
"Malam ini kak Johan bertingkah laku aneh, tidak seperti biasanya." Sinta berkata, mereka berada di lantai dua berjalan menuju ke kamar Sinta.
"Aneh bagaimana maksud mu ?" tanya Johan dengan kening mengerut.
"Seperti ini, sangat perhatian mengantar ku ke kamar."
"Aku hanya mengkhawatirkan mu." Johan berkata kaku.
"Mengkhawatirkan apa maksud kak Johan ? aku tidak sakit hanya lelah saja dan tidak mungkin kak Johan mengkhawatirkan aku tersesat menuju kamarku sendiri."
"Kita sudah di depan pintu kamar mu." Johan mengalihkan pembicaraan yang kebetulan mereka telah sampai di depan pintu kamar Sinta. "Kamu istirahat lah." Johan menambahkan.
"Sepertinya biasa, kak Johan selalu mengalihkan pembicaraan kita." Sinta berkata sedih, tidak bisa lagi menutupi kekecewaannya.
Johan terpaku di tempatnya, tidak jadi berbalik pergi. Menatap lama wajah Sinta yang berusaha menahan air matanya. Tidak bisa lagi menahan emosi nya dan menarik Sinta ke dalam pelukannya.
Sinta yang terkejut dengan tindakan tiba-tiba Johan yang memeluknya hanya bisa terpaku dalam pelukan Johan.
"Istirahatlah, jangan menangis. Aku tidak pernah menginginkan atau bermaksud membuatmu sedih. Ini semua demi kebaikanmu." Kata Johan sebelum melepaskan pelukannya dan berbalik pergi meninggalkan Sinta yang masih terpaku di tempatnya berdiri menatap punggung Johan yang menjauh. Meninggalkan Sinta dengan seribu macam pertanyaan di kepalanya.
Di lantai bawah acara masih berlangsung, Zack meninggalkan Alanna duduk sendiri di sofa ruang tengah karena rekan bisnisnya memanggil untuk berbicara.
Melihat Alanna yang duduk sendiri membuat Nurhaliza berani mendekati Alanna.
"Sepertinya tidak mudah menyingkirkan kamu dari kehidupan Zack." Nurhaliza berkata, tanpa permisi langsung duduk di sofa yang berada di depan Alanna.
"Iya kah ? aku tidak menyadarinya." Alanna berkata dengan nada tenang.
"Aku melihat foto pernikahan kalian di antara foto-foto keluarga Zack." Nurhaliza berkata dengan nada tidak suka.
"Mama yang menyimpannya di sana dan ada beberapa di ruang kerja mas Zack juga tentunya ada di dalam kamar tidur kami." Alanna dengan sengaja mengatakan nya.
Nurhaliza tersenyum mengejek mendengar perkataan Alanna. "Itu semua tidak menjamin kalian akan bertahan selamanya."
"Aku akan menjamin hubungan kami akan bertahan sampai tua, sampai maut yang memisahkan." Zack berkata tiba-tiba menyela berbicara dengan nada yakin.
__ADS_1
Alanna serta Nurhaliza terkejut dan menoleh kesamping ke arah datangnya suara yang ternyata Zack berdiri tidak jauh dari mereka.
"Mas Zack."
"Zack !"
Alanna dan Sinta refleks berkata bersamaan melihat kehadiran Zack.
Zack berjalan menghampiri mereka dan duduk di samping Alanna, memeluk posesif dari samping tubuh Alanna.
"Aku tidak menyangka kamu masih berani berpikir untuk berusaha memisahkan kami." Zack berkata dengan dengan nada dingin.
"Apa maksudmu Zack ? aku tidak mengerti." Nurhaliza berkata dengan raut wajah polos.
"Aku sudah mengetahui kebenaran kejadian saat di kediaman orang tua mu." Ucap Zack tidak terpengaruh dengan akting Nurhaliza. "Aku tidak memperpanjang masalah itu karena mengingat orang tua mu dan kerja sama yang terjalin di antara kami. Seandainya kamu masih berulah membuat Alanna dalam masalah, aku tidak menjamin akan berdiam diri dan membiarkan hal ini terjadi walaupun membuat kerjasama dengan orang tua mu terputus." Zack berkata dengan tegas.
