Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 112


__ADS_3

Sembilan bulan kemudian


"Saya terima nikah dan kawinnya Sinta binti Arian Ibrahim dengan mas kawin tersebut, di bayar tunai." Johan berkata dengan lantang dalam satu tarikan nafas.


"Bagaimana saksi ? sah ?" tanya Pak penghulu pada saksi yang duduk d samping mempelai.


"Sah !" Jawab saksi bersama.


"Alhamdulillah.... ." Ucap Serentak semua orang yang melihat peristiwa Ijab Kabul kedua mempelai pengantin.


Proses Ijab Kabul di sambung dengan mengucapkan doa dari Pak penghulu kemudian pemasangan cincin kawin oleh Johan ke jari manis Sinta.


Sinta mencium tangan Johan di balas Johan dengan mengecup kening Sinta. Wajah kedua mempelai terlihat sangat bahagia.


"Mereka pasangan yang sangat serasi." Komentar Alanna melihat kedua pengantin.


"Kamu tidak kelelahan sayang ?" Zack bertanya dengan khawatir, tidak mengomentari perkataan Alanna.


Alanna menghela nafas panjang, menoleh pada Zack. "Aku baik-baik saja mas, aku pasti akan bilang kalau aku merasakan sesuatu yang aneh. Mas Zack tidak usah terlalu khawatir oke ?" Alanna meyakinkan.


"Baiklah." Zack terpaksa menurut walaupun tatapannya jarang beralih dari Alanna sejak acara di mulai karena rasa khawatirnya.


Acara terus berlanjut sampai pada sesi pemotretan kedua pengantin kemudian pengantin dengan keluarga dan kerabat.


"Zack ! Alanna ! giliran kalian yang berfoto bersama pengantin." Mama Rani memanggil, berdiri di samping pengantin usai berfoto.


"Baik Ma, kami ke situ." Sahut Alanna sambil berdiri sedikit bersusah payah dengan bantuan dari Zack yang membantu memapahnya.


"Kamu tidak harus berfoto bersama mereka." Tegur Zack.


"Mas Zack, aku betul-betul baik-baik saja sekarang. Aku tidak mungkin melepaskan kesempatan untuk berfoto bersama mereka hanya karena kehamilan ku yang sekarang hanya tinggal menunggu waktu." Alanna kembali meyakinkan Zack, mereka berjalan pelan menuju Johan dan Sinta yang menunggu mereka dengan sabar.


"Lagian kata Dokter Rosa, sakit yang aku rasakan tadi subuh biasa terjadi di umur kehamilanku ini." Alanna menambahkan.

__ADS_1


"Iya mas tahu, hanya saja mas tetap khawatir sayang."


Mereka tiba di samping kedua pengantin, Sinta yang mendengar percakapan mereka memutar kedua bola matanya, jengah dengan sikap Zack yang over protective.


"Kak Zack bersikap seperti ini bukan nanti sekarang." Sinta ikut menyahut. "Sejak Alanna di nyatakan Dokter hamil lagi, sifat kak Zack mulai seperti ini, semua hal yang dilakukan Alanna membuatnya khawatir sampai-sampai dia memindahkan kantornya di rumah dan hanya keluar jika perlu. Kasian Alanna jika aku jadi dia, aku akan stress di buatnya." Tambahnya sambil geleng-geleng kepala.


Alanna hanya tersenyum masam sedangkan Zack menatap tajam pada Sinta.


Mama Rani yang mendengar tersenyum. "Kamu juga pasti akan mengalami hal yang sama. Mama melihat sikap Johan padamu yang mulai posesif sejak kalian bertunangan, jadi tidak usah mengasihani Alanna di saat kamu juga akan mengalaminya." Tegur Mama Rani tersenyum geli sedangkan Johan yang di sebut terlihat sedikit canggung.


"Sudah-sudah, jangan berdebat di sini." Papa Arian menengahi. "Zack setelah kalian berfoto lekas biarkan Alanna duduk, kasian menantu Papa jadi terlalu lama berdiri di sangat tubuh kecilnya harus membawa beban berat bayi kembar." Papa memandang Alanna khawatir.


"Iya Pa, aku tahu." Sahut Zack.


Alanna di nyatakan hamil oleh Dokter tidak lama setelah mereka kembali dari Malaysia dan Dokter Rosa kembali yang menangani kehamilan kedua Alanna.


