
"Aku dimana, Dev?" tanya Catherine saat wanita itu melihat suaminya dari kamar mandi. Ia menatap sekelilingnya yang terasa asing. Wanita itupun juga terkejut saat melihat Devan memakai handuk sebatas pinggang dan Catherine pun memejamkan matanya karena merasa malu pada dirinya sendiri.
"Kamu di ruanganku!" jawab Devan seraya melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.
"Jadi, di ruanganmu ada tempat tidurnya juga?" tanya Catherine yang sedang duduk seraya meletakkan jari telunjuk di dagunya.
"Iya, aku tidur di sini jika sudah sangat lelah!" jawab Devan tersenyum.
"Terus, kenapa kamu mandi siang-siang gini?" tanya Catherine seraya memejamkan matanya.
"Aku gerah," jawab Devan singkat.
"Gerah? Kok bisa? Di sini 'kan ada AC?" Serentetan pertanyaan menyerang Devan.
"Lama-lama kamu semakin menggemaskan! Kalau kau terus menanyakan hal ini, bisa-bisa nanti aku khilaf!" ucap Devan tersenyum seraya meletakkan baju gantinya setelah ia pilih.
"Apa hubungannya gerah dan khilaf?" tanya Catherine yang semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan suaminya tersebut. Wanita itu masih memejamkan matanya.
"Kamu mau tau apa hubungannya gerah dan khilaf itu apa?" tanya Devan menarik sebelah sudut bibirnya.
Devan mendekati Catherine perlahan, lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Catherine hingga wajah keduanya hampir tak berjarak.
Catherine melebarkan mulutnya saat Devan memejamkan mata dan memiringkan sedikit kepalanya. "Aku kebelet!" ucap Catherine seraya beranjak dan mendorong tubuh suaminya karena panik hingga tubuh Devan terjerembab ke tempat tidur.
Catherine pun lari dan menutup kamar mandi. Lalu, Catherine memegang dadanya dengan senyum yang mengembang. Rasa bahagianya pun kian membuncah hingga tak dapat dijabarkan dengan kata.
Sementara Devan juga tersenyum-senyum sendiri mengingat dirinya yang hampir kehilangan akal sehat. Pria itu pun duduk kembali, lalu beranjak dan mengganti pakaiannya.
_
_
_
__ADS_1
"A ... " Devan menyodorkan makanan untuk sang istri. Wanita itupun menerima suapan dari Devan.
"Sekarang giliran kamu!" ucap Catherine. Lalu wanita itu menyodorkan sesendok makanan untuk suaminya tersebut.
Namun, tiba-tiba Catherine menyuapi dirinya sendiri hingga membuat Devan hendak mencubit hidung Catherine, tapi Catherine menjauh dan membuat Devan semakin gemas.
"Kamu kayak anak kecil!" ucap Devan tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terkadang kita perlu menjadi anak kecil untuk merasakan kebahagiaan tanpa beban," ucap Catherine dengan senyum yang mengembang.
Devan mengambil sendoknya kembali, lalu menyuapi Catherine, begitu pun sebaliknya, Catherine juga mencoba menyuapi Devan, tapi pria itu tetap merapatkan mulutnya hingga membuat Istrinya tersebut kesal, wanita itu pun berdiri, lalu duduk di pangkuan Devan seraya menyuapi pria tersebut dengan mulutnya.
Devan pun terkejut dengan tindakan Catherine, tapi dengan sigap pria itu memegang tengkuk Istrinya hingga bibir wanita itu tidak bisa lepas dari bibir sang suami. Mereka pun melupakan segalanya karena kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan dengan kesadaran.
Lama kelamaan tautan bibir itu semakin memanas, hingga tangan Devan turun perlahan dan meraba sesuatu yang mengganjal tepat di dada Catherine.
Satu persatu Devan membuka kancing kemeja Catherine dengan bibir yang masih bertaut. Ciuman Devan semakin turun menuju leher jenjang istrinya dan meninggalkan bercak-bercak tanda cinta di leher tersebut.
Catherine pun mendes'h tak karuan hingga membuat Devan semakin bersemangat untuk meneruskan aksinya.
Devan tak menghiraukan ucapan Catherine, ia terus menurunkan ciumannya dengan tangan yang masih *******-***** buah pepaya yang menjadi favoritnya tersebut.
Lama kelamaan ciuman itu semakin turun, Catherine pun juga semakin mendesah tak karuan. Akan tetapi, saat Devan hendak mencapai puncak pepayanya tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu tanpa permisi.
"Selamat si ... !" ucapan seseorang terhenti karena melihat tingkah bosnya yang sedang fokus bermain sesuatu yang menjadi mainan favorit orang dewasa.
Pria itu menutup pintunya kembali setelah melihat sesuatu yang membuat orang lain menelan ludah.
"Dasar Tuan Devan tidak tahu tempat!" umpat Roy seraya memegang dadanya Karena terkejut melihat adegan seperti itu.
"Roy ... !" teriak Devan setelah menyadari kehadiran pria tersebut.
Devan pun menatap pintu ruangannya dengan kesal, sementara Catherine langsung menuju kamar yang berada di ruangan itu.
__ADS_1
"Dasar pengacau!" umpat Devan.
"Masuk!" teriak Devan.
Dengan sisa tawa yang masih belum terlihat dengan jelas, Roy menundukkan kepala agar tidak melihat wajah atasannya tersebut.
"Duduk!" titah Devan. Pria itu duduk di kursi kebesarannya setelah melihat Catherine lari ke kamar tersebut.
"Kenapa kau mencariku?" tanya Devan menatap Roy penuh kekesalan.
"Maaf, Tuan! Saya telah lancang membuka pintu ruangan Anda tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu!" ucap Roy menahan tawa.
"Kau menyebalkan, Roy! Kamu pikir, saya tidak tahu kalau kamu sedang menertawakanku?" tanya Devan seraya menatap Roy tajam.
"Siapa yang salah, Tuan? Seharusnya Anda mengunci pintu dulu sebelum Anda melakukan hal yang tadi!" ucap Roy mencoba mengingatkan Tuannya.
"Kau berani menyalahkanku?" tanya Devan menatap Roy tajam.
"Tidak, Tuan! Saya tidak berani!" ucap Roy yang masih menundukkan kepalanya.
"Ada perlu apa kau mendatangiku?" tanya Devan datar.
______________
...Kebahagiaanku adalah kamu, selamanya aku akan menjaga cinta ini, aku merasa menjadi orang yang paling berharga karena di pertemukan dengan pria sepertimu, meskipun awal hubungan kita adalah sebuah awal hubungan yang salah, semoga suatu saat nanti kau tidak akan pernah menyesal karena mencintaiku, aku mencintaimu hingga tidak ada suatu perbandingan yang mampu kuutarakan, teruslah cintai aku hingga kita disatukan kembali dalam suatu tempat di keabadian nanti....
...❤️❤️❤️...
...TBC...
...Assalamualaikum Readersku sayang 🥰...
...jangan lupa jejaknya ya!...
__ADS_1
...Thank you 😘...