Alanna dan Nurhaliza terdiam mendengar perkataan Zack. Alanna merasa bahagia dengan apa yang Zack katakan berbanding terbalik dengan Nurhaliza yang takut mendengar perkataan Zack.
"Kami permisi dulu, silahkan nikmati acara malam ini." Ucap Zack dingin, berdiri lebih dulu kemudian mengulurkan tangan membantu Alanna untuk berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Nurhaliza terdiam di tempatnya.
"Mengatakan apa ?" Zack balik bertanya, membantu Alanna untuk duduk di kursi taman.
"Mengancam Nurhaliza dengan perkataan terakhir mas Zack."
"Itu bukan mengancam sayang, hanya memberinya peringatan." Zack tersenyum simpul.
"Sama saja mas." Alanna menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Dia tidak akan berani berbuat macam-macam lagi padamu setelah mas mengatakan hal itu."
"Tapi bagaimana jika dia tidak takut dengan ancaman mas Zack dan masih berbuat macam-macam pada ku ?"
"Terpaksa mas bertidak seperti apa yang katakan padanya." Zack berkata dengan yakin.
"Bukankah itu berarti mas Zack akan mengalami kerugian yang sangat besar ?" Alanna bertanya dengan serius, menyamping menatap wajah Zack.
__ADS_1
"Uang bisa di cari sayang, apa pun demi dirimu. Tidak usah terlalu khawatir dengan hal yang belum pasti terjadi." Zack menenangkan Alanna, mengulurkan tangannya membelai lembut pipi Alanna. "Dia juga tidak akan berani berbuat macam-macam lagi karena ayahnya juga pasti akan mengalami kerugian yang besar jika aku menghentikan kerjasama kami."
"Betulkah ?" Alanna kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya.
Zack mengangguk kepala. "Iya, kamu tenang saja biar mas yang memikirkan hal itu kamu cukup memikirkan kesehatan kandungan mu." Tangan Zack turun mengusap lembut perut Alanna yang masih rata.
"Iya mas." Alanna menyahut mengerti. Tersentuh dengan tindakan Zack mengelus perutnya.
"Aku tidak sabar menunggu dia keluar."
"Bayi kita akan keluar saat sudah waktunya, mas Zack mesti bersabar." Alanna tersenyum lembut.
Zack mendekat, menarik Alanna mendekat padanya dan mencium bibir Alanna dengan lembut. Semakin memperdalam ciumannya saat merasakan Alanna yang bersandar pasrah padanya menikmati sentuhan Zack pada bibirnya.
Zack melepaskan ciumannya beberapa saat kemudian, menempelkan keningnya ke kening Alanna untuk mengatur nafas mereka.
Alanna sendiri merasakan wajahnya yang panas merona di sebabkan ciuman mereka tadi.
"Aku hampir lupa kalau kita sedang di taman dan bukan di kamar." Kata Zack dengan suara serak.
Wajah Alanna semakin merona mendengar perkataan Zack.
Zack yang melihat hanya tersenyum lembut. "Kita harus teruskan di kamar, mas tidak bisa menahannya lagi." Kata Zack bangkit berdiri sambil menarik tangan Alanna untuk ikut berdiri.
"Tapi apa kata mama, papa dan para tamu undangan jika tidak melihat kita ?" Alanna bertanya cemas.
"Mereka pasti memaklumi nya, mereka pasti tahu bagaimana situasi pengantin baru." Zack berkata sambil membawa Alanna berjalan menuju kamar mereka.
Mereka berjalan melewati taman tempat acara berlangsung, menaiki balkon berjalan melewati ruang tengah naik ke tangga menuju lantai dua tanpa menghiraukan pandangan penasaran para tamu yang melihat mereka berjalan sedikit tergesa-gesa.
Tiba di depan pintu kamar mereka, Zack langsung membuka pintu kemudian masuk dan langsung menggendong Alanna setelah menutup pintu kamar.
Membawa Alanna menuju tempat tidur dan membaringkan tubuh Alanna dengan lembut.
"Malam yang sempurna bersama dengan wanita yang sempurna di mataku." Kata terakhir Zack malam itu sebelum mereka terhanyut oleh kenikmatan yang mereka ciptakan bersama.
__ADS_1