
"Kalian ini, sudah menikah masih saja suka ribut!" ucap Devan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menyingkirkan tubuh kedua sahabatnya dan melangkah melewati pasangan suami-istri itu.
"Devan ... !" panggil Raya lagi. Wanita itu hendak melangkah untuk mengejar Devan. Namun, tangannya dicekal oleh Adrian hingga langkah wanita itu terhenti.
"Apaan sih! Kamu mau anakmu ileran?" Raya memanyunkan bibirnya.
"Tapi jangan ngidam meluk Devan kenapa sih? Ya sudah, biar aku aja yang mewakili, kalau perlu aku cium sekalian," usul Adrian dengan senyum yang mengembang.
Devan melebarkan mulutnya mendengar ucapan Adrian, Pria itu langsung lari untuk menghindari sahabatnya tersebut.
Sementara Adrian yang melihat Devan lari, ia langsung mengejar sahabatnya, dan Devan pun langsung mengunci pintu kamar pria itu mengabaikan Adrian yang mengedor-ngedor pintu kamar tersebut.
"Devan buka!" teriak Adrian.
Sementara Raya tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal suaminya. "Sudah jangan ngusilin suamimu lagi, Sayang! Kasian dia baru pulang kerja," ucap Gracia lembut.
Brian dan Gracia ada duduk di ruang keluarga menemani Raya dan mendengarkan cerita wanita itu.
"Aku merindukan suasana ini, Tan! Kapan lagi aku bisa ngusilin mereka?" ucap Raya dengan sisa-sisa tawanya.
"Sudah sini lagi! Aku masih belum selesai berbincang-bincang denganmu!" pinta Gracia.
__ADS_1
"Aku ke kamar duluan!" ucap Brian seraya berdiri dan melangkah menuju kamarnya.
"Ada apa, Tan?" tanya Raya. Wanita itu duduk di sisi Gracia dan tersenyum menatap wanita yang dianggapnya sebagai ibu kandung tersebut.
"Kamu nggak pengen pulang ke Paris?" tanya Gracia lembut.
"Aku lagi hamil muda Tan, sebenarnya aku pengen lihat keponakanku, tapi mau gimana lagi, aku nggak mau egois dengan mencelakai anakku sendiri karena keinginanku, Tan!" ucap Raya sendu.
"Sekarang kamu sudah berapa bulan, Sayang?" tanya Gracia lagi.
"3 Bulan Tante," jawab Raya seraya mengelus perutnya sendiri.
"Selamat ya, Nak! Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu! Dan maaf ucapanku telat karena Om dan Tante sudah lama di Paris," ucap Gracia tersenyum.
_
_
_
"Aku ingin bicara denganmu!" ucap Putri yang tiba-tiba datang ke ruangan Roy. Pria itu sengaja lembur untuk menghindari Devan.
__ADS_1
"Kalau mau bicara, ya bicara saja! Sejak kapan kau izin terlebih dahulu padaku? Biasanya kau langsung ceplas-ceplos saja!" ucap Roy sambil membereskan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya.
Putri mendekati Roy perlahan. Gadis itu menghambur memeluk Roy dari belakang seraya menangis tanpa bisa menahan air matanya.
Roy mengehentikan kegiatannya, ia langsung berdiri mematung, saat mendapati Putri menangis sampai sesegukan.
"I LOVE YOU!" ucap Putri dengan tangisan pilunya membuat Roy juga teriris mendengar tangisan gadis itu.
Deg
Roy tidak tau harus menjawab apa? Pria itu diam mematung di tempatnya. Putri memang sering mengatakan cinta. Namun, biasanya setelah itu Putri bercanda.
Roy balik badan seraya menghapus cairan bening yang ada di pipi gadis itu. "Aku mohon, katakan bahwa kau mencintaiku," pinta Putri.
"Maafin aku, aku tidak mencintaimu!" elak Roy.
Jedduarrr
Bagaikan disambar petir di siang bolong Putri sangat terluka mendengar pernyataan pria itu, dia pikir bahwa Roy juga mencintainya hingga ia memberanikan diri untuk bertanya. "Berarti aku tidak punya alasan untuk menolak Kak Devan," gumam Putri sendu seiring dengan air matanya yang mengalir deras.
"Ya sudah, maafin aku selama ini aku selalu mengganggumu!" ucap Putri tersenyum kaku. Lalu ia menjauh dari Roy dan melangkah pergi meninggalkan pria itu sendiri di ruangannya.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...