
Perhatian para tamu undangan teralih pada Zack dan Alanna yang melangkah perlahan di tangga turun dari lantai dua.
Zack merasakan kegugupan Alanna yang tanpa sadar memegang erat lengan Zack. "Tidak usah gugup, tersenyum santai saja seperti biasanya." Zack mendekat sedikit pada Alanna, berbisik di telinganya.
"Bukankah acaranya di taman samping rumah ? Kenapa mereka banyak berkumpul di ruang tengah ?" Alanna balas berbisik.
"Yang lain di sini dan sebagian banyak undangan ada di luar." Mereka masih berbisik.
"Oh.. begitu." Alanna menyahut mengerti dan mereka sampai di lantai bawah.
Para tamu penasaran dengan kehadiran Alanna yang turun bersama dengan Zack tapi belum ada yang berani untuk bertanya.
Zack membawa Alanna ke taman tempat utama acara malam ini.
Alanna melihat papa Arian, mama Rani, Sinta juga Johan berkumpul di satu tempat. Mama Rani yang pertama melihat kehadiran mereka dan tersenyum.
"Kamu sangat cantik malam ini, gaun itu memang cocok untukmu." Mama Rani memuji Alanna yang telah bergabung dengan mereka.
"Terimakasih mama." Ucap Alanna tersenyum senang. "Sinta, kamu juga cantik dengan gaun itu." Puji Alanna melihat penampilan Sinta.
"Terimakasih Alanna, sepertinya hanya kamu yang memperhatikan penampilanku malam ini." Sinta berkata ketus melirik kedua orang tuanya dan Johan.
"Kamu selalu cantik nak, makanya kami tidak memujimu lagi." Papa Arian berkata membuat mereka semua terkekeh kecuali Johan yang selalu memasang wajah datar.
Sinta hanya mendengus kesal melipat kedua tangannya di dada mendengar papa Arian menggodanya.
Senyum Alanna memudar ketika tanpa sengaja melihat Nurhaliza yang berdiri tidak jauh dari mereka sedang menatap ke arahnya.
Zack melihat wajah Alanna yang berubah muram. "Kenapa sayang ? ada masalah ?" Zack bertanya dengan nada pelan pada Alanna.
"Nurhaliza berdiri tidak jauh dari kita dan sedang menatap pada ku." Jawab Alanna pelan agar tidak di dengar oleh yang lain.
Zack mengedarkan pandangannya dan menemukan orang yang di maksud Alanna. "Tidak usah kamu pedulikan, jangan karena dia sampai merusak kesenangan malam ini."
Alanna mengangguk mengerti. "Aku mengerti mas."
"Bagus, itu baru istriku." Zack tersenyum lembut.
__ADS_1
"Sepertinya semua tamu undangan sudah hadir." Kata papa Arian sambil melihat sekeliling.
"Iya, lebih baik kamu mulai saja membuka acaranya." Mama Rani berkata pada Zack.
"Baiklah ma." Zack berkata setuju kemudian berjalan ke meja makanan untuk mengambil segelas mocktail dan satu sendok. "Aku mohon perhatian dari kalian." Zack mengetuk gelas yang di pegang nya dengan sendok meminta perhatian para tamu undangan.
Perhatian para tamu undangan teralih saat mendengar suara Zack dan dentingan sendok.
"Saya mewakili keluarga Ibrahim mengucapkan terimakasih atas kehadiran kalian di kediaman kami malam ini." Zack berkata dengan senyum ramah.
"Seperti yang kalian tahu melalui undangan yang kami berikan kalau acara malam ini untuk merayakan hari ulang tahun orang tuaku, Arian Ibrahim. Kalian pasti heran untuk pertama kalinya kami mengadakan acara seperti ini di kediaman kami.
"Sebenarnya acara malam ini bukan hanya sekedar merayakan ulang tahun papaku tetapi boleh dikatakan juga sebagai acara resepsi pernikahanku. Ya, aku ingin mengumumkan pada kalian bahwa sebenarnya diriku telah menikah dengan wanita yang berada di sebelahku ini, namanya Alanna."
Para tamu undangan sedikit riuh mendengar pengumuman dari Zack.
"Aku maklum jika kalian terkejut mendengarnya karena kami yang tidak memberi kabar dan mengundang kalian saat acara ijab qobul pernikahanku, itu semua karena kemauan dari istriku dan aku menyutujui keinginannya."
"Mungkin istrimu ingin menghemat pengeluaran." Gurau salah satu pria yang merupakan rekan bisnis Zack membuat para undangan yang lain tertawa geli mendengarnya.
Begitu pun orang tua Zack, Zack, Alanna, dan Sinta ikut tersenyum mendengarnya, kecuali Johan seperti biasa hanya memasang wajah datar.
