Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
S2 Om Tampanku


__ADS_3

Setelah sebulan berlalu dari pertemuannya dengan Brata, gadis itu setiap hari di antar jemput oleh Adit~ kakaknya.


Ia merasa terkurung karena tidak bisa membawa mobil sendiri dan di jaga ketat. Baik Ryan maupun Rani mengetahui tentang kenakalan gadis itu sebab sopir yang biasa mengantarnya mengundurkan diri karena tidak tahan dengan perlakuan gadis tersebut.


Pagi itu Regina di antar Adit kembali, ia merasa bosan di dalam mobil hingga ia mengeluarkan suara merdunya yang membuat Adit kesal.


"Hanya dia ... yang ada di antara jantung hati, tempat bermanja, tempatnya rindu, tempat Om tampan 'kan ku buru ... "


Regina menggeleng-gelengkan kepalanya seraya membayangkan wajah Brata yang tidak pernah ditemuinya lagi sejak saat itu.


"Perasaan bukan kayak gitu deh Gin ... liriknya!" Adit mencoba mengingat-ngingat lirik lagu yang dinyanyikan oleh adiknya tersebut.


"Aku yang nyanyi kenapa kakak yang sewot?" Regina yang kesal langsung menoleh ke samping, menatap pepohonan yang berlalu lalang. Sementara Adit hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Ingat ya, Gin! Pulang sekolah nanti kamu harus langsung pulang! Tidak boleh kelayapan ke mana-mana! Kakak ada pertandingan Basket nanti siang!" ucap Adit memperingatkan adiknya.


Regina langsung menoleh menatap kakaknya, ia sangat senang karena kakaknya sibuk dan punya kesempatan untuk tidak diawasi oleh kakaknya tersebut.


"Iya, Kak! Iya! Kakak bawel banget sih!" jawab Regina memutar bola matanya malas.


Regina yang masih bosan duduk di dalam mobil akhirnya mempunyai ide untuk menghibur dirinya sendiri.


"Kak, dengerin Gina puisi ya!" Gadis itu tersenyum seraya menatap Adit penuh harap.


Adit terkejut mendengar tawaran adiknya, ia malas mendengarkan puisi sang adik yang aneh.


"Oh no! Puisimu itu hanya akan menghilangkan mood kakak. Kamu duduk yang manis dan tidak perlu puisi-puisi segala!" titah Adit seraya menoleh menatap adiknya jengah.


"Kakak jahat banget sih!" ucap gadis itu dengan memanyunkan bibirnya.


Adit tidak menanggapi adiknya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan menutup telinganya dengan earphone hingga membuat gadis itu tambah kesal.


"Ya ... sial! Kenapa mesti lampu merah segala sih!" umpat Adit.


Pria itu menghentikan mobilnya dengan penuh kekesalan, sementara Regina menemukan sesuatu yang membuat gadis itu tersenyum dan bersemangat.


"Oh pangeranku!" gumam gadis itu seraya memiringkan sedikit kepalanya dan menatap Brata penuh damba.


Mobil Regina bersebelahan dengan mobil Brata hingga gadis itu bisa melihat pria itu dengan jelas, sementara Adit tidak mendengar gumaman Regina karena pria itu masih menggunakan earphone.


"Hai Om tampan!" panggil Regina. Namun, yang dipanggil tetap tidak menoleh.


"Om!" panggil Regina makin keras. Brata pun menoleh, ia mengernyit saat melihat seseorang gadis yang serasa tidak asing


Pria itu mencoba mengingat-ngingat wajah gadis itu. Namun, Brata tetap tidak mengingatnya sampai Regina berpuisi aneh lagi di depannya.

__ADS_1


"Oh ... Mentari! Hari ini kau terasa begitu redup. Karena cahayanya telah diambil oleh Om tampanku." Gadis itu mengedipkan sebelah matanya.


Brata pun langsung mengingat gadis itu dan mengembangkan senyumnya saat melihat kekonyolannya.


Saat Regina hendak melanjutkan puisinya tiba-tiba Adit melajukan mobilnya hingga membuat gadis itu terkejut dan langsung menoleh pada kakaknya tersebut.


"Kakak sangat menyebalkan!" teriak Regina seraya mengambil earphone kakaknya tersebut.


"Kamu apa-apaan sih, Gin?" Adit tetap mengemudi mobilnya dengan fokus, ia tidak memedulikan adiknya yang sedang memberenggut kesal.


"Kakak sangat menyebalkan!" ucapnya seraya menatap spion mobil.


Namun, di detik berikutnya ia tersenyum saat melihat mobil Brata masih ada di belakang mobil yang dikendarai Regina tersebut.


