
Pintu lift terbuka saat berhenti di lantai ruang kerja Alanna. Alanna bergerak hendak keluar tapi terhenti karena Zack yang memegang lengannya.
"Saya lupa memberi tahu mu kalau siang ini saya akan makan siang di luar, kau pulang makan siang di rumah saja." Zack memberi tahu.
"Iya mas." Alanna kemudian keluar dari lift.
Johan menekan tombol naik dan pintu lift pun tertutup. Alanna berjalan menuju ruangannya, berpapasan dengan Pak Ariel yang baru keluar dari ruang kerjanya.
"Sudah masuk kerja Alanna ?" tanya Pak Ariel.
"Iya Pak."
"Bagaimana keadaan Ibumu ?"
"Sudah sehat Pak Ariel, terimakasih." Jawab Alanna. "Dari mana Pak Ariel tahu saya cuti karena Ibuku sakit ?" tanya Alanna penasaran.
"Dari Pak Johan, dia yang memberi tahu." Jawab Pak Ariel.
"Oh..... begitu." Alanna menyahut mengerti.
"Saya dari kemarin penasaran, kenapa Pak Johan duluan tahu kalau kau tidak bisa masuk kerja karena Ibumu sakit dan memberi tahu ku. Memangnya kau menghubungi langsung Pak Johan ? bahkan pak Johan berkata sudah mengurus cutimu saat saya ingin memberi tahu bagian staf HC untuk memberi tahu dan meminta cutimu."
Alanna bingung harus menjelaskan bagaimana. "Keluargaku yang menghubungi Pak Johan untuk memberi tahu, meminta untuk mengurus cuti untukku." Alanna menjelaskan secara gamblang.
Perkataan Alanna membuat Pak Ariel semakin penasaran. "Keluarga mu yang mana ? keluargamu dekat dengan Pak Johan ?"
Alanna semakin bingung menjelaskan pada Pak Ariel, ingin langsung memberitahu kalau Zack adalah suaminya tapi mungkin Pak Ariel tidak percaya.
"Suamiku dekat dengan Pak Johan." Jawab Alanna, menjelaskan pelan-pelan.
"Wah ! kau sudah menikah !" Kata Pak Ariel terkejut mendengar perkataan Alanna.
"Iya Pak." Alanna menegaskan kembali.
"Kapan kau menikah ?" tanya Pak Ariel semakin penasaran.
"Belum lama Pak, saya menikah saat satu minggu bekerja di sini." Alanna menjelaskan, semakin tidak nyaman dengan rasa penasaran Pak Ariel dengan kehidupan pribadinya.
Pak Ariel bingung dengan perkataan Alanna. "Bukankah kemarin saat saya memperkenalkan mu dengan Rudy kau bilang belum punya pacar ?"
"Iya memang, Pak Ariel kan tanya apakah saya punya pacar atau belum jadi saya jawab jujur kalau saya tidak punya pacar." Alanna membela diri dengan perkataannya yang lalu. "Kalau Pak Ariel bertanya apakah saya sudah menikah pasti akan saya jawab sudah. Dan lagi saat itu saya bilang kalau saat ini tidak bisa untuk berpacaran." Alanna menambahkan.
Pak Ariel mengingat percakapan mereka saat itu. "Betul juga perkataan mu." Kata Pak Ariel mengakui.
"Kalau begitu saya ke ruangan ku dulu Pak."
"Eh ! tunggu dulu." Pak Ariel mencegat Alanna.
untuk pergi.
"Kenapa Pak Ariel ?" tanya Alanna, berusaha bersikap sabar terhadap sifat Pak Ariel pagi ini yang sangat ingin tahu.
__ADS_1
"Suamimu bekerja di hotel ini sampai bisa dekat dengan Pak Johan ?"
"Iya, suamiku bekerja di sini juga."
"Dia bekerja di bagian apa ? Siapa namanya ? mungkin saya tahu."
