
Pagi ini merupakan hari ketiga Alanna di rawat di Rumah Sakit.
"Pagi ini pukul sepuluh mas harus ke kantor sayang, ada pertemuan dengan perwakilan investor dari Malaysia untuk membahas perkembangan proyek hotel kita di sana." Zack memberitahu Alanna.
Alanna mengangguk mengerti. "Iya mas."
"Tidak apa-apa kan mas tinggal sebentar ?"
"Tidak apa-apa mas, aku sudah membaik. Mama, Papa dan Sinta juga sedang dalam perjalanan ke sini untuk menemani ku." Alanna tersenyum meyakinkan.
"Rapat kali ini mas tidak bisa menyuruh Johan untuk mewakili mas. Rapatnya tidak akan memakan waktu lama, mas akan segera kembali." Zack berkata meyakinkan Alanna walaupun terdengar seperti menyakinkan dirinya sendiri.
Alanna tersenyum geli melihat sikap Zack. "Mas Zack, aku tidak apa-apa kok. Sudah sewajarnya mas ke kantor hari ini karena sejak aku masuk Rumah Sakit mas Zack belum pernah ke kantor."
"Kamu kan tahu mas sangat mengkhawatirkan mu."
"Iya, aku tahu."
Ketukan di pintu menghentikan percakapan mereka.
"Mungkin itu mereka." Tebak Alanna
Pintu terbuka, Mama Rani masuk lebih dulu kemudian Sinta dan terakhir Papa Arian.
"Kalian sudah datang." Kata Zack melihat mereka.
"Bagaimana keadaan mu Nak ?" tanya Papa Arian berjalan mendekati tempat tidur Alanna.
"Sudah membaik Pa." Jawab Alanna tersenyum.
"Kamu ingin pergi sekarang Zack ?" tanya Mama Rani melihat penampilan Zack yang telah rapi.
"Iya Mama, aku titip Alanna dulu."
Mama Rani mengangguk. "Iya. pergilah. Pak Risno sedang menunggu mu di dalam mobil."
'Sayang, mas pergi dulu." Pamit Zack pada Alanna.
"Iya mas."
Zack berjalan keluar menuju pintu, menutup pintu dari luar.
"Kapan selang infus mu akan di lepas ?" tanya Sinta penasaran.
"Kata perawat tunggu instruksi dari Dokter tapi kata mereka mungkin sore ini sudah bisa di lepas."
__ADS_1
"Jadi kamu sudah bisa langsung keluar dari sini begitu selang infus mu di lepas ?" kembali Sinta bertanya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Mas Zack yang tahu karena dia yang berbicara dengan Dokter tadi pagi begitu Dokter selesai memeriksa ku."
"O.... begitu."
Alanna tersenyum masam. "Aku sudah lelah dan sudah tidak nyaman dengan infus yang terpasang di tangan ku selama hampir tiga hari ini."
"Aku mengerti perasaan mu." Ucap Sinta dengan wajah simpati.
Jam menunjukkan pukul dua belas siang Mama Rani dan Papa Arian keluar sebentar untuk pergi makan siang sedangkan Sinta menemani Alanna di dalam ruangan sambil memakan makan siangnya yang telah di pesan dan di antar ke Rumah Sakit.
"Yuk kita berjalan-jalan di taman Rumah Sakit sambil menunggu Mama dan Papa pulang." Ajak Sinta.
"Boleh, aku juga sudah bosan di dalam kamar terus. Mas Zack melarang ku untuk keluar kamar." Alanna berkata sambil bergerak turun dari tempat tidur.
"Tapi tidak apa-apa kan kalau kamu berjalan-jalan di luar sebentar ?" Sinta bertanya ragu begitu mendengar perkataan Alanna.
"Dokter menyarankan ku untuk berjalan-jalan keluar jika sudah tidak merasakan pusing tapi mas Zack tidak mengizinkan ku karena takut aku akan pusing dan pingsan saat berjalan keluar."
"Suami yang siaga." Komentar Sinta takjub mendengar penjelasan Alanna tentang sikap kakaknya yang over protective.
