
Suasana Rumah Desi begitu sepi karena Adit sedang mengantar Desi belanja.
Sesampainya di dalam rumah itu, Regina mempersilakan Arnold duduk dan mengabaikan Brata yang selalu mengikuti langkahnya.
Arnold pun duduk di ruang tamu tersebut, ia duduk bersebrangan dengan Regina, sementara Brata duduk di samping gadis itu.
Brata yang tidak memedulikan keberadaan Arnold, ia langsung merangkul pundak gadis tersebut tanpa malu. Namun, Regina melepas dan menggeser tubuhnya supaya ia menjauh dari pria itu. Akan tetapi, Brata juga menggeser tubuhnya hingga menempel pada gadis itu dan beralih memegang pinggang wanita yang dicintainya tersebut.
Regina yang kesal, ia langsung menoleh dan menatap pria itu tajam, lalu menggeser duduknya kembali sejauh mungkin tanpa berpikir kalau ia sudah berada di ujung sofa hingga ia jatuh seraya reflek menarik leher Brata dan pria itu pun juga ikut jatuh dan menimpa gadis tersebut.
Sementara Arnold tersenyum melihat ke konyolan keduanya. Ia hanya menatap Brata dan Regina yang sedang tiduran di lantai dengan posisi Brata di atas wanita itu.
Arnold terus mengembangkan senyum sambil membayangkan dirinya dan Regita dalam posisi yang sama.
Regina yang tersadar dari lamunannya terlebih dahulu langsung mendorong tubuh Brata hingga Brata jatuh ke samping wanita itu dan kepalanya membentur lantai.
"Auh ... " seru Brata.
Arnold pun juga ikut tersadar dari lamunannya, ia menatap Regina yang sudah berdiri dan melangkah menuju tempat duduk yang jauh dari tempat duduk Brata.
Brata pun berdiri dan hendak melangkah menuju tempat duduk yang di duduki Regina. Akan tetapi, Regina menghentikan langkahnya.
"Stop!" Kamu nggak lihat kalau aku duduk di sofa tunggal? Nggak muat jika kamu duduk di sini juga!" ucap Regina mencoba mencegah pria tersebut.
Brata pun tidak mendengarkan ucapan Regina, pria itu menarik tangan Regina dan duduk menggantikan gadis itu, Regina pun reflek duduk di pangkuan Brata dengan tangan Regina yang mengalung pada leher pria tersebut.
Brata pun tersenyum, ia menatap manik mata Regina yang juga menatapnya dengan wajah terkejut. Tatapan mereka bertemu cukup lama, hingga Arnold terbawa suasana dan mengambil bantal sofa yang di taruh di pangkuannya serta menatap pasangan kekasih itu dengan tangan yang memegang dagu.
"Kalian sungguh membuatku iri dan aku baper banget saat ini!" ucap Arnold dengan senyum yang mengembang.
Regina pun mendorong tubuh Brata setelah mendengar ucapan tunangannya tersebut. Lalu, berdiri dan duduk di seberang Arnold seperti semula. Brata juga ikut berdiri. Akan tetapi, Regina mengancamnya hingga pria itu kembali duduk pada posisi semula.
"Stop, Kak! Jika Kakak tetap mengikutiku, maka aku akan meninggalkan ruangan ini!" Regina menatap Brata penuh kekesalan.
Brata menghela nafas berat. "Baiklah, aku akan tetap duduk di sini!" ucap Brata seraya duduk di kursi yang ia duduki sebelumnya.
"Kalian sangat romantis, aku ingin seperti kalian!" ucap Arnold dengan senyum lembutnya.
__ADS_1
"Kamu apaan sih?" ucap Regina seraya memutar bola matanya malas.
"Baiklah, kita kembali ke pembicaraan awal, aku datang ke rumah ini karena aku ingin membatalkan pertunangan kita," ucap Arnold tanpa basa basi.
"Tapi kenapa?" tanya Regina heran dengan alis yang terangkat sebelah.
"Aku tahu hubungan kalian di masa lalu, jadi aku tidak ingin menjadi penghalang antara orang yang saling mencintai," ucap Arnold tersenyum.
Brata pun mengambangkan senyumnya saat pria itu mengutarakan niatnya. Namun, pria itu tidak menyela perbincangan keduanya. Ia hanya mendengarkan tanpa ikut berkomentar.
