Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 62


__ADS_3

Sinta masuk ke dalam kamar, mendorong koper pakaiannya ke arah lemari pakaian yang berada di sudut kamar berhadapan dengan tempat tidur.


Hendak mengangkat kopernya ke atas tempat tidur tapi terhenti karena lengan kokoh yang tiba-tiba mengambil alih. Sinta menoleh dan ternyata Johan yang datang membantunya.


"Apa semua yang kau bawa dalam koper mu sampai berat seperti ini sedangkan kita hanya sebentar di sini." Kata Johan datar seperti biasa setelah selesai meletakkan koper Sinta di atas tempat tidur.


"Hanya pakaian dan perlengkapan wanita." Jawab Sinta tersenyum senang dengan bantuan dari Johan.


"Saya harus mengeluarkan pakaianku terlebih dahulu dari dalam lemari sebelum kau ingin menyimpan pakaianmu." Kata Johan sambil berjalan ke lemari dan membuka pintu lemari.


Sinta melihat beberapa lembar kemeja, jas, dan celana kain yang tergantung rapi di dalam lemari dan beberapa kaos putih yang terlipat rapi di dalam lemari.


"Perlu bantuan untuk mengepak pakaian ?" Sinta menawarkan bantuan.


"Tidak perlu, pakaianku hanya sedikit." Jawab Johan, menunduk untuk mengambil koper yang berada di bagian bawah lemari dan mulai mengepak pakaiannya.


Sinta duduk di samping kopernya, mengamati Johan dari belakang.


"Sudah, kau boleh membereskan pakaianmu." Ucap Johan setelah menutup koper dan menguncinya.


"Kau akan makan siang dengan kami ?" tanya Sinta pada Johan yang hendak berjalan ke luar kamar.


Johan mengehentikan langkah kakinya dan menoleh pada Sinta. "Iya, karena ada pekerjaan yang harus saya kerjakan bersama Tuan Zack." Jawan Johan.


"Kalau makan malam ?" Sinta masih bertanya penasaran.


"Kenapa kau bertanya ?" Johan balas bertanya heran. "Kau tidak suka jika saya makan bersama dengan kalian ?" Johan menambahkan.


"Bukan, bukan begitu maksudku." Sinta berkata kelabakan. "Saya hanya penasaran saja, makanya saya bertanya." Sinta menambahkan.


"Masih ada lagi yang ingin kau tanyakan ?"


"Tidak ada." Jawab Sinta cepat.


"Kalau begitu saya keluar dulu." Johan berkata sebelum keluar kamar.


Alanna membuka mata dan mengamati keadaan kamar tempatnya berbaring, berpikir sejenak di mana dia sekarang dan teringat kalau dirinya berada di dalam kamar Penthouse milik Zack di Malaysia.


"Ternyata saya tanpa sadar tertidur." Gumam Alanna, tadi bermaksud hanya ingin berbaring sebentar.


Melihat jam kecil yang berada di nakas samping tempat tidur, menunjukkan pukul dua belas siang lewat empat belas menit.


Sudah siang, kenapa mas Zack tidak membangunkan ku ? Alanna bertanya dalam hati sambil bergerak turun dari tempat tidur.


Alanna membuka pintu kamar, berjalan ke ruang tengah mencari keberadaan Zack. Walaupun hanya berlantai satu tapi Penthouse ini tetap masih lebih besar dari pada rumahku di Surabaya, Alanna dalam hati berbicara sambil lebih teliti melihat keadaan di dalam Penthouse Zack.


"Kau sudah bangun sayang ?" Suara Zack mengalihkan perhatian Alanna.


Alanna menoleh dan melihat Zack sedang duduk di kursi meja kerjanya yang berada di sudut ruangan dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota di belakang kursi kerjanya.


"Kemarilah." Zack memanggil Alanna mendekatinya.


Johan bangkit berdiri dari kursinya yang berada di depan meja kerja Zack, tahu bahwa dia harus pergi sementara.


"Kalian sudah makan siang ?" Alanna bertanya sambil berjalan ke arah Zack.


"Sudah, belum lama selesai." Jawab Zack saat Alanna telah berdiri di sampingnya.


Zack memutar kursinya, menarik Alanna duduk di pangkuannya.


"Kenapa mas tidak membangunkan ku untuk makan siang ?" Tanya Alanna sedikit cemberut.


"Kau tidur sangat nyenyak, mas tidak enak membangunkan mu." Jawab Zack sambil mengusap rambut panjang Alanna. "Mas berencana ingin membangunkan mu sedikit lagi tapi ternyata kau sudah bangun lebih dulu." Zack menambah.

__ADS_1


"Saya lapar sekali mas."


"Buah mu mas simpan di dalam lemari es."


"Saya juga ingin makan roti bakar dengan selai strawberry."


"Baiklah, kalau begitu kita ke dapur." Ucap Zack.


Alanna bangkit berdiri dari pangkuan Zack, di susul Zack yang juga ikut berdiri.


"Sinta mana mas ?"


"Di kamarnya, selesai makan siang dia langsung ke kamarnya."


Zack membawa Alanna ke meja makan yang berada di dapur dan mendapati seorang wanita yang kurang lebih seumuran dengan Ibunya sedang merapikan dapur.


"Mak Daiyang." Panggil Zack, membuat wanita itu menyadari kehadiran mereka di dapur.


