
" Maya perhatikan ucapan mu ! " Zack menegur tidak senang, menaikan sedikit nada bicaranya.
"Saya kan berbicara apa adanya. " Bela Maya menatap ke arah Zack dengan ekspresi santai.
"Tidak apa-apa pak Zack." Alanna menengahi. "Apa yang dikatakan nya memang benar." Sambung Alanna berkata menatap wanita yang di hadapannya.
"Dia saja mengakui nya, tidak usah berlebihan Zack. " Maya berucap menatap Zack sambil mengusap pelan lengan atas Zack.
Refleks Zack mundur menghindari sentuhan dari Maya menandai dirinya tidak menyukai tindakan Maya menyentuhnya.
"Maaf mba ,saya mengakui karena menurut saya tidak ada yang salah dengan pekerjaan ku." Alanna menyela menatap mata Maya. "Pekerjaan ku halal jadi untuk apa malu. " Tambah nya.
Perkataan dari Alanna membuat Zack tersenyum, menyukai jawaban Alanna. "Saya masih ada urusan, kau boleh pulang Maya." Zack kemudian masuk ke dalam kamar. "Masuklah Alanna dan tutup pintu nya." Sambung Zack saat melihat Alanna masih berdiri di tempat nya.
"Baik pak Zack. " Alanna kemudian masuk dan menutup pintu di hadapan Maya yang belum bergerak walau sudah di usir secara kasar menurut Alanna.
Zack berjalan menuju sofa dan duduk di sana sedangkan Alanna masih berdiri di tengah ruangan tidak tahu harus berkata atau berbuat apa.
Menyadari dirinya masih memegang pakaian Zack, Alanna pun berkata. "Saya akan menyimpan pakaian anda dalam lemari pakaian." Alanna memecah kesunyian dan berjalan menuju lemari.
"Apa yang kau dengar dari pembicaraan kami tadi Alanna ? " Zack bertanya.
"Saya tidak begitu mendengar nya, suara kalian samar terdengar." Jawab Alanna berbohong sedikit gugup karena di tatap serius oleh Zack dari sofa tempat nya duduk.
Alanna masih bingung dengan informasi yang di dengar nya tadi, sehingga terpaksa berbohong pada Zack,siapa sebenarnya Mariana ? dia sudah meninggal ?, apa hubungannya dengan Zack dan wanita yang bernama Maya itu ? , semua pertanyaan itu berputar dalam pikiran Alanna tapi tidak bisa dia utarakan karena dia sadar akan siapa dirinya yang bukan siapa-siapa di mata Zack Ibrahim.
"Masih ada yang anda butuhkan pak Zack ? " tanya Alanna setelah menyimpan pakaian Zack yang tadi dia bawah.
"Sudah tidak ada, kau boleh pulang Alanna." Jawab Zack singkat.
"Baiklah."
"Alanna ! " panggil Zack tiba-tiba saat Alanna hendak membuka pintu kamar.
Alanna kemudian berbalik dan melihat Zack berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan nya.
__ADS_1
"Tidak usah kau pikirkan perkataan Maya, saya menyukai diri mu apa adanya." Zack berbicara dengan wajah yang sangat serius, menatap kearah Alanna membuat Alanna terpaku menatap mata Zack yang hitam dan tajam.
"Saya tahu mana perkataan yang di simpan di hati dan mana yang tidak perlu. " Alanna meyakinkan Zack dengan tersenyum.
" Bagus lah." Zack balas tersenyum lega, spontan tangan Zack terangkat merapikan anak rambut Alanna yang keluar dari sanggulan nya.
Tindakan Zack membuat Alanna terkejut, tindakan Zack terlalu intim untuk sebatas teman atau sebagai pegawai hotel dan pelayan menurut pemikiran Alanna.
Melihat Alanna yang terpaku terdiam menyadarkan Zack akan tindakan spontan nya. "Maaf mengejutkan mu." Ucap Zack memasang raut wajah menyesal dan mundur selangkah memberikan Alanna ruang.
"Tidak apa-apa pak. " Hanya itu kalimat yang bisa keluar dari mulut Alanna. "Saya permisi." Dan berbalik membuka pintu keluar dari kamar Zack.
Alana berjalan menuju taman kecil yang berada di kompleks paviliun. Dia merasa perlu menghirup udara segar untuk menyegarkan pikiran nya yang kalut, masih bingung dengan keadaan yang ada dan informasi yang baru dia ketahui tentang Zack Ibrahim.
Nada sms masuk menyadarkan Alanna dari lamunannya, ternyata sms dari Gita yang mengatakan kalau mulai besok dia masuk sif siang dan masih di kamar Zack Ibrahim membuat Alanna mengeluh nafas panjang.
