
Mobil ambulance berhenti tepat di depan pintu UGD Rumah Sakit. Dengan sigap petugas medis keluar menyambut Alanna yang di turunkan dari dalam mobil ambulance dan langsung di larikan ke dalam.
Zack hanya bisa melihat dari jauh beberapa petugas medis yang langsung bergerak menangani Alanna, memasang infus, menangani luka yang terdapat di wajah dan kepala Alanna dan terakhir memasang sungkup oksigen.
Zack mendekati brangkas tempat tidur Alanna begitu petugas medis selesai menindaki.
"Anda keluarganya ?" tanya Dokter yang masih berdiri di samping brangkas Alanna.
"Iya Dok, aku suaminya." Jawab Zack pelan merasa kan sakit di dada melihat keadaan Alanna.
"Bisa kami tahu bagaimana pasien bisa terluka ?"
"Aku juga tidak begitu tahu Dok, aku tinggal menemukan istri ku tergeletak di bawah tangga darurat lantai hotel tempat kami menyelenggarakan pesta anniversary orang tua kami. Aku curiga dia jatuh dari tangga." Zack menjelaskan.
"Setelah kami memeriksa pasien, terdapat darah yang terus keluar dari bagian bawah tubuh pasien. Apakah istri anda sedang hamil ?"
"Iya Dok, istriku sedang hamil." Jawab Zack.
Dokter mengangguk mengerti. "Kalau begitu kami akan segera melakukan USG untuk mengetahui keadaan bayi anda. Tapi kami harap anda sudah siap dengan keadaan terburuk."
Zack menelan ludah nya yang entah kenapa tiba-tiba terasa pahit. "Iya Dok, aku mengerti." Zack berkata, duduk di kursi yang ada di samping brangkas Alanna merasa kaki nya yang terasa lemas.
"Tapi kenapa istri ku belum sadar Dok ?" Zack menambahkan menatap Alanna yang masih belum membuka matanya.
"Terdapat bekas benturan keras di kepala istri anda, itu yang membuatnya belum sadarkan diri."
Zack hanya bisa terdiam mendengar penjelasan dari Dokter.
"Zack !!" Teriak Mama Rani dari arah belakang.
Zack berbalik, melihat kedua orang tuanya beserta Sinta dan Johan berlari dengan wajah panik mendekatinya.
Zack menjadi sedikit lega tanpa sadar menghela nafas panjang begitu melihat keluarganya datang. Ketegangan yang tadi dia rasakan sedikit berkurang.
"Bagaimana bisa ? Kenapa bisa terjadi hal seperti ini pada Alanna, Zack ?" Pertanyaan Mama yang terdengar sangat panik.
Zack mengusap kasar wajahnya, menggeleng kepala berusaha mencari kata. "Aku menemukan Alanna sudah tidak sadarkan diri Mama, itu pun aku tahu keberadaannya dari rekaman video Cctv."
"Permisi keluarga pasien, kami ingin melakukan pemeriksaan USG pada pasien. Bisa agak menjauh karena kami ingin memasang sampiran." Suster menjelaskan dengan ramah.
Mereka semua bergerak agak menjauh dan membiarkan petugas medis kembali memeriksa Alanna.
__ADS_1
"Alanna luka di mana saja, Zack ?" tanya Papa tenang.
"Luka di bagian wajah, kepala dan darah yang terus keluar dari bagian bawah tubuhnya. Dokter mencurigai darah itu ada hubungan dengan kandungannya." Zack berkata dengan suara bergetar memikirkan nasib bayinya yang ada dalam kandungan Alanna.
"Ya Tuhan !" Mama Rani memekik terkejut, sedangkan yang lain hanya terdiam tidak tahu harus berkata apa.
"Kamu harus kuat Nak." Kata Papa Arian memberikan semangat menepuk bahu Zack, melihat keadaan Zack yang terlihat sangat kacau.
Mereka semua terdiam menunggu hasil dari pemeriksaan USG yang sedang Dokter lakukan.
Tidak lama menunggu sampiran kembali di buka. Dokter kembali mendekati Zack.
"Bagaimana hasil nya Dok ? Bagaimana dengan bayi ku ?" Zack bertanya penasaran dengan jantung berdegup kencang menunggu jawaban dari Dokter.
