
"Mas Zack, aku sedang tidak bercanda." Ucap Alanna ketus.
"Memangnya aku sedang bercanda, hal seperti ini bukan sesuatu yang bisa di bawa bercanda sayang."
"Aku bukan istrimu, mungkin dulu iya tapi sekarang tidak lagi dan mas Zack juga tahu hal itu." Ucap Alanna tegas. "Lebih baik mas Zack katakan ada hal apa sampai memanggilku seperti ini."
Zack memasang wajah serius, menjauh dari Alanna berjalan menuju meja kerjanya melipat kedua tangannya di dada sambil bersandar di pinggir meja.
"Kamu mengenal pria yang bernama Mohammad Fasli ?" Zack bertanya.
"Iya, aku kenal karena dia juga bekerja di hotel ini. Kami bertemu beberapa kali." Alanna menjawab walaupun bingung dengan arah pembicaraan Zack yang tiba-tiba berubah.
"Bertemu beberapa kali atau mengantarmu pulang beberapa kali ?" Zack bertanya sambil mengoreksi perkataan Zack.
"Aku belum lama ini mengenalnya dan aku berkata yang sebenarnya, kami baru bertemu beberapa kali." Alanna menjelaskan. "Tunggu dulu, dari mana mas Zack tahu kalau dia mengantarku ?" Alanna menambahkan penuh curiga, setelah menyadari perkataannya Zack.
Zack memilih untuk diam dan tidak menjawab pertanyaan Alanna.
Alanna berjalan mendekati Zack dengan raut wajah curiga. "Mas Zack tidak membuntuti ku bukan ?"
"Kalian punya hubungan apa ?" Zack balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan Alanna.
"Jawab dulu pertanyaan ku mas ?" Alanna menuntut jawaban.
"Kemarin aku tanpa sengaja melihatmu berjalan dengannya, pria itu mengantarmu sampai ke halte bus. Aku sudah menjawab pertanyaan mu jadi kamu harus menjawab pertanyaan ku sekarang." Zack balas menuntut.
"Kami hanya sebatas teman tidak lebih tapi hal itu bukan menjadi urusan mas Zack lagi jika aku ternyata memiliki kekasih."
"Jauhi pria itu, kamu tidak ingin aku memecatnya hanya karena dia mendekati bukan ?" Zack mengancam Alanna.
"Kenapa mas Zack bertindak seperti itu ?" Alanna mulai terbawa emosi.
"Itu hak ku, hotel ini milik ku jadi aku bisa berbuat sesuka hati ku." Ucap Zack arogan.
"Tapi ini bukan profesional namanya mas !"
"Aku tidak peduli, selama itu berhubungan dengan mu."
"Kenapa mas Zack bersikap seperti ini ? mas Zack tidak bisa mengatur hidup ku. Kita bukan pasangan suami istri lagi. ?"
"Siapa yang mengatakan padamu kalau kita bukan sepasang suami istri lagi ?"
"Mas Zack tidak ingat sudah mengirim pada ku berkas pengajuan perceraian dan telah aku tandatangani ?"
"Memang aku mengirim berkas pengajuan permohonan perceraian tapi apa aku pernah mengirim akta cerai padamu ?"
Alanna terkejut mendengar perkataan Zack dan baru tersadar ternyata sampai sekarang akta cerai belum pernah Zack kirim kepada.
"Jadi kita masih berstatus suami istri karena aku tidak pernah memasukan berkas itu ke pengadilan agama jadi secara hukum kamu masih menjadi istriku."
"Mungkin secara hukum kita masih berstatus sebagai suami istri karena belum keluarnya surat cerai tapi mas Zack secara agama kita telah dikatakan bercerai." Alanna masih ngotot dengan pendapatnya.
__ADS_1
"Coba kamu ingat sekali lagi sayang, pernah kah aku mengatakan cerai atau talak padamu ?"
Alanna berpikir beberapa saat sebelum menjawab. "Tidak pernah." Jawabannya dengan berat hati.
"Di agama kita kata cerai yang di keluarkan istri tidak sah kecuali suami yang mengatakannya dan seingat ku dan kamu pun tahu aku tidak pernah mengatakannya.
"Walaupun kita terpisah, aku tetap menafkahi mu secara lahir kecuali batin yang baru aku berikan kemarin malam jadi tidak ada dasar mengapa kita tidak dikatakan sebagai suami istri, aku masih suamimu dan berhak atas dirimu seutuhnya."
Alanna terdiam di tempatnya berdiri, semua kata yang dikeluarkan Zack benar adanya membuat dirinya tidak bisa berkata-kata.
"Aku perlu waktu untuk menerima keadaan ini yang menurut ku sangat tiba-tiba." Alanna akhirnya berbicara beberapa saat kemudian.
"Baiklah, aku akan memberikan waktu untuk mu." Zack mengalah.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin mas Zack katakan, aku kembali bekerja dulu." Alanna hendak berbalik pergi.
