
"Dia siapa?" tanya Catherine seraya menatap Devan datar.
Jedduarrr ...
Bagai disambar petir di siang bolong Devan terkejut saat Catherine tidak mengingatnya. "Kamu tidak mengenalku?" tanya Devan dengan senyum kakunya.
Catherine menggeleng pelan. "Coba kamu ingat, Nak! Tidak mungkin kamu melupakannya?" tanya Puja.
Catherine menatap Devan intens. "Au..." teriak Catherine seraya memegang kepalanya.
"Dokter ... !" teriak Puja dan Brata saat melihat wanita itu mengaduh kesakitan, sedangkan Devan diam mematung menatap Catherine tanpa arti.
Setelah dokter datang, semua orang keluar dari ruangan wanita tersebut.
Setelah keluar dari ruangan Catherine, Devan masih bungkam, pria itu berdiri di depan pintu ruangan istrinya.
"Maafin Catherine ya, Nak!" ucap Puja yang dipenuhi dengan perasaan bersalah, wanita itu merasa hutang budi pada Devan karena pria itu mengurus Catherine sangat baik selama wanita itu koma.
Akan tetapi, setelah putrinya sadar, justru putrinya tersebut melupakan orang yang telah berkorban banyak untuknya.
Devan menoleh, lalu tersenyum menatap ibu mertuanya tersebut. "Mommy tidak perlu minta maaf, Devan yakin suatu saat dia akan mengingatku kembali!" ucap Devan tersenyum.
"Tapi untuk saat ini, kalian tidak boleh memaksa dia untuk mengingatku, biarkan dia pulih dulu!" ucap Devan tersenyum.
"Tapi, Dev!" ucap Gracia sendu. Ia tidak tega melihat putranya dilupakan oleh orang yang telah sah menjadi istri dari putranya tersebut.
"Sudahlah, Sayang! Kamu tidak perlu memcemaskan putra kita, dia tahu apa yang terbaik untuknya!" ucap Brian datar.
"Daddy benar, Mom! Lebih baik Mommy pulang, istirahatlah yang cukup! Besok Mommy bisa datang kembali jika Mommy masih ingin menemani istriku," ucap Devan lembut.
"Kalau begitu, kami pulang!" pamit Brian menatap Devan datar.
Devan pun menganggukkan kepalanya, lalu Brian melangkah dan mengulurkan tangannya pada Louis.
"Akhirnya kita bisa menjadi besan tanpa perjodohan!" ucap Brian tersenyum.
Louis pun mengangkat sebelah sudut bibirnya. "Aku juga tak menyangka kalau Devan itu putramu!" jawab Louis.
"Aku pulang dulu, istriku butuh banyak istrirahat!" Brain menepuk bahu Louis.
"Silakan!" ucap Louis masih dengan senyumannya.
"Aku pulang duluan!" ucap Gracia mengulurkan tangannya pada Puja.
Puja mengangguk seraya menerima uluran tangan Gracia dan tersenyum kaku karena tidak pernah bertemu sebelumnya.
"Ayo, Sayang!" ajak Brian memegang pundak istrinya. Gracia tersenyum, lalu mengangguk dan melangkah mengikuti langkah suaminya.
_
_
_
Setelah beberapa saat dokter yang memeriksa Catherine membuka pintu ruangan wanita itu.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Devan tanpa basa-basi.
__ADS_1
Dokter itu menghela nafas. "Maafkan saya, Tuan! Istri Anda kehilangan sebagian ingatannya karena benturan yang cukup keras di kepalanya," ucap sang dokter dengan perasaan bersalah.
"Apakah istri saya bisa mengingat saya kembali, Dok?" tanya Devan.
"Bisa, Tuan! Biasanya Amnesia ini bersifat sementara!" jawab dokter tersenyum.
"Bolehkah aku melihat istriku, sekarang?" tanya Devan.
"Silakan!" ucap sang dokter.
"Kalau begitu, saya permisi ke ruanganku dulu, Tuan!"
Devan mengangguk, lalu pria itu melangkah masuk ke ruangan istrinya. Dokter itu pun juga melangkah menjauh menuju ruangannya.
"Aku juga mau lihat kondisi putriku," ucap Puja. Wanita itu hendak melangkah mengikuti Devan. Namun, Brata memegang pergelangan tangan mommynya. "Jangan, Mom! Berilah mereka waktu berdua!" ucap Brata mencegah orang yang telah melahirkannya. Puja pun menghentikan langkahnya dan kembali duduk di kursi tunggu.
Devan melangkah perlahan, ia mendekati ranjang Catherine. Lalu pria itu duduk di kursi samping ranjang wanita itu.
Devan hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia memandangi istrinya yang juga menatapnya intens.
"Kamu siapa?" tanya Catherine mengerutkan kening.
"Apakah benar kau tidak mengingatku?" tanya Devan lembut.
Catherine menggeleng pelan, wanita itu tidak mengalihkan tatapannya dari pria itu. "Kamu siapa?" tanya Catherine lagi.
