Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 60


__ADS_3

Zack sedang menghubungi dr. Rosa untuk berkonsultasi masalah keberangkatan Alanna.


"Tidak masalah Pak Zack, selama penerbangan Nyonya Alanna tidak kelelahan." dr. Rosa berkata setelah mendengar penjelasan Zack.


"Tidak beresiko terhadap kandungannya Dok ?" Zack bertanya lebih jelas agar dirinya yang.


"Tidak Pak Zack, anda tidak usah khawatir. Lagi pula Nyonya Alanna sudah saya berikan obat penguat kandungan, cukup konsumsi obat itu secara teratur." dr. Rosa menyakinkan.


Zack lega setelah mendengar penjelasan dr. Rosa. "Terimakasih Dok atas konsultasi, saya lega setelah mendengar penjelasan dari Dokter."


"Sama-sama Pak Zack, saya memakluminya. Semua suami pasti mengkhawatirkan istri dan calon anak mereka."


"Maaf karena menanggung waktu istirahat makan siang anda."


"Tidak apa-apa Pak Zack, kalau begitu saya tutup dulu teleponnya." Kata dr. Rosa dan sambungan telepon pun terputus.


Zack melihat Jam tangannya dan berpikir seharusnya Alanna sudah kembali dari makan siang mereka. Zack memutuskan untuk menelepon Johan.


Sambungan telepon terhubung pada dering pertama.


"Hallo Tuan." Johan berkata saat sambungan telepon terhubung.


"Kalian di sudah di mana ?" Zack langsung bertanya.


"Kami sudah berada di hotel sedang menuju lift untuk naik ke ruangan Nona Alanna."


"Mana Sinta ?" tanya Zack kembali.


"Langsung pergi setelah kami sampai."


"Kalau begitu Alanna langsung bawa ke ruangan ku ada yang ingin ku bicarakan dengannya."


"Baik Tuan." Kata Johan menurut. "Ada lagi Tuan ?" Johan menambahkan.


"Tidak ada." Kata Zack lalu memutuskan sambungan telepon.


Tidak lama kemudian terdengar ketukan pintu dari luar.


"Masuklah !." Zack menyahut dan kemudian pintu terbuka. Alanna dan Johan masuk ke dalam ruangan.


"Bagaimana makan siang mu dengan Sinta ?" Zack bertanya seraya keluar dari mejanya berjalan menuju sofa yang berada di tengah ruangannya.


"Lumayan mas." Jawab Alanna berjalan menuju sofa tempat Zack duduk, duduk tepat di samping Zack.


Zack refleks memeluk bahu Alanna posesif yang duduk di samping, menoleh pada Johan yang duduk di sofa depannya. "Johan saya lupa menanyakan padamu tentang visa dan pasport Alanna. Bagaimana ? sudah kau urus ?" tanya Zack.


"Sudah ada dari beberapa hari yang lalu Tuan, Visa dan Pasport Nona Alanna ada saya simpan di laci meja kerja anda."


"Baguslah." Zack berkata lega.


"Visa dan pasport ?" Alanna bertanya dengan kening mengerut tidak mengerti arah pembicaraan Zack dan Johan. "Memangnya saya akan kemana dengan itu ?" tanya Alanna kembali menoleh pada Zack.


"Besok saya ada jadwal kerja ke Malaysia untuk mengontrol proyek pembangunan hotel di sana." Zack menjelaskan.


"Lalu apa hubungannya dengan visa dan pasport ku mas ?"


"Kau butuh itu karena kau akan ikut denganku ke Malaysia." Jawab Zack.


Alanna terdiam berpikir setelah mendengar perkataan Zack.

__ADS_1


"Kenapa sayang ? ada yang salah ?" tanya Zack heran dengan reaksi Alanna, dia berpikir Alanna akan senang jika mengetahui bahwa dia akan membawa Alanna.


"Di Malaysia kita akan tinggal di mana mas ?" tanya Alanna.


"Kita Ada Penthouse di sana, dekat dengan proyek pembangunan hotel yang sedang kita kerjakan."


"Di sana mas pasti akan sibuk bekerja, mungkin pergi pagi dan pulang larut malam jika itu terjadi saya akan kesepian selama di sana di tambah lagi saya baru pertama kali ke sana jadi tidak bisa keluar sendiri jika ingin keluar dan jalan-jalan."


"Makanya mas juga ingin membawa Sinta bersama kita untuk menemanimu selama di sana."


"Bukannya Sinta sedang sibuk dengan kuliahnya ?" tanya Alanna pada Zack.


"Sepertinya begitu Tuan, Nona Sinta masih sibuk dengan kuliahnya untuk minggu ini." Johan tiba-tiba menambahkan.


"Tidak usah lah mas, lebih baik saya tidak usah ikut jika merepotkan."


"Saya tidak bisa tenang bekerja di sana karena memikirkan keadaanmu di sini jika kau tidak ikut denganku."


"Rencana mas ke sana berapa hari memangnya ?"