Mendengar pertanyaan Pak Ariel membuat Alanna bingung ingin menjawab apa. "Pak Ariel pasti kenal dengan suamiku."
"Siapa namanya ?" tanya Pak Ariel semakin penasaran.
"Zack Ibrahim." Jawab Alanna akhirnya, penasaran dengan reaksi Pak Ariel dengan jawabannya.
"Kenapa nama suamimu sama dengan nama Bos kita ?" Pak Ariel bertanya, reaksi yang tidak di duga Alanna. Pak Ariel pagi ini selain sangat penasaran dengan urusan orang juga sedikit lambat mengerti dengan keadaan yang Alanna jelaskan.
Alanna mulai sedikit kehilangan kesabaran. "Pak Ariel di hotel kita ini nama Zack Ibrahim ada berapa ?"
"Hanya satu lah, hanya nama Bos kita." Jawab Pak Ariel, kemudian terkekeh geli berpikir Alanna bercanda. "Bos kita memang tampan dan kaya tapi jangan terlalu berkhayal Alanna. Kau ini bercandanya keterlaluan. Sudah sana ! pergi kerja." Kata pak Ariel sambil menggeleng-geleng kan kepala berlalu pergi.
Alanna hanya berdiri di tempatnya menatap Pak Ariel yang menjauh. "Pak Ariel saja tidak percaya dan berpikir tidak mungkin saya menikah dengan mas Zack, sebegitu tidak pantas kah saya dengan mas Zack ?" Gumam Alanna sedih, merasa tidak percaya diri.
Karena cuti membuat pekerjaan Alanna sedikit menumpuk, berkonsentrasi bekerja membuatnya melupakan rasa sedih yang dia rasakan. Saat sibuk-sibuknya bekerja tiba-tiba rasa mual kembali menyerangnya. Bergegas menuju toilet wanita yang ada di lantai ruangannya, langsung masuk ke bilik toilet dan menguncinya.
"Hooek....! Hooek..... !" Alanna memuntahkan semua sarapan paginya di kloset. "Hooek...! Hooek....!." Rasa mualnya belum hilang.
Lima menit kemudian barulah perasaan Alanna membaik, berdiri mengambil tisu untuk membersihkan mulut nya dan menyiram bekas muntahannya di kloset. Saat bergerak hendak membuka pintu, Alanna mendengar suara beberapa wanita masuk ke dalam toilet. Tangannya terhenti mendorong pintu bilik toilet saat mendengar percakapan beberapa wanita yang Alanna perkirakan sedang berkaca di depan meja wastafel.
"Saya pun kaget saat melihatnya dengan kepala room section baru itu." Suara salah satu wanita.
"Kau tidak melihat bagaimana sikap Bos kita saat berjalan dengan wanita itu, sangat posesif membuatku iri." Suara wanita lain.
Alanna senang dan tanpa sadar tersenyum mendengar perkataan terakhir wanita yang sedang berbicara itu.
"Mereka ada hubungan apa ya ?" Kata wanita pertama yang berbicara, ternyata mereka hanya bertiga.
"Entahlah, belum ada berita dan kabar yang tersebar di hotel tentang hubungan mereka."
"Mungkin mereka baru berpacaran." Pendapat salah satu wanita itu.
"Kalian tahu tidak kalau dari awal wanita itu bekerja di hotel ini sudah di antar jemput oleh Pak Risno, sopir pribadi Bos kita."
"Saya juga pernah melihatnya di jemput Pak Risno saat pulang kerja."
"Mungkin mereka sudah berhubungan dari sebelum pindah ke sini."
Alanna hanya mendengar dan takut untuk membuat suara yang membuat mereka menghentikan pembicaraan mereka.
"Apa mungkin dia pindah ke sini dan menjadi kepala room section karena pengaruh dan perintah dari Bos kita ?" tanya salah satu wanita.
