Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 92


__ADS_3

Merasa tamu undangan telah hadir semua Papa Arian mengambil mic pengeras suara dan berniat membuka acara.


"Selamat datang dan terima kasih untuk kalian semua yang hadir di acara anniversary pernikahan kami. Tidak banyak bicara lagi dari kami, selamat menikmati acara malam ini." Kata Papa Arian yang di sambut tepuk tangan dari para tamu undangan.


Para tamu pun mulai membaur, pelayan berjalan menawarkan berbagai jenis minuman. Terdapat beberapa meja panjang yang menyediakan berbagai jenis makanan tak lupa juga alunan musik yang memeriahkan acara malam itu.


Zack berjalan menghampiri meja di mana Alanna duduk sedari tadi bersama dengan Sinta.


"Ada yang kau inginkan sayang ?" tanya Zack menarik kursi yang ada di samping Alanna.


"Masih kenyang mas, sedikit lagi soalnya sebelum ke sini aku sudah makan banyak."


"Baiklah."


"Kak Zack melihat Kak Johan ?" tanya Sinta.


"Dia tadi bersama ku tapi seseorang mengajaknya berbicara sebelum aku ke sini." Jawab Zack yang membuat Sinta refleks menoleh mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari keberadaan Johan.


"Kenapa kamu menanyakan Johan ? Bukan menanyakan Putra Pratama ?" Zack bertanya dengan nada jail menggoda adiknya.


"Kenapa juga aku harus menanyakan keberadaan Putra Pratama ? dia bukan siapa-siapa bagiku." Sinta berkata ketus.


"Bukankah kalian ada hubungan yang spesial karena dia datang terus ke rumah kita untuk mencari mu."


Sinta memutar kedua bola matanya, jengah mendengar perkataan Zack. "Baru duka kali kak Zack, dia baru datang dua kali." Sinta mengulang perkataannya dengan penuh nada penekanan.


"Dan kami hanya sebatas berteman, tidak lebih tidak kurang." Tamba Sinta.


"O.... ternyata begitu." Sahut Zack mengerti, senang menjaili adiknya.


"Aku pergi ambil makanan dulu." Sinta berdiri dari kursinya, melangkah menuju meja yang berisi berbagai jenis makanan.


"Mas Zack tahu Maya ada di sini ?"


"Tidak, mas tidak tahu dan tidak melihatnya." Jawab Zack acuh.


"Aku melihatnya datang bersama dengan Mama nya."


"Dari mana kamu tahu kalau itu Mama nya ?"


"Sinta yang memberi tahu." Jelas Alanna tanpa Zack tanggapi lebih lanjut.


"Rekan bisnis ku tadi bertanya tentang mu." Zack mengalihkan pembicaraan, tidak ingin membahas tentang Maya.


"Benarkah ?"


"Iya." Zack menyakinkan.


"Apa yang mereka tanyakan ?" Alanna bertanya penasaran.


"Mereka bertanya mengapa mas tidak mengajakmu bergabung dengan mereka."


"Jadi apa yang mas katakan ?"


"Mas katakan kalau kamu tidak bisa berdiri terlalu lama karena sedang hamil."


"Maaf Tuan." Johan tiba-tiba berdiri di belakang mereka, menyela pembicaraan mereka.


Zack menoleh ke belakang. "Ada apa Johan ?"


"Ada yang perlu aku bicarakan dengan Anda."


Zack menoleh kembali kepada Alanna. "Mas pergi dulu tidak lama."

__ADS_1


"Iya mas." Ucap Alanna tersenyum.


Zack berdiri berjalan mengikuti Johan, Alanna melihat ke arah meja makan mencari keberadaan Sinta tapi tidak menemukannya dan memilih untuk mengambil makanan untuk dirinya sambil menunggu Zack kembali.


Usai memilih beberapa jenis makanan dan segelas jus buah, Alanna berjalan kembali menuju mejanya dan mulai menikmati makanan yang di pilih nya.


"Permisi Nyonya." Pelayan menyela dari belakang.


Alanna berbalik menatap pelayan itu. "Ya ada apa ?"


"Ada seseorang yang menyuruh untuk menyampaikan pesan pada anda." Kata pelayan.


"Pesan apa ?"


"Dia meminta anda untuk menemui nya di pintu depan."


"Siapa ya ?" Alanna bertanya penasaran. "Dia memberitahu namanya ?" tambahnya.


"Maaf, dia tidak memberi tahukan."


"Wanita atau pria ?"


"Wanita, Nyonya."


"Bisa kamu tunjukkan jalan dan orangnya."


"Iya bisa, mari Nyonya ikut dengan ku."


Alanna berdiri mengikuti pelayan yang membawanya berjalan ke arah pintu keluar ruang acara.


Pelayan membukakan pintu dan mempersilahkan Alanna keluar lebih dulu dan kemudian menutup kembali pintu dari luar.


