
Alanna berjalan keluar dari hotel setelah selesai jam kerja sif sorenya, hari telah gelap waktu menunjukkan pukul sembilan malam.
Aku masih harus berjalan kaki menuju halte bus, semoga saja masih ada bus malam.
Alanna berjalan sedikit terburu-buru menuju halte bus yang jaraknya kurang lebih dua ratus meter.
"Alanna !" Panggil suara pria dari arah belakang.
Alanna mengehentikan langkah kakinya, berbalik ke belakang untuk melihat suara pria yang memanggilnya.
Pria yang tidak asing di ingatan Alanna tapi tidak yakin pernah melihatnya di mana. Pria itu berjalan mendekati Alanna dengan senyum ramah di wajahnya.
"Kamu mengenal ku ?" tanya Alanna begitu pria asing itu berdiri tepat di depannya.
"He he he kamu tidak mengingatku ?" mendengar perkataan Alanna pria itu terkekeh geli sambil geleng-geleng kepala.
"Maaf tapi aku tidak ingat di mana kita pernah bertemu ? dan kenapa kamu bisa mengetahui namaku ?" Alanna memasang wajah bingung.
"Kita satu tempat kerja, aku juga bekerja di hotel yang sama dengan mu." Jawab pria itu masih tersenyum ramah.
"O...... maaf, aku tidak mengetahuinya. Aku belum lama bekerja jadi belum kenal banyak orang." Ucap Alanna dengan senyum menyesal.
"Tidak apa-apa aku mengerti, aku perhatikan kamu di hotel juga sangat pendiam dan jarang berkumpul jadi tidak membuat heran."
Alanna berdiri gelisah melihat jam tangan kecil di pergelangan tangannya. "Maaf jangan tersinggung tapi aku sedang mengejar bus terakhir untuk bisa pulang."
"Ayo, aku temani ke halte bus. Sudah hampir larut malam tidak aman wanita berjalan sendiri."
"Baiklah, terimakasih." Ucap Alanna canggung, kembali meneruskan langkahnya di ikuti pria itu.
"Mohammad Fasli." Ucap pria itu.
"Ya ?" Alanna refleks menyahut, tidak mengerti maksud pria itu.
"Namaku Mohammad Fasli biasa di panggil Fasli." Pria itu memperkenalkan dirinya sendiri dengan senyum jail. "Aku menunggumu menanyakan namaku tapi sepertinya kamu tidak terpikirkan untuk itu jadi aku berinisiatif memperkenalkan sendiri namaku." Tambahnya.
"O...... maaf." Alanna tersenyum masam.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Sepertinya aku yang terlalu agresif."
Alanna diam tidak menanggapi, mereka tidak berbicara lagi dalam sisa perjalanan menuju halte bus.
Tidak menunggu terlalu lama bus terakhir berhenti di halte bus. Pintu bus terbuka, Alanna kemudian naik.
"Kamu tidak ingin naik ?" tanya Alanna ketika Fasli hanya berdiri di halte bus tanpa bergerak.
"Aku tidak naik, arah rumah ku berlawanan. Aku hanya menemani mu saja." Fasli tersenyum. "Sampai ketemu besok di hotel." Tambahnya sebelum pintu bus tertutup.
Bus bergerak, Alanna melangkah ke kursi yang kosong. Alanna melihat dari jendela bus Fasli masih berdiri di tempatnya, menatap ke arah bus yang menjauh.
Sampai di apartemennya, Alanna langsung ke kamar untuk berganti pakaian dan mandi. Kelelahan sehabis bekerja Alanna memilih untuk langsung tidur tanpa makan malam terlebih dahulu.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Keluarga Ibrahim sedang menikmati sarapan pagi mereka.
"Mama, Papa, aku berencana untuk pergi ke Malaysia." Zack memberitahu kedua orangtuanya di sela-sela sarapan pagi mereka.
"Untuk mengurus hotel baru kita di sana ?" tanya Papa.
"Iya dan untuk hal lainnya." Jawab Zack.
"Untuk berapa lama kamu akan tinggal di sana ?" Mama ikut bertanya.
"Aku belum tahu pasti, Ma. Pekerjaan di sini biar Johan yang mengurusnya. Kamu jangan mengganggu Johan untuk urusan yang tidak penting." Zack menatap Sinta, memperingatkan.
Sinta mendengus kesal. "Iya kak, aku tahu."
Zack tersenyum simpul. "Bagus."
Mama Rani dan Papa Arian hanya tersenyum melihat tingkah Sinta.
"Apa maksudnya untuk hal lain? kamu ada urusan apa di sana ?" Papa kembali bertanya.
