
Tok tok tok
Ketukan pintu dari luar mengalihkan perhatian Zack dari layar laptopnya.
"Masuk !" Zack berkata mempersilahkan untuk masuk.
Pintu terbuka, Johan masuk ke dalam. "Ada tamu yang ingin bertemu dengan anda."
"Sudah ada janji temu ?" tanya Zack, merasa hari ini tidak ada janji temu dengan seseorang.
"Tidak tuan." Jawab Johan, tidak enak mengganggu Zack yang sedang sibuk bekerja.
"Johan kau tahu saya sibuk hari ini." Zack berkata menegur Johan yang mengganggu nya.
"Maaf tuan, saya tidak bisa menolak nya karena dia memaksa ingin bertemu." Johan menjelaskan.
Mendengar perkataan Johan membuat Zack penasaran dengan tamu yang memaksa untuk bertemu. "Siapa tamu itu ?"
"Nurhaliza, anak dari investor kita dari Malaysia tuan Datuk Alam."
Zack berpikir sejenak sebelum berkata. "Biar kan dia masuk, saya penasaran apa yang membuat nya datang ke sini tanpa di undang."
Johan pun keluar untuk mempersilahkan Nurhaliza masuk ke dalam ruangan kerja Zack.
"Apa kabar nona Nurhaliza ?" Zack berkata formal mengulur tangan untuk berjabatan tangan saat Nurhaliza masuk ke dalam ruangan nya.
"Sangat baik pak Zack, terimakasih." Jawab Nurhaliza tersenyum membalas jabatan tangan dari Zack. " Maaf datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu."
"Tidak apa-apa." Zack berkata sambil mempersilahkan tamu nya untuk duduk di sofa. "Apakah ada hal penting yang ingin anda beri tahu kan sehingga datang tiba-tiba seperti ini ? Ada masalah dengan proyek pembangunan hotel kita di Malaysia ?"
"Proyek pembangunan itu berjalan lancar sampai dengan sekarang, anda tidak perlu khawatir."
"Bagus lah kalau begitu, jadi ada hal apa yang membuat anda datang ke sini ?" Zack berkata penasaran.
"Bukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan dan hal penting yang berhubungan dengan proyek kita." Nurhaliza berkata sambil tersenyum ramah.
"Lalu ?" Zack bertanya heran.
"Ini masalah pribadi, saya hanya ingin mengajak anda untuk makan siang bersama." Nurhaliza akhirnya memberi tahu kan maksud kedatangan nya setelah sebelumnya berbicara berputar-putar membuat Zack sedikit bingung.
"Oh....." Reaksi pertama Zack saat mendengar nya.
"Anda tidak ada janji makan siang dengan orang lain kan ?"
__ADS_1
Zack hendak menjawab tapi terhalang dengan suara panggilan telepon masuk dari handphone nya yang terletak di atas meja sofa di hadapan mereka membuat perhatian mereka berdua teralih pada tulisan di layar handphone yang tertulis Alanna istriku.
Zack lantas mengambil handphone nya. "Maaf saya permisi harus mengangkat nya." Zack berkata pada Nurhaliza sebelum menjauh menuju meja kerjanya untuk mengangkat telepon. "Hallo, kenapa Alanna ?" Zack berkata saat sambungan telepon terhubung.
"Mas ada di mana ?" tanya Alanna dari seberang.
" Di ruangan ku."
"Mas sibuk ? kalau sibuk saya pulang ke rumah saja untuk makan siang."
"Tidak, datang lah ke sini, saya sudah menyuruh Johan untuk memesankan makanan dari dapur hotel."
"Baiklah mas, sedikit lagi saya ke situ."
"Ya." Zack lalu memutuskan sambungan telepon. Zack kembali menuju sofa bergabung dengan tamu yang penasaran melihat nama panggilan masuk yang tertulis di layar handphone nya. "Maaf membuat anda menunggu." Zack berkata setelah duduk di kursi nya.
"Tidak apa-apa."
"Maaf nona Nurhaliza seperti nya saya tidak bisa menerima undangan anda untuk makan siang bersama karena sudah ada janji dengan orang lain." Zack berkata sopan dengan raut wajah menyesal
"Dengan istri anda ?" Nurhaliza bertanya penasaran walaupun dia tahu pertanyaan ini tidak lah sopan. "Anda sudah menikah pak Zack ? setahuku anda belum menikah begitu kabar yang saya dengar." Tambah nya seraya melirik jari tangan Zack dan melihat cincin kawin di jari manis nya.
"Maaf nona Nurhaliza, itu masalah privasi saya dan saya tidak wajib menjawab pertanyaan anda." Zack berkata sambil tersenyum sopan.
Merasa kecewa dengan perkataan dari Zack tapi berusaha untuk menutupinya. "Kalau begitu saya permisi tidak menggangu anda lagi, sampai bertemu lagi di Malaysia pak Zack." Kata Nurhaliza pamit berdiri.
