
" Saya turut berdukacita cita mas." Alanna tidak tahu harus berkata apa. "Dia meninggal karena apa ?"
"Mariana meninggalkan karena kecelakaan mobil yang saya kendarai, kecelakaan tunggal, mobil yang saya kendarai menambrak tiang listrik." Zack berkata muram.
"Astaga." Alanna terkejut, refleks menutup mulut mendengar perkataan Zack. "Kenapa bisa ?"
"Kami bertengkar hebat saya memilih untuk pergi dan dia menyusul ku memaksa untuk masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil kami bertengkar kembali, saya kehilangan konsentrasi saat mengemudi karena pertengkaran kami sehingga mobil menabrak tiang listrik dengan kecepatan tinggi dan sialnya dia tidak memakai sabuk pengaman." Zack bercerita dengan wajah muram mengenang peristiwa itu.
"Apa yang membuat kalian bertengkar ?" Alanna bertanya penasaran.
"Saya mendapatinya sedang bercumbu dengan pria lain yang ternyata adalah kekasihnya di sebuah hotel di Surabaya, kecelakaan itu terjadi di Surabaya."
"Oh Tuhan !" Alanna sungguh terkejut mendengar Zack berbicara tentang masa lalu pernikahannya yang suram.
"Saya dan Mariana bertemu dan berkenalan di pernikahan rekan bisnis saya, kemudian dia mengajak bertemu beberapa kali. Saya merasa cocok dengan sifat dan kepribadiannya setelah beberapa kali bertemu dan bercerita. Dia wanita pertama yang memiliki hubungan serius denganku walaupun begitu saya tidak pernah menyentuh nya. Saya berpikir di umurku saat ini sudah harus berpikir tentang pernikahan, kemudian saya pun melamarnya untuk menikah.
"Orang tuaku tidak menyetujui rencana ku untuk menikahinya tapi saya tetap dengan pendirianku untuk menikahi Mariana. Setelah menikah kami memilih untuk tinggal di apartemen dengan alasan orang tuaku yang tidak menyukai Mariana. Menurut saya pernikahan kami baik-baik saja, suatu saat Mariana memberi kabar bahwa dirinya hamil. Saya sungguh senang dan bahagia mendengar kabar itu, berpikir orang tuaku pasti akan senang mendengar kabar ini dan akan menerima kehadiran Mariana sebagai menantu mereka.
"Sungguh saya merasa bersalah mengambil keputusan tanpa persetujuan mereka. Karena kesibukanku yang padat, membuatku belum sempat memberi kabar kehamilan Mariana pada orang tuaku. Suatu hari saya tidak mendapati Mariana di apartemen saat pulang dari perjalanan bisnis di luar negeri dan juga tidak bisa menghubungi handphone. Memutuskan untuk menghubungi Maya dan terkejut mendengar perkataan Maya."
"Apa yang di katakan Maya ?" Alanna bertanya.
"Dia mengatakan Mariana ada di Surabaya bertemu dengan kekasihnya. Saya marah pada Maya saat mendengarnya mengatakan hal itu, marah karena telah memfitnah saudaranya sendiri dan memutuskan sambungan telepon tapi dia tetap mengirimkan pesan yang berisi alamat dan nama hotel tempat Mariana menginap. Malam itu juga saya pergi ke Surabaya menggunakan mobil, ingin membuktikan bahwa perkataan Maya salah dan sungguh ironis sekali yang saya dapatkan. Seperti perkataan Maya, saya mendapati Mariana sedang asyik bercumbu dengan kekasihnya di sebuah kamar hotel." Zack tertawa pahit mengenang kembali peristiwa itu.
"Lalu apa yang mas Zack lakukan ?"
"Saya sangat emosi dan tanpa sadar menghajar pria itu, membuatnya hampir pingsan jika saja Mariana tidak menghentikan ku. Setelah puas menghajar pria itu, saya langsung pergi meninggalkan mereka berdua, tidak menyangka Mariana akan menyusul dan memaksa naik dan kecelakaan itu pun terjadi."
"Mas Zack juga pasti terluka akibat kecelakaan itu. Saat pertama kali kita bertemu mas Zack sedang terluka, luka itu masih akibat kecelakaan dengan Mariana ?"
"Iya, saya memang selamat tapi terluka berat. Saya sempat koma selama beberapa hari setelah di lakukan operasi di kepala yang rumit karena pendarahan otak. Setelah sadar dari koma harus menjalani pengobatan yang panjang yang memakan waktu hampir selama dua bulan
"Saya sempat terpukul dan merasa bersalah mengetahui kematian Mariana, setelah di katakan boleh keluar dari Rumah Sakit saya memutuskan untuk menyendiri dan memilih untuk menginap di hotel di Surabaya walaupun tentu orang tuaku tidak setuju."
"Dan saya bertemu dengan mas Zack." Alanna menambahkan.
__ADS_1
"Selama di Surabaya, saya tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Maya. Malam kejadian saat saya menyentuhmu, pagi harinya Maya menelpon ku, mengajakku untuk bertemu. Saya menolaknya tapi dia memaksa mengatakan ingin berbicara tentang Mariana membuatku terpaksa menyetujui nya
"Dia bercerita bahwa Mariana telah hamil saat pertama bertemu denganku. Dia dihamili oleh kekasihnya tetapi hubungan mereka tidak di setujui oleh keluarga Mariana. Keluarga Mariana memaksanya untuk mendekati ku. Pertemuan kami di acara pernikahan rekan bisnis ku itu merupakan rencana awal keluarga mereka. Mereka ingin menyelamatkan bisnis keluarga yang hampir bangkrut. Walaupun telah menikah denganku Mariana tidak pernah putus berhubungan dengan kekasihnya. Di saat saya berada di luar untuk urusan kerjaan di situ kesempatan nya untuk bertemu dengan kekasihnya."