Zack memasang wajah serius. "Alanna sekarang ada di Malaysia, aku akan memperbaiki rumah tanggaku. Aku akan membawa Alanna pulang."
Mama Rani tersenyum bahagia mendengarnya. "Baguslah Nak, Mama senang mendengarnya."
Papa Arian mengangguk setuju. "Itu kata-kata yang dari dulu Papa ingin dengar darimu."
"Aku akan membawa pulang Alanna apapun yang terjadi." Zack berkata penuh tekad.
Siang hari menjelang sore di tempat lain, Alanna melangkah memasuki lobby hotel menuju bagian staf. Ini hari kedua untuk nya bekerja di sif siang.
Alanna tersenyum simpul. "Kamu juga sif siang ?" Alanna bertanya.
"Tidak, aku hanya kebetulan belum pulang." Jawab Fasli tersenyum ramah.
"Aku lupa menanyakan, kamu bekerja di bagian apa di hotel ini ?"
"Aku bekerja di bagian recruiment, aku yang menyeleksi berkas lamaran pekerjaan mu."
"Begitu." Sahut Alanna mengerti. "Aku masuk ke dalam dulu, sudah waktunya untuk ku bekerja." Tambahnya.
"Baiklah, kita bertemu lagi lain kali."
Alanna kembali meneruskan langkahnya menuju ruang staf untuk berganti seragam hotel.
Rutinitas pekerjaan Alanna sama seperti hari-hari biasanya tidak ada hal yang istimewa. Alanna selalu bekerja sebaik mungkin agar tidak mendapatkan teguran dari atasan ataupun keluhan dari tamu hotel yang datang untuk menginap.
Usai sif siang hari telah gelap, Alanna berjalan melewati Lobby hotel menuju pintu depan hotel.
Di depan pintu hotel berdiri seorang pria, seperti sedang menunggu seseorang.
Pria itu berbalik begitu mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
"Kamu sudah ingin pulang ?" tanya Fasli pada Alanna, ternyata pria itu adalah Fasli.
__ADS_1
"Iya, kenapa kamu belum pulang ? bukannya kalian yang bekerja di bagian administrasi pulang jam lima sore ?" tanya Alanna balik, heran. Tidak menjawab pertanyaan Fasli.
"Iya, aku bekerja lembur hari ini." Jawab Fasli.
"Begitu." Gumam Alanna mengerti.
"Ingin pulang sekarang ?" Fasli bertanya kembali.
"Iya."
"Aku temani berjalan sampai ke halte bus."
"Tidak usah, kamu jadi harus pulang memutar setelah mengantar aku." Tolak Alanna.
"Dari mana kamu tahu aku pulang memutar, kamu tahu alamat rumahku ?"
"Tidak, aku tidak tahu di mana rumahmu hanya saja kamu tidak ikut naik ke bus."
Fasli mengangguk mengerti. "Aku tetap akan menemani mu sampai ke halte bus." Fasli tetap pada perkataannya.
"Baiklah, terserah kamu saja." Alanna mengalah, tidak ingin berdebat lebih lama yang akan membuatnya terlambat menaiki bus terakhir.
Fasli tersenyum, berjalan berdampingan mengikuti Alanna.
"Kamu bukan orang asli di sini bukan ?" tanya Fasli dalam perjalanan menuju halte bus.
Alanna mengangguk mengiyakan." Iya, aku dari Indonesia."
"Jadi kamu di sini tinggal sendiri ?"
"Begitulah."
"Keluarga mu semuanya tinggal di Indonesia ?"
"Iya dan keluarga yang aku miliki tinggal Ibu ku saja." Jawab Alanna muram, mengingat kembali keluarga Ibrahim yang dulu pernah jadi bagian dari hidupnya.
"Kalau keluarga mu hanya Ibumu kenapa dia tidak mengikuti mu dan menemanimu di sini ?" Fasli semakin penasaran.
"Ibuku tidak ingin meninggalkan rumah peninggalan ayahku, lagian aku juga tidak akan menetap lama di sini jika tiba waktunya aku akan kembali ke Indonesia."
"Hmmm.... begitu ternyata." Gumam Fasli terdengar sedikit kecewa di telinga Alanna.
"Kita sudah tiba di halte bus, kamu juga lebih baik segera pulang. Terimakasih telah menemaniku." Alanna tersenyum sopan ketika mereka telah tiba di halte bus.
Fasli balas tersenyum. "Bukan masalah, aku senang menemani mu berjalan. Baiklah kalau begitu aku pulang dulu." Pamit Fasli yang di balas anggukan kepala oleh Alanna.
-
-
-
...yuk intip novel terbaru author dengan judul...
__ADS_1
..."terbelenggu cinta seorang pangeran"...