
Keluar dari Pintu utama bandara internasional Juanda mereka langsung di hampiri seorang pria memakai kemeja putih dan berjas hitam.
"Selamat datang Tuan, aku supir baru anda." Pria itu memperkenalkan dirinya.
"Siapa nama mu ?" Zack bertanya.
"Namaku Ramli, Tuan." Jawab pria.
Alanna melihat pria itu kurang lebih seumuran dengan Zack.
"Mana mobilnya ?"
"Tuan bisa ikuti aku." Ucap Ramli, berjalan lebih dulu di ikuti Zack dan Alanna dari belakang.
Mereka sampai di sebuah mobil mewah berwarna hitam, Ramli membukakan pintu penumpang mempersilahkan mereka masuk.
Zack membiarkan Alanna masuk lebih dulu baru kemudian dirinya.
Setelah mereka masuk, Ramli kemudian membuka pintu pengemudi dan masuk ke dalam mobil.
"Kita langsung ke hotel Tuan ?" tanya Ramli sebelum menghidupkan mobil.
"Iya, kita langsung ke hotel." Jawab Zack.
"Baik Tuan." Kata Ramli patuh sebelum menjalankan mobil keluar dari area parkiran menuju jalan raya.
"Ini mobil yang mas Zack sewa seperti saat terakhir kita ke Surabaya ?" Alanna bertanya.
"Tidak, mobil ini baru sayang. Mas membelinya sebelum kita ke sini agar lebih mempermudah kita selama di sini " Zack menjawab sambil mencubit pelan pipi Alanna.
Alanna mengusap pipinya yang habis Zack cubit walaupun tidak sakit sama sekali.
"Kenapa mas membeli mobil ? Aku rasa terlalu boros kalau membeli mobil hanya untuk di gunakan di sini."
"Mas pikir karena kita pasti akan lebih sering ke sini jadi akan susah juga jika kita tidak membeli mobil."
Malas membahasnya lebih lanjut, protes pun percuma karena mas Zack sudah membelinya dalam hati Alanna berkata.
"Dari hotel mas Zack langsung mengantar ku ke rumah ?" tanya Alanna.
"Kamu istirahat sebentar dulu sayang baru mas antar ke rumah."
"Baik mas."
Perjalanan ke hotel tidak memakan waktu banyak karena keadaan jalan raya yang tidak terlalu padat.
Mobil memasuki area hotel, tulisan besar yang terdapat di taman depan hotel mencuri perhatian Alanna.
"Ibrahim hotel." Alanna membaca tulisan itu.
Zack menoleh mendengar perkataan Alanna, mengikuti arah pandangannya.
"Aku sudah mengganti nama hotel ini." Zack menjelaskan sebelum Alanna bertanya.
__ADS_1
"Hmmm begitu." Gumam Alanna.
Mobil berhenti di depan pintu masuk, terlihat beberapa orang berdiri di depan pintu masuk yang sepertinya telah menunggu kedatangan mereka.
Ramli turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk mereka.
Zack turun lebih dulu dari dalam mobil kemudian membantu Alanna. Mereka berjalan mendekati beberapa orang yang telah berdiri menunggu mereka.
"Selamat datang Tuan Zack." Sapa pria setengah baya menyapa mereka dengan senyum ramah yang seingat Alanna adalah General Manager hotel ini.
"Kalian terlalu formal menyambutku." Kata Zack menatap bergantian beberapa pria yang juga ikut menyambut mereka.
"Maaf kalau anda merasa tidak nyaman." Ucap suara pria yang tidak begitu asing di pendengaran Alanna.
Alanna menoleh ke arah suara itu yang ternyata Pak Irfan, atasannya dulu saat dia bekerja di hotel ini sebagai pelayan.
Alanna tersenyum ramah menatap Irfan yang juga di balas senyum ramah dari Irfan.
Timbul perasaan tidak senang Zack melihat interaksi keduanya membuat moodnya yang tadi bagus langsung menghilang.
"Kami akan langsung ke kamar, istriku perlu istirahat." Kata Zack dengan nada datar.
"Baiklah Tuan Zack, aku akan mengantar anda ke kamar anda." Pak General Manager menawarkan diri.
"Tidak perlu, aku tahu tempatnya kalian kembali saja ke pekerjaan kalian masing-masing." Tolak Zack tegas.
"Baik Tuan." Jawab mereka bersamaan terkecuali General Manager.