Pelayan kembali berjalan dan tidak jauh nampak seorang wanita berdiri membelakangi mereka.


"Kamu yakin wanita itu ?" tanya Alanna karena wanita itu membelakangi mereka.


"Iya aku yakin, aku ingat warna baju dan model rambutnya." Kata pelayan.


"Baiklah kalau begitu, terimakasih."


"Sama-sama Nyonya, aku permisi dulu."


Alanna kemudian berjalan pelan mendekati wanita yang masih membelakangi nya itu.


"Permisi, anda yang memanggilku ?" tanya Alanna tepat berdiri di belakang wanita itu.


Wanita itu berbalik menghadap Alanna. "Betul, aku yang memanggilmu." Jawab Maya dengan senyum sinis.


Alanna terkejut tidak menyangka. "Maya ? ada hal apa kamu memanggil ku ?" tanya Alanna dengan nada tidak suka.


"Memangnya tidak boleh aku memanggil dan mengajakmu bercerita ?" Maya balik bertanya.


"Bisa tapi kenapa mesti keluar dari ruang acara ? di sana kan juga bisa ?" tanya Alanna ketus.


"Kalau di dalam pasti akan terganggu karena ada Zack, dia pasti tidak suka jika kita hanya bicara berdua saja."


"Sudah pasti, kamu sudah lupa bagaimana marah nya mas Zack ketika kita berbicara terakhir kalinya ?"


"Tentu saja karena itu aku ingin kita berbicara berdua tanpa gangguan orang lain."


"Apa sebenarnya yang ingin kamu bicarakan ?"


"Tadi di dalam aku tidak sengaja mendengar Zack berbicara dengan rekan bisnisnya, dia mengatakan kalau kamu sedang hamil."

__ADS_1


Alanna mengerutkan kening, tidak suka dengan arah pembicaraan Maya.


"Iya, aku memang sedang hamil." Alanna terpaksa menjawab.


"Berapa bulan sudah kehamilan mu ?" Selidik Maya.


"Kenapa kamu sangat penasaran ? lagian kenapa juga aku harus menjawab pertanyaan mu ?" Alanna menjawab dengan nada tidak suka.


"Apakah kamu hamil karena kejadian malam itu ?"


Alanna membeku sejenak mendengar pertanyaan Maya yang tidak di duga nya.


"Maaf, aku tidak mengerti dengan maksud perkataan mu. Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan, aku permisi dulu." Kata Alanna sebelum berbalik.


Maya langsung mengulurkan tangannya, memegang lengan Alanna menahannya untuk pergi.


Alanna berbalik menatap marah pada Maya.


"Lepaskan tanganku !"


"Maaf tidak bisa, kita belum selesai bicara." Maya tersenyum sinis.


Maya menarik Alanna berjalan menuju pintu darurat lantai itu.


"Lepaskan tanganku ! aku tidak ingin ikut bersama mu." Alanna berusaha melepaskan cengkraman tangan Maya di pergelangan tangannya.


Maya semakin mempererat cengkraman tangannya, mendorong pintu darurat dengan kasar dan menarik Alanna masuk ke dalam dan menutup pintu.


"Apa maksud nya ini ? Kenapa kamu memaksa ku ke sini ?!" Alanna bertanya marah dengan perlakuan Maya.


"Aku yang seharusnya marah !! Kamu tiba-tiba muncul dan membuat Zack menjauh dari ku !" Maya berteriak pada Alanna.


"Mas Zack tidak pernah menjadi milikmu jadi kenapa kamu bisa berkata seperti itu ?"


"Zack itu milik ku tidak ada yang berhak atas dia selain aku, tidak adik ku atau bahkan diri mu."


"Kamu sudah gila Maya." Alanna tidak tahu mesti berkata apa lagi melihat sikap Maya.


"Aku akan menyingkirkan semua orang yang menghalangi ku, termasuk diri mu." Ucap Maya sebelum menolak kuat tubuh Alanna ke arah tangga yang menurun ke bawah.


"AAahkk.......!!!" Teriak Alanna terkejut tidak bisa menghindari, tidak menyangka dengan tindakan Maya.


Alanna terguling-guling di tangga dan tergeletak penuh darah. Semua badannya terasa sakit terutama perut bagian bawah, penglihatan nya mulai kabur.


"Tolong...... , tolong aku, mas Zack........ ." Ucap Alanna lirih, lemah tidak berdaya sebelum penglihatan gelap dan menutup mata tak sadarkan diri.


Maya yang melihat keadaan Alanna, panik dan keluar dari sana melarikan diri tanpa menghiraukan keberadaan Alanna.


-


-


-


-


...terus dukung author ya dengan cara like, coment dan vote terimakasih 😊...


...intip yuk novel terbaru author...


...untuk pembaca yang suka novel perjodohan kerajaan dengan judul...


..."Terbelenggu cinta seorang pangeran"😊...

__ADS_1


__ADS_2