
Singapore
Kini Brata sudah tiba di Negara itu, ia melangkah menuju hotel bersama Reno dan beberapa bodyguardnya.
Brata sengaja membawa Bodyguard saat keluar Negeri karena pria itu malas mengotori tangannya hanya demi melawan orang-orang yang mencoba menyerangnya karena sebuah bisnis.
"Tuan, nanti siang jadwal Anda dengan Tuan El Barack akan meeting di Restoran sebrang hotel ini!" Reno membungkukkan sedikit badannya.
"Baiklah, Aku istirahat dulu sebentar! Dan ingat, aku tidak mau diganggu siapa pun!" ucap Brata tanpa menoleh pada sekretarisnya tersebut.
"Baik Tuan," jawab Reno dengan menundukkan kepalanya.
"Sekarang kalian boleh pergi!" ucap Pria itu seraya membuka pintu kamar hotel dan menutupnya kembali mengabaikan Reno yang masih berdiri mematung dengan beberapa bodyguard di belakangnya.
__________
"Mentari ... " panggil Catherine setelah
sarapannya tersaji di atas meja makan.
"Ada apa sih, Sayang? Kamu jangan selalu membuatnya takut!" Devan melangkah mendekati sang istri seraya menggendong seorang bocah laki-laki yang masih berusia 3 tahun.
"Sana kamu saja yang panggilin putri kesayanganmu itu, Sayang! Langit biar sama aku saja! Dari tadi Mentari sudah ku bujuk tapi dia tetap nggak mau sekolah!" ucap Catherine dengan wajah kesal.
"Sayang ... kamu harus sabar ngadepin dia, dia keras kepala kayak kamu, jadi kau harus pandai-pandai membujuknya!" ucap Devan tersenyum lembut.
"Ya sudah sana bujuk putri kesayanganmu itu!" ucap Catherine.
"Sini Sayang sama mommy!" Gracia mengulurkan kedua tangannya pada putranya tersebut. Langit pun melayangkan tubuhnya pada wanita itu sambil tersenyum lembut.
"Mommy, Alau Tak Tali nak mau cekolah, bial Angit aja yang Cekolah Mom!" celoteh Langit sambil menatap Mommynya dengan wajah serius.
"Iya, Sayang! Nanti Langit juga sekolah tahun depan!" jawab Catherine seraya mencium gemas putranya tersebut.
Mentari lebih dekat dengan daddynya, sementara Langit lebih dekat dengan Catherine.
Setiap hari Devan mandi pagi sebelum kedua anaknya bangun. Sementara Catherine juga memandikan Langit sebelum ia memberikan putranya itu pada sang daddy, dan Mentari pun di urus belakangan karena putrinya tersebut lebih susah untuk dibangunin.
Setelah Devan siap dengan baju kerjanya, ia mengambil putranya yang sudah bersih. Sementara Catherine mengurus Mentari dan memandikan putrinya itu meskipun ia kerepotan karena ia lebih manja dari pada sang adik.
Wanita itu merawat anak-anaknya sendiri tanpa bantuan baby sitter. Setiap Devan ingin menyewa baby sitter, wanita itu melarangnya agar anak-anaknya bisa merasakan kasih sayangnya yang tulus. Jika di rasa ia sudah tidak sanggup, maka ia memanggil pembantu di rumah tersebut.
Devan pun juga membantu mengurus anak-anaknya saat Catherine kerepotan. Pria itu lebih banyak mengurus Mentari hingga Mentari lebih mendengarkan ucapan Devan dibandingkan mommynya tersebut.
______
__ADS_1
Siang harinya di Singapore.
Brata kini memasuki Restoran seberang hotelnya dengan Reno untuk meeting dengan Tuan El Barack.
Dengan gayanya yang angkuh dan tanpa ekspresi, pria itu tiba-tiba tubuhnya di tubruk oleh seorang wanita yang sedang lari-larian dari dalam restoran tersebut.
Tubuh wanita itu hampir jatuh ke lantai jika saja Brata tidak menahan tubuh wanita itu. Tatapan mereka bertemu, Brata pun terpaku melihat wajah wanita tersebut, hingga ia tidak rela melepaskan tatapannya dari wanita yang menabrak tubuh kekarnya.
Wanita itu langsung mendorong tubuh Brata kasar. "Punya mata nggak sih!" umpat wanita itu dengan tatapan tajamnya.
"Regina ... !" gumam Brata dengan senyum yang terbit pertama kalinya setelah menghilang dari pria itu bertahun-tahun.
"Gita ... ! Tunggu!" teriak seorang wanita paruh baya yang mengejar wanita tersebut.
"Gara-gara kamu, waktuku terbuang!" Wanita itu menatap Brata kesal, lalu kembali lari meninggalkan Restoran tersebut dengan wajah yang ketakutan.