"Apakah hanya itu alasannya?" tanya Regina dengan wajah penuh pertanyaan.
"Tidak!"
"Lalu?"
"Aku mencintai Regita. Namun, saat aku ingin melamarnya, aku malah terjebak bertunangan denganmu, karena aku tidak pernah tahu kalau kalian kembar, aku mengetahui semuanya setelah kita bertunangan dan kembali lagi ke Negara ini."
"Setelah aku kembali, aku mendatangi Regita dan memanggilnya tunanganku, tapi dia malah bilang aku ngaku-ngaku dan bilang kalau aku itu tidak pernah datang padanya."
"Aku bingung, kenapa dia tidak mengerti? Hingga aku menjelaskan semua tentang pertunangan kita. Karena kupikir kamu itu dia."
"Memangnya kalian tidak pernah bicara sebelum kalian bertunangan?" tanya Brata heran.
"Tidak!" ucap Arnold dan Regina bersamaan.
"Pantesan!" ucap Brata seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku melamarnya pada siang harinya dan kami langsung bertunangan malam harinya. Setelah itu, aku langsung kembali ke Negara ini!" jawab Arnold.
"Lagi pula kalian ada-ada saja, mana ada orang bertunangan secepat itu dan tanpa persiapan apapun!" ucap Brata yang merasa aneh.
"Aku sudah mempersiapkan itu dari jauh-jauh hari." Arnold menghela nafasnya.
"Kalau kalian tidak percaya, ini buktinya!" ucap Arnold seraya membuka cincin pertunangannya dengan Regina dan memperlihatkan nama yang tertera di cincin tersebut.
Brata pun mengambilnya, ia membaca tulisan dalam lingkaran cincin itu, lalu ia tersenyum dan menyerahkan cincin tersebut pada Regina.
__ADS_1
Regina membaca tulisan Regita pada cincin Arnold hingga membuat hati wanita tersebut lega, ia pun langsung mengambangkan senyumnya dan minta maaf pada pria itu karena tidak menolak pertunangannya meskipun ia tidak pernah mengenal calon prianya.
"Maafin aku, Arnold! Aku tidak bermaksud untuk membuatmu dibenci oleh saudara kembarku, pada waktu itu aku merasa jadi patung karena aku mencintai orang yang sudah beristri, jadi aku menerima pertunangan itu asalkan calon tunanganku tidak punya pendamping hidup!" ucap Regina tersenyum.
"Aku tidak punya istri!" ucap Brata menyela ucapan gadis tersebut.
"Aku tidak bicara sama kamu, Kak!"
"Tapi kau menyindirku!"
"Kalau kamu tidak punya istri, lalu kenapa kau merasa tersindir?"
"Karena aku pernah punya istri!"
"Sudah, sudah! Sini cincinnya!" Arnold mengulurkan tangannya pada Regina dengan senyum lembutnya.
Regina pun menyerahkan cincinnya pada pria tersebut. "Kamu mau minta ini juga?" tanya Regina seraya mengangkat tangannya menunjukkan cincin yang di sematkan Arnold pada jari manisnya.
Arnold pun menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang. "Aku pikir ini untuk aku dan nggak perlu di kembalikan lagi meskipun status kita bukan tunangan lagi!" ucap Gadis itu.
"Memangnya untuk apaan?" tanya Brata heran karena Regina enggan untuk mengembalikan cincin tersebut.
"Ya untuk di jual lah, memangnya untuk apa lagi?" Regina memutar bola matanya malas.
Brata hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban aneh gadis itu. "Kayak orang miskin saja!" ucap Brata.
"Ya sudah, nanti aku beli cincin itu lagi sama kamu!" ucap Arnold tersenyum.
"Nah, gitu dong! Kalau gitu 'kan enak!" ucap Regina seraya menaik turunkan alisnya.
"Kalian sangat cocok!" ucap Arnold dengan senyum yang tidak pernah memudar.
"Iya dong kami cocok! Kami kan memang diciptakan untuk bersama dan bersatu untuk selamanya!" ucap Brata dengan senyum yang mengembang.
"Kakak makin aneh!" ucap Regina menggeleng-gelengkan kepala karena sebelumnya ia tidak pernah mendengar Brata berkata lebay.
"Kamulah yang membuatku aneh, Gin! Cintaku padamu membuatku berubah dari jati diriku sendiri!" ucap Brata menatap Regina penuh cinta.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...