Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas

Ketika Selingkuh Menjadi Jalan Pintas
Masa lalu yang menyakitkan


__ADS_3

"Aku kembali Dad, Mom!" ucap Putri begitu membuka pintu utama. Gadis itu tersenyum dengan wajah cerianya. Rani pun menoleh, dan senyuman gadis itu seakan menular pada mommynya tersebut.


"Sayang ... !" Rani berdiri dan melangkah menghampiri putrinya yang sedang mematung di ambang pintu, ia memeluk putrinya erat.


"Aku bahagia kamu kembali, Nak! Jangan jauh-jauh lagi dari daddy dan mommy!" Wanita paruh baya itu sangat bahagia melihat kedatangan putrinya tersebut, ia seakan tidak ingin melepaskan pelukan itu agar putrinya tidak lagi meninggalkannya.


"Kakak ....!" Regina juga mendekati Putri, lalu memeluk Putri juga mommynya erat. Gadis itu juga merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan mommynya tersebut, yaitu kerinduan meskipun Putri hanya pergi sebentar. Sementara Ryan dan Adit tetap duduk di sofa menatap 3 wanita penghuni rumah itu yang sedang berpelukan.


"Dokter Anton, Dinda ... !" Rani melerai pelukannya begitu melihat pasangan suami istri itu muncul di belakang putrinya tersebut.


Anton pun tersenyum, begitu pun dengan Dinda. Pasangan suami istri itu berdiri berdampingan. "Ayo masuk dulu Dok, Din!" ajak Rani tersenyum.


"Iya, Ran! Kalian duluan saja!" jawab Anton tersenyum.


"Baiklah, ayo, Sayang!" Rani menarik tangan putrinya seraya melangkah menuju ruang tamu. Sementara pasangan suami istri itu mengekor di belakangnya, begitu pun dengan Regina.


Begitu Dinda berdiri di hadapan sepupunya, wanita paruh baya itu langsung menerbitkan senyum, begitu pun dengan Ryan. "Apa kabar?" tanya Dinda menatap sepupunya penuh kerinduan. Ryan berdiri dan hendak memeluk sepupunya tersebut. Namun, ucapan Anton menghentikan langkah pria itu.


"Jangan macem-macem!" ucap Anton menatap Ryan tajam.


"Dasar Dokter sesat posesif!" umpat Ryan seraya duduk kembali, menahan kekesalan pada suami adik sepupunya itu


"Kenapa? Iri? Seharusnya kamu itu peluk istrimu bukan istri orang!" ucap Anton dengan wajah kesal.


"Dari dulu kau tidak pernah berubah! Masih saja begitu!" ucap Ryan menatap Pria itu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Memangnya aku kenapa?" tanya Anton seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Kamu tetap menyebalkan!" jawab Ryan menatap Anton datar.


"Sudah sudah, kenapa kalian nggak bisa akur sih!" ucap Dinda menatap Ryan dan Anton bergantian.


"Kayak kamu akur aja sama dia!" jawab Anton melirik istrinya sekilas.


"Iya juga, sih?" Dinda mengusap-usap tengkuknya seraya menatap suaminya dengan senyum aneh.

__ADS_1


Putri pun tertawa terbahak-bahak melihat perdebatan orang tuanya dengan keluarga Cassilas hingga membuat semua bungkam dan menatap ke arahnya.


"Kenapa kalian menatapku?" tanya Putri menatap semua orang yang berada di ruangan tersebut.


_


_


_


David kini tiba di kediaman orang tuanya, tempat ia dibesarkan dan tempat yang banyak menyimpan banyak kenangan di rumah itu.


David tersenyum menatap rumah yang sangat ia rindukan. Lalu, ia berjalan seraya menatap rumahnya yang sedikit berbeda dari sebelum ia menetap di Paris.


Freya mengekor di belakangnya seraya menggendong Baby Sean. Wanita itu menatap suaminya dari samping. Ia melihat rona kebahagiaan yang terpancar di wajah suaminya tersebut hingga ia ikut tersenyum menatapanya.


Karena tidak fokus berjalan, Freya tersandung kerikil dan hampir jatuh seraya menggendong Baby Sean jika David tidak menangkapnya.


"Hati-hati, Sayang!" David terkejut melihat sang istri hampir jatuh. Namun, berbeda dengan Baby Sean, ia malah seakan menertawakan kedua orang tuanya hingga David maupun Freya mencium pipi gembulnya.


