Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 50


__ADS_3

Selama perjalanan di dalam pesawat menuju Jakarta entah kenapa Alanna kembali merasakan mual seperti yang di rasakannya saat makan bakso dengan Zack beberapa hari yang lalu. Alanna berusaha terlihat biasa-biasa saja agar tidak membuat Zack khawatir.


Pesawat mendarat dengan mulus saat memasuki landasan pesawat di bandara Soekarno-Hatta. Johan sudah menunggu kedatangan mereka di ruang tunggu bandara dan langsung mengambil alih koper yang di pegang oleh Zack saat mereka sudah bergabung dengan Johan di ruang tunggu bandara.


"Kita langsung pulang Tuan ?" tanya Johan saat mereka telah berada di dalam mobil.


"Iya, kita langsung pulang." Jawab Zack, Johan mengemudikan mobil keluar dari area parkiran mobil menuju jalan raya.


Alanna sendiri sudah tidak bisa menahan rasa mual yang sedari tadi di tahanannya dan ingin segera memuntahkan cemilan yang dia paksa masuk ke dalam perutnya berpikir rasa mualnya akan sedikit berkurang tapi ternyata makin bertambah.


"Mas Zack bisa kita berhenti di toko atau swalayan yang terlihat ?" tanya Alanna pada Zack, terus menelan ludah menahan rasa ingin muntah yang makin sering terasa.


"Kenapa ?" tanya Zack heran, mulai memperhatikan kening Alanna yang basah karena keringat, sedangkan di dalam mobil dingin karena AC mobil yang hidup. "Kau kenapa ?" tanya Zack mulai khawatir.


"Mas, saya ingin muntah." Alanna akhirnya jujur sudah tidak bisa menahan rasa mual dan ingin muntah. "Hoeek !!." Alanna membekap mulutnya.


Zack segera membuka jas yang di pakainya dan memberikannya pada Alanna. "Pakai saja ini jika ingin muntah."


"Hoeeek ! Hoekk !." Alanna akhirnya memuntahkan isi perutnya, memakai jas Zack untuk menampung muntahannya.


Sementara Zack memijat belakang leher Alanna untuk membuat perasaannya lebih baik. "Johan ! lebih cepat bawa mobilnya." Perintah Zack yang panik melihat Alanna muntah.


"Baik tuan." Kata Johan patuh dan mulai melaju dengan kecepatan tinggi.


Perasaan Alanna lebih baik setelah dua kali memuntahkan isi perutnya walaupun rasa mualnya belum hilang sepenuhnya. "Maaf, jas mas Zack jadi kotor." Alanna berkata dengan wajah pucat dan penuh dengan keringat.


"Tidak usah kau pedulikan jas itu." Zack berkata masih dengan raut wajah khawatir sambil menyeka keringat di wajah Alanna menggunakan sapu tangannya. "Bagaimana perasaan mu ?"


"Masih mual mas."


"Sejak kapan kau merasa mual ?"


"Saat masih dalam pesawat." Alanna kembali duduk bersandar.


"Kenapa tidak bilang mas ?"


"Saya kira rasa mualku mungkin karena belum makan, akan hilang setelah makan sedikit tapi ternyata tidak." Alanna menutup mata berusaha mengendalikan rasa mualnya.


"Masih mual ?"


"Masih mas." Alanna menjawab masih menutup mata.


"Johan masuk jauh ?" Zack beralih menatap Johan di depan, di kursi pengemudi.


"Tidak jauh lagi Tuan." Jawab Johan tetap menatap ke depan penuh konsentrasi mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.


Lima menit kemudian mobil berhenti di depan tangga pintu masuk rumah. Zack keluar lebih dulu berjalan sedikit berlari ke pintu sebelah mobil untuk membantu Alanna keluar dari dalam mobil. Johan tanpa perintah bergerak mengeluarkan koper Alanna dari dalam bagasi mobil dan tas Alanna yang berada di kursi belakang kemudian menyusul Zack dan Alanna masuk ke dalam rumah.


"Kalau tidak ada hal lainnya saya permisi dulu tuan." Kata Johan saat di pintu depan setelah meletakkan koper dan tas Alanna di sudut kursi ruang tamu.


"Iya kau boleh pulang." Kata Zack hanya menoleh karena sedang memeluk Alanna dari samping memapahnya berjalan untuk masuk ke dalam rumah.