Brata pun hanya tersenyum melihat seseorang yang sangat mirip dengan orang yang sangat ia rindukan.
Pria itu kini bisa melihat Regina di dunia nyata bukan di dunia mimpi lagi, meskipun entah wanita itu Regina sungguhan atau bukan.
"Tuan, mari masuk! Tuan El Barack nunggu kita di ruangan VIP!" Reno mencoba mengingatkan atasannya.
Setelah Pria itu tersadar dari lamunannya, pria itu langsung mengejar orang yang mirip dengan Regina.
Namun telat! Wanita itu kini sudah menghilang, hanya tinggal seorang yang mengejar wanita tersebut yang masih bernafas ngos-ngosan seraya berdiri di pinggir jalan.
Wanita paruh baya itu pun menoleh sambil menatap Brata dari atas hingga bawah, karena sebelumnya mereka tidak pernah bertatap muka. "Maaf Anda siapa, Tuan?" tanya wanita paruh baya itu dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Bukan siapa-siapa, Nyonya! Mungkin Nyonya butuh bantuan?" tanya Brata tersenyum tipis.
"Bener nih mau bantu?" tanya Wanita paruh baya itu berbinar.
"Kenapa tidak?" ucap Brata dengan menarik sebelah sudut bibirnya.
Wanita itu semakin mengembangkan senyumnya. "Kamu baik banget, Nak!" ucap Wanita itu dengan senyum bahagianya.
"Kamu bawa kendaraan 'kan?" tanya Wanita paruh baya itu tanpa basa-basi karena buru-buru.
"Iya, Nyonya saya bawa!" jawab Brata yang juga buru-buru.
"Kalau begitu, ayo kita kejar keponakanku sebelum dia makin jauh!" ajak wanita paruh baya tersebut.
"Baiklah!" jawab Brata tersenyum penuh arti.
"Keponakan!" gumam Brata yang makin penasaran dengan wanita yang menurutnya Regina itu.
__ADS_1
Brata pun melangkah buru-buru dengan wanita paruh baya tersebut. Akan tetapi, tiba-tiba Reno mencegahnya.
"Tuan, Tuan El Barack menunggu Anda di dalam!" ucap Reno yang mencoba mengingatkan atasannya tersebut.
"Katakan padanya, meetingnya di tunda! Aku ada urusan mendadak!" ucap Brata datar.
"Tapi Tuan ...!"
"Kerjakan apa yang ku perintahkan! Jangan membantah!" Brata menatap Reno tajam.
"Baik, Tuan?" jawab Reno seraya membungkukkan sedikit badannya.
"Kalau kamu sibuk, tidak usah repot-repot mengantar saya, Nak! Lagi pula keponakanku itu pasti pulang ke apartemen!" ucap wanita paruh baya itu.
"Tidak, Nyonya. Saya tidak repot!" jawab Brata dengan senyum yang mengembang.
"Ya sudah kalau begitu, Terima kasih Nak!" ucap Wanita paruh baya tersebut.
Pria itu menganggukkan kepalanya pelan. "Silakan masuk, Nyonya!" Brata mengulurkan tangan.
"Terima kasih, Nak!" ucap Wanita paruh baya itu. Lalu Brata duduk di kursi kemudi dengan wanita paruh baya itu yang duduk di sampingnya. Sementara Reno menatap mobil bosnya yang kian menjauh dengan menahan rasa kesal.
"Pasti aku lagi yang kena imbasnya!" gumam sekretaris tersebut. Lalu, melangkah meninggalkan tempat itu setelah mobil Brata menjauh.
Sementara di dalam mobil, Brata dan wanita paruh baya itu berbincang-bincang setelah berkenalan. Mereka seakan sudah kenal lama meskipun sebenarnya tidak.
"Namamu siapa, Nak?" tanya wanita paruh baya itu.
"Brata Nyonya!" jawab pria itu tersenyum tipis.
"Oh, Nak Brata?" Wanita paruh baya itu mengangguk; anggukan kepalanya pelan.
"Ini mobilmu?" tanyanya lagi.
"Iya Nyonya!" Jawab Brata seraya menatap lurus ke depan.
"Mobilnya mewah sekali, tapi wajahmu tidak seperti orang Singapore!" Wanita itu menatap wajah Brata intens.
"Aku memang bukan orang Singapore, Nyonya! Tanah kelahiran ku London," jawab Brata yang masih fokus mengemudi.
"London?" tapi wajahmu itu kayak artis India yang namanya 'Sahrukin' kalau nggak salah!" ucap Wanita paruh baya itu dengan menatap Brata heran.
"Mommyku yang dari India, Nyonya! Sementara daddy asli orang Inggris!" jawab Brata tersenyum.
"Owh ... berarti kamu turunan campuran dong?" wanita itu masih menyerang Brata dengan beberapa pertanyaan. Brata pun menjawab hanya dengan anggukan kepala.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...