"Sudah tidak usah di bahas, kita ke taman yuk. Cuaca di luar bagus sekali untuk berjalan-jalan, tidak panas sedikit mendung dan berangin." Ajak Alanna sambil mendorong tiang infusnya yang bisa di dorong karena memiliki roda.
Berjalan dan duduk santai di kursi taman sambil berbincang-bincang dengan Sinta tanpa di rasa kurang lebih satu jam.
"Kita sudah lama di sini, lebih baik kita masuk kembali mungkin Papa dan Mama sudah ada di dalam kamar." Kata Sinta.
"Iya kamu benar kita sudah lama di sini, mungkin mereka sudah ada." Alanna berdiri dari kursi taman.
"Alanna, kamu masuk duluan. Aku pergi ke cafe depan Rumah Sakit tidak lama. Aku ingin beli kopi, kamu juga mau aku belikan minuman ?"
"Iya boleh, aku pesan jus buah saja."
"Buah apa ?"
"Jus buah naga merah."
"Oke."
Mereka berpisah, Alanna berjalan masuk sedangkan Sinta berjalan memutar melewati samping gedung Rumah Sakit menuju Cafe yang berada di depan Rumah Sakit.
Alanna mendengar suara Zack berbicara begitu mendekati pintu kamarnya.
Berarti mas Zack sudah selesai rapat dengan investor dari Malaysia. Dalam hati Alanna berbicara.
__ADS_1
Gerakan tangannya terhenti membuka pintu begitu mendengar perbincangan serius yang terjadi di antara Zack dengan Mama Rani dan Papa Arian.
"Kenapa baru sekarang kamu beritahu kami tentang ini Nak ?" Mama Rani terdengar kecewa.
Alanna terdiam di tempatnya tidak bersuara, ingin mendengar isi pembicaraan mereka.
"Aku mengira hal ini tidak perlu ku katakan pada kalian jika Alanna tidak mengalami kejadian ini."
"Tapi kenyataan berbeda, Alanna keguguran dan membuat mu terpaksa mengatakan hal ini pada kami." Kata Papa menarik kesimpulan.
"Iya." Kata Zack muram.
Apa yang sedang mereka bicarakan ? Mereka sedang membicarakan masalah apa ?
Jantung Alanna berdegup kencang, hanya bisa bertanya dalam hati sementara mendengar perbincangan mereka di dalam kamar.
"Alasanku untuk menikahinya sudah tidak ada Papa, aku tidak tahu bagaimana mempertahankan pernikahan ini. Aku sudah putus asa untuk memikirkannya seorang diri selama beberapa hari ini."
"Jadi itu juga alasan kenapa kamu memberi tahukan kami ?" tanya Mama Rani.
Perkataan Zack membuat Alanna syok berdiri bagaikan patung di tempatnya.
Perkataan selanjutnya dari Zack samar di telinganya.
Dirinya bagaikan tersiram air es, seluruh tubuhnya terasa beku dan dingin. Dengan bersusah payah tanpa mengeluarkan suara yang bisa membuat mereka menyadari kehadirannya, Alanna mundur perlahan menjauh dari pintu kamar.
Alanna berjalan kaku, dirinya melangkah dengan pikiran kosong begitu tersadar telah berjalan kembali menuju taman tempatnya tadi duduk bersama Sinta.
Alanna terduduk lemas di kursi taman, terngiang kembali perkataan Zack tentang pernikahan mereka membuat tanpa sadar air mata mengalir dari pelupuk matanya.
Apa yang kamu harapkan Alanna ?!
Zack Ibrahim tidak pernah mengatakan cintanya padamu.
Betul yang di dikatakannya alasan kalian menikah sudah tidak ada, jadi sesuai kesepakatan awal kalian harus berpisah.
Salahkan diri mu sendiri mengapa terlalu terhanyut dan terlalu mencintainya hingga membuatmu sakit hati sendiri.
"Hu hu hu...... ." tangis pilu Alanna lolos dari mulut nya, tangis yang berusaha di tahanannya.
"Kenapa dirimu terlalu bodoh !" Gumam Alanna di sela-sela tangisannya.
Alanna terus menangis tanpa menyadari waktu ataupun tatapan orang yang lewat di depannya.
Hatinya hancur dengan kenyataan yang terjadi, meratapi kebodohannya.
__ADS_1