Papa Arian, mama Rani dan Sinta duduk berkumpul di sofa ruang tengah. Sinta lebih dulu melihat kedatangan mereka.


"Papa, mama, kak Zack dan Alanna sudah pulang." Sinta memberi tahukan orang tuanya.


Papa Arian dan mama Rani menoleh menatap Zack dan Alanna yang berjalan mendekat.


"Kenapa Alanna Zack ?" tanya mama Rani heran melihat Alanna yang masih sedikit pucat berjalan bersandar pada Zack yang memeluknya erat.

__ADS_1


"Alanna mual muntah ma." Zack menjelaskan saat sudah berdiri di hadapan mama Rani yang ikut berdiri.


"Kenapa bisa ?" tanya mama Rani mulai khawatir, refleks mengulurkan tangannya ke kening Alanna untuk memeriksa suhu tubuhnya. "Tidak demam juga." Tambah mama Rani setelah memeriksa suhu tubuh Alanna.


"Mungkin mabuk udara." Tebak papa Arian.


"Tapi sebelum-sebelum nya saat naik pesawat saya tidak pernah begini pa." Kata Alanna.


"Lebih baik bawa saja dulu Alanna ke kamar kalian untuk beristirahat, kalau masih mual dan muntah lebih baik mama hubungi Dokter untuk datang memeriksa keadaan Alanna."


"Mas, saya ingin, Hooek !." Alanna langsung membekap mulutnya mencegah dirinya untuk tidak muntah, tidak menyelesaikan perkataannya, berlari ke dalam dapur dan muntah di tempat cuci piring. "Hooek ! hooek...!." Alanna mengeluarkan semua isi perutnya.


Zack yang mengikutinya ke dalam dapur hanya bisa memijat pelan belakang leher Alanna yang membungkuk muntah.


Alanna berdiri saat merasa lebih baik, Zack mengambil air putih dan memberikannya pada Alanna. Alanna mengambilnya kemudian berkumur. "Minum lah sedikit." Kata Zack saat Alanna meletakan gelasnya di tempat cuci piring.


"Takut muntah."


"Kalau begitu kita ke kamar saja." Saran Zack yang di jawab anggukan kepala oleh Alanna.


Mama Rani menoleh pada Zack dan Alanna yang muncul dari arah dapur. Zack yang memeluk Alanna dari samping memapah membantunya berjalan. "Mama akan menelpon Dokter keluarga kita, menyuruhnya datang untuk memeriksa keadaan Alanna." Mama Rani berkata sambil menekan layar handphonenya.


"Kalau begitu Alanna saya bawa naik ke kamar dulu." Kata Zack.


Zack langsung membaringkan Alanna di tempat tidur dan menyelimutinya. "Ada yang ingin kau makan atau minum ?" tanya Zack yang duduk di samping tempat tidur menatap Alanna yang lemas.


"Tidak mas."


"Tapi kau harus makan, kau memuntahkan semua isi perutmu. Saya ke dapur dulu memberitahu Bibi untuk membuatkan kau bubur."


"Mas juga belum makan malam." Alanna baru teringat.


"Tidak usah memikirkan saya, saya akan makan setalah kau di periksa Dokter." Zack bangkit berdiri. " Saya ke dapur dulu."


"Pesan apa ?"


"Mas pakai handphoneku untuk mengirim pesan ke Ibu, cukup ketik pesan kalau saya sudah sampai."


"Baik, saya akan kirim pesan ke Ibu. Kau istirahatlah dulu." Zack berjalan keluar menutup pintu kamar dari luar.


Zack turun ke bawah bergabung dengan orang tuanya dan Sinta.


"Alanna sedang istirahat ?" tanya papa Arian.


"Iya pa." Jawab Zack singkat duduk di sofa samping mama Rani.


"Dokter sedang dalam perjalanan ke sini." Mama Rani memberi tahu.


"Baguslah." Kata Zack dan menoleh ke Sinta. "Sinta kau ke dapur dulu, minta tolong Bibi untuk membuatkan Alanna bubur."


"Iya." Sinta berdiri berjalan menuju dapur.


