
Fiona mendatangi rumah utama Wijaya Santoso, ziviliya bahkan sudah kembali ke kediaman Wijaya Santoso namun tentang panggilan pengadilan memang belum ada titik terang nya hingga kini.
kedatangan Fiona memang hanya untuk Ziviliya dan Anderson saja, dan jika ada para puteri-puteri mereka pun maka itu adalah suatu hal yang lebih baik pula bagi Fiona.., namun tidak di sangka yang di lihat justru dua raut yang sangat memuakkan ini, Fiona bukan lah karakter yang manis di depan busuk di belakang, jadi kalau tidak suka ia akan sangat terang-terangan, bagaimana pun dua perempuan ini lah yang awal nya selalu membuat masalah pada Fiona..., siapa lagi kalau bukan Nyonya Diane Wijaya Santoso dan Nona Indah Kusuma...
yang di pihak Diane dan Indah pun merasa aji mumpung, pasangan mertua menantu halu ini memang sedang membahas Fiona tentang tandatangan surat perceraian yang hingga kini belum di sah kan juga
"kebetulan bertemu di sini jadi aku bisa langsung bertanya tentang berkas perceraian pada mu kakak Fiona" kata Indah, dia terlihat lebih mendominasi Fiona jika itu bersama Diane, namun jika itu adalah bersama Wilson maka diri nya lah yang akan berlagak teraniaya oleh Fiona., dengan Diane diri Indah memposisikan diri nya memang terdengar lebih sopan dan berkelas saja, tujuan nya yah, mungkin agar Diane makin memandang siapa perempuan yang lebih pantas untuk putera tunggal nya yang berharga itu.
Fiona menghentikan langkah nya, duh kenapa harus bertemu orang-orang ini batin Fiona malas "berkas apa?" Fiona mengerutkan dahi, ia tak mengerti kalau masalah berkas perceraian semua nya sudah di serahkan jauh-jauh hari pada Wilson, malah yang ada Fiona merasa jenuh menunggu panggilan pengadilan yang tak kunjung ada, yang tak kunjung terdengar hingga saat ini.
__ADS_1
"masih bertanya? putera ku sudah menggungat cerai dirimu, tapi hingga kini belum kau tandatangani juga kan?" Diane ambil alih, Fiona mengerutkan alis cantik nya dengan makin dalam, mengapa orang-orang ini menjadi kesetanan dan begitu bernaf--su menyangkut perceraian diri nya dan Wilson...
"maaf ?" Fiona menjeda kata
"kau pasti belum siap lepas dari putera ku yang berharga, sadarilah...apa yang kau tunggu? aku tak pernah menganggap mu menantu dari dulu, hubungan kalian tak akan berhasil" kata Diane sinis, Fiona mengedipkan mata nya perlahan, di dalam hati nya bertanya-tanya mengapa wanita tua ini masih bersemangat berkelahi dengan perempuan se usia anak nya, sampai di sini...sejauh ini... Fiona melihat Nyonya Diane ini ingin di hormati yang muda tapi diri nya sendiri sama sekali tidak mau menghargai yang muda. huft...!?!
"Tante, jangan menyalahkan kak Fiona..dia juga hanyalah seorang gadis yang di pungut, jika dia lepas dari Wilson Wijaya Santoso maka sama saja melakukan kebodohan..., aku saja yang puteri keluarga kaya, punya segala nya tapi jika mendapatkan pendamping seorang Wilson maka itu adalah sebuah keberuntungan dan anugerah, apa lagi kak Fiona yang...sama sekali tak punya apa-apa...mana mungkin dia mau melepas kan pria se sempurna Wilson Wijaya Santoso" kata Indah, kalimat yang mengandung sanjungan untuk diri nya dan Wilson namun tentu nya mengandung hinaan untuk Fiona, Mendengar ini Diane tidak bisa tak merasa bangga dengan putera nya, raut wajah nya nampak terlihat makin angkuh dan sombong...
