Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 48


__ADS_3

Alanna mengepak barang-barang yang akan di bawa pulang sambil menunggu Zack mengurus administrasi Rumah Sakit.


"Administrasi sudah selesai." Zack berkata saat muncul di dalam kamar perawatan. "Masih ada lagi yang perlu di urus sebelum Ibu keluar ?"


"Sudah tidak ada, obat yang harus di bawa pulang untuk di minum di rumah sudah mereka berikan tadi." Jawab Alanna.


"Kalau begitu kita pulang sekarang." Zach mengambil alih tas yang hendak Alanna bawa.


"Saya pesan taksi dulu mas." Alanna mengambil handphone dari dalam tasnya.


"Tidak perlu, mas sudah menyewa mobil untuk di gunakan selama di sini."


"O ya ?


"Tadi siang setelah selesai briefing, General Manager hotel menyarankan untuk menyewa mobil dari pada saya harus selalu memesan taksi jika ingin keluar." Zack menjelaskan. "Harusnya dari awal mas sudah menyewa mobil saat baru tiba di sini agar lebih mudah."


"Tidak usah di sesali yang sudah lewat." Tegur Ibu.


"Betul kata Ibu." Alanna setuju. "Kita pergi sekarang mas."


"Iya."


Perjalanan pulang ke rumah sedikit lebih lama karena jalan raya yang sedikit padat di karenakan jam pulang kantor.


"Ibu ingin istirahat di kamar ?" tanya Alanna saat mereka sudah sampai di rumah.


"Ibu ingin duduk sebentar di sini." Jawab Ibu saat mereka berada di ruang tengah.


"Mas Zack tasnya letaknya saja di situ." Alanna menunjuk sudut kursi panjang tempat Ibu duduk. "Mas ingin kopi ?"


"Boleh." Jawab Zack yang ikut duduk di kursi yang berada di hadapan Ibu.


Alanna masuk ke dapur untuk membuatkan Zack kopi.


"Alanna tadi pagi bercerita kalau orang tuamu sudah pernah bertemu Alanna." Kata Ibu tiba-tiba, berbicara pada Zack saat mereka hanya berdua.


"Iya, saya mengajak Alanna untuk bertemu dengan orang tuaku dan mereka sangat menyukai Alanna."


"Benarkah ?" Ibu berkata sedikit tidak yakin.


"Iya, saya tidak berbohong." Zack menyakinkan Ibu.


"Ibu khawatir, kau harus maklum anak Ibu hanya Alanna dan kami sudah tidak memiliki kerabat atau saudara."


"Ibu tidak usah khawatir, saya akan menjaga Alanna dan Ibu."


"Selama Alanna bahagia dan baik-baik saja, itu sudah cukup bagi Ibu."


"Saya berjanji akan mengingat itu." Zack berkata dengan wajah serius.


"Baguslah. Nak Zack anak yang baik, Ibu jadi lebih tenang." Ibu berkata dengan senyum lembut.


Sikap Ibu padanya membuat Zack merasa bersalah menyembunyikan pernikahan mereka dari Ibu.


Alanna muncul dari dapur dengan membawa segelas kopi yang di minta Zack.


"Mas Zack mau makan malam di sini ?" Alanna bertanya sambil meletakkan gelas kopi di hadapan Zack, bergabung duduk di kursi samping Zack.


"Iya rencananya begitu."


"Kalau begitu saya belanja bahan makanan dulu, soalnya persediaan di kulkas sisa sedikit."

__ADS_1


Zack melihat jam tangannya. "Tapi ini sudah hampir malam, belum lagi pulang dari belanja kau masih harus memasak. Lebih baik saya menelepon ke hotel untuk mengantar makan malam ke sini."


"Sepertinya terlalu merepotkan Nak Zack." Kata Ibu.


"Tidak apa-apa Bu, Alanna juga pasti capek kalau dari berbelanja masih harus memasak." Zack berkata melihat ke arah Alanna yang tersenyum mendengar perkataan Zack yang perhatian padanya.


"Kalau begitu besok pagi saja saya pergi berbelanja."


"Mau saya temani ? besok hari minggu dan kebetulan saya lagi tidak sibuk." Zack menawarkan diri.


"Boleh dengan senang hati." Alanna berkata antusias.


"Telepon saya besok pagi kalau sudah mau pergi."


"Baik mas."


"Saya mau menelepon ke hotel untuk memesan makan malam kita." Kata Zack bangkit berdiri berjalan menuju ruang depan untuk menelepon.


"Ibu tidak ingin beristirahat dulu di kamar ? nanti saya panggil kalau makanan sudah ada." Kata Alanna pada Ibunya.


"Iya, Ibu ke kamar dulu." Ibu berdiri berjalan menuju kamarnya.


"Mana Ibu ?" tanya Zack saat muncul dari ruang depan.


"Dia ke kamarnya untuk beristirahat, nanti akan saya panggil saat makanan telah siap." Jawab Alanna. "Jadi makanan sudah mas pesan ?"


"Sudah, mereka akan mengantarnya." Zack kembali duduk di kursi.


"Sudah empat hari saya tidak masuk kantor, Pak Ariel pasti bertanya-tanya ?"


"Johan sudah mengurusnya, kau tidak usah memikirkan hal itu." Zack menenangkan Alanna sambil meminum kopinya yang mulai dingin.


"Kau bisa datang ke sini sebulan sekali untuk menjenguk Ibu." Zack memberi saran.


"Sepertinya hanya begitu jalan keluarnya, saya yang harus teratur datang ke sini melihat Ibu."


"Saya akan temani kalau kau ingin ke sini."


