
"Johan pesan kan aku tiket pesawat ke Jakarta untuk penerbangan sekarang." Perintah Zack saat selesai menelepon mama Rani.
"Kalau Alanna tidak ke rumah lalu ke mana ?" tanya Sinta yang juga mulai panik.
"Mungkin dia ada di apartemennya." Jawab Zack.
"Lalu bagaimana dengan aku ?" Sinta bertanya kembali.
"Kau akan pulang dengan Johan besok sore dengan pesawat kita. Johan masih harus menyelesaikan masalah pekerjaan di sini sebelum balik ke Jakarta."
"Sudah Tuan, pesawat anda berangkat setengah jam kemudian jadi lebih baik anda pergi sekarang."
"Baiklah." Zack berdiri. "Johan antar aku, untuk Pekerjaan besok kau selesai kan terlebih dahulu sebelum balik ke Jakarta besok dengan Sinta." Perintah Zack.
"Baik Tuan."
Penerbangan ke Jakarta berjalan mulus. Begitu tiba, Zack langsung memesan taksi menuju alamat apartemen Alanna. Begitu sampai Zack langsung naik ke lantai apartemen Alanna. Zack tidak lagi mengetuk pintu langsung menekan tombol angka kode pintu kemudian masuk. Ruangan tampak gelap, Zack menjadi ragu Alanna ada di dalam tapi tampak cahaya lampu dari celah pintu kamar membuat dugaan Zack benar.
Zack berjalan ke pintu kamar Alanna, mendorong kenop pintu pelan dan masuk. Zack melihat Alanna duduk di tempat tidur, memeluk kedua lutut menyembunyikan wajahnya. Zack mendengar suara tangisan Alanna dan berjalan mendekat.
"Sayang." Zack memanggil dengan lembut.
Alanna terkejut mendengar suara Zack, langsung mengangkat wajahnya. "Kenapa mas Zack bisa ada di sini ?" Alanna berkata bingung.
Zack mengamati wajah Alanna, matanya merah dan sembab karena menangis. Ujung hidungnya juga memerah. Zack sungguh merasa bersalah dan ingin langsung memeluk erat tubuh kecil Alanna tapi dirinya tahu itu tidak mungkin. Alanna saat ini pasti membencinya.
"Kenapa mas bisa ada di sini ?" Alanna kembali mengulang perkataannya karena Zack yang hanya diam tidak bersuara.
"Aku menyusul mu pulang karena kau tidak kembali ke rumah." Jawab Zack lembut.
"Aku tidak ke rumah karena ingin menenangkan diri, tidak ingin bertemu dengan mas Zack." Jawab Alanna memalingkan wajahnya. "Lebih baik mas Zack pulang saja."
"Aku akan pulang dengan mu." Zack menekankan.
"Kalau begitu mas akan kecewa karena aku tidak akan ikut." Alanna berkata tegas.
__ADS_1
"Kau harus pulang Alanna !" Zack mulai emosi.
"Tidak mas !"
Zack mendekati Alanna, menarik tangannya membuat Alanna terpaksa turun dari tempat tidur.
"Lepaskan tanganku mas !" Alanna berusaha melepaskan cengkraman Zack dari tangannya. "Mas tidak bisa memaksaku seperti ini."
"Mas punya hak dan bisa karena aku adalah suami mu."
Alanna berhenti berusaha melepaskan tangannya karena percuma, cengkraman tangan Zack sangat kuat. "Aku akan pulang tapi belum sekarang. Tolong biarkan aku sendiri dulu." Alanna mulai menangis tersedu-sedu. Frustasi dengan segala keadaan yang terjadi pada dirinya.
Zack berhenti menarik tangan Alanna, menoleh menatapnya. "Lebih baik kau berteriak atau memukul ku untuk mengeluarkan emosi mu dari pada kau menjauh seperti ini." Ucap Zack mengusap air mata yang mengalir di pipi Alanna.
Alanna memalingkan wajahnya tidak ingin Zack menyentuhnya.
"Sakit hati dan malu bercampur menjadi satu karena kejadian itu, perasaan di hina sebagai wanita murahan sekarang sudah sering saya rasakan sejak mengenal mas Zack."