"tanda tangani dan serahkan langsung dokumen itu, tunggu apa lagi !" desak Diane tak sabaran dengan nada judes, wanita paruh baya yang masih cantik ini sekarang malah terlihat seperti sosok ratu kejahatan dengan aura ibliss...Fiona bukan nya ciut atau pun merasa takut, sekali lagi aura wanita yang satu ini juga membuat Fiona merasa...Muak !
__ADS_1
"perlu kalian tahu, aku sudah lama menandatangani dokumen berkas perceraian impian kalian itu, dan aku...sudah menyerahkan nya pada Wilson. itu sudah terjadi beberapa pekan lalu..." ujar Fiona perlahan di sertai dengan senyuman nya yang teramat sangat tenang seperti air yang dalam...
wajah Diane maupun Indah sedikit berubah aneh, sudut mulut Diane berkedut.., namun dengan cepat Indah menyambar dengan cecaran tanya yang sengit pada Fiona "Lalu mana bukti nya? kalian sampai sekarang belum juga sidang kan?" Indah terdengar berapi-api dan tak sabaran.
"mana aku tahu..!?!" Fiona balik bertanya "tanya kan saja pada kekasih tercinta mu itu" lanjut Fiona dengan senyuman ejekan, gaya nya masih setenang di awal, memang ini lah gaya Fiona...ia terlalu tenang dan anggun dan hal itu lah yang semakin membuat Wilson kesal pada nya dari hari ke hari..., Walau berulang kali Wilson meniiduri Fiona dengan brutal dan terkesan melecehkan, namun tetap saja harga diri seorang Fiona seperti tak dapat di lalui oleh Wilson dengan begitu mudah nya.
mendengar pengakuan Fiona ada keterkejutan di hati Diane, merasa putera nya mulai merahasiakan sesuatu dari diri nya jadi ia cepat-cepat berkata tajam "kau ingin mengadu domba kami !??!" tuding Diane kejam, Fiona menatap ke arah ibu mertua nya itu dengan malas, wanita tua ini memang tak pernah mau kalah dari hari ke hari. mengadu domba? apa untung nya ? Fiona menahan amarah dalam hati nya.
"Ibu Diane yang terhormat, seharus nya anda lebih tau apa yang putera kesayangan anda lakukan..." ujar Fiona dengan senyuman miring di sudut bibir nya "sekali lagi aku tekan kan dan katakan, jadi kalian dengar kan baik-baik..., surat cerai itu sudah aku tanda tangani, sudah aku serahkan pada si penggugat. namun jika belum ada panggilan persidangan, tanyakan saja pada si penggugat..., si Wilson Wijaya Santoso itu.." kata-kata yang Fiona lontar kan terdengar tegas dan tidak mengandung kesedihan atau pun penyesalan di dalam nya, mengalir begitu saja. "permisi..." lanjut Fiona di akhir dan segera meninggal kan dua orang yang sudah kehabisan kata-kata itu.
__ADS_1
Diane tak bisa tak merasa kesal, yah kesal pada Fiona juga yang selalu bersikap seperti biasa tak ada tekanan atau pun beban,selalu bersikap seolah tak takut pada nya, lalu Diane juga merasa diri nya kesal karena mulai merasa Wilson membodohi nya kali ini, ia tak percaya putera kesayangan nya bohong pada nya kali ini, ia merasa sangsi kalau putera berharga nya itu mulai merahasiakan sesuatu dari diri nya.dia tak ingin percaya, tapi perkataan Fiona tadi tak ada sedikit pun tersirat kebohongan di dalam nya. walau ia membenci Fiona begitu mendarah daging hingga ke tulang, namun ia tak bisa menutup mata dan telinga saat mendengar seuatu hal yang terlihat jelas kejujuran nya secara nyata seperti barusan ini.
menatap kepergian Fiona dari tempat ny berada, Indah meremas mantel nya sendiri...dalam hati ia mulai menerka-nerka 'apa Wilson sekarang mulai berubah fikiran pada si rubah ja--lang ini?' bathin Indah curiga...'tak akan ku biarkan...'