
Tanpa Zack dan Alanna sadari ada seseorang yang terus memperhatikan mereka dari kejauhan.
Zack memberi tahu pelayan untuk tidak memberikan Alanna menu penutup. Usai makan malam para undangan duduk bersantai di ruang tengah sambil menikmati kopi atau mocktail yang di sediakan Tuan rumah.
Zack pamit pada Alanna untuk bergabung dengan rekan bisnisnya membicarakan proyek mereka sedangkan Johan tetap menemani Alanna dan Sinta yang duduk agak menjauh dari Zack.
Sinta memeriksa isi tasnya, mencari handphone tapi tidak menemukannya.
"Kak Johan kunci mobil mana ?" tanya Sinta.
"Untuk apa ?" tanya Johan balik.
"Handphone saya mungkin ketinggalan di mobil, saya sempat mengeluarkannya dari dalam tas saat perjalanan ke sini." Sinta menjelaskan.
"Kau di sini saja, nanti saya yang pergi mengambilnya." Johan memberi tahu.
"Tapi saya ingin menelepon mama sekalian."
"Kalian berdua pergi bersama saja." Saran Alanna.
"Tapi Tuan Zack memberi perintah untuk menjaga Anda." Johan berkata serba salah.
"Kalian juga pergi tidak lama, dan ini di dalam rumah. Zack juga berdiri tidak jauh dari sini, jadi tidak akan terjadi apa-apa pada saya." Alanna meyakinkan.
"Baiklah kami pergi tidak lama." Johan akhirnya mengalah.
Johan dan Sinta berjalan keluar menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu masuk.
"Kau sendirian?" Suara wanita bertanya dari belakang.
Alanna berbalik ke belakang, ternyata yang berbicara padanya adalah Nurhaliza.
"Iya, Sinta adik ipar saya dan Johan ada keluar sebentar." Alanna berkata ramah.
"Begitu." Nurhaliza menyahut mengerti. "Kau tidak ingin minum ?" Nurhaliza memegang dua jenis minuman di kedua tangannya. Menawarkan minuman yang dia pegang pada Alanna.
Alanna mengambil minuman mocktail yang di tawarkan Nurhaliza. "Terimakasih, jadi merepotkan Nona Nurhaliza padahal jika ingin saya bisa mengambilnya sendiri." Ucap Alanna tidak langsung meneguk minumannya.
Zack menoleh mencari keberadaan Alanna dari tempatnya berdiri dan menemukannya sedang berbincang dengan Nurhaliza. Tatapannya teralih pada minuman yang di pegang Alanna.
"Permisi sebentar." Pamit Zack pada rekan bisnisnya.
"Silahkan." Sahut salah satu rekannya.
Zack berjalan menyeberangi ruang tengah menuju sudut ruangan ke tempat Alanna dan Nurhaliza sedang berbicara.
"Kau tidak bisa meminum minuman ini sayang." Tegur Zack lembut mengambil minuman yang ada di tangan Alanna.
Alanna menoleh pada Zack yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. "Mas Zack ! Kau datang tiba-tiba membuat saya terkejut."
"Maaf sayang, saya refleks ke sini karena melihat minuman yang kau pegang."
"Itu hanya mocktail Zack." Ucap Nurhaliza.
"Iya saya tahu hanya tadi saya bertanya pada pelayan apa campuran mocktail nya dan ternyata campuran nya mengandung soda. Alanna tidak bisa minum minuman yang bersoda."
"Maaf saya tidak tahu." Nurhaliza merasa bersalah.
__ADS_1
"Tak apa." Kata Zack. "Mana Johan dan Sinta ?" tanya Zack pada Alanna.
"Ada ke mobil sebentar, saya menyuruh Johan menemani Sinta mengambil handphone di dalam mobil." Jawab Alanna.
"Zack ! kemarilah, pengantin baru tidak bisa berjauhan lama." Goda rekan bisnis Zack.
Zack dan Alanna tersenyum mendengarnya. "Pergilah mas, saya di sini tidak apa-apa. Nona Nurhaliza juga menemani saya di sini." Alanna menyakinkan Zack.
"Baiklah, mas ke sana dulu." Zack berbalik pergi bergabung dengan para pria.
"Bagaimana kalau kita berbicara di balkon ? M
mencari udara segar." Saran Nurhaliza.
"Boleh." Alanna menyetujui.
"Sebelum menikah kalian sudah lama saling mengenal ?" tanya Nurhaliza, mereka telah berada di balkon ruang tengah menikmati angin malam.
"Belum ada setahun kami mengenal dan kemudian menikah."
"Zack sangat perhatian padamu, membuatku iri."
"Saya rasa itu normal, semua suami pasti bersikap sama terhadap istrinya. Anda pasti akan merasakannya saat menikah nanti."
"Entahlah, apa mungkin saya bisa menikah atau tidak." Nurhaliza berkata muram.
"Kenapa bisa begitu ?" Alanna bertanya heran.
"Pria yang saya sukai ternyata telah menikah."
Alanna prihatin mendengarnya. "Maaf bukan maksudku untuk membuatmu sedih."
"Maaf, itu bukan urusanku lagi pula saya mungkin tidak mengenalnya."
"Kau mengenalnya."