Zack terkejut mendengar perkataan Alanna. "Apa maksud perkataan mu, selain kejadian ini ada kejadian lain yang sama terjadi ? di mana dan kapan ?" Zack menuntut jawaban.
"Tapi kau tidak bisa membiarkan saja mereka berbicara seperti itu tentang mu."
"Bukannya mas Zack sendiri yang mengatakan, tidak usah pedulikan orang lain berbicara ?"
"Iya tapi kalau sampai menghina dirimu mas tidak bisa tinggal diam." Ucap Zack tegas. "Kita pulang ke rumah, kita bisa bicarakan ini baik-baik." Bujuk Zack, nada suara Zack mulai melembut.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan di sini mas. Sikap mas padaku malam ini membuatku sadar akan satu hal, mas Zack tidak mengenal diri ku."
"Mas minta maaf tentang kejadian itu. Aku tidak bisa membelamu saat itu karena situasinya memang tidak memungkinkan." Zack menjelaskan.
"Mas Zack bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan dariku." Tuduh Alanna.
"Aku tahu, mas mengaku salah tapi setidaknya kau jangan seperti ini." Zack berkata memasang wajah bersalah. "Johan sudah menceritakan semuanya, dia melihat kejadian sebenarnya." Zack mengaku.
Alanna menoleh menatap Zack. "Johan melihat kejadian sebenarnya ?"
__ADS_1
"Iya, dia menceritakan saat perjalanan pulang walaupun hal itu tidak merubah apa yang sudah terjadi." Ucap Zack dengan nada menyesal.
Alanna hanya terdiam tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Sayang, kita pulang ke rumah, mama khawatir dengan mu." Bujuk Zack kembali.
Mendengar mama Rani yang mengkhawatirkan dirinya membuat Alanna berpikir tidak bisa terus berada di sini.
"Aku akan pulang malam ini tapi hanya sendiri, mas pulang saja lebih dulu." Alanna akhirnya bersuara.
"Kita pulang sama-sama."
"Mas Zack, aku mohon mas mengerti lah dengan keadaanku. Aku belum sepenuhnya memaafkan mas Zack, beri aku sedikit ruang untuk bernapas." Alanna berkata putus asa menghadapi sifat Zack terhadapnya.
Zack menatap Alanna, berpikir dan mengamati situasi mereka. "Baiklah, mas akan pulang sekarang. Kapan kau pulang ?" Zack akhirnya mengalah.
"Secepatnya, aku akan pulang sebelum tengah malam." Janji Alanna.
"Baiklah, kalau begitu mas pergi dulu." Pamit Zack, berbalik berjalan menuju pintu depan.
Alanna kembali berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya kosong mungkin karena lelah untuk berpikir. Lelah memikirkan bagaimana nasibnya ke depan.
Menoleh menatap jam kecil yang berada di samping nakas tempat tidur, waktu menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Memaksakan diri untuk bangun turun dari tempat tidur, mematikan lampu kamar kemudian keluar menutup pintu kamar dari luar.
Alanna tiba di lantai bawah, berjalan keluar menuju pintu depan gedung apartemen. Terkejut melihat Zack yang berdiri bersandar di samping mobil dengan tangan di kedua kantong celananya.
"Mas Zack." Ucap Alanna.
Zack berdiri tegak melihat Alanna yang berdiri tidak jauh darinya. "Mas khawatir sudah tidak ada kendaraan umum saat kau pulang, jadi mas menunggumu." Ucap Zack canggung, menjelaskan sebelum Alanna bertanya maksud dirinya masih di sana.
Alanna menghela napas panjang, tidak tahu harus berkata apa lagi dan memilih untuk berjalan mendekati Zack.
Zack yang melihat Alanna berjalan mendekat langsung memutari mobil, membuka pintu depan samping kursi pengemudi. Alanna kemudian masuk tanpa bersuara atau menatap wajah Zack.
Zack membuka pintu kursi pengemudi dan masuk, menoleh memastikan Alanna memasang sabuk pengaman sebelum menghidupkan mobil keluar dari area apartemen menuju jalan raya.
__ADS_1
Perjalanan pulang ke rumah tidak ada satupun dari mereka yang bersuara. Alanna hanya melamun menatap keluar jendela mobil sedangkan Zack hanya bisa menoleh menatap Alanna sekali-kali karena sedang mengemudikan mobil.