"Siapa nama istri anda ?" tanya Dokter seperti mengulur waktu.
"Alanna Dok, nama istri ku Alanna." Jawab Zack tidak sabaran.
"Nyonya Alanna memang mengalami pendarahan kehamilan. Keadaan rahim nya tidak bermasalah hanya saja bayi anda tidak bisa di selamatkan lagi, maaf Pak kami harus segera melakukan tindakan kuret agar pendarahan berhenti dan nyawa istri anda terselamatkan." Kata yang Zack takut kan akhirnya keluar juga dari mulut Dokter.
Zack terpaku pucat di tempat sedangkan Mama Rani menangis memeluk Papa Arian. Sinta terkejut menutup mulutnya dengan kedua tangannya sedangkan Johan hanya terdiam mengamati Bosnya yang terlihat hancur mendengar kabar itu.
Zack berjalan mendekati Alanna yang masih belum sadarkan diri. Mengulurkan tangan mengusap lembut pipi Alanna yang kemerahan akibat benturan.
Air mata berusaha Zack tahan untuk tidak keluar dari pelupuk matanya.
"Dia akan sedih dan hancur mendengar kabar ini." Zack berkata pelan dan serak karena air mata yang berusaha di tahanannya.
"Aku tidak akan tega memberitahu kan pada nya kabar tentang ini jika dia sadar nanti." Tambah Zack masih dengan mengusap lembut pipi Alanna.
Mama Rani mendekati Zack, memeluk erat Zack untuk menguatkan.
"Yang tegar Nak, ini juga cobaan hidup kalian." Ucap Mama Rani di sela-sela tangisannya.
Pelukan dari Mama Rani membuat pecah tangis yang dari tadi Zack berusaha tahan.
Membuat Sinta yang dari tadi hanya terdiam tidak bisa untuk tidak ikut menangis melihat kesediaan Kakaknya.
Mama Rani menepuk-nepuk punggung Zack untuk menenangkannya, merasa kan kesedihan yang di rasakan anaknya.
Zack melepaskan pelukan Mama Rani, merasa sudah sedikit membaik setelah mengeluarkan kesedihan yang dirasakannya.
__ADS_1
"Aku sudah lebih baik Ma." Ucap Zack serak.
Suster berjalan mendekat sambil membawa sebuah map.
"Nyonya Alanna akan segera kami bawa ke ruang operasi karena pendarahannya yang belum berhenti juga terdapat luka yang besar di bagia kepalanya. Ini berkas yang anda harus segera tanda tangani." Suster berkata sambil menyerahkan map yang di maksud.
Zack mengambil dan langsung menandatangani berkas tersebut tanpa bertanya, kemudian menyerahkan kembali map itu kepada suster.
Petugas medis yang lain langsung mendorong brangkas tempat tidur Alanna keluar dari Ruang UGD menuju lorong yang mengarah ke ruang operasi. Mereka semua mengikuti dari belakang.
Mereka tertahan di depan pintu ruang operasi sedangkan brangkas Alanna terus di dorong masuk ke dalam oleh petugas medis.
Mereka dengan sabar menunggu di depan ruang operasi. Mama Rani, Papa Arian, Sinta dan Johan dengan sabar duduk menunggu sedangkan Zack berdiri gelisah berjalan bolak-balik di depan pintu ruang operasi. Tidak satupun dari mereka yang menegur karena mereka tahu bagaimana perasaan Zack sekarang ini.
Johan berdiri berjalan ke luar dan tidak lama kemudian datang dengan membawa sebuah kantongan plastik di tangannya. Mengeluarkan sebuah minuman kopi dalam kemasan botol dan memberikannya pada Zack.
"Minumlah Tuan, sepertinya saat ini anda membutuhkannya." Johan berkata.
Zack mengambil minuman itu dan tersenyum pahit. "Terimakasih Johan."
Zack langsung membuka tutup botol, meneguk hampir setengah isi botol walaupun Zack tidak dapat merasakan minuman itu.
-
-
-
-
-
...Terus dukung author ya☺️...
...dengan cara like, coment dan vote terimakasih...
...yuk intip novel terbaru author dengan judul ...
..."Terbelenggu cinta seorang pangeran"...
...untuk pembaca yang suka cerita perjodohan kerajaan...
__ADS_1