Seperti yang di katakan oleh Sinta, Zack bersikap sangat hati-hati pada kehamilan Alanna kali ini menjaga jangan sampai kejadian sebelumnya sampai terulang kembali. Dokter Rosa mendiagnosa janin di dalam kandungan Alanna kembar pada umur kehamilan empat bulan tapi karena posisi kaki janin mengapit membuat jenis kelaminnya tidak terlihat jelas oleh mesin USG namun hal itu bukan masalah bagi mereka.


Tentu saja kabar kehamilan kembar Alanna membuat kebahagiaan Zack dan anggota keluarga Ibrahim lainnya berlipat ganda yang tentunya membuat mereka semua terutama Zack sangat berhati-hati.


"Iya mas." Alanna mengangguk setuju, rasa nyeri di bagian pinggangnya mulai terasa mungkin akibat berdiri terlalu lama.


Zack memapah Alanna ke kursi terdekat, kehamilan bayi kembar di usia kehamilan sembilan bulan membuat Alanna selalu mudah lelah. Hal itu di katakan Dokter Rosa merupakan hal yang wajar mengingat bayi kembar Alanna sangat sehat dengan berat badan normal.


"Kenapa sayang ? ada yang sakit ?" Zack bertanya kembali, melihat wajah Alanna yang seperti menahan sakit.


"Bukan hal yang serius mas, pinggangku hanya sedikit sakit mungkin karena terlalu banyak duduk." Alanna tersenyum agar Zack tidak panik.


"Kalau begitu kita kembali ke kamar saja."


Alanna mengangguk setuju."Iya mas."


Zack membantu Alanna untuk berdiri, mereka meninggalkan kerumunan orang berjalan ke kamar mereka yang sekarang berada di lantai satu.

__ADS_1


Kamar mereka pindah untuk sementara di lantai bawah karena Alanna yang agak kesusahan untuk naik tangga menuju lantai dua.


Zack yang berencana untuk merenovasi rumah dengan memasang lift untuk memudahkan Alanna bergerak di tolak keras oleh Alanna. Zack pun mengalah dan mereka memutuskan untuk pindah ke kamar yang berada di lantai satu.


Sampai di dalam kamar, Zack langsung membantu Alanna untuk berbaring di atas tempat tidur.


"Bagaimana ? sudah merasa nyaman ? atau mas tambahkan bantal ?" Pertanyaan beruntun dari Zack.


"Tidak usah mas, sudah nyaman kok begini." Jawab Alanna.


Zack duduk di samping tempat tidur menemani Alanna.


"Mas lebih baik keluar, bergabung bersama yang lain. Aku tidak apa-apa, aku akan tidur sedikit."


"Mas akan menemani mu di sini, mereka juga pasti mengerti. Acara utamanya juga sudah selesai."


"Baiklah, terserah mas Zack saja."


"Seharusnya mas tidak menuruti kemauan mu untuk melahirkan bayi kita secara normal. Kamu terlihat sering kelelahan akhir-akhir ini." Sesal Zack.


Alanna tersenyum. "Aku tidak apa-apa mas." Kata yang sering Alanna keluarkan akhir-akhir ini untuk menenangkan Zack.


"Dokter Rosa menyarankan untuk mu agar melakukan operasi caesar karena ini persalinan pertama mu, kamu mungkin akan kesusahan saat melahirkan bayi kembar kita." Zack mengulangi perkataan yang di ucapkan Dokter Rosa saat mereka melakukan kontrol kehamilan Alanna bulan lalu.


"Aku ingin melahirkan normal karena ingin merasakan dan melihat mereka yang berjuang untuk lahir ke dunia ini, bayi-bayi kita akan jadi anak yang tangguh karena berhasil melewati masa sulit persalinan. Aku pun akan menjadi seorang Ibu yang bangga karena bisa berjuang melewati sakit dan susahnya sebuah proses persalinan." Alanna menjelaskan.


Zack menggenggam erat kedua tangan Alanna. "Mas akan di sana untuk menemanimu, walaupun hanya itu yang bisa mas lakukan."


"Itu sudah lebih dari cukup, kehadiran mas Zack sudah sangat membantu ku melewati masa persalinan nanti." Alanna tersenyum senang, balik memegang erat tangan Zack.


"Tidurlah, kamu harus istirahat yang cukup jika ingin menghadiri acara resepsi pernikahan Johan dan Sinta malam ini."


"Iya mas, aku juga mulai merasakan ngantuk."

__ADS_1


"Tidurlah, mas akan terus di sini sampai kamu terbangun." Ucap Zack kembali, tidak lama kelopak mata Alanna menutup seiring rasa kantuk yang datang.


__ADS_2