
sementara itu Fiona sudah selesai dengan belanja singkat nya, tanpa sengaja ia bertemu dengan Rico Hasben. lebih tepat nya Rico Hasben sengaja berjalan-jalan ke daerah ini karena mengetahui Fiona sering berbelanja di swalayan dan market di sekitar.
"Nona Victoria, kebetulan sekali" sapa nya seakan-akan mereka memang tak sengaja bertemu
"Tuan Rico Hasben..." Fiona balas menyapa, sama sekali tidak ada kecurigaan bahwa Rico ini sengaja kelayapan di sekitar tempat ini sekedar untuk melihat diri nya, sebesar apa pun Wanna lagi pula Rico Hasben adalah orang kota Wanna ini juga, jadi tak mengeheran kan jika ia ada di salah satu sudut kota di hari libur nan cerah ini..
"anda habis berbelanja?" tanya pria tampan bernama Rico Hasben ini mulai berbasa-basi
"...ya begitu lah, teman ku akan datang" jawab Fiona
Rico Hasben manggut-manggut
"oh, ya bagaimana tentang survey anda ke Resque" tanya Fiona seputar pekerjaan
"kelihatan nya lusa" jawab Rico Hasben "tapi kau harus menemani dan menyambut ku dengan baik,Nona" goda Rico Hasben dengan keakraban nya
"baik lah..." angguk Fiona
"itu sudah jadi keharusan, aku akan menemani mu dengan baik sebagaimana kau menyambut ku di Wanna" lanjut Fiona lagi dengan senyuman yang tulus
tiba-tiba ponsel Fiona bergetar, menandakan panggilan masuk, dan benar saja itu adalah panggilan dari LiLyan jadi Fiona pun buru-buru mengangkat nya.
📞
"LiLy, aku sebentar lagi..." belum selesai Fiona berkata sudah terdengar suara LiLyan yang setengah menangis dan takut karena ada suara pria yang terdengar marah dengan arogan pada LiLyan, Fiona kenal itu suara koko nya...
__ADS_1
ada apa gerangan? koko nya tidak pernah se-kesal itu biasa nya.., apa ada kesalah pahaman lagi di antara dua orang ini?
Fiona segera undur diri dari hadapan Rico Hasben dengan sopan sebagai hubungan mitra kerja yang baik satu sama lain.
sebetul nya Rico Hasben masih ingin berlama-lama, atau bisa mengajak Fiona ke kafe terdekat...dan lebih bagus nya lagi jika Wanita itu menawar kan nya datang ke apartemen saat ini, tapi kelihatan nya itu hanya angan seorang Rico Hasben.
Fiona mempercepat langkah nya, Rico Hasben hanya bisa memandangi punggung cantik wanita yang baru-baru ini di taksir nya itu, memandangi hingga punggung itu bergerak makin menjauh...
💙💙💙
singkat cerita Fiona sudah berada di ruang televisi duduk di sofa di samping LiLyan yang sedang tertunduk seraya memain-main kan kuku nya sendiri dengan gugup dan rasa bersalah juga sedikit kesal.
gugup dan rasa bersalah karena tak sengaja lancang masuk ke kamar AL ghazaly dan kesal karena pria bernama AL ghazaly itu sama sekali tidak mau mendengar alasan nya, hanya marah-marah dengan sangat arogan, seolah LiLyan sengaja melakukan nya, memang nya dia semesum itu kah??? LiLyan tak habis fikir, AL ghazaly yang terhormat ini terus memandang buruk diri nya.
LiLyan bodoooooh, kenapa tidak menanyakan dulu pada Nona Fiona, kamar nya yang mana??? rutuk LiLyan pada diri nya sendiri...
bagaimana pun itu tak sepenuh nya salah LiLyan, ia juga kebelet nya sudah tak tahan lagi
sedang kan AL ghazaly setelah LiLyan kabur, ia yang masih dalam kekagetan segera memakai kan handuk kembali dan buru-buru berganti pakaian rumahan yang tadi sudah hendak di ambil nya. setelah selesai memakai pakaian, AL ghazaly pun segera keluar kamar dengan kesal.
LiLyan sedang merutuki diri sendiri di kamar Fiona dan mendapat gedoran pintu di luar di sertai suara AL ghazaly yang marah-marah
bagi LiLyan sosok AL ghazaly tidak marah pun menyeram kan apalagi marah? jadi dengan ketakutan karena juga merasa bersalah, LiLyan buru-buru menelpon Fiona, di saat Fiona sedang berbincang dengan Rico Hasben tadi.
Fiona mengetahui kronologi nya dari cerita dua orang ini,ia menghela nafas. sebetul nya ini bukan hal yang besar kerana murni bukan kesengajaan tapi tentu saja hal besar bagi AL ghazaly.., bukti nya pria itu berdiri dengan kesal di sisi sofa besar, bersandar di sebuah nakas dengan raut kesal dan tak rela.
__ADS_1
ia juga tampak masih marah pada LiLyan walau berulang kali LiLyan meminta maaf dengan tulus
"sudah lah koko,LiLyan juga tidak sengaja..., salah ku juga karena tidak bilang yang mana kamar nya secara detail" kata Fiona menenangkan dua orang yang sedang tegang karena shock ini
LiLyan meremas jemari nya sendiri, kalau saja ia memberi waktu pada Fiona berbicara lebih lama lagi menanyakan detil kamar nya, semua tak akan menjadi memalukan begini.
AL ghazaly memijat pangkal hidung nya seraya membatin dengan kesal di dalam hati nya
"tubuh ku yang berharga, lelucon apa ini? dia melihat semua nya...s!-aalan" maki AL ghazaly membatin
sedang kan LiLyan yang terus menunduk dan merasa bersalah juga di liputi rasa kesal juga sebetul nya jadi ia hanya bisa merutuk di dalam hati, walau pun wanita mana yang tidak mengatakan nya keberuntungan jika melihat sosok sempurna AL ghazaly Elvano tanpa pakaian? polos...? bukan kah itu hal langka.
tapi untuk LiLyan yang berulang kali merasa interaksi nya dan sosok AL ghazaly tak pernah bagus, ia merasa itu bukan lah hal yang untung
"hhh, mata ku yang suci...bagaimana bisa tercemar oleh tubuh seorang pria arogan...?" kesal LiLyan di dalam hati nya...
"Hei nona Pelayan" panggil AL ghazaly lantang
sontak LiLyan dan Fiona menoleh bersamaan ke arah AL ghazaly.., LiLyan ciut karena melihat raut kesal AL ghazaly yang tidak luntur di wajah tampan pria itu, malah ia nampak seperti tokoh hakim tampan yang kejam di film-film
"aku akan membuat perhitungan dengan mu" kesal AL ghazaly, seraya menunjuk LiLyan dengan telunjuk nya lalu mengarah kan dua jari nya ke arah mata nya sendiri yang sorot nya sangat tajam itu.
"koko..." Fiona menenangkan AL ghazaly dengan raut wajah yang mengisarat kan jangan lagi marah-marah....
tapi AL ghazaly tetap kesal, ia beranjak dari ruang televisi menuju kamar nya sendiri tak peduli dengan LiLyan yang merasa bersalah atau Fiona yang meminta nya untuk tidak marah lagi.
__ADS_1