_


_


_


"Selamat pagi, Sayang!" Sherly mengecup pipi Brata, lalu duduk di samping kursi yang diduduki pria itu.


Setiap pagi dia selalu menjemput Sherly~ orang yang dikenal sebagai tunangannya, ia biasa menunggu wanita itu di taman rumah tersebut.


"Di sini aku lebih merasa damai, aku bisa menikmati udara pagi yang sangat menyejukkan!" jawab Edward seraya memejamkan matanya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Ya sudah kita berangkat saja, yuk!" Edward melihat jam di pergelangan tangannya. Lalu beranjak dan melangkah pergi. Namun, Sherly menghentikan langkah pria itu.


"Tunggu!" Sherly menarik tangan Edward hingga Edward berhenti dan menoleh menatap ke arah wanita tersebut.


"Kenapa?" tanyanya.


"Duduklah dulu!" ucap Sherly tersenyum. Edward pun membalas senyuman wanita itu, lalu duduk kembali di samping wanita tersebut.


"Apa apa?" tanya Edward kembali.


"Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini?" tanya Sherlyseraya menatap mata Edward dalam.


"Aku tidak apa-apa! Kita berangkat saja, kamu ini nanya yang aneh-aneh," jawab Edward mengalihkan tatapannya dari wanita tersebut.


"Aku doktermu! Aku tau kalau pikiranmu sedang tidak baik-baik saja!" ucap Sherly penuh penekanan.


"Aku baik-baik saja!" ucap Edward tanpa menatap wanita itu.


"Jika itu benar, tatap mataku saat ini juga!" titah Sherly.

__ADS_1


Edward pun menatap mata wanita itu, ia menatapnya dengan mata yang memerah. "Apa yang ingin kau lihat dari mataku! Aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja!" ucap Edward mengeratkan giginya.


"Aku tahu kau tidak baik-baik saja, sampai kapan kau akan terus bersandiwara menjadi tunanganku hanya demi dia, Edward! Dia sudah menikah, apalagi yang bisa kau lakukan!" Sherly mencoba mengingatkan.


"Aku berencana hanya ingin membuktikan kebenaran saja! Setelah itu aku akan pergi! Tapi sekarang aku sudah beda pikiran, aku akan pergi membawa kebenaran ini!" ucapnya.


"Buktikan dulu kalau kamu tidak bersalah, setelah itu kau pergi agar kau tidak terkenang sebagai penghianat!" ucap Sherly.


"Tidak Sher ... sekarang meskipun aku sudah punya bukti tentang semuanya aku tidak bisa mengatakan itu!" ucap Edward.


"Kenapa? Katakan dan buktikan saja padanya, meskipun kalian tidak bisa bersama, paling tidak dia tahu tentang kebenaran itu!" ucap Sherly.


"Tidak Sher ... ! Biarlah dia mengenangku sebagai penghianat, aku tidak mau mengganggunya lagi, karena suaminya adalah saudaraku sendiri!" ucap Edward sendu.


"Apa maksudmu? Bukankah kamu tunggal?" tanya Sherly terkejut. Wanita itu menatapnya intens.


"Tidak, Brata dan Catherine itu adikku! Hanya saja aku pergi dari rumah karena satu kesalahan!" jawabnya jujur.


"Tidak, itu tidak mungkin!" Sherly menggeleng-gelengkan kepala karena tidak percaya.


"Besok aku akan kembali ke London! Tempatku bukan di sini! Tapi di sana di negeriku!" ucap Edward.


"Aku tidak bisa mencegah jika itu keinginanmu, tapi kamu harus janji, jagalah kondisimu jangan biarkan kamu mengikuti napsumu untuk bunuh diri lagi!" ucap Sherly tersenyum.


"Terima kasih, sekarang aku sudah terbiasa terluka, jadi kamu jangan ragukan aku lagi, aku tidak gila lagi Sher ... !" ucap Edward sendu.


"Ya! Aku percaya padamu, semoga kau bisa menemukan kebahagiaanmu di sana!" ucap Sherly tersenyum.


"Kamu ikut aku ke rumah sakit aja yuk!" ajak Sherly menatap pria itu dari samping.


"Tidak! Aku tidak mau ke rumah sakit jiwa lagi!" tolak Edward.


"Aku cuma mengecek kejiwaan mereka sebentar Kok, setelah itu kita langsung jalan bersama agar kamu punya kenangan bersama dokter cantikmu ini!" ucap Sherly yang masih mengembangkan senyumnya.


"Okay Dokter! Okay!" jawab Edward pasrah.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku Sayang 🥰


Jangan lupa jejaknya ya! Like and komen kalian selalu Othor tunggu ❤️


Thank you ... Muachhh 😘

__ADS_1


__ADS_2