"Saya harus mengirim pesan ke Ibu Alanna, memberi tahu kalau Alanna sudah sampai." Zack berdiri berjalan ke ruang depan untuk mengambil koper dan tas Alanna yang Johan letakkan di sudut kursi, membawanya ke ruang tengah.


Zack duduk kembali, mencari handphone Alanna di dalam tas dan menemukannya. Menghidupkan handphone Alanna, memasukkan kode sandi yang terdiri dari tanggal lahir Alanna dan handphone pun terbuka. Zack mencari aplikasi pesan kemudian mengetik pesan ke Ibu Alanna.


Bunyi mobil berhenti di depan rumah mengalihkan perhatian mereka semua, tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Mungkin yang datang itu Dokter keluarga kita." Kata mama Rani bangkit berdiri berjalan ke depan untuk membuka pintu, muncul kembali dengan seorang pria yang seumuran papa Arian berjalan di sampingnya.

__ADS_1


"Bagaimana kabar anda Pak Arian ?" sapa Dokter itu tersenyum ramah, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Kabar baik Dokter Risal." Jawab papa Arian balas tersenyum sambil menjabat tangan Dokter Risal. "Anda sendiri, sehat ?" tanya papa Arian, balik bertanya.


"Sehat, terimakasih. Sudah lama tidak datang ke rumah ini." Kata Dokter Risal.


"Iya betul sekali Dok." Mama Rani ikut berbicara.


"Jadi siapa yang sakit ?" tanya Dokter Risal.


"Anak perempuan saya Dok." Kata mama Rani.


"Sinta ? sakit apa ?" tanya Dokter Risal dan heran saat melihat Sinta keluar dari dapur dalam keadaan sehat.


Melihat Dokter Risal sedikit bingung dengan cerita mama Rani membuat Zack berbicara. "Maksud mama itu bukan Sinta Dok tapi istriku." Zack menjelaskan.


"Istrimu ? kau sudah menikah ?" tanya Dokter Risal terkejut mendengar kabar itu.


"Iya Dok." Jawab Zack


"Saya tidak mendengar kabar itu."


"Memang pernikahanku tidak mengundang teman dan rekan bisnis jadi banyak yang tidak mengetahui kabar itu." Zack menjelaskan.


"Jadi di mana pasiennya ?" tanya Dokter Risal tidak membahas masalah itu lebih jauh.


"Di atas Dok, di kamar."


Mereka semua ikut naik ke atas mengantar Dokter Risal menuju kamar Zack, Zack membuka pintu kamar mempersilahkan Dokter Risal masuk.


"Alanna ini Dokter Risal, Dokter keluarga kita." mama Rani memperkenalkan. Alanna hanya mengangguk mengerti.


"Alanna apa yang kau rasakan ?" tanya Dokter Risal.


"Mual dan ingin muntah Dok." Jawab Alanna.


Dokter mendekat dan duduk di samping tempat tidurnya, mengeluarkan alat pengukur tekanan darah dan mulai mengukur tekanan darah Alanna.


"Tekanan darahnya normal." Kata Dokter Risal setelah mengukur tekanan darah Alanna.


"Berapa Dok ?" Zack bertanya penasaran.


" 110/70 mmHg." Jawab Dokter Risal. "Ada muntah ?" Dokter Risal bertanya kembali pada Alanna, memperjelas.


"Ada Dok."


"Berapa kali ?"


"Dua kali Dok tapi mualnya belum hilang sampai sekarang."


Mendengar perkataan Alanna membuat Dokter mengeluarkan stetoskop untuk memeriksa dada dan perut Alanna, menekan satu titik di tengah antara dada dan perut Alanna. "Bagian ini tidak sakit ?" tanya Dokter, ingin mengetahui apakah Alanna muntah karena peningkatan asam lambung yang bisa menimbulkan rasa mual dan muntah.


"Tidak Dok." Jawab Alanna yakin.


Lama Dokter terdiam dan berpikir sebelum kembali bertanya. "Kapan terakhir haidmu ?" tanya Dokter Risal, bukan hanya Alanna yang terkejut mendengar pertanyaan Dokter Risal tapi juga Zack dan anggota keluarga lain yang ada di dalam kamar.


-


-

__ADS_1


-


...|| tidak bosan-bosannya author meminta dukungannya dengan cara like, coment, vote dan beri bintang lima terimakasih ☺️||...


__ADS_2