"Aku belum selesai bicara." Ucap Zack menghentikan langkah Alanna.
"Apa lagi mas ?" Alanna kembali emosi.
"Kita akan kembali ke Jakarta."
"Aku berencana untuk pulang tapi belum sekarang."
"Kamu akan pulang bersama ku, suka tidak suka kamu harus ikut pulang bersamaku." Zack berkata tegas. "Dan satu hal lagi, lebih baik kamu langsung pulang ke apartemen mu, aku tidak suka kamu bekerja di sini apalagi sebagai pelayan." Tambah masih dengan nada yang sama.
"Tapi mas tidak ingat kalau aku dulu pernah bekerja sebagai pelayan hotel waktu pertama kali kita bertemu ?"
"Tapi itu ketika kamu belum menjadi istriku." Zack menambahkan.
"Tapi mas -." Sahut Alanna protes yang di potong oleh Zack.
"Aku tidak ingin di bantah sayang."
Alanna menghela nafas panjang, dirinya sangat mengenal sifat Zack. Tidak ada gunanya berargumen jika Zack sudah berbicara dengan nada seperti itu.
"Baiklah, aku akan langsung pulang tapi aku harus berganti pakaian terlebih dahulu." Alanna terpaksa mengalah. "Apa yang akan aku katakan jika kepala room section bertanya ?"
"Katakan saja kalau kamu di berhentikan, selebihnya biar mas yang akan mengurusnya."
Alanna mengangguk mengerti sebelum berbalik pergi meninggalkan Zack yang terus menatap punggungnya hingga menghilang di balik pintu.
Seperti dugaan Alanna, dirinya bertemu dengan kepala room section begitu keluar dari berganti pakaian seragam hotel.
Kepala room section mendekati Alanna dengan kening mengerut melihat Alanna yang telah berganti pakaian.
"Kenapa kamu sudah berganti pakaian di saat jam sif siang belum habis ?"
"Aku di panggil Bos kita dan di berhentikan Pak, jadi aku sekarang ingin pulang ?" Jawab Alanna jujur.
"Kenapa bisa ?" tanya kepala room section heran.
__ADS_1
"Dia tidak menyukai aku bekerja di sini sebagai pelayan."
"Maksudnya ?" kepala room section makin bingung.
"Anda bisa menanyakan langsung padanya jika ingin tahu, kalau tidak ada lagi aku pamit dulu." Alanna berbalik pergi tanpa menunggu tanggapan dari kepala room section.
Alanna berjalan melewati lobby menuju pintu depan hotel.
"Alanna !" Suara pria memanggilnya, mengehentikan langkah kakinya. Alanna mengedarkan pandangan mencari asal suara. Terlihat dari jauh Fasli berlari-lari kecil ke arahnya.
"Kamu sudah akan pulang ? bukannya hari ini kamu masih bekerja sif siang ?" tanya Fasli penasaran begitu tiba di hadapan Alanna.
"Aku di berhentikan, mulai hari ini aku tidak bekerja lagi." Jawab Alanna.
Fasli terkejut mendengarnya. "Kenapa bisa ?"
Alanna mengangkat kedua bahunya. "Entahlah." Katanya pasrah, tidak tahu harus memulai dari mana jika ingin memberi penjelasan pada Fasli membuat Alanna memilih untuk diam.
"Siapa yang memecat mu ? General Manager ?"
Alanna menggeleng kepala. "Bukan."
"Lalu siapa ? Manager Room Divisi ?"
Alanna menghela nafas berat, sedikit jengah dengan tuntutan pertanyaan Fasli. "Bos kita langsung, Zack Ibrahim."
Fasli mengerutkan kening bingung. "Kenapa bisa ?"
"Aku juga tidak yakin kenapa, aku pulang dulu kalau tidak ada yang ingin kamu tanyakan."
"Aku antar sampai ke halte bus." Fasli menawarkan.
"Tidak usah lagian ini juga masih sore." Tolak Alanna.
"Tidak apa-apa, aku senang menemani mu."
"Tapi aku yang tidak nyaman."
"Kenapa ? Kamu sudah punya pacar atau orang yang kamu sukai ?" Fasli bertanya, melihat dari sikap Alanna yang menjaga jarak.
"Maaf itu privasi ku tapi aku mohon untuk menjaga jarak dengan ku, aku sedikit tidak nyaman." Alanna memutuskan untuk tinggal menceritakan alasannya.
Fasli terdiam mendengar perkataan Alanna, sedikit terpukul dengan penolakannya.
"Maaf jika aku membuat mu sakit hati, kamu orang yang baik pasti banyak wanita yang akan menyukai mu."
Fasli tersenyum masam. "Tapi kamu tidak termasuk."
"Maaf, aku permisi dulu dan mungkin ini pertemuan terakhir kita." Kata Alanna sebelum melangkah menjauh.
Fasli hanya bisa pasrah melihat Alanna yang berjalan menjauh tanpa bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1