Dengan posesif Zack meletakkan telapak tangannya di belakang panggung Alanna, berjalan berdampingan melewati para pria yang hanya bisa menatap heran dengan sifat Zack yang tiba-tiba dingin pada mereka.
Mereka berjalan menuju arah paviliun kamar nomor dua, kamar yang hanya bisa di gunakan oleh Zack.
Zack membuka pintu dan membiarkan Alanna masuk ke kamar lebih dulu. Keadaan kamar masih sama seperti keadaan terakhir Alanna masuki.
Kejadian malam itu terngiang kembali dalam ingatan Alanna membuatnya terasa tidak nyaman.
Zack menutup pintu di belakangnya, melihat Alanna yang masih berdiri di tempatnya, tidak bergerak masuk ke dalam.
"Ada apa sayang ? ada yang salah ?" Zack bertanya dengan nada khawatir.
"Tidak ada yang salah mas, aku hanya teringat kembali kejadian saat itu." Alanna tersenyum masam.
Zack merasa bersalah mendengar perkataan Alanna, menarik Alanna ke dalam pelukannya memeluknya dengan erat.
"Mas tidak tahu kalau kau masih trauma dengan kejadian itu, kalau kamu tidak nyaman lebih baik kita pindah ke ruangan lain saja." Ucap Zack dengan nada bersalah, mengusap lembut punggung Alanna menenangkannya.
"Tidak usah mas."
"Kau yakin ?"
"Iya mas, aku yakin."
Zack melepaskan pelukannya, menatap wajah Alanna dengan raut wajah serius.
__ADS_1
"Kalau begitu kita duduk dulu." Zack menarik Alanna duduk di sofa. "Lebih baik kamu minum sesuatu, kamu ingin minum apa ?"
"Air putih saja mas."
Zack berjalan menuju lemari es, membukanya dan mengambil sebotol air mineral dingin.
Zack memberikan air minum yang langsung di ambil oleh Alanna. Alanna meneguk air hingga tersisa setengahnya.
"Bagaimana perasaan mu ?"
"Sudah mendingan mas, mas Zack tidak usah terlalu khawatir." Alanna tersenyum, sedikit merasa kasihan melihat wajah bersalah dan khawatir di wajah Zack.
"Syukurlah." Zack bernafas lega, ikut duduk di samping Alanna.
"Mas Zack." Alanna meminta perhatian Zack.
"Ya ?"
"Bagaimana kita memberitahu kan Ibu ?"
"Biar mas saja yang bercerita, kamu cukup diam saja. Mas akan menceritakan semuanya." Zack menggenggam erat tangan Alanna. "Sayang ada yang ingin mas tanyakan, tolong kamu jawab dengan jujur."
Alanna memperhatikan wajah serius Zack. "Apa itu mas ?"
"Kamu sudah menceritakan semua kejadian malam itu kepada Ibumu ?"
Alanna mengangguk kepala. "Iya mas, Ibu melihat keadaan ku malam itu saat aku pulang."
"Kamu menceriakan semua kejadiannya ? kamu menceritakan bahwa aku yang menyentuh mu malam itu ?"
"Tidak mas, aku tidak menceritakan masalah itu. Ibu belum mengetahuinya." Alanna mengakui.
Zack mengerutkan kening mendengar penjelasan dari Alanna. "Kenapa kamu tidak menceritakan hal itu ?"
"Saat itu aku belum siap untuk menceritakan, aku masih butuh waktu dan karena kepindahan ku yang tiba-tiba ke Jakarta membuat ku lupa untuk menceritakan pada Ibu lagipula Ibu juga tidak memaksa ku untuk bercerita jika aku belum siap." Alanna menjelaskan.
"Jadi begitu ceritanya." Gumam Zack mengerti.
"Jadi mas tetap akan menceritakan nya ?"
"Iya, mas akan menceritakan semuanya. Kita tidak bisa menghindari masalah ini terus-menerus sayang."
"Bagaimana jika Ibu marah ?" Alanna berkata khawatir.
"Semua orang tua pasti akan marah jika mereka berada di posisi Ibumu sayang, orang tua mana yang mau anaknya di perlakukan seperti itu ? dan mas memaklumi jika Ibumu marah padaku. Mas akan terima semua itu dan akan meminta maaf pada Ibumu." Zack tersenyum lembut.
-
-
-
-
__ADS_1
maaf 🙏 jika akhir-akhir ini author lambat update, author sedikit sibuk dan mentok ide 🤦 untuk berkreasi 😅😅.