"Tapi kenapa Maya membocori masalah ini pada mas ?" tanya Alanna heran.
"Seperti yang pernah kau bilang sebelumnya, Maya tertarik pada ku, dia ingin menarik simpati dariku tapi nyata saya membencinya. Semakin membencinya karena dia ingin menjebak ku dengan menaruh obat perangsang ke dalam minumanku. Sejak kejadian itu, semua yang berhubungan dengan Mariana telah ku hilangkan, saya juga tidak ingin berhubungan dengan siapapun yang ada hubungannya dengan wanita itu. Rasa bersalah dan penyesalan yang selama ini saya rasakan karena kematian Mariana telah hilang setelah mengetahui semua kebenaranya akan tetapi kembali muncul rasa bersalah kepadamu karena telah menyentuhmu dengan paksa dan membuatku mengambil keputusan untuk mempertanggung jawabkan nya."
Mendengar cerita Zack membuat Alanna tersadar akan sesuatu. "Karena hal ini mas Zack pernah berkata kalau pernikahan yang di dasari atas cinta belum tentu membuat sebuah pernikahan bertahan ?"
"Iya."
"Tapi tidak semuanya berakhir dengan penghianatan." Alanna meyakinkan. "Mas bisa lihat sendiri pernikahan orang tua mas Zack yang sampai sekarang masih bertahan. Bukankah mereka juga saling mencintai ?"
"Tidak semua orang bisa seberuntung mereka." Zack berkata muram.
Mendengar perkataan Zack membuat Alanna tidak tahu harus berkata apa lagi, Zack yang sudah trauma dengan masa lalu yang pahit membuatnya menjadi orang yang pesimis akan hal itu. Zack trauma untuk mencintai seseorang kembali.
Alanna bangkit berdiri merasa tidak ada yang harus di bicarakan lagi. "Saya ke kamar dulu mas, mau mengisi tas dengan pakaian bersih." Berjalan menuju kamarnya dan tidak lama kemudian muncul kembali dengan membawa tas pakaian di tangannya.
"Iya, kasian Ibu. Kita sudah terlalu lama keluar."
"Baiklah kalau begitu."
Zack hanya mengantar Alanna sampai pintu depan Rumah Sakit dan berkata akan datang kembali saat malam. Dia harus pergi sekarang karena masih ada pekerjaan yang harus dia kerjakan.
"Zack mana ?" tanya Ibu saat melihat Alanna balik seorang diri.
"Dia hanya mengantarku sampai di pintu depan, dia harus segera kembali karena ada pekerjaan yang harus dia kerjakan dan berkata akan kembali saat malam." Alanna menjelaskan saat telah duduk di sofa yang berada di dalam ruang kamar perawatan Ibu.
"Sebenarnya Zack apa pekerjaan Zack ?" tanya Ibu tiba-tiba terpikir.
Alanna berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Ibunya. "Dia salah satu atasanku di hotel tempat ku bekerja." Jawab Alanna, tidak terlalu menjelaskan dengan terperinci mengenai pekerjaan Zack.
"O... begitu." Jawan Ibu.
__ADS_1
"Ibu istirahat lah, tidak usah banyak berpikir." Alanna menegur Ibunya.
"Iya, Ibu tahu." Kata Ibu memperbaiki posisi tidurnya.
Zack datang malam hari sesuai perkataannya tadi siang, dia membawa keranjang berisi buah-buahan.
"Tidak usah terlalu repot." Kata Ibu tersenyum saat melihat Zack masuk.
Zack menyerah keranjang buah pada Alanna dan duduk di sofa. "Makan banyak buah bagus untuk proses penyembuhan. Bagaimana keadaan Ibu sekarang ?"
"Sudah lebih baik dari kemarin, Ibu berharap segera keluar dari sini. Ibu sudah bosan berbaring terus di Rumah Sakit."
"Kita dengar saja bagaimana saran Dokter besok, kalau Dokter bilang sudah sehat berarti kita bisa pulang tapi jika Dokter bilang masih harus di rawat berarti Ibu harus sabar. Ibu harus betul-betul sehat dulu baru bisa pulang ke rumah." Alanna berkata pada Ibunya.
"Betul yang di katakan Alanna, Ibu harus betul-betul sehat dulu baru berpikir untuk pulang." Zack berkata menyetujui perkataan Alanna.
"Iya, Ibu tahu." Ibu berkata mengalah.
"Mas Zack sudah makan malam ?" tanya Alanna.
"Belum."
"Kalau begitu kalian pergilah keluar untuk makan, Ibu juga ingin istirahat lebih awal." Kata Ibu.
"Baiklah, Ibu kami pergi dulu." Kata Alanna sambil mengambil tasnya.
"Kami pergi dulu Ibu." Kata Zack yang juga bangkit berdiri, bersama berjalan keluar.
-
-
-
-
__ADS_1
...|| Tolong dukungannya ya dengan cara like, coment, vote, dan beri bintang lima untuk author terimakasih ☺️☺️||...