"Mas sangat sibuk."


"Kita bisa mengatur jadwalku, kita rencanakan satu minggu sebelum pergi menyesuaikan dengan jadwal kerjaku."


"Baik mas."


"Ibu mu sudah bertanya tentang cincin mu ?" Zack bertanya, mengalihkan pembicaraan tiba-tiba.


"Sudah mas tadi pagi saat kita selesai saling mengirim pesan, saya bilang sesuai dengan yang mas katakan kemarin."


"Mungkin itu alasannya berbicara seperti tadi." Gumam Zack yang masih bisa di dengar oleh Alanna.


"Mas bilang apa ? Saya tidak dengar dengan jelas."


"Tidak, bukan apa-apa." Zack menolak menceritakan pembicaraan dirinya dengan Ibu. "Bisa kau ambilkan mas bantal ?"


Heran dengan permintaan Zack yang tiba-tiba dan dengan cepat berganti arah pembicaraan membuat Alanna sedikit lambat mengikuti arah pembicaraan mereka.


"Bantal ?" Alanna berkata tidak mengerti.


"Iya bantal, mas ingin berbaring sebentar di kursi sambil menunggu makanan datang."


"Mas berbaring saja di kamarku." Saran Alanna.

__ADS_1


"Tidak enak dengan Ibumu karena terlihat kurang sopan, kita di sini bukan suami istri." Zack mengingatkan.


"Saya lupa." Alanna berkata tersenyum masam lalu berdiri menuju kamarnya dan kembali dengan bantal di tangannya. "Mas istirahat saja dulu, saya mau membereskan isi tas yang dari Rumah Sakit."


"Hm... ." Gumam Zack sambil menutup mata.


Satu jam kemudian makanan yang di pesan mas Zack telah datang, di antar pegawai hotel bagian dapur.


"Terimakasih." Ucap Alanna tersenyum ramah saat menerima makanan itu.


"Sama-sama Nyonya, ini perintah dari pak Zack." Balas pegawai itu tersenyum ramah.


"Makanannya sudah ada ?" tanya Zack tiba-tiba muncul dari arah belakang Alanna.


"Iya mas, ini saya baru terima." Jawab Alanna memperlihatkan tas yang berisi kotak makanan.


Zack mengambil tas itu karena terlihat berat. "Semua sesuai dengan pesanan ku ?" tanya Zack pada pegawai hotel yang mengantar makanan.


"Iya Pak, sesuai dengan pesanan anda."


"Bagus, terimakasih. Kau boleh pergi sekarang."


"Saya permisi Nyonya Alanna, Pak Zack." Pamit pegawai itu dan di balas anggukan oleh Zack.


"Dari mana ya dia tahu namaku ?" tanya Alanna penasaran saat menutup pintu.


"Tadi saya berikan alamat rumah dan memberi tahu nama mu sebagai pemilik rumah." Jawab Zack sambil berjalan menuju meja makan dan meletakkan tas berisi kotak makanan.


"Kenapa dia sangat formal memanggil ku dengan sebutan Nyonya dan bukan Nona atau Alanna saja ?" Alanna bertanya kembali, curiga dan belum puas dengan jawaban Zack.


"Dia hanya bersikap sopan saja pada pelanggan, tidak usah terlalu di pikirkan." Zack tidak ingin Alanna kaget dan bereaksi berlebihan jika dia tahu kalau hampir semua Staf hotel di sini sudah tahu kalau dia adalah istrinya. "Lebih baik kau atur makanan ini di atas meja dan panggil Ibu untuk makan, mas juga sudah lapar."


"Baiklah." Jawab Alanna menurut tidak membantah karena mendengar Zack mengatakan sudah lapar walaupun dirinya belum puas dengan jawaban dari Zack.


Mereka tidak banyak bercerita saat makan malam, saat selesai makan ibu bertanya pada Alanna.


"Kapan kau balik ke Jakarta ?"


" Alanna balik ke Jakarta sampai Ibu sehat betul." Zack yang menjawab pertanyaan dari Ibu.


"Ibu sudah sehat, kau sudah boleh balik besok ke Jakarta."


"Tapi Ibu baru tadi keluar dari Rumah Sakit." Ucap Alanna membantah.


"Ibu sudah sehat." Ibu meyakinkan Alanna. "Ibu tahu kau tidak bisa lama minta cuti."


"Tidak apa-apa Bu, saya sudah mengurus cuti Alanna jadi Ibu tidak usah khawatir tentang itu." Zack meyakinkan


"Ibu memaksa, kau baru kerja di sana dan sudah minta cuti lama." Ibu berkata tegas tidak ingin di bantah.


Tahu bahwa dirinya tidak bisa mengubah keputusan Ibu membuat Alanna terpaksa mengalah. "Tapi Ibu harus rutin minum obatnya, Saya akan rutin menelepon Ibu, mengontrol keadaan Ibu."


"Iya Ibu tahu, Ibu bukan anak kecil. Jadi kalian pergi kapan ? bukannya harus pesan tiket pesawat dulu ?" tanya Ibu.


"Kami bisa pergi penerbangan malam hari." Zack berkata tidak menjelaskan bahwa pesawat yang mereka naiki adalah pesawat pribadi yang bisa terbang kapan saja.


"Bagus lah karena pagi saya masih harus belanja keperluan dapur dan harus merapikan rumah terlebih dahulu sebelum pergi." Alanna berkata pada Zack.


"Jangan lupa hubungi mas besok pagi kalau sudah mau pergi berbelanja."


"Baik mas."

__ADS_1


__ADS_2