"Rencananya tiga hari."


"Cuman tiga hari, saya akan baik-baik saja. Mas Zack tidak usah khawatir." Alanna meyakinkan.


"Saya tidak ingin mengambil resiko, kemarin saja saya hanya pergi keluar sebentar dan saya di kabari kau pingsan di toilet wanita." Zack berkata tegas.


Perkataan Zack membuat Alanna tidak bisa berkata apa-apa.


"Saya akan berbicara dengan Sinta saat kita pulang ke rumah nanti." Zack berkata tidak ingin di bantah.


"Baik mas." Alanna terpaksa menurut karena saat Zack berkata dengan nada seperti itu artinya tidak ada gunanya untuk berdebat.


Johan yang sudah mengetahui sifat Zack pun memilih untuk diam.


"Baiklah." Kata Zack melepas rangkulannya.


Alanna bergerak menjauh dan bangkit berdiri, berjalan beberapa langkah dan berhenti. Alanna berbalik menatap Zack dan sedikit ragu-ragu untuk berbicara.


"Kenapa sayang ? ada yang ingin kau katakan ?" Zack menatap heran pada sikap Alanna.


"Mas Zack, bisa tolong hubungi pihak dapur ?" tanya Alanna.


"Untuk apa ? ada yang kau inginkan ?"


"Iya mas, saya masih ingin makan buah karena salad buah di restoran tempat kami makan porsinya kecil dan saya malu untuk memesan kembali." Alanna menjelaskan dengan wajah merona sedikit malu.


Zack tersenyum lembut mendengar perkataan Alanna yang malu-malu. "Masih ada lagi yang lain ?" Zack bertanya.


"Iya, dengan segelas jus buah naga." Alanna menjawab.


"Baiklah, akan mas pesan kan."


"Terimakasih mas." Ucap Alanna tersenyum senang kemudian bergerak menuju pintu untuk keluar.


"Saya khawatir dengan kondisi Alanna yang beberapa hari ini kurang mengkonsumsi karbohidrat." Kata Zack pada Johan saat Alanna telah meninggalkan ruangannya.


"Anda sudah konsultasikan masalah ini ke Dokter kandungannya ?" tanya Johan.


"Sudah, dr. Rosa katakan Alanna harus teratur meminum susunya dan usahakan dia untuk makan makanan yang mengandung karbohidrat selain nasi walaupun sedikit yang penting sering."

__ADS_1


"Saya pernah baca kalau masa mengidam ibu hamil biasanya sampai usia kandungan di atas tiga bulan." Johan memberi tahu.


"Masih lama berarti Johan karena umur kehamilan Alanna sekarang satu bulan lebih satu minggu." Zack berkata sambil menghela napas panjang.


"Yang sabar Tuan." Johan memberi semangat.


Zack bangkit berdiri. "Karena masalah ini juga kenapa saya tidak ingin Alanna jauh dari pandanganku." Ucap Zack berjalan menuju meja kerjanya kemudian membuka laci meja dan menemukan visa dan pasport milik Alanna.


"Saya permisi dulu Tuan, saya harus menelepon dapur hotel untuk memesankan buah dan jus yang di inginkan Nona Alanna." Pamit Johan.


"Pergilah dan katakan pada mereka untuk secepatnya mengantarkan pesanan Alanna ke ruangannya."


"Baik Tuan."


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Saat makan malam semua anggota keluarga berkumpul. Zack menghubungi Sinta tadi sore, menyuruhnya untuk pulang lebih awal.


Usai makan malam, mereka berkumpul duduk santai di ruang tengah.


"Kenapa menyuruhku pulang lebih awal kak Zack ?" tanya Sinta.


" Saya ingin kau ikut bersamaku dan Alanna ke Malaysia." Kata Zack langsung ke intinya.


"Benarkah ? untuk berapa hari ?" Tanya Sinta antusias.


"Tiga hari."


"Kapan berangkat nya ?"


"Besok pagi."


"Selain kalian ada yang lain ?"


"Hanya Johan saja."


"Oke, saya ikut." Sinta langsung menyetujuinya.


"Bukannya kau masih sibuk minggu ini ? Johan juga berkata seperti itu." Tanya Alanna heran.


"Bisa di sesuaikan, tidak usah khawatir." Sinta meyakinkan, Alanna mengangguk mengerti.


"Kau sudah mengepak pakaian untuk di bawa besok ?" tanya mama Rani pada Alanna.


"Belum mama, habis ini baru mau saya kerjakan."


"Jangan lupa membawa obat mu." Mama Rani mengingatkan.


"Iya ma." Ucap Alanna.


"Saat di sana biarpun sibuk bekerja jangan lupa selalu mengontrol keadaan istrimu Zack." Pesan mama Rani.


"Iya mama, saya tahu."


-


-


-

__ADS_1


-


...tolong dukung author ya dengan cara like, coment, vote terimakasih ☺️☺️...


__ADS_2