"Apakah kau ingin tahu siapa aku?" tanya Devan yang masih tidak mengalihkan tatapannya dari wanita itu.
Catherine mengangguk pelan. Keduanya saling tatap dengan tatapan yang tidak bisa diartikan orang lain.
"Aku 'Devan Brian Galaxy' Suamimu!" Devan mengambil tangan Catherine, lalu menciumnya penuh kasih.
Jedduarrr ...
"Au ... " Catherine memegang kepalanya kembali karena kesakitan.
Devan tersenyum sendu. "Kau jangan memaksa diri untuk mengingat semuanya. Jika dengan mencoba mengingatku kau akan kesakitan, maka berhentilah!" ucap Devan tersenyum. Lalu, pria itu membelai kening Catherine hingga wanita itu tidak kesakitan.
"Tidurlah, aku akan menemanimu di sini!" ucap Devan seraya tersenyum lembut.
"Tidak, aku tidak mau ditemani kamu!"
"Panggil keluargaku, sekarang! Aku tidak mungkin menikah denganmu, karena aku hanya mencintai, Mas Randa!" teriak Catherine.
"Baiklah aku keluar, aku akan memanggil keluargamu jika kamu mau ditemani mereka!" jawab Devan tersenyum lembut.
Catherine mengalihkan tatapannya dari Devan seakan tersimpan kebencian yang mendalam pada pria itu.
Devan pun beranjak, lalu melangkah meninggalkan ruang rawat Catherine, setelah sampai diambang pintu, Devan menoleh lalu tersenyum saat melihat Catherine juga menatap dirinya.
Catherine pun mengalihkan tatapannya kembali saat melihat Devan menoleh padanya. Devan menutup pintu ruangan Catherine. Catherine pun merasa ada sesuatu yang salah pada dirinya. Namun, ia tidak dapat mengingat apapun.
_
_
_
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Puja yang menggantikan tempat duduk Devan.
"Baik, Mom!" ucap Catherine.
"Aku pulang dulu sama Brata, Sayang!" pamit Louis.
"Iya, Dad! Kalian hati-hati di jalan!" ucap Puja.
Louis tersenyum, lalu mendekati Puja dan mencium keningnya. Catherine pun tersenyum melihat keromantisan orang tuanya.
"Cepat sembuh, Sayang!" ucap Louis tersenyum seraya membelai kepala putrinya.
"Daddy pulang ke apartemen Kak Brata?" tanya Catherine menatap Louis dengan senyum lembutnya.
"Iya, Nak! Jangan terlalu banyak berpikir!" titah Louis.
"Iya, Dad!"
"Kalau begitu, Daddy pulang dulu!" pamit Louis.
"Iya, Dad!"
Louis mencium kening putrinya, lalu beranjak dan melangkah meninggalkan ruangan putrinya.
_________
"Mom, bolehkah aku menanyakan sesuatu pada Mommy?" tanya Catherine.
"Apa, Sayang?" tanya Puja balik.
Catherine memejamkan matanya sejenak, lalu menatap Puja serius. "Mom, apakah benar kalau aku sudah menikah dengan pria yang mengaku menjadi suamiku?" tanya Catherine.
Puja bingung harus menjawab apa hingga wanita paruh baya itu memilih diam tanpa menjawab pertanyaan Catherine.
"Jawab, Mom!" desak Catherine.
"Mommy bingung harus menjawab apa, Sayang! Mommy takut kamu kesakitan lagi jika mommy mengatakan yang sebenarnya, lebih baik kamu istirahat saja, agar kamu lekas pulih!" ucap Puja.
"Mom, Catherine baik-baik saja! Katakan siapa pria itu sebenarnya!" ucap Catherine menatap puja penuh tanya.
"Baiklah, Mommy katakan yang sejujurnya. Iya, Devan suamimu, kalian suami istri yang sah!" jawab Puja seraya menatap Catherine cemas.
"Kenapa aku bisa menikah dengannya, Mom? Apakah aku dinikahkan dengannya saat dalam keadaan koma?" tanya Catherine sendu.
"Iya, benar!"
"Jadi Daddy dan Mommy tetap menjodohkanku meskipun dalam keadaan koma?" tanya Catherine dengan mata yang mengembun.
"Tidak, Nak! Kamu salah paham! Kami tidak menjodohkanmu!" ucap Puja.
"Terus, jika aku tidak dijodohkan, kenapa aku tidak menikah dengan Mas Randa, kenapa aku bisa menikah dengan orang lain, padahal kalian tau kalau aku hanya mencintai Mas Randa?" Catherine menyerang Puja dengan beberapa pertanyaan.
"Tidak, Nak! Kau salah paham! Devan pria yang kamu cintai, bukan Randa Nak, Randa hanya masa lalumu!" Puja mencoba menjelaskan.
"Tidak Mommy bohong! Mommy bohong!" teriak Catherine.
"Akh .... " Wanita itu kembali berteriak kesakitan.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC ...