Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 29


__ADS_3

"Kenapa kalian pulang begitu cepat ?" tanya mama Rani terkejut melihat mereka telah tiba di rumah.


"Saya hanya bisa libur dua hari ma ?" Jawab Zack duduk di sofa ruang keluarga di susul Alanna di samping nya. "Banyak kerjaan yang akan menumpuk jika saya libur terlalu lama."


"Kan ada Johan yang bisa menghendel untuk sementara selama kau tidak masuk." Kata mama Rani masih protes tidak suka.


"Tidak semuanya Johan bisa hendelndel, ada saatnya saya yang harus turun tangan sendiri." Zack berusaha menenangkan mama Rani.


"Tapi kenyataannya Johan bisa mengurus perusahaan menggantikan mu selama kau sakit akibat kecelakaan mobil yang membuat kau terluka berat dan mariana -."


"Mama sudah lah tidak usah di ribut kan lagi toh mereka sudah ada di sini." Papa Arian tiba-tiba memotong perkataan mama Rani, menengahi perdebatan istri dan anaknya.


Alanna hanya bisa menjadi pendengar saja, tidak berani untuk bersuara karena dia anggota baru di keluarga ini, tapi Alanna terusik dengan nama wanita yang sempat keluar dari mulut mama Rani sebelum papa Arian memotong pembicaraan nya dan yang paling membuat Alanna penasaran adalah raut wajah Zack saat nama itu di sebut, juga rasa bersalah di wajah mama Rani. Siapa sebenarnya Mariana dalam hati Alanna bertanya tapi tidak berani untuk dia ucapkan.


"Saya naik ke atas dulu ma, pa, capek ingin istirahat." Kata Zack datar yang di balas anggukan kepala oleh mama Rani dan papa Arian. "Alanna tolong siap kan air hangat untuk ku mandi." Zack berkata pada Alanna sebelum bangkit berdiri menuju kamar mereka.


"Iya mas." Jawab Alanna singkat. "Alanna naik dulu ma, pa." Pamit Alanna kemudian menyusul Zack untuk naik.


Saat masuk di dalam kamar Alanna melihat Zack berbaring telentang di tempat tidur sambil memijat kening nya.


"Mas masih mau saya sediakan air hangat untuk mandi ?" tanya Alanna ragu-ragu.


"Iya, saya ingin berendam sebentar."


Alanna bergerak menuju kamar mandi setelah mendengar permintaan Zack. Di kamar mandi saat menyediakan air hangat untuk Zack, Alanna berpikir di mana pernah mendengar nama Mariana kemudian teringat kalau nama itu pernah muncul saat dirinya mendengar pembicaraan Zack bersama wanita bernama Maya saat masih di Surabaya lalu. Sebenarnya siapa Mariana ? apa hubungan Zack dengan wanita itu ? dalam hati nya bertanya masih bercongkok di depan bathub yang sudah terisi air hangat.


"Air hangat nya sudah ada ?" tanya Zack tiba-tiba dari belakang mengagetkan Alanna dari lamunannya.


Terkejut dengan suara Zack yang tiba-tiba membuat Alanna refleks berdiri berbalik dan kehilangan keseimbangan dan akan terjatuh ke belakang, melihat nya refleks Zack maju mengulurkan tangannya memeluk Alanna mencegah Alanna untuk terjatuh tapi tidak bisa, membuat mereka jatuh terduduk bersama di dalam bathub dengan Zack yang di bawah melindungi Alanna dari benturan.


"Astaga !! mas tidak apa-apa ?" tanya Alanna panik bangkit berpindah dari pangkuan Zack. "Mas ada yang sakit ? maaf ya mas." Alanna berkata dengan raut wajah menyesal mengangkat kedua lengan Zack untuk melihat apa ada yang terluka.


Zack menarik lengan nya. "Tidak apa-apa Alanna, tidak ada yang luka." Zack menenangkan Alanna yang panik. "seharusnya saya yang minta maaf karena sudah mengagetkan mu dan sepertinya bukan hanya saya yang harus mandi." Zack berkata dan tatapan nya berhenti pada tubuh bagian atas Alanna.

__ADS_1


Mendengar perkataan Zack menyadarkan Alanna akan dirinya yang telah basah. Mengikuti Arah tatapan Zack ke tubuhnya, di karena bahan baju nya yang tipis walaupun tidak menerawang membuat bentuk dada Alanna yang padat berisi terlihat jelas. Malu, Alanna pun segera bangkit berdiri keluar dari bathub dan berlari kecil keluar kamar mandi.


"Sebaiknya kau ganti dulu pakaianmu, jika tidak kau akan membasahi lantai kamar !" kata Zack sedikit berteriak sebelum Alanna menghilang ke balik pintu, menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah Alanna yang lucu di matanya.


Saat selesai mandi berendam Zack muncul di kamar sudah mengenakan baju tidur tapi masih terdapat handuk kecil di bahu nya karena rambut yang masih basah sehabis keramas.


"ku kira kau sudah tidur." Kata Zack saat melihat Alanna masih duduk di tempat tidur bersandar sambil memegang handphone nya.


"Belum mas, belum mengantuk. Jadi tadi saya menelpon Ibu."


"Jadi bagaimana kabar Ibu ?"


"Baik mas."


Zack menggantung handuk kecil yang di pakai nya di sandaran sofa yang berada dekat tempat tidur dan berjalan menuju tempat tidur menyusul Alanna masuk ke dalam selimut berbaring menyamping menghadap ke arah Alanna yang masih duduk bersandar. "Kalau baik kenapa wajah mu begitu ? seperti ada masalah." Zack berkata.


"Ibu hanya berkata akhir-akhir ini dia sering susah bernafas kalau terlalu capek." Jawab Alanna dengan raut wajah muram.


"Dia masih menjalankan usaha catering nya ?"


"Kalau saran mas, lebih baik Ibu istirahat saja tidak usah terlalu capek menerima catering. Nanti mas transfer uang untuk biaya hidup Ibu."


"Saya juga sudah bilang ke Ibu, tidak usah memaksakan diri."


"Lalu apa katanya ?" Zack bertanya penasaran.


"Katanya dia bosan kalau tidak ada pekerjaan."


"Kalau begitu, biarlah dia menerima pesanan catering tapi terbatas supaya dia tidak terlalu capek."


"Baiklah mas, akan saya katakan begitu saat menelpon Ibu lagi."


"Istirahat lah, besok kita harus masuk kerja." Zack berkata kemudian mematikan lampu kamar tidur.

__ADS_1


"Iya mas." Alanna kemudian berbaring. Ini malam ke dua Alanna tidur dengan Zack di sebelah nya, berbeda saat malam pertama mereka tidur di kamar yang jarang Zack gunakan tidak seperti sekarang, Alanna tidur d tempat tidur yang Zack gunakan tiap hari, aroma tubuh Zack bercampur aroma parfum tercium oleh Alanna membuat perasaan nya campur aduk tidak bisa tertidur.


"Kau sudah tidur Alanna ?" tanya Zack tiba-tiba mengagetkan Alanna lagi dan untungnya dia sedang berbaring. "Saya mengagetkan mu lagi ya ?" tanya Zack karena merasakan gerakan tiba-tiba Alanna saat dirinya bersuara dalam gelap kamar.


"Sedikit mas." Alanna mengakui.


"Seperti nya akhir-akhir ini kau sering melamun."


"Hanya perasaan mas saja." Alanna berbohong mengelak. "Kenapa mas ? Ada yang ingin mas bicarakan ?" tambah Alanna mengalikan pembicara.


"Mas hanya mau tanya besok pagi kau mau ikut saya atau di antar pak Risno ke hotel ?" tanya Zack.


"Di antar pak Risno saja mas."


"Baiklah, tidur lah Alanna."


Alanna belum memejamkan mata nya untuk tidur saat terakhir Zack berkata menyuruh untuk tidur, entah kenapa rasa mengantuk belum juga datang. Memutuskan ingin minum dan turun ke bawah, Alanna bergerak pelan saat turun tidak ingin membangun kan Zack yang sudah tertidur.


Saat ingin melewati kamar mama Rani dan papa Arian Alanna melihat pintu kamar yang tidak tertutup rapat dan cahaya lampu dari dalam kamar yang menandakan mereka belum tertidur. Alanna berjalan pelan tidak ingin menarik perhatian mereka dan saat lewat tanpa sengaja mendengar percakapan mereka yang menarik perhatian Alanna.


"Tidak seharusnya mama berkata seperti itu pada Zack, setelah apa yang telah dia rasakan dan lewati." Kata papa Arian menegur mama Rani


"Iya, mama tahu mama salah tapi kan mama tidak sengaja berkata seperti itu."


"Kau tahu sendiri bagaimana perasaan Zack karena Mariana."


"Iya pa, mama tahu, mama sebagai orang tua nya mana mungkin tidak tahu bagaimana perasaan anak kita." Kata mama Rani. "Apa Zack sudah menceritakan masalah ini pada Alanna ?"


"Zack belum menceritakan masalah ini pada Alanna jadi kita tidak berhak bercerita jika Zack saja belum menceritakan hal ini pada istri nya."


Mendengar perkataan papa Arian membuat Alanna makin penasaran.


"Ya sudah, tidak usah lagi membahas dan menyebut nama wanita itu. lebih baik kita tidur saja." Kata papa Arian.

__ADS_1


Alanna pun melangkah pelan menjauh dari sana saat mendengar suara langkah yang mendekat ke arah pintu kamar karena tidak ingin di tahu orang tua Zack bahwa dirinya mendengar pembicaraan mereka.


__ADS_2