"Betulkah ?" Alanna penasaran. "Siapa namanya ?"
"Zack Ibrahim." Jawab Nurhaliza menatap serius pada Alanna.
Alanna terdiam terkejut tidak tahu harus berkata apa, hanya menatap Nurhaliza dalam diam.
"Apa maksudmu mengatakan hal ini ?" Alanna bertanya beberapa saat kemudian.
"Tidak ada maksud apa-apa." Nurhaliza berkata santai.
"Tidak mungkin tidak ada maksud dari mu mengatakan hal ini."
"Kau sangat ini tahu ?"
"Tentu saja karena pria yang kau bicarakan itu adalah suami saya, dan kenapa kau dengan santainya berbicara seperti itu di hadapan istrinya." Alanna berkata tidak suka.
Nurhaliza terkekeh mengejek mendengar perkataan Alanna. "Kau sepertinya sangat bangga menikahi Zack." Ucap Nurhaliza. "Kenapa tidak, pria yang kau nikahi selain muda, tampan juga memiliki kekayaan yang berlimpah." Nurhaliza menambah.
Alanna berusaha tenang dan tidak ingin terprovokasi oleh perkataan Nurhaliza. "Jaga ucapan mu Nona Nurhaliza." Alanna mengingatkan.
"Saya hanya tidak menduga kalau Zack bisa terpikat oleh pesona wanita pelayan hotel."
__ADS_1
Tanpa mereka sadari di pintu keluar balkon berdiri Sinta dan Johan yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka.
Alanna kembali terkejut dengan perkataan Nurhaliza. "Dari mana kau tahu masa lalu saya ? jangan katakan kau menyelidikinya." Ucap Alanna dengan nada menuduh.
Nurhaliza melangkah mendekati Alanna, berbisik di telinga Alanna dan dengan santai menumpahkan minuman yang di pegang nya ke bagian depan gaun Alanna. "Dasarnya pelayan wanita kelas bawah biar memakai baju sebagus dan semahal apapun tetap saja hanya wanita rendahan yang ingin naik status dengan menjual diri."
Mendengar perkataan dan perbuatan Nurhaliza padanya membuat Alanna emosi, refleks mengangkat tangannya menampar kuat pipi Nurhaliza.
"Jaga ucapan mu Nona Nurhaliza." Alanna berkata geram mengepalkan tangannya menahan emosi.
Zack yang mencari Alanna karena tidak melihat kehadirannya terkejut mendapati Alanna yang menampar Nurhaliza.
"Alanna jaga sikap mu !" Zack berbicara dengan nada tinggi, berjalan mendekati mereka.
Mendengar suara Zack yang bernada tinggi membuat perhatian semua orang tertuju pada mereka.
Johan dan Sinta menyusul di belakang Zack mendekati Alanna dan Nurhaliza.
"Jangan marah pada Alanna Zack." Ucap Nurhaliza sambil memegang pipinya yang telah di tampar Alanna. "Saya tidak sengaja membuat gaunnya kotor jadi sudah wajar jika Alanna marah." Tambah Nurhaliza memasang wajah bersalah.
"Tapi itu hanya gaun, berlebihan sekali jika kau sampai menamparnya." Zack emosi menegur Alanna.
"Tapi mas dia menghinaku !." Alanna membela diri.
"Ada apa ini ?" tanya Datuk Malik muncul di tengah-tengah mereka.
"Ayah jangan marah, ini semau salah ku." Nurhaliza memasang wajah memelas.
"Maaf Datuk Malik, istri saya emosi hingga bertindak keterlaluan menampar anak anda." Zack berkata dengan wajah menyesal.
"Tapi kak Zack, Alanna tidak bersalah Nona Nurhaliza yang keterlaluan. Saya dengar semua pembicaraan mereka tadi." Sinta menyahut membela Alanna.
"Tidak usah ikut campur Sinta, kau pasti membelanya karena dia saudara ipar mu." Zack menegur Sinta.
"Tapi kak Zack -."
"Diam lah Sinta, ini bukan urusanmu." Zack memotong perkataan Sinta.
"Mas Zack, saya hanya membela diri." Ucap Alanna.
"Tapi bukan seperti itu caranya, dan kau harusnya menjaga sikap karena kita berada di kediaman Datuk Malik." Zack menekankan. "Minta maaf pada Nurhaliza dan Datuk Malik." Zack menatap serius pada Alanna.
"Tapi mas -."
"Minta maaf Alanna." Zack berkata tegas.
Alanna terdiam menahan air mata, merasa malu dan sakit hati karena perhatian semua orang tertuju padanya, tindakan Zack padanya yang tidak mau mendengar penjelasannya.
"Maaf kan saya Nona Nurhaliza." Kata Alanna dengan suara tercekat menahan emosi.
"Tidak usah seperti ini, saya juga bersalah." Nurhaliza tersenyum.
"Baiklah, tidak usah di perpanjang lagi." Datuk Malik menengahi.
"Johan kau antar pulang Alanna dan Sinta lebih dulu." Perintah Zack.
"Baik Tuan."
__ADS_1
Alanna berjalan melewati Zack tanpa memandang wajah Zack, keluar dari ruangan dengan Sinta yang menyusul dari belakang.