Setelah sampai di pintu utama, David memencet Bel berulang kali, dan tidak lama kemudian pintu tersebut di buka, lalu menampilkan sosok wanita hebat nomer satu di hati David. David pun menyalimi mommynya, begitu pun dengan Freya.


"Sean ... !" Gracia langsung menggendong cucunya begitu keluarga kecil David sampai di kediaman keluarga Galaxy.


"Ayo masuk, Nak!" ajak Gracia seraya melangkah di depan anak dan menantunya tersebut.


"Daddy mana, Mom?" tanya David seraya melangkah mengikuti mommynya menuju ruang keluarga.


"Aku di sini!" ucap Brian yang tiba-tiba muncul dari arah tangga. "Devan mana? Apa dia tidak langsung ke sini?" tanya Brian yang mendekati putra sulungnya itu.


"Tidak, Dad! Dia langsung pulang ke rumahnya. Mungkin dia mau istirahat dulu, karena dia akan semakin sibuk belakangan ini!" ucap David tersenyum.


"Sibuk ngapain? Kerjaan dia saja kadang tidak sesuai dengan ekspektasi karena tidak Fokus, entah apa yang ada di pikiran adikmu itu!" ucap Brian datar.


"Maklumin aja lah, Dad! 'kan masih pengantin baru!" ucap David tersenyum.

__ADS_1


"Kalau sekali dua kali sih iya, tapi kalau berulang kali bisa-bisa Daddy bangkrut!" ucap Brian.


"Kalau daddy Bangkrut, Daddy tinggal pindah ke Paris saja! Perusahaan Daddy di sana juga sudah besar dan bercabang ke mana-mana!" ucap David menatap Daddynya intens.


"Enak saja kamu bilang, perusahaan ini aku bangun dengan susah payah, aku tidak akan pernah merelakan perusahaan ini bangkrut apapun alasannya!" ucap Brian menatap putranya tajam.


"Aku dah capek, Dad! Kayaknya aku butuh istirahat!" ucap David dengan wajah lesunya.


"Kalau kalian capek, kalian langsung ke kamarnya saja! Biarkan mommymu yang menjaga Sean!" ucap Brian datar.


"Terima kasih, Dad!" ucap David tersenyum.


"Hm ... !" jawab pria paruh baya itu.


"Ayo sayang!" David menarik tangan Freya, Freya pun diam hanya melangkah mengikuti suaminya tersebut dari belakang.


Brian dan Gracia mengajak Sean bermain di ruang keluarga. Baby Sean pun semakin tertawa terbahak-bahak saat Oma dan Opanya tersebut menirukan gaya hewan untuk membuat cucunya itu tidak bosan.


"Sayang ... sini biar aku yang menggendong Sean!" Brian mengulurkan tangannya pada sang istri. Pria itu merasa damai saat menatap wajah cucunya tersebut.


"Ya sudah ... ini!" Gracia pun menyerahkan Baby Sean pada suaminya. Wanita paruh baya itu meletakkan Sean di pangkuan Brian perlahan.


"Nani, tolong panggilkan pelayan di rumah ini supaya membawa barang-barang David dan Freya ke kamar mereka!" titah Gracia pada Baby sitter Sean.


"Baik Nyonya!" jawab Baby sitter tersebut.


"Pa ... pa .. pa... !" Baby Sean menepuk-nepuk pipi Brian yang berhasil membuat pria paruh baya itu tersenyum.


"Sean lucu banget, Sayang! Dia seperti Devan dulu!" ucap Brian tersenyum sambil menoel-noel hidung bayi mungil itu.


"Dia bukan seperti Devan, Mas! Tapi Dia seperti David. Coba aja lihat fotonya waktu masih bayi, mukanya sama banget, jika seumuran mungkin bisa dibilang kembar!" ucap Gracia tersenyum seraya menatap Sean yang berada di pangkuan suaminya tersebut.


"Pasti David lucu ya, pas waktu kecil?" tanya Brian sendu.


Seketika Gracia di penuhi rasa bersalah, ia tahu betul apa yang di rasakan suaminya saat membahas David kecil. Namun, terkadang ia lupa akan hal itu, hingga membuat suaminya tersebut merasa sedih saat mengingat masa lalunya.

__ADS_1


......❤️❤️❤️❤️❤️......


...TBC...


__ADS_2