap hari?"

__ADS_1


"Jangan ngarang Sher! Kamu pikir aku percaya?" Keyla memutar bola matanya malas.


"Ini bukti kondisi fisik Edward dulu! Dan ini bukti kalau dia tidak melakukan apapun dengan wanita itu, satu lagi! Ini pesan terakhir untukmu karena besok dia akan kembali ke London untuk memulai kehidupan yang baru!" ucap Sherly seraya menyodorkan bukti-bukti itu. Namun, Keyla malah memalingkan muka.


Akhirnya Sherly meletakkan di ranjang wanita itu, dan melangkah pergi meninggalkan kamar sepupunya dengan emosi yang meletup-letup. Sementara Keyla menatap bukti-bukti itu dan melangkah perlahan untuk melihatnya sepeninggal Sherly.


_


_


_


Jika dalam rumah tangga Brata hanya ada air mata, kini berada dengan keluarga Catherine. Wanita itu dilimpahi dengan banyak kebahagiaan, bahkan setiap harinya Gracia mengunjungi menantunya tersebut hanya untuk membawa makanan.


Devan pun tidak pernah pulang telat hanya untuk menghabiskan waktu dengan sang istri, dan tentunya Gracia pulang setelah putranya tersebut sudah tiba di rumahnya.


"Hati-hati, Mom!" Devan dan Gracia melambaikan tangannya pada wanita paruh baya itu.


Devan dan Catherine mengantar Gracia sampai di halaman rumahnya dan kembali masuk setelah bayangan mobil Gracia menghilang di balik pintu pagar rumah mewah tersebut.


"Aku bisa jalan sendiri, Rajaku!" ucap Catherine dengan senyum yang mengembang dan menatap mata pria itu dengan rona kebahagiaan. Devan pun membalas tatapan Catherine dan membalas senyumannya yang membuat hatinya terasa menyejuk.


"Aku tidak ingin membuatmu lelah, jadilah Ratuku selalu, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku apapun yang terjadi! Tanpamu hidupku tidak berwarna!" ucap Devan.


"Aku berjanji padamu! Hanya kamu dan hanya kamu yang akan menjadi pendampingku, selamanya akan tetap begitu."


"Rumah ini, adalah rumah dimana hanya ada aku, kamu dan keluarga kecil kita. Tidak akan ada air mata yang akan mengalir dari matamu selain air mata kebahagiaan," ucap Pria itu.


Devan membawa wanita itu menuju kamarnya, lalu membaringkan istrinya tersebut secara perlahan. Lalu, pria itu duduk seraya menatap istrinya tersebut.


"Terima kasih, Dad!" ucap Catherine seraya mengambil tangan Devan lalu mengecupnya lembut.


"Dad?" tanya Devan seraya mengerutkan kening.


"Iya, Daddy! Sebentar lagi kamu akan menjadi daddy dari buah hati kita ini," ucap Catherine seraya meletakkan tangan Devan di perut datarnya.

__ADS_1


Devan pun tersenyum seraya mengelus perut rata itu. Setelah itu, Catherine duduk dengan menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat tidur, dan berganti Devan yang tidur di pangkuan wanita tersebut.


Devan mencium dan menempelkan telinganya di perut datar Catherine dengan Catherine yang membelai rambut pria itu. Wanita itu tidak hentinya mengembangkan senyum karena rasa bahagianya yang tidak ada tandingannya.


"Terima kasih, karena kamu sudah memberiku hadiah yang luar biasa Sayang, aku bersyukur karena memiliki wanita hebat sepertimu!" ucap Devan tersenyum.


Catherine pun juga terus mengembangkan senyumnya saat mendengar ucapan-ucapan Devan yang sangat membuat dirinya melayang. "Aku juga bersyukur karena disakiti oleh Mas Randa, jika saja tidak! Mungkin saja aku tidak akan pernah mendapatkan pria luar biasa sepertimu!" ucap Catherine.


"Sayang, kamu tau tidak bahwa dulu kita pernah dijodohkan, hanya saja kamu tidak mau menerima perjodohan itu hingga kamu lebih memilih kabur dari mansionmu?" ucap Devan tersenyum.


"Benarkah? Tapi tidak, pria itu tidak mungkin kamu? Karena aku tau betul bahwa kamu di jodohkan dengan Nona Putri sejak kecil!" ucap Catherine tersenyum.


"Kenapa tidak mungkin, aku dan Putri sama-sama menolak perjodohan itu, hingga daddy memutuskan untuk menjodohkanku denganmu jika kita saling cocok, tapi ternyata kamu sudah pergi dengan pria lain!" ucap Devan seraya mencebikkan bibirnya.


"Kamu jangan ngarang!" Catherine menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak percaya.


"Kalau kamu tidak percaya, aku punya bukti-buktinya!" ucap Devan yang masih terus mengembangkan senyum.


"Kamu dapet dari mana?" tanya Catherine seraya mengerutkan kening.


"Aku kemarin tidak sengaja membuka laci di ruanganku, dan melihat data orang yang pernah di jodohkan denganku dulu!"


"Dulu aku tidak pernah membukanya karena aku tidak tertarik. Aku mau buang amplop yang berisi tentang orang yang dijodohkan denganku itu dan mengeluarkan amplop tersebut dari laci, tapi tiba-tiba fotomu jatuh hingga membuatku sangat terkejut, saat melihat data-datanya ternyata benar bahwa orang yang dijodohkan denganku itu adalah kamu~ Prita Catherine Sunation!" ucap Devan.


"Benarkah?" tanya Catherine yang juga terkejut karena ia juga tidak pernah membuka data pria yang dijodohkan dengan wanita itu.


"Benar! Ternyata kita memang di takdirkan bersama sejak dulu! Tapi kita yang merubah takdir kita sendiri dengan membangkang pada orang tua kita!" ucap Devan.


"Seandainya aku tahu ini yang akan terjadi, mungkin aku tidak akan pernah menolak keinginan orang tuaku. Sekarang aku sadar, bahwa benar pilihan orang tua itu memang yang terbaik, karena mereka sudah menyiapkan jodoh yang sangat sempurna sepertimu, hanya saja aku yang bodoh karena menolakmu tanpa melihat!" ucap Catherine tersenyum kaku.


"Ini sudah jalan takdir kita, kamu sudah banyak melewati banyak penderitaan, sekarang saatnya kamu bahagia!" ucap Devan.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2