"Mungkin saja, rugikan punya pacar yang mempunyai banyak hotel tapi tidak bisa di manfaatkan untuk bekerja dan mendapat salah satu jabatan tinggi." Kata salah satu wanita itu dengan nada mencemooh dan di balas kekehan geli wanita yang lain.
"Jadi penasaran bagaimana sampai Bos kita bisa memiliki hubungan dengan wanita itu." Kata wanita yang lain.
__ADS_1
"Iya, saya juga jadi penasaran." Sambung wanita yang lainnya.
"Kalian sudah selesai ? kita masih harus menyelesaikan tugas kita sebelum waktu makan siang."
"Sudah."
"Saya juga sudah."
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu yang terbuka menandakan mereka telah keluar.
Setelah yakin sudah tidak ada orang barulah Alanna keluar dari bilik WC, berjalan ke meja wastafel untuk mencuci tangan dan wajahnya. Menatap pantulan wajahnya di cermin yang pucat sehabis muntah dan seketika air mata keluar dari sudut matanya. Terngiang kembali di ingatannya perkataan terakhir mereka tentang dirinya membuat air matanya semakin mengalir deras.
Alanna sudah menduga hal seperti ini pasti terjadi, pasti banyak yang berpikir jelek akan dirinya. Mereka hanya seenaknya berkomentar tanpa mengetahui perasaan sebenarnya yang harus di alami Alanna. Menikahi pria yang dicintainya tapi tidak ingin mencintai dirinya, perasaan cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan.
Entah karena perasaan sedih, stress dan lemas karena habis memuntahkan semua isi perutnya membuat kepala Alanna terasa sakit, penglihatan Alanna tiba-tiba menjadi gelap dan dirinya jatuh tidak sadarkan diri.
Di tempat lain, Zack sedang melakukan pertemuan bisnis di sebuah restoran di ruangan tertutup. Di tengah diskusi mereka Johan permisi berdiri berjalan menuju sudut ruangan untuk mengangkat teleponnya. Tidak lama berjalan mendekat ke arah Zack dan berbisik.
"Sekretaris Yanti yang anda suruh mengawasi Alanna diam-diam menelpon, memberitahu kalau Alanna di dapati pingsan di toilet wanita."
"Apa !!" Zack terkejut menoleh ke arah Johan. "Kenapa bisa ?" Zack berkata pamit.
"Sekretaris Yanti juga tidak tahu tuan, Nona Alanna di temukan staf hotel wanita sudah pingsan dan hanya sendiri di toilet wanita." Johan menjelaskan.
"Kita pergi sekarang !." Zack berdiri.
"Ada masalah apa Pak Zack ?" tanya rekan bisnis Zack, bingung dengan keadaan Zack yang terlihat panik dan hendak pergi.
Zack menoleh dan tersadar kalau di depannya masih ada rekan bisnisnya yang sedang duduk.
"Maaf, saya panik dan melupakan anda." Zack berkata. "Saya harus pergi sekarang, istriku di dapati pingsan di toilet."
"Silahkan, nanti kita bisa lanjutkan kembali." Kata rekan bisnis Zack, memaklumi rasa panik yang di rasakan Zack dan sedikit heran mengetahui Zack ternyata telah menikah.
"Saya akan menghubungi anda kembali." Kata Zack sebelum berjalan cepat keluar ruangan. " "Johan, di mana sekarang Alanna ?" tanya Zack berjalan menuju mobil yang terparkir.
"Sekretaris Yanti menempatkan Alanna di suite room hotel tempat anda biasa istirahat." Jawab Johan mengimbangi langkah kaki Zack yang cepat.
"Cepat, kita kembali ke hotel." Kata Zack membuka pintu mobil.
"Baik tuan." Ucap Johan.
-
-
-
-
-
__ADS_1
...|| dukungan kalian memberi semangat kepada author dengan cara like, coment, vote terimakasih ☺️☺️||...