"Saya tidak tahu harus bagaimana bersikap. " Keluh Alanna berbicara sendiri. "Di sisi lain saya sadar akan siapa saya tapi di sisi lain semua tindakan nya membuat saya merasa istimewa." Tambah Alanna bingung.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Maaf Ibu saya masih kenyang ! " Alanna balas berteriak dari dalam kamar. "Biarkan saya bermalas malas sebelum berangkat sif siang ya ? " tambah nya.
"Dasar anak ini, sudah besar kelakuan nya terkadang masih kekanak-kanakan." Keluh Ibu meninggalkan kamar Alanna menuju dapur.
Alanna masih berusaha menetap kan hati nya, bagaimana bersikap di hadapan Zack nanti. Sampai waktu nya berangkat kerja Alanna masih bimbang dengan keadaan ini.
"Kita bertiga satu sif lagi ! " Seru Alanna senang bertemu dengan dua sahabatnya Gita dan Ayu saat berganti di ruang loker.
"Bagian kalau habis jam sif kita pergi nonton ?" saran Ayu bersemangat karena sempat tidak bertemu satu sif dengan Gita dan Alanna.
"Boleh, tapi mungkin pulang agak larut malam jadi saya izin dulu sama Ibu. " Alanna menyahut. "Astaga, saya lupa ! " tambah Alanna seraya menepuk jidatnya bersemangat.
"Apa yang kau lupa ? " Gita penasaran.
"Tadi saat berangkat ke sini Ibu nitip kue untuk kalian. " Jawab Alanna. "Saya ambil dulu, ketinggalan di bawah job motor soalnya." Alanna mengambil kunci motor dalam tas yang sudah di simpan dalam loker nya kemudian berjalan keluar menuju tempat parkiran motor mengambil kue yang di maksud.
__ADS_1
Tak lama kemudian Alanna telah muncul kembali di ruang loker dengan membawa dua bungkusan kue, masing-masing di berikan pada Ayu dan Gita.
"Ibu mu memang yang terbaik deh." Puji Gita senang saat menerima kue pemberian ibu Alanna.
"Ibu nya saja yang di puji, anaknya yang bawa tidak di puji. " Alanna berpura-pura memasang wajah cemberut.
"Iya...iya.... anak nya juga baik kok ." Puji Gita sambil mengusap kepala Alanna seperti merayu anak kecil yang membuat Alanna tertawa.
"Sudah.... sudah candaan nya, sekarang waktunya kerja. " Ucap Ayu memotong pembicaraan mereka dan mendorong mereka berdua keluar.
Mereka bekerja sesuai tugas masing-masing, walaupun galau dengan perasaannya Alanna berusaha tetap fokus dalam pekerjaan, tidak ingin membuat kesalahan.
Tiba jam makan malam, sebelum ke kamar Zack terlebih dahulu Alanna mengambil makan malam Zack dan membawanya menuju kamar Zack. Saat tiba di depan pintu Alanna mengambil nafas panjang terlebih dahulu sebelum mengetuk pintu kamar Zack, beberapa kali ketukan tidak ada jawaban dari dalam Alanna memutuskan untuk masuk ke dalam.
Saat membuka pintu nampak cahaya remang dari dalam kamar hanya Lampu samping tempat tidur yang hidup, Alanna masuk ke dalam mencari Zack dan tidak menemukan Zack di manapun.
" Mungkin dia sedang keluar, lebih baik makan ini saya simpan di samping meja makan saja. " Gumam Alanna lalu mendorong troll makanan ke samping meja makan dan memutuskan untuk mulai merapikan kamar Zack.
Saat sedang bekerja handphone Alanna dalam kantong baju nya berbunyi tanda panggilan masuk, tampak panggilan dari Zack Ibrahim.
" Ya hallo pak Zack." Kata Alanna saat menjawab telpon.
"Kau sudah makan Alanna ? " tanya Zack dari seberang.
"Belum, karena janji akan makan dengan anda." Jawab Alanna jujur.
Jawaban jujur dari Alanna membuat Zack tidak enak melanggar janji. "Maafkan saya, tiba-tiba ada janji bertemu dengan seseorang tanpa memberi tahukan mu untuk tidak usah menunggu ku. " Suara Zack penuh sesal.
"Tidak apa-apa pak Zack, berarti makanan ini semua untuk ku. " Kata Alanna penuh canda. "Bagus lah, kebetulan saya lapar sekali tidak sempat makan siang tadi. " Tambah Alanna.
Mendengar jawaban Alanna membuat Zack lega. "Habis kan makanan nya agar saya tidak rugi membayar pihak hotel."
"Tentu, anda tenang saja."
" Kalau begitu saya tutup dulu telpon nya. " Ucap Zack lalu mutuskan panggilan.
__ADS_1