"Tuan Zack." Ucap wanita itu tersenyum ramah.


"Perkenalkan ini istriku, Alanna." Zack berkata memperkenalkan, Alanna tersenyum ramah. "Alanna, ini Mak Daiyang. Dia asisten rumah tangga yang bekerja di sini jika saya datang ke Malaysia." Zack menambah.


"Senang bertemu anda Nyonya." Kata Mak Daiyang tersenyum ramah.


"Tidak usah memanggilku begitu, panggilan saja seperti Johan biasa memanggil ku." Alanna mengoreksi panggilan Mak Daiyang. "Senang juga bertemu dengan Mak Daiyang."


"Ada yang anda butuhkan ? sepertinya anda belum makan siang karena saya tidak melihat anda tadi."


"Iya, saya ketiduran dan terbangun dengan perut lapar."


"Ada roti dan selai strawberry ?" Tanya Zack pada Mak Daiyang.


"Ada Tuan, akan saya siapkan di meja makan."


"Baik Tuan." Jawab Mak Daiyang "Masih ada lagi Tuan ?"


"Buah yang -."


"Nanti saya saja yang ambil buah di dalam lemari es." Alanna memotong perkataan Zack dan berjalan ke arah lemari es.


"Kalau begitu, itu saja." Kata Zack pada Mak Daiyang. Mak Daiyang bergerak mengerjakan perintah Zack.


Setelah mengambil buah Alanna duduk di kursi meja makan di susul Zack yang duduk di sampingnya.


"Hari ini mas ada jadwal apa ?" Tanya Alanna di sela-sela menguyah buahnya.


"Sore ini mas dan Johan harus rapat dengan investor kita."


"Mas pulang jam berapa ?"


"Mas pulang sebelum jam makan malam."


"Besoknya ?" Alanna kembali bertanya.


"Besok mas seharian akan sibuk tapi tetap akan mas usahakan untuk pulang makan siang."


"Baguslah." Ucap Alanna lega.


"Ini Tuan, roti bakar dan selai strawberry nya." Mak Daiyang meletakkannya di atas meja makan.


"Terimakasih." Alanna berkata tersenyum ramah.


"Sama-sama." Balas Mak Daiyang kemudian kembali mengerjakan pekerjaannya membereskan dapur.

__ADS_1


Alanna hanya menghabiskan dua lembar roti bakar dan mulai memakan kembali buahnya.


"Kau harus banyak makan sayang." Zack mengingatkan.


"Tidak bisa mas, rasa mual muncul jika saya paksakan."


"Tidak ada yang ingin kau makan selain buah ?"


Alanna menggelengkan kepala. "Tidak ada mas."


Zack menghela nafas panjang. "Ya sudah, habiskan saja buah mu."


"Saya makan di ruang tengah mas, makan sambil menonton acara televisi." Ucap Alanna seraya bangkit berdiri.


"Baiklah kalau begitu mas kembali bekerja dengan Johan dulu." Zack menyusul berdiri.


Alanna duduk di sofa ruang tengah dan mulai mengganti-ganti channel televisi, mencari siaran yang di suka sedangkan Zack kembali serius bekerja di meja kerja nya dengan Johan yang duduk di depannya.


Terdengar suara pintu terbuka, Sinta keluar dari dalam kamar dan bergabung dengan Alanna di sofa.


"Kau tidak bosan ?" tanya Sinta pada Alanna.


"Tidak, kenapa memangnya ?" Alanna balik bertanya.


"Kita jalan-jalan keluar yuk ? saya bosan hanya


di rumah."


"Boleh." Alanna berkata antusias. "Bagaimana kalau sore ini saat mas Zack dan Johan keluar untuk rapat."


"Boleh, kita pulang sebelum kak Zack dan kak Johan kembali."


"Kalau begitu saya beritahu mas Zack dulu." Kata Alanna sambil bangkit berdiri.


"Jangan !" Cegat Sinta menarik tangan Alanna. "Kalau kau beritahu takutnya mas Zack tidak memberi izin. Kau tidak ingat saat terakhir kita keluar ?"


"Johan yang menemani kita itu ?" tanya Alanna.


"Iya, jadi tidak seru kalau di awasi seperti itu."


Alanna berpikir sejenak, berpikir tentang perkataan Sinta yang sama dia rasakan dan perasaan tidak enak karena tidak memberi tahu Zack.


"Memangnya saat itu Johan sedang mengawasi kita ?" tanya Alanna dengan polosnya.


"Tentulah !"


"Tapi kata mas Zack kau ikut denganku untuk menemaniku selama di sini."


"Ada dia katakan kita bisa keluar dan jalan-jalan berdua ?"


"Tidak ada sih." Kata Alanna tidak enak, mengingat kembali perkataan Zack.


"Jadi lebih baik kita tidak usah dulu memberi tahunya." Sinta kembali meyakinkan Alanna.


"Baiklah." Kata Alanna akhirnya, menyetujui usulan Sinta.


"Kita akan memberi tahukan kak Zack saat dia pulang nanti." Sinta berkata meyakinkan Alanna yang nampak masih ragu-ragu.


-


-


...Tolong dukungannya ya untuk author dengan cara like, coment, vote, terimakasih ☺️☺️...

__ADS_1


__ADS_2