"Karena pernikahanku yang tidak di ketahui oleh orang lain membuatku sedikit kesusahan untuk terus memberi tahu orang satu-persatu tentang statusku itu sebabnya aku membuat acara malam ini.
"Aku ingin memberi tahu sedikit tentang pertemuan kami untuk sekedar informasi teman-teman dan rekan bisnis ku. Kami bertemu di Surabaya sebagai tamu dan pelayan hotel karena aku menginap di hotel tempat istriku bekerja. Aku katakan dengan bangga dan tanpa rasa malu menceritakan ini karena istriku pun tidak merasa malu bekerja sebagai pelayan hotel karena menurutnya itu pekerjaan yang halal.
"Dan itu salah satu alasan aku melamarnya dan kalian pasti terkejut mengetahui bahwa aku di tolak saat melamarnya dan jujur akupun terkejut mendengar penolakan darinya." Zack berkata sambil tertawa dan para undangan pun ikut tertawa.
"Ternyata seorang Zack Ibrahim pun pernah di tolak oleh wanita." Ucap rekan bisnis Zack.
"Ya betul, seorang Zack Ibrahim pun pernah di tolak tapi bukan berarti hal itu membuatku untuk mundur dan menyerah, terbukti sekarang dia menjadi istriku dan menantu kesayangan keluarga Ibrahim." Kata Zack sambil tersenyum lembut ke arah Alanna yang sedikit salah tingkah di pandang hampir semua tamu undangan.
"Tidak panjang lebar lagi aku bercerita, terimakasih telah datang dan selamat menikmati acara malam ini." Ucap Zack menutup pembicaraannya yang di sambut tepuk tangan para tamu undangan.
Datuk Malik berjalan mendekati mereka di susul Nurhaliza di belakangnya. "Terimakasih atas undangannya Pak Arian Ibrahim." Kata Datuk Malik mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Papa Arian menyambut jabatan tangan Datuk Malik. "Sama-sama Datuk Malik, aku pun senang anda bisa datang jauh-jauh dari Malaysia untuk menyanggupi undangan dari kami." Papa Arian berkata ramah.
__ADS_1
"Sebenarnya aku kurang enak karena kejadian baru-baru ini di kediaman kami, terjadi salah paham antara menantu anda dengan anakku."
"Tidak apa-apa Tuan Datuk Malik, itu kejadian yang telah lewat kami tidak mempermasalahkan nya lagi, bukan begitu sayang ?" Zack menyela berkata pada Alanna.
"Iya." Jawab Alanna singkat tanpa menatap wajah Nurhaliza yang berdiri di sebelah Datuk Malik.
"Syukurlah kalau begitu." Datuk Malik berkata lega.
"Alanna orang yang baik dan kami beruntung memiliki menantu sepertinya." Ucap mama Rani membuat Alanna canggung di buatnya.
"Mama terlalu memuji ku di depan orang lain." Alanna berkata tidak enak hati.
"Kenyataanya memang seperti itu, tidak usah terlalu merendahkan diri Alanna." Sinta ikut berkata.
"Sudah-sudah, kalian terlalu jelas memperlihatkan pada orang lain kalau kalian menyayangi Alanna." Papa Arian berkata semakin memperjelas, membuat Zack tersenyum. "Bagaimana perkembangan proyek kita di Malaysia ?' papa Arian tiba-tiba mengalihkan pembicaraan membawa Datuk Malik menjauh dari mereka menuju meja tempat berbagai jenis makanan dan minuman tersedia.
"Kamu ingin memakan apa sayang ?" tanya Zack pada Alanna.
"Belum ingin makan mas Zack, sedikit lagi." Tolak Alanna. "Bisa aku duduk sebentar mas ? Kaki ku pegal karena berdiri pakai sepatu berhak tinggi."
"Kita ke meja itu." Kata Zack sambil menunjuk meja yang berada tidak jauh dari mereka.
Zack menuntun Alanna ke meja yang di maksud.
"Terimakasih mas." Kata Alanna saat Zack menarik kursi untuk dia duduki.
"Kenapa kamu memakai sepatu ini ? mana sepatu flat yang kamu beli saat kemarin di Malaysia ?" Zack bertanya, menunduk di hadapan Alanna dan melihat sepatu berhak tinggi yang di pakai Alanna.
"Aku lupa membawanya saat pulang ke Jakarta."
"Duduklah saja di sini, kamu tidak usah banyak berjalan." Perintah Zack sambil berdiri, duduk di kursi samping Alanna.
-
-
-
__ADS_1
...tolong dukungan nya ya dengan cara like, coment dan vote terimakasih 😊😊...