"Tidak perlu, saya sudah tahu jalan nya, permisi." Nurhaliza berbalik berjalan menuju pintu dan menghilang ke balik pintu.
ππππππππππππππππ
"Mas Zack tadi ada tamu ?" Alanna bertanya di sela-sela makan siang mereka.
"Iya, tamu dari Malaysia."
"Saya tadi berpapasan dengan nya saat di lift, saya akan ke luar dan dia masuk. Bukankah dia wanita yang lalu saya ceritakan pernah melihat nya berjalan di temani Johan ?" Alanna bertanya penasaran.
"Iya, wanita itu."
"Kalau boleh tahu dia datang ke sini untuk apa mas ? urusan bisnis ?" Alanna bertanya ragu-ragu.
"Tidak, urusan pribadi, dia ingin mengajak ku makan siang." Jawab Zack acuh tak acuh malas membicarakan tentang wanita itu.
"Jadi apa mas katakan ?" Alanna semakin penasaran.
__ADS_1
"Saya bilang kalau ada janji makan siang dengan orang lain."
"Tidak masalah mas berbicara seperti itu ? bukankah dia anak dari investor mas untuk proyek pembangunan hotel di Malaysia ?" Alanna bertanya khawatir.
"Tidak apa-apa." Zack meyakinkan. "Pembangunan hotel di Malaysia itu merupakan proyek dengan dana milyaran tidak mungkin gagal hanya karena masalah pribadi, ayah nya tidak ada menarik diri di tengah-tengah proyek hanya karena hal itu dan dia pun tahu akan hal itu." Zack menambah kan.
"O.... begitu." Alanna berkata mengerti dan lega mendengar nya. "Dia datang jauh-jauh dari Malaysia hanya untuk mengajak mas untuk makan siang, mungkin dia ada perasaan khusus terhadap mas Zack." Alanna berkata berusaha tidak terdengar cemburu.
"Mas tidak tahu dan tidak peduli jika dia datang jauh-jauh hanya untuk mengajak ku makan siang." Zack berkata cuek. "Dia melihat panggilan masuk dari mu tadi dan bertanya."
"Kenapa memangnya dengan telepon dari ku ?" Alanna bertanya heran sambil berpikir. "Mas menyimpan nomor ku di handphone milik mas dengan tulisan apa ?" Alanna tiba-tiba terpikir.
" Tentu saja tertulis istriku." Jawab Zack santai.
"Dan dia melihat nya kemudian bertanya ?" Alanna mulai panik.
"Ya tentu saja, dia sangat penasaran malah." Jawab Zack santai tersenyum melihat tingkah panik Alanna.
"Mas malah tersenyum, bukan waktu nya untuk tersenyum di saat ini mas." Alanna menegur Zack tidak suka. "Kalau sampai dia cerita kan kepada orang-orang bagaimana ? mas lalu menjawab apa saat dia bertanya."
"Saya tidak menjawab nya, kalau pun dia berbicara kepada orang lain mungkin tidak ada yang percaya karena dia tidak memiliki bukti jadi tenang saja Alanna."
"Syukurlah kalau begitu." Alanna berkata lega. Mendorong piring nya, sudah tidak berselera untuk makan.
Zack masih menikmati makanannya dan Alanna masih duduk untuk menemani Zack menyelesaikan makan siang nya.
"Mba Yanti sekretaris mas tidak curiga dengan saya yang selalu datang ke ruangan mas tiap hari nya ?" Alanna bertanya mengeluarkan pertanyaan yang tiba-tiba terlintas di benak nya.
"Johan memberi tahu kalau kita sudah menikah." Zack berkata santai, mendorong piring makan nya kemudian meminum air putih.
"Apa !" Alanna terkejut mendengar nya. "Kenapa mas memberi tahu nya ? bukankah kita sepakat untuk merahasiakan nya ?" Alanna berkata, menatap marah Zack.
"Tenang lah Alanna." Zack berkata lembut.
"Bagaimana bisa tenang mas kalau sebentar lagi seluruh staf hotel ini akan tahu tentang pernikahan kita."
"Johan sudah membuat nya berjanji tidak akan bercerita tentang hubungan kita dan kalau sampai ada yang tahu berarti dia yang menyebarkan jika itu terjadi konsekuensi nya dia akan di pecat dan tidak akan menerima pesangon dari perusahaan." Zack menjelaskan.
Mendengar penjelasan dari Zack membuat Alanna bernapas lega. "Bagus lah kalau begitu mas." Alanna tersenyum senang. "Pantasan saat saya lewat dia langsung berdiri tersenyum mengatakan kalau mas sudah menunggu di dalam karena sebelumnya dia tanpa ekspresi saat saya bertanya mas pada nya." Tambah Alanna membuat Zack tersenyum mendengar nya.
-
-
__ADS_1
-
...|| tolong dukungannya ya dengan cara like, coment, vote, dan beri bintang lima untuk author, terimakasih βΊοΈβΊοΈ||...